
Di pagi hari yang cerah, masih dalam suasana bulan yang penuh berkah, tak membuat senyum Khadija merekah seperti hari_hari sebelumnya.
Khadija memandang lepas ke luar jendela, tatapan kosong dari sorot matanya tak dapat melihat ada sesuatu yang bisa menarik hatinya, mengobati segala kegundahan yang ada.
Rasa trauma akan tragedi malam itu selalu menghantuinya. Ada kecemasan di dalam hati Khadija.
Tak ada yang bisa di perbuat Khadija selain berpasrah kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Khadija ingin mencoba mengikhlaskan semuanya meskipun masih terasa berat baginya.
Mengikhlaskan semua yang terjadi adalah pilihan yang terbaik, karena jika hanya menyesalinya itu akan membawa Khadija dalam keterpurukan.
Bismillahirrohmanirrohim...Berikanlah selalu yang terbaik bagiku Ya Alloh.
Doa yang selalu di panjatkan oleh Khadija setiap saat. Sesuatu yang menurutnya baik belum tentu baik menurut Alloh, dan sesuatu ya buruk baginya belum tentu buruk menurut Sang Maha Pencipta.
Seperti yang sudah dialami Khadija selama ini, mungkin dengan cara ini Alloh menunjukan kasih sayangnya, karena di balik semua kejadian pasti ada hikmahnya.
Khadija saat ini ingin memulai kehidupanya yang baru tanpa ada penyesalan melainkan hanya keikhlasan yang akan ia tanamkan di dalam hatinya.
" Assalamualaikum, Selamat pagi Ummi?" Ucap Khadija yang baru keluar dari kamarnya. mendapati Ummi Aminah yang tengah duduk bersantai menikmati acara kajian di Televisi.
Ummi Aminah menoleh dan tersenyum ke arah Khadija. " Waalaikum salam Dija, sini duduk." Jawab Ummi, sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Khadija pun beranjak mendekat, lalu menuruti arahan Ummi Aminah.
" Gimana perasaanmu pagi ini, apa kamu baik_baik saja?" Tanya Ummi memastikan, Fokus memandang Khadija.
" Insyaalloh Dija baik_baik saja Ummi."
" Alhamdulillah."
" Oh ya Ummi, ada yang bisa Dija bantu?"
" Tidak usah, mending kamu istirahat dulu."
" Jangan Ummi, Dija ndak biasa cuma diam begini." Menurut Khadija, dengan memiliki kesibukan maka semua masalah yang ada akan sedikit teralihkan.
" Ya sudah kalau begitu mari ikut Ummi?" Ajaknya pada Khadija. Ummi Aminah memencet tombol merah pada remote yang ada ditanganya, mematikan kembali Televisinya. Lalu berdiri dari duduknya dan di ikuti oleh Khadija.
Ummi Aminah mengajak Khadija menuju ke sebuah bangunan kira_kira berukuran 7 x 9 meter persegi, yang ada di samping rumah Ummi Aminah.
" Ini milik Ummi?" Tanya Khadija saat sudah masuk ke dalam bangunan itu. Matanya menjurus ke segala arah.
" Iya, ini usaha yang di buatkan Alm. Suami Ummi untuk mengisi kesibukan Ummi saat Ummi sendiri di tinggal bekerja." Jawab Ummi, mengenang Alm.suaminya.
Ummi Aminah memiliki sebuah Toko yang menyediakan segala kebutuhan sehari_hari berupa sembako dan kebutuhan rumah tangga lainya, bisa dikatakan seperti Mini market yang di beri nama Ummi mart.
__ADS_1
" Apa kamu mau, bantu_bantu Ummi di sini?"
" Iya Ummi, Dija mau?" Khadija mengangguk antusias.
Ummi Aminah lalu mengarahkan apa saja yang harus di lakukan Khadija, dan Khadija pun tampak bersemangat melakukan aktifitas barunya saat ini.
***
Tubuh tinggi tegap dari seorang yang memiliki paras tampan nan menawan tak lupa dengan lengkungan manis yang terukir di bibirnya, melangkah menuju ke Ruang utamanya.
Ruang Direktur Utama RS. MEDIKA NUSANTARA.
Siapa lagi kalau bukan dr. Carel Hafiz Edsel.
Tunggu! Bukankah dia sedang patah hati? Terus kenapa mendadak terlihat bahagia?
Seperti aktifitas setiap harinya, setelah duduk di kursi kebesaranya Hafiz selalu memeriksa laporan_laporan yang bersangkutan dengan urusan Rumah sakit yang di kelolanya serta menandatangani berkas_berkas penting lainya.
