
Semenjak pertemuanya dengan Khadija dan Putri kecilnya, hari_hari Hafiz kini selalu di liputi keceriaan, setelah beberapa tahun terakhir kehampaan mendera hidupnya.
Sunggingan senyum di bibirnya hampir tak pernah pudar.
Selama Zahra di rawat, dengan setia Hafiz menemani sang buah hati, bahkan Hafiz rela tidak pulang kerumahnya demi Zahra yang tidak mau ditinggal olehnya barang sebentar.
Meskipun baru bertemu beberapa hari yang lalu, Zahra dengan mudah akrab dengan sang Ayah, mungkin itulah yang di namakan ikatan batin yang kuat antara Orang tua dan Anak. Apalagi Hafiz bagaikan sosok pahlawan bagi si kecil Zahra di awal perjumpaanya.
Hanya ada canda tawa diantara Hafiz dan Zahra, kerinduan mereka berdua yang membuat mereka enggan berpisah. Zahra yang selalu merindukan sosok Ayah, dan Hafiz yang selalu merindukan kehadiran seorang Anak dalam hidupnya.
"Ja, mumpung Zahra masih tidur, aku tinggal pulang dulu, mau ambil baju ganti." Pamit Hafiz pada Khadija yang baru selesai menunaikan Sholat Dhuha di ruang perawatan Zahra.
" Oh iya Mas, jangan lama_lama~..."
" Kenapa? Kamu kangen ya sama aku?" Goda Hafiz memotong ucapan Khadija yang belum selesai, dengan menyunggingkan senyum jahilnya.
" Ck! Kamu tau sendiri Zahra, kalau pas bangun gak ada kamu di sampingnya!" Khadija berdecak sebal.
Zahra akan menangis bila tidak melihat sang Ayah di sampingnya, terkadang sampai membuat Khadija kuwalahan padahal Zahra tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.
Zahra merupakan sosok gadis kecil yang mandiri dan penurut, di usianya yang baru Tiga tahun dia sudah bisa makan sendiri bahkan sering kali membantu Khadija mengerjakan kegiatan Rumah tangga, seperti menyapu, mengelap kaca dan membantu Leni di Toko, ya meskipun yang dilakukanya masih jauh dari kata sempurna dan masih belepotan justru membuat Orang yang melihatnya merasa gemas dengan tingkah polahnya.
Setelah berpamitan dengan Khadija, Hafiz segera beranjak keluar dari ruangan Putrinya dirawat.
Sepanjang perjalanan pulang, wajah kecil putrinya selalu terbayang di benaknya, tak ada kata yang mampu menggambarkan kebahagianya saat ini.
Sesampainya dirumah, Hafiz mendapati sang Ibu tengah menyiram tanaman hias kesayanganya bersama Sari.
" Assalamualaikum Mah..." Ucap Hafiz berjalan mendekat menghampiri Ibunya. Singgahnya Khadija sebagai Istri Hafiz banyak membawa perubahan, dari sapaan "Hay" berubah menjadi ucapan Salam ketika bertegur sapa dengan Orang tuanya.
" WAALAIKUM SALAM..." Jawaban serempak sang Ibu dan Sari, ARTnya. Sejenak sang Ibu menghentikan kegiatanya, menyambut uluran tangan dari Putranya.
Senyuman manis selalu terukir di bibir Hafiz, membuat Sari merasa aneh, tidak seperti biasanya sang majikan terlihat sebahagia ini, begitu juga dengan sang Ibu merasakan ada sesuatu yang berbeda terhadap putra semata wayangnya setelah Tiga hari tidak pulang ke rumah.
" Den, tumben baru dateng udah senyum_senyum gitu? Habis kesambet ya?" Tebakan absurd Sari.
" Ini pembantu satu, kalo ngomong suka asal, untung hari ini saya lagi seneng, kalau gak, udah tak gantung kamu di pohon Bonsai Mama tuh?"
" Sudah...sudah..." Lerai Ibu Hafiz."Iya, kok tumben kamu seneng gini? Coba cerita sama Mama, ada apa?" Lanjutnya merasa penasaran.
Sang Ibu menggiring Putaranya untuk duduk di kursi yang ada ditengah_tengah taman. Dan Sari berlalu pergi ke dapur untuk membuatkan majikanya itu secangkir kopi, seperti kebiasaanya setelah pulang bekerja.
" Tidak ada apa_apa Mah." Kilah Hafiz."Mah, Carel ingin pindah ke Apartemen." Lanjut Hafiz meminta izin.
" Kenapa Rel?" Tanya sang Ibu heran dengan menautkan kedua alisnya.
Awalnya Hafiz ingin memberitahukan perihal Khadija dan Anaknya namun di urungkanya, karena menurut Hafiz akan berbahaya jika semakin banyak yang tahu akan keberadaan Khadija dan Zahra. Mengingat sang Ayah tidak pernah suka dengan Khadija, Ibu dari Putri kandungnya.
Mungkin nanti, menunggu waktu yang tepat Hafiz akan memberitahukan semuanya pada sang Ibu.
__ADS_1
" Carel hanya butuh privasi untuk sendiri Mah."
Obrolan Hafiz dan sang Ibu terhenti ketika Sari datang membawakan secangkir kopi yang diletakan diatas meja.
" Silahkan Den?"
" Makasih Sar." Sari pun berlalu kembali ke dapur.
