Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Hafiz dan Rumah tangganya


__ADS_3

Memasuki Tahun kedua pernikahanya, sudah mulai tercium aroma ketidak harmonisan pada Rumah tangga Hafiz dan Alina.


Namun Alina terlihat baik_baik saja seperti tidak terjadi apa_apa pada rumah tangganya. Lain hal dengan Hafiz yang sudah merasa jenuh dengan kondisi rumah tangganya.


Bukan Hafiz tidak pernah mencoba untuk memperbaikinya, namun Alina lah yang selalu berulah.


Kebiasaan Alina yang tidak pernah memberikan perhatian pada suaminya hingga kesibukanya diluar rumah yang semakin tak terkendalikan.


Setelah proyek kerja samanya dengan James berjalan, di situ Alina sudah sering pulang malam bahkan pernah tidak pulang selama Dua hari.


" Istrimu kemana Rel?" Tanya sang Ibu saat melakukan sarapan bersama di pagi hari tanpa kehadiran Alina.


" Carel juga gak tau Mah, dari kemarin dia gak pulang, ditelfon nomernya gak aktif!" Jawab Hafiz cuek. Karena Hafiz sudah jengah menghadapi kelakuan Alina yang semakin hari semakin menjadi. Menegurnya pun percuma, hanya masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri.


" Harusnya kamu itu bangga punya Istri seperti Alina, sudah cantik, cerdas dan Mandiri orangnya!" Timpal sang Ayah membanggakan menantunya.


Sang Istri hanya menggelengkan kepalanya, tidak habis fikir dengan jalan fikiran suaminya yang selalu mengagungkan urusan duniawi.


" Buat apa semua itu Pah, jika Suaminya sendiri selalu di abaikan!" Jawab Hafiz kesal, kemudian beranjak dari acara sarapan paginya, karena Hafiz sudah kehilangan selera makanya.


Seperti biasa Hafiz selalu menuju ruang favoritnya jika sedang suntuk.


" Den, butuh temen curhat gak?" Tanya Sari yang sudah berdiri di ambang pintu.


Semenjak Khadija pergi, Sari lah yang menjadi pendengar setia curhatan Hafiz, majikanya.


" Masuk Sar!" Titah Hafiz yang di turuti oleh Sari.


" Kenapa lagi Den, Pagi_pagi udah cemberut aja, gak dikasih jatah ya?" Goda Sari yang terkesan blak_blakan, namun Hafiz sudah terbiasa menghadapi Sari yang bar_bar.


" Boro_boro jatah, Alina itu sudah Dua hari tidak pulang! Saya capek kaya gini terus Sar, saya itu punya Istri tapi gak pernah merasa diperhatikan sama sekali, saya harus bagaimana Sar?" Keluh Hafiz.


" Ya udah si, kalau Den Carel capek, cerai saja, gitu aja kok repot!" Saran Sari yang begitu saklek.


" Wah...Sesat juga saran kamu Sar?" Hafiz menanggapi ucapan Sari hanya sebagai gurauan belaka.


" Terserah Den Carel aja, besok_besok kalau mau curhat, sekali_kali ganti topik Den? Penuh telinga Sari dengerin curhatan Den Carel gini_gini terus!" Ujar Sari, kemudian beranjak pergi dari hadapan Hafiz karena Sari merasa bosan dengan keluhan Hafiz mengenai Istrinya.


Hingga sampai puncaknya, kemarahan Hafiz sudah tidak bisa dibendung lagi.


Hafiz seringkali mendapati Alina meminum obat, yang tidak di ketahui secara pasti oleh Hafiz , jenis obat apa yang di konsumsi Alina.


Sampai suatu hari, Hafiz melihat ada kesempatan ketika Alina tidak sengaja menggeletakan tas jinjingnya di sembarang tempat, karena pada waktu itu Alina sedang terburu_buru ke kamar mandi.

__ADS_1


Dengan segera Hafiz menggeledah Tas Alina, dengan mengeluarkan semua isinya, sampai ada benda yang terjatuh tepat di kaki Hafiz.


Hafiz meraih benda itu, betapa terkejutnya Hafiz melihat benda yang ada ditanganya.


Mata Hafiz membulat sempurna, jantungnya pun serasa ingin loncat dari tempatnya, tidak percaya, jika istrinya tega melakukanya.


Setelah menemukan apa yang ia cari, Hafiz segera membereskan kembali Tas Alina.


" Hay sayang, aku kangen banget sama kamu?" Ucap Alina, baru keluar dari kamar mandi dengan memeluk mesra Hafiz dari belakang, ketika mendapati suaminya tengah berdiri di balkon kamarnya, tatapan mata Hafiz lurus kedepan, memandang lepas sejauh mata memandang.


Harusnya Hafiz merasa senang, ketika tiba_tiba istrinya berlaku mesra padanya seperti waktu mereka masih pacaran.


Akan tetapi tidak pada saat itu, Hafiz yang sudah di kuasai oleh api amarah yang membuncah.


Hafiz melepas tangan Alina yang melingkar ditubuhnya dengan kasar. Segera ia membalikan tubuhnya menghadap Alina dengan tatapan tajam. Alina sempat merasa terkejut karena Hafiz tidak pernah sekasar itu padanya.


" Jelaskan apa msksudnya ini Alina!" Tanya Hafiz dingin dengan melempar benda yang ia temukan di Tas Alina.


