Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Harapan di akhir cerita


__ADS_3

"Aaaaaarrrrggghhhh ... " Fino berteriak sekencang-kencangnya melepas sesak di dada di tengah hamparan kebun teh hingga suaranya terdengar menggema.


Tubuh pemuda itu lunglay, duduk bersimpuh dengan wajah tertunduk.


"Kenapa takdir hidupku seperti ini, Tuhan. Tidak adakah kebahagian yang singgah untukku barang sebentar saja," racau Fino meratapi kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


Pernyataan cinta Alina terhadap Haikal, membuat hati seorang Fino patah untuk kedua kalinya. Jika dulu cintanya di tolak karena memang Alina menganggapnya hanya sebagai sahabat, tetapi sekarang hatinya kembali hancur saat rasa cinta itu belum sempat ia utarakan.


Saat di tengah perjalan menuju bukit untuk menikmati Matahari tenggelam di ufuk barat, tiba-tiba Fino teringat akan benda yang sangat berguna untuk mengabadikan moment berharga, apa lagi kalau bukan kamera miliknya yang tertinggal di salah satu kamar yang ada di Villa tempatnya menginap.


Setelah meminta izin pada rombongan yang lain, Fino bergegas kembali ke Villa.


Belum terlalu jauh kaki Fino melangkah masuk menuju kamar, terdengar sayup-sayup Dua orang sedang berbincang dari arah ruang makan.


Pemuda itu penasaran, berjalan mengendap,l lalu mengintip dari balik guci besar yang terpasang di sudut ruangan. Sepasang bola matanya menangkap Haikal dan Alina yang sedang berbincang dengan posisi duduk bersebrangan.


Fino melihat ekspresi serius dari keduanya, walau tampak Alina menundukan wajahnya malu-malu. Fino lupa akan tujuan awal ia balik ke Villa untuk mengambil kamera.


Entah mengapa pria itu menjadi penasaran dengan obrolan Haikal dan Alina. Apakah ini ada hubunganya dengan sikap Alina yang terlihat berbeda kepada Haikal? Pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran Fino.


Suasana hening, semakin memperjelas obrolan Haikal dan Alina di indera pendengaran Fino.


"Aku cinta sama kamu Mas," Satu kalimat pernyataan cinta dari Alina untuk Haikal yang berhasil membuat dada Fino serasa bergemuruh, sesak seketika tak mampu lagi berkata-kata.


Sudah tidak mampu lagi mendengar apa yang akan di katakan Haikal dan Alina selanjutnya, Fino pun memutuskan pergi dari tempatnya berdiri dan mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar mengambil kamera, pemuda itu pun berbalik arah. Namun, tidak juga kembali ke rombonganya semula.


Baru saja pemuda itu menemukan kembali cinta lamanya, tetapi kini cinta lama itu harus pergi lagi di saat baru bersemi.


"Tidak semua yang kita inginkan, harus kita miliki. Ada kalanya kita harus rela menanggalkan keinginan kita untuk melihatnya bahagia."


"Leni?" Fino terkejut dengan kehadiran Leni yang secara tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.


Setelah Fino meminta izin kembali ke Villa, Leni memutuskan untuk menunggu pemuda itu kembali datang membawa kamera. Namun, cukup lama ia menunggu, Leni melihat Fino berlari ke arah yang berbeda dan Leni pun memutuskan untuk mengejar Fino dari belakang secara diam-diam.


Semua yang di luapkan Fino, Leni mendengar dengan jelas. Terselip rasa bahagia di hati Leni di balik kesedihan yang tengah dirasakan Fino.

__ADS_1


Ada harapan untuk Leni mengisi kekosongan di hati Fino, meski itu agak sulit karena cinta Fino terhadap Alina begitu besar dan butuh proses untuk Fino melupakan wanita itu. Tapi bukan masalah untuk Leni, dengan begitu ia akan hadir sebagai pelipur lara, menemani pria itu dalam kesedihanya sampai akhirnya Fino menyadari kehadiran Leni begitu berharga. Semoga!


____


"Lucu ya Mas, mereka?" tunjuk Khadija kearah Elif, Khumaira, dan Dira yang sedang bermain kejar-kejaran.


"Kapan ya Bund, kita punya lagi seperti mereka?" tanya Hafiz menyelipkan sebuah harapan.


"Insyaalloh, kapan-kapan." jawab Khadija menggenggam erat jemari sang suami yang berada di sampingnya. "Semoga Alloh secepatnya memberikan kepercayaanya lagi kepada kita,"


"Aamiiinn ..."


