Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Kabar tak terduga 2


__ADS_3

"Carel!" panggil seorang wanita paruh baya dari arah luar, dengan sedikit berlari Perempuan itu menghampiri Hafiz dan Khadija ketika mereka berdua sampai di lobby Rumah Sakit.


"Mama," gumam Hafiz dan Khadija bersamaan saat berbalik badan.


"Bagaimana kondisi Papa kamu?" tanya sang Ibu saat sudah berdiri di depan Putera dan menantunya. Sama halnya dengan Hafiz, sang Ibu pun tampak panik.


"Carel juga belum tahu Ma, barusan Carel di hubungi oleh Dokter yang menangani Papa. Maaf tadi Carel belum sempat memberitahu Mama."


"Gak papa nak, tadi Sari sudah menelepon Mama."


Tanpa berlama-lama Hafiz bersama istri dan ibunya segera menuju ruang UGD, dimana seorang pria paruh baya tengah terbaring tak berdaya.


"Den Carel, Mbak Dija, Nyonya." gumam Sari, beranjak berdiri saat melihat ketiga majikanya berjalan mendekat ke arahnya.


"Bagaimana kondisi Papa Sar?" tanya Hafiz mewakili kepanikan semua orang termasuk dirinya.


"Dokter masih menangani Tuan di dalam." jawab Sari.


"Kenapa suami saya bisa sampai pingsan?" lanjut Ibu Hafiz bertanya penuh kekhawatiran.


"Tuan sudah seminggu ini sakit Den, Nyonya. Tapi beliau menolak untuk ke Rumah Sakit. Tadi pagi saya menemukan beliau sudah pingsan di bawah ranjangnya." jelas Sari.


Setelah itu Hafiz masuk ke dalam ruang UGD tempat sang Ayah kini berada. Tidak ada larangan baginya untuk masuk ruang manapun, terkecuali Ruang Toilet wanita yang melarang kaum Pria untuk masuk, sekalipun Rumah sakit ini miliknya.


"Kita duduk dulu Ma." Khadija menuntun Perempuan yang ada disampinya untuk duduk di bangku besi yang ada di depan ruangan, bersisihan dengan Sari sang Asisten Rumah Tangga.


Hampir Satu jam Ketiga Perempuan ini menunggu dengan perasaan cemas, Hafiz maupun tim medis lainya belum ada yang keluar memberikan kabar.


Ceklek...


Akhirnya Hafiz keluar membawa raut kesedihanya.


"Bagaimana Rel, keadaan Papa Kamu?" Sang Ibu berdiri menghampiri Putranya, dan di ikuti Kedua perempuan yang sedari tadi menemaninya.


"Kondisi Papa saat ini kritis Ma, gagal ginjal yang di derita Papa sudah akut, dan secepatnya Papa harus menemukan pendonor untuk menyelamatkan nyawanya."


Dua tahun terakhir Ayah Hafiz telah di vonis mengalami gagal ginjal akibat pola hidup tidak sehat. Sebagai seorang Workaholic, Ayah Hafiz dalam keseharianya selalu di temani lintingan tembakau dan minum-minuman soda bersuplemen untuk menunjang kinerjanya agar tetap bersemangat, serta diikuti pola tidur yang tidak teratur.


Dalam Seminggu terakhir kondisi tubuhnya menurun, ditambah lagi stres memikirkan sang Istri yang pergi meninggalkan rumah.


Rasa Ego yang tinggi membuatnya tersiksa dalam kesendirianya. Hingga sampai kondisi yang semakin hari semakin melemah ia tetap bertahan tidak ingin memberitahu Istri maupun Anaknya. Entah karena malu atau kecewa.


Drrrrtttt...Drrrrtttt...


Khadija merogoh benda yang bergetar di dalam tasnya.


"Mas aku angkat telepon dulu?" pamit Khadija pada sang Suami yang berdiri di hadapanya. Pria itu pun mengangguk menyetujuinya.


Kurang lebih Lima menit berlalu, Khadija kembali dan duduk di samping Hafiz yang sedang dirundung kesedihan.


"Telepon dari siapa Bund?" Hafiz menoleh pada sang Istri yang sudah duduk bersisihan denganya.

__ADS_1


"Bapak Mas." jawab perempuan itu singkat dengan raut wajah yang susah di tebak.


"Apa katanya?" Hafiz merasa ada sesuatu yang ingin di sampaikan istrinya, namun perempuan itu enggan mengatakanya.


"ii...itu Mas, gimana yo cara ngomongnya?" gumam Khadija ragu mengatakan maksudnya.


Hafiz meraih tangan Khadija dan menggengamnya. Pria itu tahu jika istrinya sedang dilema, "Ngomong aja Bund, gak papa?"


"Aku minta maaf sebelumnya Mas, ndak seharusnya aku ngomong kaya gini di saat Papa kamu sakit." Khadija menghembuskan nafas berat sebelum melanjutkan kalimatnya. "Ibu sakit, Bapak memintaku pulang karena Aisyah tidak bisa pulang dalam keadaan hamil saat ini." Ujar Khadija menunduk, menanti respon sang Suami.


"Ibu sakit apa?" Hafiz terkejut, ia tidak menyangka dalam waktu kurang dari setengah hari ia mendapatkan Dua kabar buruk sekaligus.