Alina nampak gelagapan menangkap benda yang dilempar Hafiz ke arahnya.


" Owh...ii..ini..Cuma Vitamin kok Sayang? Kamu kan tahu akhir_akhir ini aku banyak banget kegiatan, jadi butuh asupan Vitamin!" Jelas Alina.


Hafiz tersenyum sinis mendengar penjelasan Alina." Saking sibuknya kamu di luaran sana, sampai_sampai kamu melupakan Profesi suami kamu sendiri!" Nampaknya Alina telah salah bicara.


" CUKUP ALINA!" Bentak Hafiz yang kemarahanya sudah sampai ke ubun_ubun."Kamu tahukan selama ini aku dan keluargaku selalu menantikan kehadiran Anak di rumah ini? Tapi kenapa kamu tanpa seizinku meminum obat kontrasepsi itu?!" Alina ternyata benar_benar lupa jika suaminya adalah seorang Dokter kandungan yang paham betul dengan obat yang tengah fi konsumsinya.


" Kamu juga tahu kan Rel, kalau saat ini karir aku lagi ada di puncaknya, jadi aku gak mau di ribetin masalah Anak!" Bukanya meminta maaf, Alina justru menyerukan Alasan yang menohok bagi Hafiz.


" Kamu benar_benar keterlaluan Alina, ternyata selama ini aku telah salah menilai kamu!" Ucap Hafiz dengan mengetatkan rahangnya.


" Sudahlah Rel, aku juga sudah muak dengan kamu dan keluarga kamu yang selalu menuntut aku untuk segera hamil, asal kamu tau sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mau punya Anak, karena Anak hanya akan membawa sumber masalah dalam hidupku!" Tukas Alina panjang lebar.


" Kalau itu mau kamu, detik ini juga kamu, aku CERAIKAN !! Selama ini aku sudah cukup bersabar menghadapi sikap kamu dan ke egoisan kamu!" Kata Cerai yang selama ini dihindari Hafiz, akhirnya terucap mulus keluar dari mulutnya.


" Owh...Fine! Dengan senang hati, hidup dengan kamu selama ini ternyata tidak ada untungnya bagiku, kamu itu tidak lebih dari seorang boneka Papa kamu dan menurutku memilih hidup dengan James justru jauh lebih menguntungkan!" Jawaban tak terduga keluar dari mulut Alina, ternyata selama ini ia menikah dengan Hafiz ada maksud tersembunyi, mengingat Hafiz adalah pewaris tunggal dari semua kekayaan yang di miliki keluar Edsel, Alina berfikir akan mudah meraup kekayaan yang di miliki suaminya.


Namun yang terjadi justru di luar dugaan, semua Perusahaan ternyata sudah diambil alih dan dikendalikan oleh Ayah Hafiz, dan Hafiz hanya mengurus Rumah Sakit yang sampai saat ini dikelolanya.


" Jadi selama ini kamu ada main di belakangku dengan Laki_laki itu?!" Hafiz berspekulasi sendiri ketika Alina menyebutkan nama James.


Alina hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


Fakta baru yang di dapatkan Hafiz, selain Alina yang punya maksud memanfaatkan dirinya, ternyata Alina juga telah berselingkuh dengan James rekan bisnisnya.

__ADS_1


Hafiz pun semakin mantap untuk menceraikan Alina, karena memang tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan pernikahan yang sudah tidak sehat mulai awal.


Untuk kedua kalinya Hafiz menyandang status Duda sepanjang sejarah hidupnya.


***


" Kenapa kamu ndak mencoba pertahanin Rumah tangga kamu Mas?" Tanya Khadija yang masih shock mendengar kabar perceraian Hafiz.


" Percuma Ja, gak ada alasan buatku mempertahankan semua itu, masalah yang diperbuat Alina cukup Compleks menurutku."


" Sayang sekali, padahal kalian itu saling mencintai dan kalian pasangan yang serasi." Sesal Khadija.


" Untuk apa saling mencintai tetapi tidak saling mengerti dan untuk apa serasi jika itu hanya untuk menyakiti, karena Alina menikah denganku berawal karena materi." Kata_kata Puitis yang di ucapkan Hafiz.


" Aku turut prihatin Mas, semoga kamu bersabar dan bermunajadlah kepada Alloh agar kamu selalu diberi yang terbaik dalam menjalani hidup ini." Ujar Khadija bijak.


Inilah yang aku suka dari kamu Ja? Kata_katamu yang selalu bisa menenangkan hatiku.


" Makasih ya Ja?" Ucap Hafiz, menatap Khadija yang tatapanya meneduhkan hatinya.


" Boleh malam ini aku menginap disini? Aku ingin menemani Zahra, Ja?"


" Iya, boleh Mas, Zahra kan anak kamu juga, ndak ada hak aku melarang kamu?"


" Ya udah, biar aku jaga Zahra di sini, kamu istirahat saja di ruanganku."


" Ndak usah Mas, biar aku keruangan Ummi saja, disana ada Leni juga yang nemenin." Hafiz pun mengangguk pasrah.


Khadija pun keluar dari ruangan Zahra dan bergegas menuju ruangan Ummi Aminah karena jam sudah menandakan pukul Sepuluh malam.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Komenya...Khop Khun Kha...🙏🙏🙏*


__ADS_2