Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Grand Opening


__ADS_3

Semenjak kejadian mistis yang di alami Zahra beberapa hari yang lalu, Khadija tidak pernah lagi membawa putri kecilnya itu berkunjung ke Ruko. Meski tidak jarang Zahra merengek ingin ikut, di situ terkadang membuat Khadija terpaksa harus berbohong. Hanya dengan cara itu keinginan Zahra teralihkan.


Hafiz dan Khadija sudah mendiskusikan masalah itu kepada keluarga besarnya. Dan sang Ayah pun sanggup membereskanya, entah apa yang akan di lakukan pria paruh baya tersebut.


Untuk kesiapan tempat membuka usaha sudah rampung Seratus persen. Bahkan konsep Desain interior yang di inginkan pun sesuai dengan harapan.


Khadija memilih Desain toko kue bergaya Shabby chic. Yang mana desain model ini identik dengan penggunaan perabot jadul bermotif bunga dan perpaduan warna pastel yang lembut menimbulkan kesan karakteristik serta ciri khas Vintage yang romantis. Meski terlihat klasik tapi sangat cantik sesuai dengan kepribadian Khadija.


Grand Opening untuk toko kue Khadija tinggal Satu hari lagi. Ada sekitar Seratus tamu undangan yang akan menghadiri acara peresmian besok tak terkecuali orang tua khadija yang ada di kampung pun turut hadir setelah kemarin Hafiz menjemputnya.


Di kediaman keluarga besar Edsel, semua orang tengah di sibukan membuat bermacam-macam kue yang akan dihidangkan dalam acara besok, sekaligus untuk ajang promosi.


***


Keesokan harinya, pukul 06.39


Semua persiapan sudah selesai, dari mulai tempat, hidangan bahkan serangkaian acara sudah tersusun dengan rapi.


"Bagaimana sudah siap semua?" tanya Ayah Hafiz saat semua anggota keluarga dan para ART tengah berkumpul di ruang tamu dengan penampilan yang sudah rapi, "Kalau begitu kita berangkat sekarang. Karena nanti Grand opening_nya jam Sepuluh, jadi pagi ini kita adakan dulu selamatan," lanjut Ayah Hafiz.


Tiga buah mobil melaju membawa beberapa anggota keluarga dan Empat Asisten rumah tangga menuju tempat acara.


"Mas, katanya mau ada acara selamatan? Kok jamaah pengajianya masih belum datang?" tanya Khadija setelah beberapa saat menunggu. Namun, acara tidak kunjung di mulai.


"Mungkin mereka masih di jalan Bund," jawab Hafiz santai.


Untuk kali ini, Hafiz tidak mau kejadian yang dialami Zahra terulang kembali, maka dari itu Zahra untuk sementara ia titipkan pada kedua mertuanya yang ada di Apartemen, sambil menunggu acara selamatan selesai. Dan mungkin setelah itu kondisinya akan lebih memungkinkan ketika nanti Zahra datang di acara peresmian toko.


Lima menit kemudian mobil berwarna silver berhenti tepat diarea parkir toko. Tampak Empat orang pria berjenggot dengan muka seram keluar dari mobil itu. Dengan berpakaian serba hitam, model baju dan celana gombor serta memakai semacam penutup kepala dari kain yang dililitkan atau biasa di sebut iket.


"Selamat datang Ki' mari masuk, kami semua sudah menunggu," sambut Ayah Hafiz dengan sedikit membungkuk pada salah seorang pria yang seumuran denganya. Pria yang memiliki jenggot paling panjang berjalan paling depan diantara Tiga kawananya ketika memasuki area toko.


"Hheemmm ..." sahut pria itu dengan suara serak-serak berat, "Sudah siap persyaratanya?" tanyanya kemudian, menatap tajam ke arah Ayah Hafiz.


"Sudah Ki'," jawab Ayah Hafiz. Kemudian pria paruh baya itu menyuruh mang Didin untuk mengambil sesuatu yang mungkin sudah di persiapkan terlebih dahulu dari dalam bagasi mobil.


