
🍁🍁🍁
Karena di S2 ini, banyak bahas kehidupan Zahra, jadi disini author memakai gaya bahasa santai sesuai karakter Zahra yang cablak dan Bar-bar.
Ada dua sudut pandang yang author pakai dalam part S2 ini, Pov Zahra dan Pov Author.
Semoga menghibur...😊
🍁🍁🍁
Pov Zahra
___
Tin ... Tin ...
"Ra cepetan, gue telat!"
"Iya, iya," Buru-buru mengikat tali sepatu.
"Lama banget sih?" Melirik kesel.
"Berisik! Udah ayo jalan," Aku menepuk pundak kak Nio setelah naik ke boncengan motornya.
Ya, pagi ini aku berangkat kuliah numpang sama kak Nio.
"Nih pake dulu helm,"
"Oh iya lupa," Aku nyengir sambil nerima helm yang di ulurin kebelakang oleh Kak Nio.
Biasanya aku berangkat kuliah bareng Kak Dipta, tapi tadi berhubung itu si Om ganteng gak bisa jemput katanya mau antar sekolah si Memey.
Iya, si Memey adik sepupuku anaknya Om Aslan sama Tante Aisyah. Sekarang dia sudah duduk di kelas XI SMA. Aku kurang jelas ada hubungan apa di antara mereka, yang aku tau mereka akhir-akhir ini, sepertinya mereka sedang deket.
Tapi, ya gitu pas aku tanya sama yang bersangkutan mereka cuma memberi senyuman.
Sabodo lah yang penting kalau sampai nanti mereka kedapatan jadian, akan aku tarik pajak jadian alias minta traktiran.
Sempat Papa menawariku, beliau yang akan mengantar, tapi dengan cepat aku menolaknya mentah-mentah. Bukan bermaksud apa-apa, aku hanya malas saja menanggapi ocehan-ocehan tak berguna,
"Ra, salam dong sama Papa kamu?" Teman sekelas.
"Ra, itu Papa kamu kapan sih jadi duda?" Teman seangkatan yang selaranya Om-Om.
Kamvret! Nyumpahin aku jadi piatu?
"Dek, itu kakaknya ya?" Biasanya kakak-kakak angkatan yang bertanya seperti ini. "Boleh minta nomer WA kakaknya nggak?" Mulai ngelantur.
Jadi, ku putuskan lebih baik aku nebeng sama Kak Nio, meski harus mendapat omelan seperti tadi.
Maklum sih ya, meskipun Papa itu sudah umur Empat puluh Sembilan tahun kurang Seminggu, tapi mukanya itu menolak tua, karismanya tidak kalah dengan yang muda, jadi tidak heran masih banyak yang melirik. Bisa di bilang Papa itu hot daddy.
Bunda juga gitu, meski orangnya jarang perawatan tapi wajah Bunda itu selalu tampak segar, adem, berseri-seri, dan aura kecantiknya itu alami, tanpa banyak polesan. Mungkin efek sering berwudhu kali ya? Pantas saja Papa tidak bisa berpaling dari Bunda, kata Papa udah terlanjur 'Jatuh Sayang'.
"Ra, tolong kalo nanti ketemu Nando kasih ini sama dia. Gw masuk kelas dulu dah telat,"
"Eh--" Mau nolak udah keburu ngeloyor aja tuh kak Nio.
Setelah turun dari motor, Kak Nio menitipkan bungkusan, aku tidak tau, ini isinya apa. Kebetulan jam masuk kelas masih kurang Satu jam lagi, jadi langsung saja aku ke kantin, siapa tahu di sana aku bertemu Kak Nando.
Sebenarnya aku malas bertemu dengan kak Nando. Bukan karena dia jelek atau apa, tapi lebaynya itu Naudzubillah. Suka bikin orang *ilf*eel, tapi baik sih orangnya suka neraktir, secara dia orang kaya, anak dari pemilik pabrik kresek.
Kalau ngomongin tampang para komplotan Nio and the gank yang berjumlah Tiga orang, tidak usah di raguin lagi. Most Wanted-nya Kampus.
Sesuai dugaan.
Nah itu orangnya, dari kejauhan saja sudah kelihatan batang hidungnya. Dari segi tampang dan penampilan yang membuatnya berbeda dari yang lain.
