
Setelah kepulangan Zahra Dua hari yang lalu, Hafiz selalu menghabiskan waktunya untuk berkunjung ke rumah Ummi Aminah tempat Khadija, Leni dan Zahra tinggal.
Zahra yang selalu merengek pada sang Ayah untuk menemaninya, membuat Hafiz dengan senang hati menuruti kemauan Putri kecilnya tersebut. Berbeda dengan Khadija yang merasa tidak enak hati pada sang Tuan rumah yaitu Ummi Aminah.
Meski sudah mendapat izin dari Ummi Aminah, semata demi menyenangkan hati Zahra, namun, Khadija selalu di hantui rasa cemas. Khadija tidak ingin mencoreng nama baik Ummi Aminah karena cibiran tetangga atas kedatangan seorang Laki-laki yang bukan mahrom di keluarga barunya.
"Mas, sudah malam. Waktunya kamu pulang," Khadija berdiri diambang pintu kamar Zahra, mengingatkan mantan suaminya yang tengah membacakan buku cerita untuk Putrinya.
"Sayang, sekarang waktunya Papa pulang, besok kita main lagi?" pamit Hafiz pada Zahra setelah menutup kembali buku cerita yang ada di pangkuanya.
"Tapi Pa, Plinces pengen tidul sama Papa?" Pinta Zahra menengadahkan wajahnya ke arah sang Ayah dengen puppy eyesnya.
Hafiz pun melempar pandangan ke arah Khadija, meminta persetujuan.
Khadija mendengus kesal kemudian berlalu dari ambang pintu.
"Sayang, tunggu sebentar ya? Papa mau ngomong sama Bunda." pamit Hafiz, ingin mengejar sang mantan istri yang menampakan wajah sebalnya. Zahra pun mengangguk, mengizinkan.
Hafiz segera menyusul Khadija. Perempuan itu kini tengah duduk diteras rumah, dengan wajah cemberut.
"Ja~..."
"Ini gara-gara kamu Mas! Selalu memanjakan Zahra, dia sekarang makin susah di atur," Gerutu Khadija memotong ucapan Hafiz saat baru membuka suara.
Hafiz duduk disebalah kursi Khadija yang di pisah meja bundar kecil ditengahnya. "Aku gak pernah manjain Zahra Ja, aku cuma memberikan apa yang dia mau, itu aja?" kilah Hafiz
"Itu sama saja Mas," kekeuh Khadija dengan suara sedikit meninggi.
"Ya sudah kalau begitu, Zahra akan aku bawa pulang ke Apartemen." tegas Hafiz
Khadija terlonjak, matanya menatap tajam ke arah Pria yang ada di sampingnya. "Ndak boleh! Kamu ndak boleh bawa Anakku kemana-mana!" Emosi Khadija mulai meluap.
"Hey...Ja, Zahra juga anakku!" balas Hafiz tak mau kalah.
"Ingat ya Mas, aku Ibu yang melahirkan dia!"
"Kamu juga harus ingat, aku Papanya yang su~..."
"Khadija, nak Hafiz kenapa kalian ribut malam-malam begini?" sela Ummi Aminah yang baru keluar dari dalam rumah karena merasa terusik dengan suara gaduh dari luar rumahnya.
"MAAF UMMI." ucap Khadija dan Hafiz bersamaan. Khadija dan Hafiz menunduk merasa tak enak hati atas sikapnya barusan.
"Biarkan malam ini nak Hafiz menginap disini. Kasihan Zahra jika harus menangis, pelan-pelan saja kita beri pengertian pada Zahra nanti." ujar Ummi Aminah memberikan solusi atas perdebatan Khadija dan Hafiz.
Khadija terkejut mendengar pernyataan Ummi Aminah yang memihak pada Hafiz. "Tapi, Ummi~..."
"Sudah sana, sekarang kamu pergi ke rumah Pak RT, lapor jika ada tamu yang menginap. Jangan lupa bawa sekalian KTP nak Hafiz." titah Ummi Aminah pada Khadija.
