
Sore hari,
Setelah acara peresmian toko kue selesai, beberapa orang dari keluarga Edsel masih berada di Ruko. Kecuali Ayah Hafiz yang harus kembali ke kantor dan Ibu Hafiz serta Ina pulang kerumah dengan membawa Dipta. Karena bocah laki-laki itu merengek ingin pulang, merasa jenuh tidak ada Zahra disana.
Tampak Leni, Sari dan Bik Onah tengah membereskan sisa-sisa makanan dan menyita beberapa gelas kosong yang berserakan diatas meja.
Sedangkan Hafiz, khadija dan Alina dengan di bantu Pak somat, sang tukang kebun mengatur kembali kursi-kursi yang tak beraturan dan merapikanya ke posisi semula.
"Oh ya, Mbak Alina kenal sama Fino?" tanya Khadija di sela-sela kegiatanya. Perempuan itu penasaran ketika di tengah-tengah acara ia melihat mantan istri dari suaminya tersebut begitu akrab dengan seorang laki-laki berparas bule.
Alina menengok sekilas kearah Khadija. Perempuan itu tersenyum mengiyakan pertanyaan dari istri mantan suaminya, "Kita dulu bersahabat waktu kuliah di Luar Negeri." paparnya.
Hafiz hanya diam mendengarkan tanpa menyela percakapan Khadija dan Alina. Pria itu sama sekali tidak tertarik dengan obrolan kedua wanita yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini.
Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Semua kembali sibuk dengan tugasnya masing-masing.
"Sayang, barusan Bapak telepon katanya Zahra nanyain kamu terus." ucap Hafiz memberitahu istrinya setelah menerima panggilan dari seseorang di seberang sana.
Selepas acara, Ayah Khadija sudah pulang kembali ke Apartemen dengan diantar menantunya satu lagi, Aslan.
"Ya sudah tunggu sebentar, aku mau ngomong dulu sama Leni dan Sari," Khadija pun segera menghampiri Kedua gadis yang masih sibuk di ruang Pantry setelah diangguki oleh sang suami.
"Len, Sar aku tinggal dulu yo? pamit Khadija sebelum hendak pergi dari ruko, "Ingat, sesama jomblo harus rukun." canda Khadija melihat Dua gadis sebayanya itu sudah mulai akrab semenjak Dua hari yang lalu. Ketika Khadija menyuruh Leni datang ke kediaman keluarga Edsel untuk membantu mempersiapkan acara peresmian tokonya barusan, "Dan Bik Onah nanti bisa pulang bareng Mbak Alina." lanjut Khadija menatap sang ART senior.
"Siap Bu Bos!" seru Leni dengan panggilan baru untuk sahabatnya itu.
"Sip." Sari mengangkat Satu jempolnya.
Sedangkan Bik Onah hanya mengangguk dan tersenyum.
Karena masih awal, Khadija hanya mempekerjakan Leni dan Sari untuk membantu penuh dalam pengerjaan pembuatan kue nantinya. Untuk Alina dia bertugas di bagian Management, sedangkan kedua ibu mertuanya, mungkin mereka akan bantu-bantu seperlunya saja.
Leni dan Sari juga bertugas menjaga Ruko. Jadi mereka berdua juga akan tinggal disana. Selain di pergunakan untuk ruang kerja, Lantai Dua ruko itu juga digunakan sebagai Mess untuk para pegawai karena disana tersedia Dua kamar.
Setelah berpamitan pada semua orang yang masih tertinggal di Ruko, Hafiz dan Khadija pun segera pergi ke Apartemen untuk menjemput buah hati mereka.
____
Acara beres-beres pun telah selesai sebelum waktu Maghrib tiba. Alina, Bik Onah dan Pak Somat sudah pulang kembali ketempat asal mereka.
Kini Leni dan Sari sudah selesai membersihkan diri. Selepas menunaikan Shalat Ashar mereka berdua memutuskan keluar untuk membeli makanan. Karena perut mereka kembali lapar setelah bersih-bersih tadi.
Karena letak Ruko yang berada di pusat Kota, maka tidak terlalu sulit untuk menemukan sebuah warung makan. Bahkan banyak pula pedagang-padagang kecil yang berseliweran.
__ADS_1
"Sar, ayo cepet pulang udah mau Maghrib nih." ajak Leni melihat rekanya itu masih sibuk membeli jajanan di pinggir jalan.
"Iya bentar Len, ini si Mamang masih ngelayanin." sahut Sari.
Cukup dengan berjalan kaki Leni dan Sari pulang dan pergi.
"Len, Len ... Siapa itu yang di depan Ruko?" Sari menyenggol lengan Leni yang sedang asyik bersenandung. Sari melihat ada seorang perempuan tengah berdiri sambil menunduk di pojok luar Ruko.
"Gak tahu aku." balas Leni mengendikan bahunya acuh. Gadis itu melanjutkan lagi senandungnya sembari mengayun-ayunkan kantong kresek berisi makanan ditanganya
Sambil berjalan menuju pintu Ruko, Sari terus memperhatikan perempuan asing itu, sedangkan Leni masih cuek tidak peduli.
