
Derap langkah kaki terburu_buru Aslan dan Dio menuju ruang Apartemen Hafiz. Prasangka buruk pun berkecamuk di benak masing_masing.
Tidak ada perbincangan santai mengiringi perjalanan Aslan dan Dio. Yang terdengar hanya suara nafas yang memburu, dengan raut penuh kekhawatiran.
Jari_jari Dio dengan lincah memencet tombol password Apartemen Hafiz.
Kosong! Aslan dan Dio berpencar mencari ke semua ruangan, namun keberadaan Hafiz masih belum ditemukan.
" Gimana Yo, udah ketemu?" Tanya Aslan saat bertemu kembali dengan Dio di ruang tengah.
" Gak ada Lan!" Jawab Dio dengan wajah paniknya.
Aslan tampak berfikir sejenak." Ikut gw!" Ajak Aslan pada Dio.
Dahi Dio berkerut." Kemana?"
" Ntar juga lo tahu!" Sahut Aslan sambil terus berjalan keluar dari ruang Apartemen Hafiz, Dio pun mengekor di belakang Aslan.
Aslan kembali mamacu mobilnya membelah padatnya jalan Ibukota.
" Kok lo kepikiran, kalau Hafiz bakal datang ke tempat itu?" Tanya Dio, yang sudah menyadari kemana arah tujuan Aslan.
" Feeling." Jawaban singkat Aslan dengan tatapan lurus kedepan.
Beberapa saat yang lalu, Aslan mendapat kabar dari Khadija, tentang kondisi Hafiz yang emosinya tidak dalam keadaan baik_baik saja. Akibat ketegangan yang terjadi antara ia dan Hafiz.
Aslan pun segera menyusul Dio dikediamanya, beruntung Dio sedang santai dirumahnya bersama keluarga kecilnya.
Setelah Aslan menceritakan alasan kedatanganya, Dio pun bersedia menemani Aslan, Dio juga merasa khawatir akan kondisi Hafiz setelah mendengar cerita dari Aslan.
Mereka berdua hanya membawa Satu mobil yaitu mobil Aslan.
Benar saja, Felling Aslan tepat, ia melihat mobil sport warna hitam sedang terparkir di bahu jalan.
Tampak Hafiz berdiri merentangkan tanganya naik diatas pagar pembatas jembatan.
Di tempat inilah, tempat pertama kali Hafiz bertemu dengan Khadija.
Aslan dan Dio yang melihat adegan itu, segera turun dari mobil, berlari menghampiri Hafiz. Jika dilihat dari posisinya tampak Hafiz sudah bersiap untuk melakukan terjun bebas.
" Yakin lo, bakal terjun?" Ucap Aslan santai bersandar di pagar jembatan dengan melipat kedua tanganya di depan dada.
" Dan lo rela gitu aja ngebiarin Khadija nikah dengan orang lain?" Imbuh Dio.
Hafiz yang menyadari akan kehadiran sosok yang kasat mata berada di bawahnya, seketika menurunkan pandanganya.
" Turun gak lo!" Titah Aslan.
" Gak!" Kekeh Hafiz.
" Ya sudah terserah! Ayo kita balik Yo!" Ucap Aslan datar.
Dio memainkan matanya, memprotes ucapan Aslan. Aslan pun memberikan isyarat jika ia hanya ingin mencoba sebarapa jauh keberanian Hafiz akan tindakan bodohnya.
Aslan dan Dio beranjak dari posisinya, dengan menghitung mundur menggunakan jarinya.
5
__ADS_1
4
3
" Tunggu!" Tepat dihitungan jari ketiga. Hafiz menghentikan langkah Aslan dan Dio. Mereka berdua tersenyum lebar dengan posisi membelakangi Hafiz.
Aslan dan Dio pun berbalik badan, melihat ke arah Hafiz yang berusah turun dari pagar jembatan. Mereka berdua kembali menghampiri Hafiz.
" Kenapa kok gak jadi?" Sindir Aslan.
" Siapa juga yang mau bunuh diri?" Sahut Hafiz cuek.
" Terus ngpain tadi lo naik_naik ke atas? Mau jadi Spyderman lo?"Ledek Dio.
"Nyesel kan lo sekarang? Dulu aja didepan mata ada Bidadari, Eh lo malah milih Mimi Peri?" Timpal Aslan.
" Sudah...sudah, ayo kita duduk!" Ajak Dio, sambil menurunkan tubuhnya, duduk lesehan di tepi jembatan yang kemudian di ikuti kedua sahabatnya.
" Kenapa lagi Rel, lo tengkar sama Dija?" Tanya Aslan membuka topik pembicaraan.
" Dija ngomong apa sama lo?" Hafiz balik bertanya menatap ke arah Aslan. Hafiz sudah menduga jika Khadija yang sudah memberi tahu Aslan.
" Dija gak ngomong apa_apa sama gw, dia cuma ngehawatirin lo, katanya lo tadi sempat Emosi, makanya dia minta tolong gw buat ngejar lo!" Jawab Aslan
Khadija Khawatir akan kondisi Hafiz yang selalu lepas kendali. Khadija takut Hafiz akan berbuat hal nekat, yang bisa membahayakan dirinya sendiri, namun itu hanya fikiran buruk Khadija semata.
Bagaimana pun Hafiz adalah orang yang pernah singgah dihati Khadija, maka dari itu, wajar jika Khadija masih peduli dengan mantan suaminya itu. Sesungguhnya dari lubuk hati Khadija yang paling dalam masih ada serpihan nama Hafiz yang tertinggal dihatinya.
Selain itu, Zahra yang menjadi alasan utama Khadija menghawatirkan Hafiz, Khadija tidak ingin Putrinya kehilangan sosok Ayah yang begitu menyayanginya.