"Terima kasih Ummi." ucap Hafiz sambil mengangguk hormat melihat ke arah Ummi Aminah. Perempuan paruh baya itu pun membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala.
Kemudian Ummi Aminah berlalu kembali masuk kedalam rumah.
Tanpa di minta oleh Khadija, Hafiz segera menyerahkan KTP yang ia ambil dari dompetnya, lalu menyodorkanya ke arah Khadija yang masih terdiam menahan kekesalanya.
"Udah sana Bunda kerumah Pak RT, mau Papa antar?" goda Hafiz pada Khadija. Senyum kemenangan yang di tampilkan pria itu membuat Khadija semakin kesal.
__ADS_1
Rasanya Khadija ingin sekali mencakar wajah Hafiz, baginya Hafiz saat ini begitu menyebalkan.
Hafiz pun segera masuk kedalam, setelah mendapat tatapan sinis dari Khadija. Ingin rasanya Hafiz terbahak melihat raut kekesalan mantan istrinya itu.
Dengan sangat terpaksa Khadija mengikuti saran dari Ummi Aminah. Khadija pun meminta antar Leni untuk pergi kerumah Pak RT yang berjarak Tiga ratus meter dari rumah Ummi Aminah.
Setelah pulang dari rumah Pak RT, Khadija memutuskan untuk tidur di kamar Leni, tapi sebelumnya Khadija mampir sebentar ke kamarnya untuk membimbing Zahra melakukan ritual sebelum tidur.
Setelah mengetuk pintu dan mendapat sahutan dari orang yang berada di dalam kamar, kemudian Khadija pun masuk.
"Ayo sayang, cuci kaki dan tangan lalu gosok gigi dulu," ajak Khadija pada Putri kecilnya. "Zahra belum Sholat isya' kan tadi?" tanyanya kemudian.
"Belum Bunda. Bunda udah colat? " Zahra balik bertanya ketika sang Bunda menuntunya menuju kamar mandi.
"Bunda sudah Sholat tadi." jawab Khadija dengan menurunkan pandanganya ke arah tubuh kecil Zahra.
"Papa udah colat Bunda?" tanya Zahra lagi.
"Coba Zahra tanya sendiri sama Papa." ucap Khadija yang tidak mau melihat ke arah Hafiz, karena Khadija masih jengkel terhadap mantan suaminya tersebut.
Zahra pun menanyakannya pada sang Ayah, ternyata Hafiz juga belum menunaikan kewajibanya. Karena sedari tadi asik bermain dengan buah hatinya.
Setelah itu Hafiz turun dari ranjang dan mengekor dibelakang Khadija dan Zahra menuju kamar mandi untuk mengambil air Wudhu.
Setelah selesai mengambil Wudhu, Hafiz mengambil duduk di tepi ranjang, menunggu Putri kecilnya yang tengah bersiap memakai mukenah.
Kedua sudut bibir Hafiz terangkat saat memperhatikan gerak-gerik Khadija yang sangat telaten mengenakan mukenah kecil untuk Zahra.
Entah apa makna dari senyumanya itu. Sudahkah Hafiz timbul rasa suka pada Khadija, atau hanya sebatas mengaguminya saja? Biarlah waktu yang menjawab, karena Hafiz pun belum mengerti bagaimana perasaanya terhadap Khadija.
***
Pagi hari,
Ketika Adzan berkumandang seluruh penghuni yang ada di rumah Ummi Aminah sudah bersiap untuk menunaikan Sholat Subuh berjamaah di Masjid terdekat.
Tak terkecuali dengan si kecil Zahra. Karena ia sudah terbiasa terbangun kala sang Bunda tidak ada disisinya.
Namun, tidak untuk kali ini. Si kecil Zahra masih terlelap bersama sang Ayah. Dengan terpaksa Khadija harus membangunkan keduanya untuk ikut pergi ke Masjid bersama-sama.
Tidak terlalu sulit untuk membangunkan Zahra, hanya dengan tepukan lembut di pipi sudah membuat gadis kecil itu membuka mata.
