
🎶Jika kau radio
Dan engkau lagunya
Dan ku putarkan
Hingga semua terleka
Begitulah kita
Ditakdirkan untuk bersama
Jika ku air Wudhumu
Menjadi seri mu
Dalam Lima waktu
Jika kau kuat percaya
Akulah jodohmu
Jagamu selalu
Menarilah sayang
Di hari bahagia
Di bawah bulan bintang
Kasih kita berdua
Jangan bimbang sayang
kita arungi bersama
berdua selamanya
Sampai ke hari tua...Mencintaimu...🎶
Alunan musik mengiringi lagu yang didendangkan Hafiz untuk merayu sang istri yang tengah merajuk. Dengan bermodalkan sendok yang di pukul-pukulkan ke meja, menciptakan irama yang pas mengiringi liriknya.
Meski suara Hafiz pas-pasan, namun cukup membuat Khadija terkesima. Yang semula perempuan itu berada di dapur, seketika menghampiri sang suami yang berada di ruang makan.
Dengan menopang dagu sembari tersenyum Khadija menikmati alunan lagu yang dinyanyikan suaminya hingga lirik terakhir.
"Kok kamu tahu sih lagu itu Mas?"
"Apa sih yang gak aku tahu? Semua kesukaan kamu, Mas tahu." jawab Hafiz jumawa seraya mencubit kecil ujung hidung istrinya.
Lagi-lagi Hafiz berhasil melelehkan hati Khadija dalam sekejap. Secara diam-diam Hafiz selalu mengecek ponsel istrinya, bukan karena ia curiga, namun Hafiz selalu ingin tahu lebih banyak tentang Khadija.
Khadija selalu menuangkan keluh kesahnya di draft penyimpanan di dalam ponselnya. Sebagai pengganti buku harian yang telah lama ditinggalkan oleh generasi milenial saat ini.
Mungkin terkesan tidak sopan, mengulik privasi seseorang apa lagi sampai menggeledah isi ponsel. Kebetulan Handphone milik Khadija tidak pernah di password alias tidak terkunci.
Bagi Hafiz itu sah-sah saja, toh Khadija adalah istrinya, dan kalau pun suatu saat Khadija ingin mengetahui isi dari ponselnya, maka dengan senang hati Hafiz akan mempersilahkanya. Hafiz tidak ingin ada rahasia diantara dia dan istrinya.
Dengan saling terbuka satu sama lain, maka akan membuat mereka saling percaya.
__ADS_1
"Papa..." Lengkingan suara Zahra yang khas membuat Hafiz menoleh ke belakang.
"Hey...Princesnya Papa udah cantik rupanya," puji Hafiz sambil mengangkat tubuh sang anak ke atas pangkuanya.
"Plinces kangen sama Papa?" keluh Zahra sembari memainkan kancing kaus sang Papa.
"Iya sayang, makanya Papa hari ini sengaja gak kerja, karena Papa mau menemani Bidadari-Bidadari Papa di rumah."
***
[Mas, kamu kapan sih pulangnya?] rengek Aisyah menatap layar ponselnya.
[Sabar ya sayang, nanti kalau semua urusan pekerjaanku di sini sudah selasai, pasti Mas pulang kok.] jawab Aslan dari belahan dunia di seberang sana.
Aisyah mengarahkan kamera ponselnya pada perutnya yang sudah sedikit membuncit, [Tuh Mas anak kamu panggil-panggil Papanya terus? Papa cepet pulang aku kangen pengen di elus-elus Papa.] Aisyah membelai perutnya sambil menirukan suara khas anak kecil.
[Hahaha...Yang pengen di elus, anaknya atau Mamanya?] tanya Aslan menggoda pada istrinya.
[Ya dua-duanya Mas?] jawab Aisyah manja, mengalihkan lagi ponselnya tepat di depan wajahnya.
[Oh ya, kamu udah cek kandungan belum? Ini udah tanggalnya lho sayang?] tanya Aslan mengingatkan, meski ia berada jauh dari istrinya, namun Aslan selalu tahu kapan jadwal istrinya periksa ke Dokter.
[Ya udah, biar entar aku suruh Mas Hafiz datang kesini.] jawab Aisyah santai.
[Gak boleh! Kamu periksanya sama dr.Vera aja, aku gak mau Carel pegang-pegang kamu, apa lagi pas gak ada aku gini, yang ada entar keenakan dia!] omel Aslan posesif. Aisyah memutar bola matanya malas ke arah sang suami.
[Iya, iya, nanti aku datang ke Rumah sakit temuin dr. Vera] pungkas Aisyah tidak ingin kultum sang suami bertambah durasi.
[Satu lagi, kamu gak boleh berangkat sendiri. Minta antar Mama atau siapalah biar kamu ada yang jagain.]
[Mama mau pergi arisan, ya udah aku minta antar Fino aja gimana?]
[Kapan anak sialan itu datang?] dari nada bicaranya, sepertinya Aslan tidak menyukainya.
[Kemarin.]