Selangkah lagi kaki Sari masuk kedalam, perempuan itu menegakan wajahnya melihat ke arah Sari yang sedari tadi memperhatikanya.
"Leniiiii ..." jerit Sari berlari mengikuti langkah Leni yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Leni berbalik ketika hendak menaiki anak tangga, "Ada apa sih Sar teriak-teriak?!" omel Leni mendengar suara kencang perempuan di belakanya.
"Itu Len ... Itu ..." tunjuk Sari ke arah pintu sambil menyembunyikan wajahnya di balik bahu Leni. "Dia senyum Len." Terdengar suara Sari seperti orang yang sedang ketakutan.
Dahi Leni berkerut, memandang arah telunjuk Sari, "Siapa yang senyum?" tanya Leni bingung.
"Perempuan tadi." lirih Sari dengan suara bergetar.
"Serem Len, wajahnya pucat," Sari bergidik ngeri membayangkan wajah perempuan tadi.
Leni penasaran, ia pun berjalan kembali ke arah pintu berniat memastikan ucapan Sari.
"Mana?" tanya Leni sambil clingak-clinguk di depan pintu. "Orangnya udah pergi. Ya udah, ayo naik." lanjut Leni setelah kembali menghampiri Sari yang masih berdiri mematung di bawah tangga. Leni pun menarik tangan teman barunya itu kembali naik ke kamar yang ada di lantai Dua.
"Woy ... Sar, ayo di makan." Leni melambaikan tanganya di depan wajah Sari yang terbengong menatap makananya.
Sari terus mengangkat bahunya berkali-kali teringat senyum mengerikan wanita tadi, "Udah gak nafsu aku Len," ucap Sari mendorong makananya ke arah Leni.
"Udah gak usah di pikirin." kata Leni sambil terus mengunyah makananya.
"Kamu denger gak Len, kejadian mistis yang di alami Zahra waktu itu?" tanya Sari.
Leni hanya mengangguk, karena mulutnya penuh dengan makanan. Khadija pernah menceritakanya juga kepada Leni.
"Aku takut deh Len." Sari takut jika apa yang ia alami barusan sama seperti yang dialami Zahra.
Leni menghentikan suapanya, "Hahaha ... Kalau Zahra mah wajar bisa lihat yang begituan, itu anak masih suci gak punya dosa. Lah kamu? Yang ada setan takut liat kamu." Leni semakin melebarkan tawanya sambil menutup mulut agar makananya tidak muncrat kemana-mana.
__ADS_1
"Ck! Leni!" Sari berdecak sebal karena Leni terus meledeknya.
"Sorry, becanda Sar?" ucap Leni sambil meremat-remat bungkus bekas makananya, "Ya udah yuk, mending sekarang kita Shalat Magrib dulu," ajak Leni lalu bangkit dari kursi.
Masih lengkap dengan mukenah yang digunakan, Leni dan Sari merebahkan tubuhnya di atas kasur busa yang berukuran cukup untuk mereka berdua.
"Sar, tadi kamu lihat cowok bule yang dateng sama Mas Aslan gak?" Leni senyum-senyum sendiri menatap langit-langit kamar. Pikiranya melayang membayangkan wajah Pria yang di maksud sedang tersenyum kepedanya. "Senyumnya itu lho Sar?" racau Leni mengagumi.
"Iya, senyumnya mirip Mbak Kunti." jawab Sari dengan tatapan kosong. Gadis itu tidak sadar dengan apa yang di bicarakan teman disampingnya tersebut.
Seketika Leni menegakkan kembali badanya. Dengan mata terbuka lebar melihat Sari yang masih rebahan disampingnya, "Hush ... Sembarangan! Orang senyum manis gitu di bilang kaya Mbak Kunti!" bela Leni tidak terima. Tanganya pun reflek menepuk paha Sari.
Sari terkejut, ikut membangunkan tubuhnya, "Senyum menakutkan di bilang Manis!" gerutu Sari yakin dengan apa yang dilihatnya.
Terjadi salah paham diantara kedua gadis itu.
"Bentar Sar, yang kamu maksud siapa sih?" tanya Leni memastikan.
Alih-alih menjawab pertanyaan Leni, Sari justru menutup hidungnya, "Len, kamu kentut ya?" cetusnya. Kemudian gadis itu berdiri hendak keluar dari kamar, karena tidak tahan dengan bau busuk yang menyengat di indera penciumanya.
"Hah, kentut?" Leni balik bertanya dengan wajah cengonya menatap punggung Sari yang sudah keluar dari kamar. Pasalnya gadis itu tidak merasa buang gas sembarangan. "Tambah ngaco' nih anak ..." Leni geleng-geleng kepala semakin tidak mengerti dengan sikap aneh temanya tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung ...
Jangan lupa Like, Komen dan Votenya juga ya? 🙏😊😘
Kenapa ya? Makin kesini readersku kok makin sepi.😢😩 Apakah ceritaku ini udah gak menarik lagi? Terus pada menghilang meninggalkanku...😭😭😭
READERS-READERS SETIAKU DIMANA KALIAN, AUTHOR RINDUUUUUU*...
__ADS_1