Berbeda dengan Hafiz yang masih sama seperti dulu, pria itu tetap saja sulit untuk dibangunkan di waktu Subuh.
Jika dulu Hafiz masih berstatus sebagai suaminya, Khadija punya kebebasan menyentuh Hafiz. Tetapi saat ini mereka sudah bukan mahrom lagi, membuat Khadija harus menjaga batasan-batasanya.
Namun, Khadija memiliki cara jitu untuk membangunkan Hafiz kali ini.
"Eeungh..." lenguh Hafiz, menggeliatkan tubuhnya ketika sesuatu yang dingin menyentuh wajah mulusnya.
Ternyata Khadija menciprat-cipratka air ke wajah Laki-laki itu.
Perlahan Hafiz membuka mata, di lihatnya samar wajah Khadija yang sudah berdiri disampingnya lengkap dengan mukenah yang digulung di atas bahu.
"Cepetan bangun, ikut ndak ke Masjid?" tawar Khadija datar.
__ADS_1
" Ck! Bisa gak sih banguninya agak lembutan sedikit," Hafiz berdecak sebal, karena tidurnya terusik. Namun ia tetap beranjak turun dari ranjang, dengan langkah gontai menuju kamar mandi.
segera Khadija membantu Putri kecilnya untuk bersiap-siap memakaikan mukenah, tanpa memperdulikan ucapan Hafiz.
Tak lama Hafiz pun sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah basah berseri.
Khadija lalu mengulurkan sarung beserta baju koko yang di pinjamnya dari Ummi Aminah. Yang diperkirakan baju itu milik Alm. Suami Ummi Aminah yang masih disimpan.
Karena tidak mungkin Khadija menyuruh Hafiz sholat dengan pakaian yang sudah lusuh karena tingkahnya di atas tempat tidur semalam.
Akhirnya mereka berlima yang terdiri dari Hafiz, Khadija, Zahra, Leni dan Ummi Aminah melangkah menuju Masjid di pagi yang buta.
Skip...
Setelah pulang dari Masjid, Khadija segera masuk kedalam kamar, sedangkan Hafiz tengah mengobrol dengan Ummi Aminah, Leni dan Zahra di Teras rumah sembari menikmati udara sejuk di pagi hari.
"Zahra, ayo kita siap-siap nak?" panggil Khadija pada Zahra yang ada di pangkuan sang Ayah.
"Jadi hari ini kamu pulang kampung Dija?" tanya Ummi Aminah menoleh ke arah Khadija yang berdiri di depan pintu.
"Jadi Ummi. Tadi malam Aisyah memberi kabar katanya pagi ini kita akan berangkat." jawab Khadija.
Hafiz terkejut, karena Khadija sebelumnya tidak memberitahunya.
Setelah Khadija masuk kedalam bersama Zahra, Hafiz pun meminta izin pada Ummi Aminah untuk menemui Khadija.
"Dija Tunggu!" seru Hafiz saat Khadija akan masuk ke kamarnya.
"Kenapa Mas?" Tanya Khadija ketika sudah membalikan badan.
"Boleh aku ikut kamu pulang ke kampung?"
"Ngapain?" Tanya Khadija lagi.
"Aku cuma ingin minta maaf sama keluarga kamu. Setidaknya semua ini terjadi ada sangkut pautnya denganku." jawab Hafiz mengutarakan maksudnya.
Hafiz pun tau maksud dari kepulangan Khadija. Khadija sejenak diam, mempertimbangkan permintaan mantan suaminya itu.
"Ya sudah, Baiklah," Setelah menimang-nimang perminaan dari Hafiz, Khadija pun mengangguk setuju. Menurutya ada benarnya juga apa yang dikatakan mantan suaminya tersebut, setidaknya ia tidak sendirian menghadapi segala kemungkinan yang terjadi pada saat nanti ia mengungkapkan semuanya di depan orang tuanya.
Kemudian Hafiz berpamitan kembali ke Apartemen untuk berganti baju dan menyiapkan segala keperluan yang harus dibawa selama ikut mudik ke kampung halaman mantan istrinya.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komenya...🙏🙏🙏*