" Kamu tega ninggalin Mama Rel?" Tanya sang Ibu memelas, karena tidak rela berpisah dengan sang Putra tercinta.
" Mama, lagian Carel hanya pindah ke Apartemen, bukan keluar Kota atau keluar Negeri, nanti Mama bisa datang kapan saja." Jawab Hafiz memberi pengertian pada sang Ibu.
" Baiklah jika itu alasan kamu, tapi kamu harus janji, kamu akan sering_sering tengokin Mama disini."
" Iya Mah, Carel Janji." Ucap Hafiz lalu mencium kening sang Ibu.
Setelah habis menyesap kopinya, Hafiz beranjak pergi ke kamarnya untuk mengambil segala keperluan yang akan dibawanya pindah ke Apartemenya baru setelahnya kembali ke Rumah Sakit menemui Princes kecilnya.
***
Hal yang di khawatirkan Khadija pun terjadi, Zahra bangun lebih cepat dari biasanya. Zahra terus meronta memanggil_manggil Ayahnya, sampai membuat Khadija jengah menghadapinya.
"Iya sayang, Papa habis ini dateng kok?"
" Gak mau, Plinces maunya Papa sekalang!"
" Zahra ndak boleh nakal gitu dong nak?"
Khadija memutuskan untuk menelpon Hafiz, tetapi Khadija ingat jika ia tidak memiliki nomer telepon mantan suaminya itu.
Ditengah kebingunganya menenangkan Putrinya, pintu kamar pun terbuka, namun yang datang bukanlah orang yang di maksud oleh Zahra.
" ASSALAMUALAIKUM..." Ucap Aslan dan Aisyah bersamaan saat masuk kedalam ruangam Zahra.
" Waalaikum salam.." Jawab Khadija.
Aslan dan Aisyah yang melihat sang Keponakan tengah menangis, segera berlari menghampiri Zahra yang berada di gendongan Khadija.
" Zahra kenapa Mbak?" Tanya Aisyah sambil mengelus rambut lurus Zahra yang berada digendongan Khadija.
" Ini si Zahra nyariin Papanya?" Jawab Khadija.
" Memang Carel kemana Ja? Tanya Aslan.
" Tadi dia pamit pulang sebentar untuk ganti baju, katanya."
" Sayang kok nangis?" Tanya Aslan beralih pada Zahra.
" Papa mana Om..Hiks...Hiks...?" Tanya Zahra dengan isakanya.
__ADS_1
" Sini_sini gendong sama Om dulu ya?" Bujuk Aslan, mengambil alih Zahra dari gendongan Khadija.
Aslan kembali membawa Zahra ke tempat tidurnya, dengan terus mengajak ngobrol Zahra, entah apa yang sedang mereka bahas setidaknya dengan kehadiran Aslan bisa mengalihkan perhatian Zahra mencari Ayahnya.
Khadija pun merasa lega Aslan dan Aisyah datang di waktu yang tepat. Khadija dan Aisyah yang memperhatikan interaksi Paman dan keponakanya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Zahra begitu penurut jika sedang bersama Hafiz dan Aslan.
Tawa kecerian kembali terdengar dari mulut si kecil Zahra. Zahra mewarisi sifat keras kepala namun ramah dan periang seperti Khadija, Ibunya.
Tidak lama berselang, Hafiz muncul dari balik pintu dengan penampilan yang sudah rapi dengan pakaian santainya.
" Papaaaa..." Pekik Zahra melihat sang Ayah datang menghampirinya.
" Princes Papa udah bangun ternyata." Ucap Hafiz sambil menggendong Zahra.
" Dari mana aja sih lo lama banget, ini anak lo nangis kejer nyariin lo!" Cibir Aslan.
" Sorry, tadi gw mampir dulu ke Apartemen, pindahin barang_barang gw."
" Di usir lo, sama Bokap lo?"
" Sembarangan aja lo kalo ngomong! Bukan gitu, gw cuma ingin bebas aja main sama Zahra nantinya."
Aslan pun mengerti dengan maksud sahabatnya itu. Aslan juga tahu jika Ayah Hafiz yang belum bisa menerima Khadija.
" Ya udah terserah lo! Gw minta lo jagain nih keponakan gw baik_baik."
" Gak usah lo minta, itu udah jadi tugas gw jagain anak Princes kecil gw ini." Ucap Hafiz sembari menghujani ciuman di wajah Buah hatinya. "Disuruh jagain Bundanya gw juga mau?" Sambung Hafiz dengan menaik turunkan alisnya.
" Dasar ngarep! Sekarang aja lo ngomong kaya gitu!" Sindir Aslan.
" Oh ya, Bunda kemana sayang?" Tanya Hafiz pada Putrinya, yang baru menyadari ketiadaan Khadija di ruangan itu. Zahra menggeleng tidak tahu.
" Katanya tadi si, mau jengukin Ummi aminah." Sahut Aslan yang kemudian diangguki oleh Hafiz
Khadija dan Aisyah sejak beberapa saat yang lalu sebelum kedatangan Hafiz, mereka berdua pamit untuk kembali menjenguk Ummi Aminah.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Author mau berterima kasih untuk para Readers yang sudah senang hati memberikan vote dan supportnya. Semoga para Readers tidak bosan dengan cerita yang Author suguhkan.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin terus Like dan Komenya...🙏🙏🙏*