
"ini minum dulu," Dipta menyodorkan segelas air minum ke hadapan Zahra, mengambil duduk di sofa samping gadis itu.
Zahra menerima, lalu meminum sekedarnya. Tatapan matanya kosong, air mata penyesalan terus berlinang membasahi pipi mulusnya.
"Udah ya, jangan nangis," Dipta mengusap air mata yang terus mengalir dipipi sang keponakan, mencoba menenangkan.
Tidak jauh berbeda dengan Hafiz, sang kakak. Dipta memiliki sifat yang cuek, namun sangat perhatian terhadap orang-orang terdekatnya. Terlebih Dipta dan Zahra sudah hidup bersama sejak kecil. Apapun semua tentang Zahra dari sifat, sikap, kebiasaan, Dipta sangat hafal. Begitu juga sebaliknya dengan Zahra terhadap Dipta.
Tiba-tiba Zahra memeluk pemuda di sebelahnya, "Bunda pasti sangat kecewa sama aku ya Kak?" ucap Zahra di sela isakanya. Gadis itu merasa sangat menyesal, karena sikapnya selama ini sangat melukai hati sang Bunda. Bahkan Zahra tidak menyangka Bundanya sampai melakukan hal senekat itu.
"Nggak kok. Kamu tau kan, Bunda kamu orangnya seperti apa?" ujar Dipta mengingatkan jika Ibu dari keponakanya itu adalah orang yang baik. Dipta tersenyum, teringat sandiwara konyol sang kakak ipar yang baru saja terjadi.
"Yang terpenting sekarang, tepatin janji kamu, aku yakin semua akan kembali seperti semula, bahkan akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Kamu masih ingatkan terpaut berapa tahun usiaku dengan Papa-mu?" tanya Dipta. Sepertinya ada hal yang akan disampaikan pemuda itu.
Zahra melepas rangkulanya dari tubuh Dipta. Gadis bermata bulat itu, menegakkan kembali tubuhnya, menatap sayu ke arah sang paman.
Zahra mengangguk, jelas ia masih sangat mengingat, meski ia tidak tahu pasti berapa usia Papanya waktu itu. Yang ia ingat, kehadiran sang paman kala itu, ketika Papanya sudah memiliki anak yaitu dirinya.
"Tapi apa? Papamu tidak pernah merasa malu di usianya saat itu memiliki adik lagi, justru ia sangat menyayangiku. Padahal aku bukanlah adik kandungnya, kami terlahir dari rahim yang berbeda, tapi sampai saat ini aku masih merasakan kasih sayangnya terhadapku tidak pernah berubah." jelas Dipta panjang lebar. "Shakila adalah adik kandungmu, jadi tidak seharusnya kamu membencinya. Ingat Ra, malu itu hanya persepsi,"
Plak ...
Pandangan Dipta dan Zahra teralihkan, ketika ada suara benda terjatuh. Tatapan mata keduanya mengarah pada sosok gadis kecil yang sedang mengintip dari balik pintu.
Dipta kembali menatap Zahra, pemuda itu mengangguk, memberikan kode. Ntah.
Zahra menggeleng tidak mengerti maksud pemuda di hadapanya itu.
Dipta pun ikut menggelengkan kepalanya. Jengah. Ya, Dipta jengah, karena keponakanya ini tidak peka.
Namun, pemuda itu maklum, mungkin keponakanya ini masih belum terbiasa.
Dipta bangkit, lalu berjalan menuju ke arah pintu, ditariknya handle pintu, agar benda persegi itu terbuka sedikit lebar.
"Ngapain Shasa disini? Yuk, masuk?" ajak Dipta meraih tangan mungil Shakila hendak menuntunya.
Tetapi tangan mungil itu menahanya.
Dipta menoleh kebawah, "Kenapa?"
Shakila mendongak lalu menggeleng, setelah melihat takut ke arah Zahra.
Trauma. Karena sering mendapat penolakan dari sang kakak.
Zahra yang masih setia duduk di sofa, memperhatikan interaksi Dua orang yang berada di ambang pintu kamarnya.
Dipta berjongkok, membingkai wajah mungil Shakila, "Tidak apa-apa, tuh udah di tungguin sama kak Zahra," ucapnya sambil menunjuk ke arah gadis di ujung sana.
__ADS_1
Dipta kembali berdiri lalu menuntun Shakila yang sedang menggendong boneka barby yang tadi sempat terjatuh.
Canggung.
Untuk pertama kalinya, Zahra berhadapan langsung dengan bocah berusia Tiga tahun itu, bahkan dari jarak yang sangat dekat.
"Ra," suara Dipta menyadarkan Zahra yang tampak diam, dengan perasaan ntah. Bingung mungkin, harus ngapain.
Zahra, menengadah melihat ke arah sang paman yang berdiri di depanya.
"Ayo peluk?" titah Dipta.
Tanpa menjawab atau mengangguk, Zahra mengangkat satu tangan, meraih tangan kecil Shakila yang bertautan dengan Dipta, lalu menariknya.
"Maafin kak Zahra ya Sha?" Zahra memeluk tubuh kecil Shakila.
Terharu.
"Kak Zahla udah gak malah lagi cama Chaca?" pertanyaan polos Shakila.
Zahra melepas pelukanya, "Kakak nggak marah sama kamu,"
Cup,
Tanpa permisi Shakila mencium pipi Zahra, "Yeay, Kak Zahla udah gak malah lagi cama Chaca," sorak riang Shakila mengangkat kedua tanganya ke udara, meluapkan kebahagianya, sampai-sampai melupakan boneka yang ada digendongan terlepas jatuh kebawah.