***


Setelah menunaikan Shalat subuh, masih ada waktu Tiga jam lagi sebelum kembali pulang ke Ibukota, Khadija memposisikan dirinya kembali berada di balik selimut tebal, menghangatkan diri karena memang suhu udara yang terlampau dingin.


Sedangkan Hafiz sudah jangan ditanya lagi, saat Khadija baru saja merebahkan tubuhnya, pria itu sudah terlelap lagi dalam tidurnya.


Alarm yang di stel pada ponsel pintar milik Khadija sudah berbunyi beberapa kali, tidak terasa ternyata Khadija pun ikut terbuai ke alam mimpi.


Merasakan ada yang sedang berbuat nakal, Hafiz mengerjap-ngerjap, mencoba menyadarkan diri.


"Mas, juga masih ngantuk sayang. Kita kelonan aja yuk," Hafiz pun nengeratkan pelukan.


Lalu Khadija iseng membuka kancing piyama suaminya dan membenamkan wajahnya disana. Rasanya sangat nyaman di tambah lagi dengan aroma khas tubuh milik suaminya yang membuat Khadija betah berlama-lama di dekapan pria itu.


Tiba-tiba Khadija merasakan sesuatu yang bergerak dan membesar menyentuh pahanya. Seketika Khadija terbelalak, lalu wajahnya menengadah melihat wajah Hafiz yang sudah memerah.


"Ada yang ikutan bangun ya Mas?" tanya Khadija dengan nada meledek.


"Habis kamu nakal sih? mana tahan coba pagi-pagi begini di goda sama istriku yang cantik ini," Hafiz berkata sembari mengelus pipi istrinya lembut, membuat perempuan itu merinding.


"Aku ndak godain. Aku cuma pengen nyari yang anget-anget aja kok," Khadija mencoba membela diri. Namun, ucapanya itu membuat Hafiz semakin gemas.


"Kamu harus tanggung jawab lho, sudah terlanjur bangun ini," Tanpa menunggu jawaban istrinya, Hafiz pun langsung menggulingkan tubuhnya berada diatas tubuh Khadija.

__ADS_1


"Oke, siapa takut," tantang Khadija, mengedipkan satu mata, "Lakukanlah Mas, semoga kali ini cepat jadi," ucapnya manja. Khadija teringat akan keinginan suaminya itu memiliki keturunan lagi.


Hafiz pun semakin tidak tahan melihat istrinya yang begitu menggoda di pagi hari ini, serangan ciuman bertubi-tubi di wajah sang istri pun di luncurkan. Bukan hanya bibir, tapi sekarang Hafiz sudah mulai turun ke leher. Khadija merasakan geli-geli nikmat dengan mata terpejam.


"Mmmaaasss ..." Khadija mengerang saat Hafiz semakin membabi-buta mengendus leher hingga belahan dada, sesekali memberikan gigitan kecil dan meninggalkan banyak jejak kemerahan disana. Pagi ini Hafiz sangat liar, berbeda dari biasanya.


"Kamu sih nantangin, masih mau lanjut?" tanyanya sambil menggesekkan hidungnya yang mancung ke hidung istrinya.


"Ampuunn Mas," goda Khadija sambil tertawa.


Tanpa memberi jeda, Hafiz kembali meneruskan aksinya, melepas baju yang masih menempel lalu beralih melucuti satu-persatu pakaian istrinya dan membuangnya kesegala arah.


Hafiz mempercepat gerakanya setelah miliknya dan milik istrinya bersatu. Semakin cepat, Khadija pun melenguh nikmat. Saling berpelukan erat saat keduanya mencapai puncak. Pergumulan di pagi hari yang dingin ini membuat Hafiz dan Khadija bermandikan keringat.


.


.


.


.


.


T A M A T (Season 1)


Author mengucapkan banyak terima kasih kepada semua Readers yang masih setia mengikuti cerita Hafiz dan Khadija sampai tamat.


Ngegantung ya? Pasti ada yang tanya, "Kok, Dija belum hamil udah tamat aja?"


Jawabanya nanti ada di Season 2 yaa...Tapi, di Season 2, ceritanya dominan ke cerita Zahra dewasa seperti yang author katakan sebelumnya.


Jangan lupa Like, Komen dan Vote terus ya? 🙏😊😘


Sambil nunggu season 2, kuylah, dukung juga karyaku yang baru "Ketika JUMINTEN Menjadi JENNIFER" kita berngakak-ngakak ria disana.

__ADS_1


__ADS_2