"Eh, ada si gemoy," sapa si ganteng tapi alay.
"Nih kak dari kak Nio," Aku menyerahkan titipan dari kak Nio tadi.
"Mau kemana?" tanyanya saat aku mau balik.
__ADS_1
"Ke kahyangan," jawabku asal, sambil memberinya cengiran. Jangan senyuman nanti dia bisa ke-ge-er-an.
"Hahaha ..." Malah ketawa lagi, "Lucu banget sih? Mau gak jadi pacar Abang?" Haadeeeuuhh, yang begini ini, bikin aku malas.
"Sini aja dulu temenin Mas Ganteng," cegahnya.
Sorry, biar kata ganteng, Zahra gak bakal tergoda.
"Bang, Jus Alpukat nya Satu, sosis bakarnya Lima ya?"
Eh, belum sempar menjawab sudah mendapat serangan fajar.
Kalau sudah begini auto lemah iman dedek gemoy Bang. Memang tau aja si Bambang bikin Zahra meleleh.
Akhirnya dengan sangat terpaksa tetapi gembira karena pagi-pagi sudah mendapat traktiran, aku pun langsung duduk di seberang kak Nando sambil menunggu jam masuk kelas tiba.
Brak,
Aku dan kak Nando terkejut, mendongak bersamaan, saat beberapa buku tebal di banting kasar di atas meja.
Arsenio Danendra, pelakunya.
"Gara-gara lo nih Dek, gue jadi telat," gerutu kak Nio, sambil duduk di sebelahku dengan wajah cemberut.
"Kok, gara-gara Zahra?" protesku tidak terima.
"Iya lah, tadi kan harus puter balik lagi jemput kamu," sungut kak Nio, "Mana ini waktunya si Dosen killer lagi, alamat dapat D!" cerocosnya.
Jadi, merasa bersalah.
Memang sih, tadi saat aku minta untuk di jemput waktunya terlalu mepet.
Ngomong-ngomong si Dosen killer, Abi Haikal orangnya. Beliau itu orangnya sangat Profesioanal. Tidak pandang bulu kalau sudah memberikan nilai, jangankan dengan kak Nio yang notabene sebatas anak dari Om Dio teman semasa SMA-nya, aku saja yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri, pernah diberi nilai C, gara-gara bolos absen Tiga kali.
"Udalah Yo, gak usah marah-marah. Kasian tuh adek lo, takut," kata Kak Nando.
Ayey, ada yang membela. Padahal cuma nunduk pasang tampang melas.
Aku masih menunduk pura-pura takut. Ku lirik sekilas, kak Nio masih memasang tampang Devil.
"Maafin Zahra kak," ucapku tidak tahan lagi, masih sambil menunduk.
"Ah, elo Yo! Jadi sedihkan si gemoy,"
Kalau momentnya tidak pas seperti ini, rasanya pengen sekali tak hiiihhh ... Ini kak Nando. Caper banget sih?!
"Iya udah," kak Nio merangkul kepalaku di tarik ke keteknya. Untung wangi.
Aku tau, kalau kak Nio pasti tidak akan tega lama-lama marah, terlebih denganku yang sudah di anggapnya seperti adiknya sendiri.
"Kak Nio lepas!" Biar wangi, tetep aja engap kalo di jepit lama-lama.
"Yuhuuu ... Pesanan datang," suara lenjeh Bang Maman datang sambil membawa pesanan, Kak Nio pun melepas rangkulan.
Tanpa menunggu lama, aku langsung tancap gas melahapnya. Jam masuk pun udah mepet, jadi harus cepet-cepet biar gak mubadzir ini makanan.
"Ra udah denger belum?" Ini kak Nando ngajak tebak-tebakan atau ngasih pertanyaan? Bingung.
"Hhhmm ... Apa?" jawabku sekenanya, tapi penasaran juga.
"Tapi kamu yang sabar ya?"
"Hhhmm ..." Mulut penuh, jadi cuma bisa dehem.
"Ngomong tuh yang jelas, gak usah bertele-tele," sahut ka Nio ikut penasaran. Aku pun mengangguk setuju.
"Ya gak gitu juga Yo, gue takut Zahra ntar pingsan makanya gue pastiin dulu,"
Kok, aroma-aromnya gak enak banget, kaya ada bau gosong gitu, denger kata-kata Kak Nando.