Plong! Zahra merasakan sesuatu yang selama ini membebani hatinya, seperti meluap ntah kemana. Hati yang dulu membeku, kini telah mencair sudah.
Hari demi hari berlalu, perubahan sikap Zahra terhadap Shakila semakin kentara. Jika dulu Shakila menjadi korban kekesalan kakaknya, tetapi kini gadis kecil itu selalu menjadi korban keusilan Zahra.
"Hiks ... Hiks ... "
Khadija yang sedang berada di dapur membantu sang ART menyiapkan sarapan, mendengar suara isakan yang begitu familiar ditelinganya, "Bik, saya tinggal sebentar ya?" pamit Khadija, dan diangguki oleh sang ART.
Khadija pun beranjak dari dapur, mencari asal suara tangisan itu. Ibu Dua anak itu menghela napas setelah menemukan putri kecilnya yang sedang tidur tengkurap di atas sofa ruang keluarga.
"Adek kenapa? Kok nangis?" Khadija mengangkat tubuh kecil Shakila ke atas pangkuanya. Di usapnya dengan lembut lelehan air mata itu.
"Hiks ... Hiks ... Apa benal Bunda, Chaca bukan anak Papa cama Bunda?" tanya Shakila sambil terisak.
"Siapa bilang itu Sayang? Shakila anak Papa dan Bunda. Bunda yang hamil dan melahirkan Shakila," Khadija terkejut dengan pertanyaan putrinya itu.
"Benel itu Bunda? Tapi kata Kak Zahla, Chaca dulu di temuin Bik minah di atas pohon, telus cama Bik minah, Chaca di kacihkan cama Bunda," Khadija menggelengkan kepala, lagi-lagi putri bungsunya ini jadi korban ke usilan anak sulungnya, Zahra.
"Nggak kok Sayang, Kakak cuma bercanda,"
"Kenapa lagi si adek Bund?" tanya Hafiz saat baru keluar dari kamar, sudah rapih dengan setelan baju kerja. Melihat Istri dan anaknya saling berpelukan.
__ADS_1
Khadija menengok ke arah sang suami yang berjalan mendekat menghampiri, "Gak taulah Pa, itu anak gadis kamu. Nggak dulu, nggak sekarang selalu bikin Bunda pusing,"
Hafiz tertawa kecil, mendengar gerutuan istrinya, "Sini ... Sini ... Adek pangku sama Papa," Hafiz mengambil alih Shakila dari pangkuan istrinya.
Lalu Khadija menceritakan kelakuan anak gadisnya yang menyebabkan si bungsu menangis.
Hafiz pun terbahak mendengar cerita istrinya, sembari menciumi pipi putri kecilnya itu. Mungkin sedikit menjengkelkan, tapi ntah kenapa Hafiz merasa lucu, tidak habis pikir dengan ide usil Zahra mengerjai adiknya.
"Pagi semuanya ..." Suara nyaring Zahra ketika baru saja turun dari kamar sambil menyelempang tas bersiap berangkat kuliah.
"Kak Zahla nakal!" sambut Shakila dengan suara lantang.
"Weits ... Ada apa ini, kok tiba-tiba baru datang udah jadi tersangka?" tanya Zahra dengan tampang sok lugu, lupa dengan perbuatanya.
Khadija berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Zahra, keduanya saling berjalan mendekat, berhadapan, "Ayo bilang apa tadi sama adek, sampe bikin adek nangis," omel Khadija sambil menjewer kecil ujung telinga Zahra yang tertutup Hijab. Namun, masih bisa ia pegang.
Zahra mengaduh, sedikit memiringkan kepala. Meski jeweran sang Bunda tidak terasa sakit sama sekali, "Zahra nggak ngomong apa-apa kok," elak Zahra sambil menahan tangan sang Bunda.
"Kak Zahla bohong," sahut Shakila masih tidak terima ketika sang Kakak menolak, lupa. Gadis cilik itu masih terus mengomel, mengulang kata-kata sang kakak yang menyebabkan ia menangis.
Hafiz hanya senyum-senyum melihat hiburan pagi ini, baginya keributan Zahra dan Shakila merupakan semangat untuknya mengawali hari. Lebih baik seperti ini, dari pada kedua anaknya itu saling membenci.
"Bener, Kakak bilang gitu sama adek?" desak Khadija menurunkan tanganya dari telinga Zahra.
"Oh," Zahra baru ingat, "Tapi beneran kan Bik, dulu Bik Minah yang nemuin Shasa diatas pohon?" pekiknya saat melihat sang ART tengah menyiapkan sarapan di atas meja makan. Bukannya minta maaf, Zahra malah semakin menjadi. Gadis itu pun segera berlari menghindar sebelum sang Bunda mengulang jeweran di telinganya.
Sang ART pun, menoleh lalu tersenyum menanggapi gurauan anak sang majikan.
Terdengar tangis Shakila semakin berderai di pelukan Papanya.
Jika Khadija semakin kesal dengan ulah Zahra, maka lain hal dengan Hafiz yang selalu merasa terhibur dengan kelakuan putri kesayangannya itu.
Sehari saja tidak menjahili Shakila, rasanya ada yang kurang dari hidup Zahra.
Zahra memiliki caranya sendiri, untuk mengungkapkan rasa sayangnya terhadap Shakila.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa, Like, Komen dan Votenya ya... 🙏😊😘