[Awas! Aku mohon kamu jangan deket-deket sama dia!] pinta Aslan penuh penekanan.
Aisyah mengerutkan keningnya, [Kenapa? Kamu cemburu ya?] goda Aisyah, mengingat saudara sepupu suaminya itu memiliki wajah blasteran.
[Pokoknya kamu gak boleh deket sama itu anak, kalau perlu selalu kunci kamar!] tampak jelas raut kekhawatiran dari wajah Aslan.
[Kenapa sih Mas, kamu segitunya sama Fino? Kamu iri ya, dia lebih ganteng dari kamu?] Aisyah selalu menanggapi suaminya dengan candaan.
[Ck! Kapan-kapan aku ceritain, ini aku udah telat. Jaga diri kamu baik-baik dan calon anak kita dan ingat pesan aku tadi.]
[Siap Bos] Aisyah mengangkat tangan di depan keningnya dengan posisi hormat.
Sambungan Vidio call pun terputus, dan Aisyah memutuskan turun dari kamarnya, karena perutnya sudah terasa lapar.
"Kok lama sekali kamu di kamar?" tanya Ibu mertua duduk bersama Ayah mertua serta Fino yang sudah menunggunya di meja makan.
"Maaf Ma, Pa sudah menunggu, Komandan Aslan tadi Vidio call." jelas Aisyah sembari menarik satu kursi di sebelah Ibu mertuanya.
"Ya sudah, cepat kamu sarapan. Kasihan cucu Mama nanti kelaperan." titah Ibu mertua sambil mengusap perut menantunya.
"Aslan tidak bilang apa-apa sama kamu?" sang Ayah mertua membuka suara, seperti tahu apa yang di sampaikan oleh Puteranya.
"Ada sih Pa, tadi Mas Aslan bilang..." sekilas Aisyah menatap ke arah Fino yang bersikap cuek, sedang menikmati makananya. "...tadi Mas Aslan nyuruh untuk check up ke Dokter." Sambung Aisyah mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Kedua mertuanya pun mengangguk setuju.
"Tapi Mama nggak bisa anter kamu lho sayang?" ujar Ibu mertua, memegang pundak wanita muda di sebelahnya.
"Ndak papa kok Ma, biar Aisyah berangkat..."
"Biar aku yang antar." sahut Fino, masih sibuk mengunyah makananya.
"Tapi," Aisyah menatap kedua mertuanya bergantian.
"Kenapa? Dia anak Aslan kan? Berarti aku pamanya." tanya Fino di akhiri penegasan akan status dirinya dalam keluarga Aslan.
Sang Ayah mertua, memberikan anggukan kepala sebagai jawaban. Aisyah pun terpaksa menurut, dia tidak tahu alasan kenapa Ayah mertuanya mengizinkan Fino untuk mengantarnya.
Setelah acara sarapan selesai, Aisyah kembali ke kamar untuk mengambil tas serta kunci mobil milik suaminya.
Selama di perjalanan Aisyah dan Fino hanya saling diam, tidak ada yang membuka suara.
Tidak ada sesuatu yang aneh dari seorang Fino. Berbanding terbalik dengan apa yang di khawatirkan Aslan.
Aisyah menyandarkan kepalanya di kaca mobil, dan telinganya ia sumpal dengan headset untuk mengusir kejenuhan selama perjalanan ke Rumah sakit.
***
"Huuueeekkk...Huuueeekkk..."
"Kamu kenapa Mi?" tanya Dio panik, sambil mengurut tengkuk istrinya.
Clara menggeleng, setelah mual di perutnya sedikit mereda.
"Gak tau Pi, akhir-akhir ini kepala Mami sering pusing." ucap Clara bersandar di bahu suaminya.
"Jangan-jangan kamu hamil Mi?" celetuk Dio, terus berjalan sambil memapah tubuh lemas istrinya.
Clara mengangkat kepalanya, "Jangan dulu deh Pi, Nio masih kecil."
Dio membantu merebahkan sang istri di atas ranjangnya, "Terus, kamu nunggu Nio SMA dulu, baru kamu mau hamil, iya?" Dio menatap teduh ke arah istrinya. "Dengerin Papi, kalaupun kita di kasihnya sekarang berarti itu udah jadi rizki kita Mi, Alloh tahu yang terbaik buat keluarga kita." lanjut Dio menenangkan istrinya.
Clara hanya tidak ingin Putra kecilnya kurang perhatian dan kasih sayang jika kelak dia memiliki adik. Setidaknya menunggu Nio sampai berumur Sepuluh atau Sebelas tahun, umur yang cukup untuk menerima, jika perhatian kedua orang tuanya terbagi. Dan itu hanya asumsi Clara tanpa menanyakan langsung pada Nio, putranya.
.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Buat yang penasaran itu lagu penyanyinya siapa bisa search dengan judul "Sampai ke hari tua" Lagunya bener bikin baper.
Jangan lupa Like dan Komenya ya?🙏🙏🙏*
__ADS_1