"Darah tinggi ibu kambuh Mas, sudah beberapa hari ini Ibu hanya bisa terbaring di tempat tidur." jawab Khadija dengan di iringi air mata yang sudah mengalir membasahi pipi. Tergambar jelas raut kesedihan, sama halnya yang dirasakan oleh Suaminya.


Tangan Hafiz beralih megusap air mata sang Istri dengan ibu jarinya, "Gak papa kok Bund, aku izinkan kamu pulang, karena memang Ibu dan Bapak juga sedang membutuhkan kamu."


Sang Ibu mertua dan Sari hanya bisa menyimak, memberikan tatapan iba ke arah Khadija.


"Iya nak pulanglah kasihan Orang tuamu, mereka juga pasti membutuhkan kamu." Sahut Ibu mertua yang diam-diam menendengar pembicaraan sepasang Suami Istri yang ada di sebelahnya.


"Sekali lagi maafin Dija Mah, Mas?" Khadija menegakan kembali wajahnya menatap bersamaan kedua orang di hadapanya. Ada rasa lega di hatinya setelah mendapat izin dari Suami dan Ibu mertua.


Ibu dan Anak itu pun menganguk sembari tersenyum.


"Tapi maaf Bund, aku gak bisa nganterin kamu," Ada rasa bersalah di hati Hafiz, membiarkan Istrinya pulang sendiri.


"Ndak papa kok Mas, lagian aku ndak mau di antar, kasihan Mama disini pasti juga membutuhkan kamu." Ujar Khadija seraya memberikan senyum terhangatnya, meski terselip rasa pilu di hatinya.


"Iya Mas."


***


Kepulangan Khadija saat ini membawa perasaan yang campur aduk, ditambah lagi tanpa adanya sang buah hati yang tidak ikut bersamanya.


Hafiz tidak mengizinkan Khadija membawa Zahra, bukan karena Hafiz tidak percaya, namun ia tidak akan tega membiarkan Istrinya kerepotan mengurus puterinya sendirian nantinya. Terlebih kepulangan Istrinya kali ini bukan untuk bersenang-senang.


Dengan berat hati Khadija pun setuju, akan lebih baik Zahra ditinggal sementara bersama pengasuhnya di bawah pengawasan Papa dan Neneknya.


Akhirnya Khadija sampai di kampung halaman, setelah menempuh waktu sekitar Delapan jam perjalanan dengan menggunakan Bus sebagai alat transportasi.


Khadija pun masuk kedalam rumah dengan di sambut oleh sang Ayah seorang diri.


"Ibuk?" Khadija berhambur memeluk Perempuan yang sedang terbaring lemah di ranjang tua.


Sang Ibu tak bergeming, tensi darah yang tinggi membuatnya terasa berat untuk membuka mata.


"Kita bawa Ibu ke Rumah Sakit sekarang Pak." Khadija menoleh pada sang Ayah yang berdiri di sampingnya.


"Ndak usah nduk, kita rawat saja ibu kamu di Rumah." jawab Pria paruh baya itu, "Bapak ndak punya uang buat biaya ke Rumah Sakit." lanjut sang Ayah menatap sendu ke arah Puteri sulungnya.


"Bapak ndak usah mikir biaya, Mas Hafiz sudah berpesan, dia yang akan menanggung biaya perawatan Ibuk."

__ADS_1


"Tapi Bapak ndak enak merepotkan kalian terus."


Khadija berdiri dan menggengam tangan sang Ayah, "Pak, ndak ada yang merasa di repotkan, memang sudah menjadi kewajiban seorang anak untuk melakukan yang terbaik untuk orang tuanya, terlebih orang tua sedang membutuhkan." ujar Khadija menyakinkan sang Ayah untuk menerima bantuan Suaminya.


"Terima kasih nduk." sang Ayah lalu memeluk Putrinya penuh keharuan.


.


***


Selama Tiga hari sang Ibu dirawat di Rumah Sakit, selama itu pula Hafiz dan Khadija selalu bertukar kabar via telepon, saling menanyakan kondisi Orang tua masing-masing.


[Gimana kondisi Papa kamu Mas?]


[Semakin memburuk Bund, kita belum menemukan Pendonor.]


[Sabar yo Mas, kita sama-sama berdoa semoga Alloh memberikan keajaibanya.]


[Gimana kabar Ibu Bund?]


[Alhamdulillah sudah agak mendingan Mas, telat sedikit lagi, kata Dokter Ibuk akan mengalami Stroke.]


[Syukurlah...]


Dimana ada kesempatan, Hafiz selalu menghubungi Khadija. Baru tiga hari berpisah, sudah seperti Tiga tahun lamanya ia menahan rindu terhadap istrinya.


Apalagi dengan rencana Khadija yang meminta izin tinggal hingga sebulan lamanya. Dengan alasan ingin merawat Orang tuanya. dan itu membuat Hafiz tidak sanggup untuk membayangkan.


Namun apa boleh buat, dengan berat hati Hafiz mengizinkanya meski selama itu pula juniornya akan tersiksa.


Begitu juga dengan Khadija yang selalu rindu akan Puteri kecilnya, dimana ada waktu ia selalu menelpon Ina untuk sekedar mendengar suara gemas buah hatinya.


.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung...


Buat yang kemarin minta visualnya Pak Dokter, nih author kasih 😍


__ADS_1


Jangan lupa Like dan komenya ya...🙏🙏🙏*


__ADS_2