Tok.. Tok...Tok...
" Masuk!" Jawab Hafiz pada orang yang mengetuk pintu ruanganya.m
Setelah mendapat persetujuan dari sang pemilik ruangan, perlahan pintu pun terbuka.
" Selamat pagi sayang?" Sapa seseorang dengan panggilan mesranya.
" Pagi juga...Kok gak bilang mau ke sini? Tau gitu tadi aku jemput?" Ucap Hafiz saat seseorang itu sudah duduk diatas pangkuanya.
" Sengaja, aku mau kasih kamu Seurprise? Ini aku bawakan sarapan, sebagai tanda permintaan maaf dari aku." Ucap orang yang ada di pangkuan Hafiz, menunjuk box makanan yang ia letakan di atas meja kerja Hafiz.
" Di maafin gak ya?" Hafiz menggodanya.
" Ya udah, kalau gak di maafin, aku pergi beneran ya?"
" Eh...Ya jangan dong? Aku kemarin sudah hampir gila tau gak, gara_gara kamu tinggalin!" Ujar Hafiz dengan memeluk orang yang ada di depanya.
" Aku juga gak tau yank, kalau ini ide para orang tua buat ngeprank kita."
Ternyata Ayah Hafiz bekerja sama dengan orang tua Alina untuk memberikan kejutan untuk anak_anaknya.
Ayah Hafiz sudah merencanakan pertunangan Hafiz dan Alina, melihat hubungan mereka berdua sudah sangat dekat dan mengingat kesepakatan pernikahan Hafiz dan Khadija yang akan segera berakhir.
Tak diduga dan tak dinyana, Khadija memutuskan pergi sebelum batas waktu pernikahanya berakhir, namun itu tidak masalah buat Ayah Hafiz, justru ia merasa senang tidak susah_susah mengusir Khadija dari rumahnya.
Semalam, di sebuah Room Private yang ada di Restauran Hotel Bintang Lima. Hafiz terduduk pasrah di kursi yang telah di pesan sebelumnya oleh sang Ayah.
__ADS_1
Pikiranya pun tidak fokus, melayang entah kemana, memikirkan kepergian Khadija atau kepergian Alina kah? Mungkin dua2nya dalam konteks yang berbeda.
" Maaf, saya datang terlambat." Ucap seseorang yang baru datang.
Ayah dan Ibu Hafiz pun berdiri menyambut kedatangan sang tamu, saling berjabat tangan. Hafiz tidak menghiraukan siapa tamu yang berada di hadapanya, matanya fokus pada layar persegi yang di peganya.
" Tidak apa_apa kami pun baru saja datang." Jawab Ayah Hafiz ramah dan sang Ibu hanya tersenyum." Carel, ayo salaman dulu." Sang Ayah menyenggol kaki putranya.
Dengan malas Hafiz mematikan layar ponselnya, lalu berdiri, pandanganya teralihkan ke arah orang yang masih berdiri dihadapanya.
Kening Hafiz berkerut." Om, Tante?" Hafiz terkejut dengan kedatangan Orang tua Alina.
" Bukanya Alina sudah kembali ke Luar Negeri?" Tanyanya lagi.
" Iya, Alina akan kembali ke Luar Negeri..." Jawab Ayah Alina.
" ....Tapi, nanti bersama kamu untuk bulan madu." Timpal Ayah Hafiz sembari menepuk pundak putra semata wayangnya.
" Hah~..." Hafiz masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
" Sudah_sudah mari kita duduk dulu." Ucap Ayah Hafiz mempersilahkan tamunya.
Mereka semua akhirnya duduk di kursinya masing_masing.
" Maaf semuanya, saya terlambat." Ucap Alina yang baru datang dengan menggunakan Gaun malamnya, berwarna maroon berpotongan leher sabrina yang menampakan kedua bahu mulusnya.
" Alina?" Hafiz kembali berdiri, matanya berbinar melihat kekasihnya tengah berdiri cantik di hadapanya.
Alina tersenyum dan mengangguk. Ternyata Alina sudah di beritahu Ayahnya saat akan datang ke acara perjodohanya dengan Hafiz.
Sengaja Alina tidak memberitahukan kepada Hafiz, bertujuan memberikan kekasihnya itu Seurprise, sebagai ganti kekecewaan yang sudah Alina berikan.
Kekecewaan Hafiz pun terbayarkan dengan kejutan perjodohanya dengan sang pujaan hati. Mood yang semula buruk kembali membaik.
Kecemasan akan keberadaan Khadija pun sejenak sirna sudah, meluap entah kemana.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*Bersambung...
Jangan lupa Like dan komenya...🙏🙏🙏*