Keempat orang berbaju hitam tersebut mengambil posisi duduk bersila di tengah ruangan. Tampak mang Didin membawa nampan besar yang berisikan beberapa persyaratan lalu meletakanya ke lantai tepat dihadapan keempat orang tersebut. Ada Ayam hitam mulus biasa di sebut Ayam cemani, kembang Tujuh rupa, Tiga butir telur Ayam kampung dan garam.


"Mas Apa-apan ini?" bisik Khadija pada sang suami yang berdiri di sampingnya, "Katanya tadi selamatan, kok jadi begini acaranya?" tanya Khadija heran.


"Aku juga gak ngerti Bund?" sahut Hafiz lirih sambil terus memperhatikan keempat orang yang sudah memulai ritualnya.


Seseorang yang di panggil 'Ki' oleh Ayah Hafiz mulai merapalkan mantra-mantra sambil membakar kemenyan.


"Wah, ndak bener ini!" gumam Khadija, menggelengkan kepala. Perempuan itu mencium aroma-aroma perdukunan.


"Kita lihat aja dulu, siapa tahu ini cara buat mengusir mahluk halus itu," kata Hafiz melihat ke arah istrinya.


"Astagfirullohaladzim, perbuatan syirik itu Mas," cetus Khadija, "Kita ndak usah ikut-ikutan. Banyakin beristigfar," lanjut Khadija menarik tangan suaminya hendak mengajak pria itu pergi dari tempat berdirinya saat ini.


Namun, ditahan oleh Hafiz, "Tunggu sebentar dong sayang, kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya," Hafiz penasaran dengan apa yang dilakukan keempat pria itu. Sesungguhnya Hafiz begitu asing dengan ritual tersebut dan baru kali ini ia melihatnya.


Bau kemenyak menyeruak ke seluruh ruangan. Ayam yang semula hidup, kemudian disembelih dan darahnya di tampung kedalam wadah kecil yang terbuat dari batok kelapa. Bunga tujuh rupa dimasukan kedalam bejana yang sudah berisi air yang konon katanya diambil dari Tujuh mata air pegunungan seperti slogan salah satu iklan air mineral. Tidak ada yang tahu kebenaranya, atau hanya bualan semata agar terlihat lebih menyakinkan. Entahlah!


Sang Dukun pun berdiri lalu menyembur-nyemburkan air kembang dari mulutnya ke seluruh ruangan sambil terus mulutnya berkomat-kamit merapalkan mantra dan kemudian mempoleskan darah ayam kesetiap sudut ruangan. Terakhir menaburkan garam tepat di depan pintu masuk.


"Sekarang mahluk halus itu sudah tidak berani lagi mengganggu. Tapi ingat setiap bulan purnama berikan dia sesaji atau dia akan mengobrak abrik tempat ini!" ucap dukun tersebut dengan nada mengancam.


"Apa saja sesajinya itu Ki?" tanya Ayah Hafiz.


"Ayam putih mulus, kopi hitam pahit, kemenyan dan kembang tujuh rupa." jawab sang dukun.


"Tanyain Mas, itu ayamnya minta di Sop atau di kecap?" celetuk Khadijah iseng menyuruh suaminya.

__ADS_1


Hafiz pun mengangguk, "Maaf Pak _"


"Pak ... Pak ... Memangnya saya Bapak kamu," geram sang dukun dengan mata melotot ke arah Hafiz, "Panggil saya Ki Joko Gendeng," tukasnya.


"Ma ... Maksud saya Ki Joko Gendeng, itu tadi Ayamnya di Sop atau di kecap?" tanya Hafiz polos. Meski tergugup Hafiz tetap menyampaikan pesan pertanyaan dari istrinya.


Nampak semua orang sedang menahan tawa mendengar pertanyaan konyol yang di lontarkan Hafiz, terkecuali Empat pria berjenggot.


"Kamu kira mereka mau buka warung makan!" sentak Ki Joko Gendeng semakin menajamkan tatapanya ke arah Hafiz.