"Jangan kaget ya Ra?" timpuk juga nih lama-lama, bikin orang penasaran setengah hidup.
"Buruan, ngomong?" desakku sambil menyipitkan mata.
__ADS_1
"Varo minggu depan mau nikah,"
"Serius lo Do?" Kenapa kak Nio kaget gitu? Kak Nando manggut-manggut mengiyakan.
"Oh," Jadi it ...
Tunggu, tunggu ... Siapa tadi? Lagi gak salah denger kan ya? Otak ku yang o'on nge_Blank seketika.
"Ulangi kak?" pintaku pada Kak Nando.
"A L V A R O!" suara Kak Nio memperjelas, pas banget di telinga.
Ebuset! Nama itu kok rasanya familiar banget, terus ini empedu rasanya kaya ada yang nyubit?
Aku tertawa sumbang, "Kak Nando becandanya gak lucu. Pasti lagi nge-Prank Zahra kan?" Emang Kak Nando kalo becanda suka ngeselin. Kalo suka sama aku kan tinggal ngomong aja, gak usah pake pitnah segala.
Tapi kok aku jadi pengen nangis ya?
"Tiga bulan," Apaan lagi coba, Kak Nando acungin Tiga jarinya.
"Wah, parah si Varo!" Kak Nio gebrak meja, Aku langsung pegang dada. Kaget woy!
Aku melongo, pasang tampang cengo.
kenapa? Ada apa sama Tiga bulan? Jadi pusing maksud mereka berdua apa'an?
"Itu calonya si Varo udah bunting Tiga bulan FATIMAH AZ ZAHRA," Seakan tau kalo aku lagi galfok sambil garuk-garuk kepala, Kak Nio negasin lagi.
"Terus?" Lah itu cewek yang bunting, masa aku harus sewot sih.
"Yang buntingin itu cowok lo Dek?" Wait ... Emang aku punya cowok? Kenapa nge_Blank gini sih, pake acara mendadak amnesia lagi!
"Lah, masalahnya sama aku apa? Kak Nando sama Kak Nio kompakan geleng-geleng kepala.
Oke-oke, aku akuin seorang Zahra yang anaknya Dokter spesialis kandungan ini otaknya emang agak lemot.
"ZAHRA adek gue yang gemoy kata si Nando, dengerin gue. Masalahnya itu yang ngebuntingin itu cewek, cowok lo, soulmate lo, ato apalah. Jadi, Please jangan blo'on, gemes banget gue dari tadi,"
Sumpah demi apapun, Fix kali ini aku gak salah denger dan aku gak lagi mimpi! Dadaku langsung sesek banget. Siapa pun yang ada di sekitar sini, tolong siapin Ji Chang Wook atau Choi Siwon buat kasih napas buatan.
Sosis yang tadi aku kunyah, sekarang susah banget di telen.
Sesek banget Ya Allah, Jadi pengen meluk Kak Nio. Eh,--
Gak boleh kata Bunda, bukan muhrim. Tapi kalo kak Nio yang meluk duluan, aku terima.
Jadi ini alasan si Varo tiba-tiba ngajakin putus seminggu yang lalu?
Alvaro cinta pertamaku sekaligus cowok pertama yang selalu bikin hatiku berdebar dan sekarang pun hati ini masih berdebar, lebih kencang malah, setelah denger dia mau nikah.
Setahun kita pacaran, dia nembak pas akhir semester Dua, dia seangkatan sama Kak Nio, tetapi beda Fakultas.
Gak ada yang tau kalo aku udah putus sama Varo. Aku gak ngomong sama siapa pun termasuk Kak Nio dan Kak Dipta, aku gak mau mereka marah karena aku di putusin. Selain itu aku masih berharap bisa balikan sama Varo karena emang gak ada masalah waktu kita putus, aku berfikir mungkin dia lagi ada masalah, jadi aku biarin dia tenang dulu.
Dan benar si Varo lagi dalam masalah, dia ngehamilin anak orang, itu artinya dia udah mendua selama ini.
WTF. untuk pertama kalinya aku mengumpat.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Komen dan Votenya ya ...🙏😊😘
__ADS_1