" Gw gak tau kenapa, gw kesel aja lihat Khadija bersama Haikal!" Ucap Hafiz menundukan kepalanya.
Aslan menatap tajam ke arah Dio." Lo kalau mau kasih saran yang bener dong!" Sewot Aslan.
" Ayolah Lan, seenggaknya kasih Carel kesempatan buat merjuangin cintanya." Mohon Dio pada Aslan yang tampak tidak setuju akan ide konyolnya. " Gimana Rel, menurut Lo?" Lanjut Dio bertanya pada Hafiz akan saran yang ia berikan.
" Gw gak yakin Yo." Jawab Hafiz menggelengkan kepalanya lemah.
Aslan menatap Hafiz yang duduk disampingnya pun merasa iba akan kisah cinta sahabatnya yang bertepuk sebelah tangan.
" Oke, kita kasih kesempatan buat lo merebut kembali hati Khadija, tapi ingat! Gunain cara yang sehat." Jawab Aslan mensetujui usulan Dio pada Hafiz.
" Caranya?" Tanya Hafiz menoleh ke arah Aslan.
" Ya lo pikir sendiri lah?" Balas Aslan.
" Gw tau!" Dio menjentikan jarinya memiliki ide bagus.
" Apa?" Tanya Hafiz antusias.
" Lo bikinin aja si Zahra adek!" Dio menyuarakan idenya sambil tersenyum nakal.
Hafiz dan Aslan seketika melotot ke arah Dio yang masih terlihat cengengesan.
" Lo turutin ide gilanya nih dokter sarap, gw lempar sekarang juga lo ke bawah!" Ancam Aslan pada Hafiz, jari telunjuknya mengarah pada Dio kemudian beralih ke bawah jembatan yang ada di belakang mereka saat ini.
" Ya gak lah, mana mungkin gw ngelakuin kesalahan yang sama!" Elak Hafiz akan ide gila dari Dio.
__ADS_1
" Padahal itu ide paling Top~..."
" Mending sekarang lo diem Yo! Atau lo yang gw lempar ke bawah?" Aslan memotong ucapan Dio dengan tatapan membunuh.
" Gw ingetin sekali lagi sama lo Rel, jangan pernah lo sakitin Dija lagi, jika sampe itu terjadi, gw lebih rela Dija sama Haikal ketimbang sama lo!" Ujar Aslan dengan nada serius membuat Hafiz dan Dio terdiam. Tidak pernah Aslan seperti ini, mengingat pembawaanya yang selalu humoris.
Ternyata di balik sisi humorisnya Aslan, tersembunyi sisi menakutkan." Dan Ingat, sampai nanti waktu lo habis, dan lo belum bisa mendapatkan hati Dija kembali, gw harap lo relain dia bersama Haikal." Sambung Aslan, kemudian beranjak berdiri, berlalu meninggalkan Hafiz dan Dio yang masih duduk terbengong melihat Aslan yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
Aslan tidak akan tinggal diam jika ada orang yang menyakiti Khadija sekalipun itu Hafiz, sahabatnya sendiri. Selain Khadija pernah menjadi seseorang yang spesial di hati Aslan, namun kini Aslan yang sudah berstatus sebagai adik ipar dari Khadija, merasa memiliki tanggung jawab serta melindungi Khadija dan Zahra setelah Aisyah, istrinya.
" Hey...Lan, gw gimana?" Teriak Dio pada Aslan yang sudah menyalakan mesin mobilnya.
Aslan menurunkan kaca mobil." Bodo amat, terserah lo!" Jawab Aslan cuek, sambil menjalankan mobilnya.
Aslan sengaja meninggalkan Dio, karena ada Hafiz yang akan mengantarnya.
Hafiz tiba_tiba terbahak melihat wajah cengo Dio yang ditinggal oleh Aslan.
" Sialan, itu anak!" Gerutu Dio.
" Ya udah, habis ini gw yang antar!" Ucap Hafiz yang sudah kembali tenang berkat kehadiran Dua sahabatnya.
" Terus apa rencana lo, setelah ini Rel?" Tanya Dio kembali ke topik awal.
" Belum tau gw Yo?" Hafiz menggeleng.
" Gw harap kali ini lo bener_bener bisa perjuangin cinta lo ke Dija, lakuin ini demi Zahra, jika saja dia ngerti pasti dia mau lo dan Dija bisa bersatu kembali." Ucap Dio bijak.
Seperti mendapat energi baru, Hafiz pun mengangguk mantap." Doa'in gw Yo?"
" Pasti itu Rel! Dan selamat berjuang!" Dio menepuk bahu Hafiz yang ada disampingnya memberikan semangat. " Ya udah, sekarang anterin gw pulang, pasti Clara udah nungguin gw!" Pinta Dio, beranjak berdiri begitu pun dengan Hafiz
" Penting amat lo ditungguin?" Hafiz tersenyum remeh ke arah Dio. sambil berjalan menuju mobilnya.
" Iyalah? Soalnya tadi gw udah janji mau berjuang bikinin dedek buat si Nio." Kelakar Dio yang langsung mendapat lemparan kunci mobil dari Hafiz.
" Lo yang nyetir!" Titah Hafiz, berjalan menuju kursi penumpang.
.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung....
Maaf ya para Readers, kali ini Upnya hanya bisa malam, soalnya siang pekerjaan numpuk, jadi harap di maklumi...🙏
Author mau nanya nih, menurut kalian cerita ini kecepetan gak sih jalan ceritanya?🤔
__ADS_1
Soalnya aku pribadi gak suka jalan cerita yang bertele_tele, konflik yang berkepanjangan, jatuhnya seperti sinetron.
Jangan lupa Like dan Komenya ya? Khop Khun Kha...🙏🙏🙏*