Seketika Hafiz memalingkan wajahnya ke samping, "Kamu sih Bund, ada-ada aja," gerutu Hafiz merapatkan giginya.


"Lagian kamu jadi orang polos banget," kata Khadija dengan senyum yang tertahan.


"Ya aku mana ngerti yang beginian," elak Hafiz.


"Mending ndak usah ngerti, karena itu perbuatan musyrik. Udah yuk mending kita mojok pacaran?" goda Khadija dengan senyum menggoda. Menurut Khadija, lebih baik berduaan dengan suami tercinta dari pada harus ikut terjerumus dengan perbuatan dosa.


Segera Khadija menarik tangan Hafiz, mengajaknya naik ke lantai Dua yang digunakan sebagai ruang kerja. Khadija berpamitan kepada sang ibu mertua dengan alasan ia mengalami sakit kepala.


"Pokoknya nanti aku akan tetap mengadakan pengajian Mas," ucap Khadija menatap lurus kearah luar jendela kaca.


"Aku sih terserah kamu Bund. Aku yakin kamu tahu mana yang terbaik," ujar Hafiz sambil memeluk istrinya dari belakang, "Tapi tunggu beberapa hari lagi, takutnya nanti Papa tersinggung. Merasa usahanya tidak di hargai."


"Iya Mas," Khadija pun mengangguk setuju dengan usulan suaminya.


____


Pukul 09.27


Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan. Mulai dari kerabat kedua orang tua Hafiz, relasi Ayah Hafiz dan tidak ketinggalan Aslan dan Dio sahabat dekat Hafiz. Namun, hanya beberapa dari pihak Khadija, karena memang di kota besar ini Khadija tidak memiliki teman.


Untuk Zahra, beruntung gadis kecil itu sedang tertidur ketika Hafiz datang menjemput kedua mertuanya. Namun, ibu Khadija menolak untuk ikut, beliau memilih tinggal di Apartemen menjaga Zahra. Ibu Khadija juga sudah mengetahui perihal yang dialami cucunya tersebut. Menurutnya akan lebih aman jika Zahra tidak ikut serta dalam acara. Dan akhirnya hanya Ayah Khadija yang datang.


Bahagia, itulah kata yang menggambarkan suasana hati Khadija saat ini. Ia juga berterima kasih kepada sang Ayah mertua yang sudah mewujudkan keinginanya.


Sambutan demi sambutan pun di sampaikan, dan di lanjutkan dengan menikmati hidangan bermacam-macam kue hasil buatan dari sang Owner.


"Dek, maaf terlambat ... " ucap seseorang yang baru saja datang, "Selamat dan semoga kedepanya semakin sukses," Haikal menyerahkan seikat karangan bunga ke Khadija.


"Makasih sudah berkenan datang, Mas" balas Khadija dengan sunggingan senyum yang tak lekas pudar.


Kemudian Haikal pun beralih menjabat tangan Hafiz, kawan lamanya.


"Makasih udah dateng," ucap Hafiz datar. Rasa cemburu Hafiz selalu datang tak terbendung, jika bersangkutan dengan Haikal.


"Oh ya, sorry aku gak bisa lama-lama, soalnya anakku lagi sakit," pamit Haikal kepada sepasang suami istri di hadapanya.


"Baru aku mau tanya Mas. Ya sudah salam buat Mihrima," sahut Khadija.


Haikal membalas ucapan Khadija dengan anggukan dan senyuman.


"Kemana tuh si Haikal kok buru-buru amat," tanya Aslan setelah kepergian Haikal. Pria itu datang menghampiri Hafiz dan Khadija setelah kembali mengambil kue.


"Dasar si kunyuk ... Sengaja dia tuh gak bawa anak istrinya biar bisa cari perhatiannya istri gw," jawaban Hafiz yang sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaan Aslan.


"Hush ... Suka asal deh kalo ngomong," Khadija menepuk lengan suaminya, "Itu tadi katanya anaknya lagi sakit, makanya gak bisa lama-lama," lanjut Khadija menjawab pertanyaan Aslan.


Aslan tertawa ringan, "Kayanya kecemburuan lo sama Haikal sudah mendarah daging ya Rel?" sindir Aslan, "Tapi habis ini lo harus lebih waspada kayanya Rel?"


"Maksud lo?" tanya Hafiz bingung.


"Waspada kenapa Mas?" Kening Khadija berkerut.

__ADS_1


Aslan menatap Hafiz dan Khadija bergantian dengan senyum yang tertahan, "Haikal baru saja menyandang status Dumang,"


"DUMANG?" koor Hafiz dan Khadija kompak.


"Duda gamang," Aslan menaik turunkan alisnya menatap sahabatnya.


Dengan reflek Hafiz menarik pinggang ramping Khadija, "Gak akan gw biarin," kalimat ambigu Hafiz.


"Innalillahi ..." ucap Khadija terkejut, "Kenapa? Kok bisa mereka cerai?" tanya Khadija beruntun.


"Biasalah ada cinta lama belum kelar, telah Kembali," seloroh Aslan setelah menelan makananya.


"Jadi, maksud lo, istri Haikal kembali sama mantanya, gitu?" Hafiz berspekulasi, "Kok lo tau?"


"Iyalah ... Orang gw yang ngurus kasus perceraianya," Kembali Aslan memasukan kue kedalam mulutnya.


____


Byuuuurrr ...


"Maaf ... Maaf ... Saya tidak sengaja," ucap Haikal pada seorang wanita yang terkena tumpahan air minum yang di bawanya sendiri.


"Makanya, jalan itu pake ma~..." gerutuan Alina terpotong ketika melihat seseorang yang pernah ia lihat sebelumnya, "Anda, Tuan yang waktu ditaman itu kan?" Jari telunjuk Alina mengarah pada pria di hadapanya.


Sebenarnya bukan Haikal yang menabrak Alina, tetapi Alina yang hendak berbalik setelah mengambil minuman tidak sengaja menabrak Haikal yang sedang terburu-buru.


"Anda yang menolong anak saya waktu itu," Tampak Haikal mengambil sesuatu dari saku celananya, "Maaf, saya tidak bisa membantu membersihkan baju anda," lanjut Haikal mengulurkan sapu tangan.


Alina tersenyum bukan karena sapu tangan yang di berikan Haikal, tapi ternyata Haikal masih mengingatnya, "Tidak apa-apa, saya bisa sendiri," Alina meraih sapu tangan itu.


"Sekali lagi saya minta maaf," Haikal menangkupkan kedua telapak tanganya, "Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Haikal segera berlalu tanpa menunggu balasan dari Alina.


"Eh, Tuan sapu tangan an~..." seru Alina berbalik badan dan seseorang yang di maksud pun telah menghilang dari pandangan.


"Siapa ya dia? Kok dia ada disini? Apa dia teman Carel atau relasi Papa?" Serangkaian pertanyaan muncul di benak Alina. Bibir merahnya tersenyum, "Dia pria yang sopan," puji Alina sembari mencium sapu tangan milik Haikal. Tatapan matanya menerawang lurus ke arah pintu keluar.


"Alina?" sapa seorang pria saat berjalan dihadapan Alina.


Alina tersadar. Mengingat-ingat sosok pria yang mengenalnya, "Fino?" tunjuk Alina.


"Aaaa ..." Alina berhambur kepelukan Fino, "Kemana aja kamu Fin? Dicari gak pernah ketemu, ganti nomer gak bilang-bilang," omel Alina dengan bibir mengerucut, setelah melepas pelukanya.


"Buat apa bilang-bilang. Kalau cinta sudah ditolak ya mending aku menghilang,"


"Udah deh, jangan ungkit masalalu,"


"Iya ... Iya, maaf." Fino mencubit kecil hidung Alina, "Ya udah yuk, kita cari tempat ngobrol," sambung Fino menggandeng tangan Alina.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Komen dan Votenya ya ...🙏😊🤗

__ADS_1


__ADS_2