
Setelah memeriksa Aisyah, Hafiz mengajak Aslan pergi ke kantin untuk sekedar menikmati secangkir kopi susu seperti yang sering mereka lakukan sebelumnya setiap berkumpul.
Tidak lupa Hafiz menghubungi Satu lagi sahabatnya. Kurang afdhol rasanya jika salah satu di antara mereka tidak ikut bergabung. Dio belum mengetahui kedatangan Aslan.
Setelah Lima menit menunggu sembari menikmati kopi yang sudah disuguhkan, Dio datang dengan langkah gontai menghampiri kedua sahabatnya.
"Kapan datang lo?" tanya Dio pada Aslan sambil bersalaman khas para Pria.
"Tadi pagi," jawab Aslan. "Kenapa lo, kok gak semangat gitu?" lanjut Aslan melihat wajah kusut sahabatnya.
Dio menyruput kopi yang sudah di pesankan oleh Hafiz sebelum menjawab pertanyaan Aslan, "Biasalah kelakuan ibu hamil," jawab Dio malas. Meletakan kembali kopinya di atas meja.
"Clara hamil lagi?" Aslan terkejut. Hanya dia yang belum mendengar kabar kehamilan Istri dari salah satu sahabatnya. Tentang kehamilan Khadija, Aslan sudah mendengar dari istrinya.
Dio pun mengangguk, mengiyakan pertanyaan Aslan.
"Kenapa? Di suruh tidur diluar lo?" tebak Hafiz.
Dio menghembuskan nafas pendek, "Kayanya sih bakal gitu?" Pria itu memiliki firasat buruk akan nasibnya nanti malam, mengingat kejadian tadi pagi.
"Sabar Yo, emang gitu bawaan orang hamil itu beda-beda," jelas Hafiz memberi pengertian sebagai orang yang berpengalaman secara teori.
"Beruntung banget istri gw gak ngidam yang aneh-aneh," celetuk Aslan.
"Gw doain deh entar istri lo ngidam pengen naik Buaya," timpal Dio
"Jelek banget doa lo!" cibir Aslan.
Hafiz tertawa melihat pemandangan yang sudah lama tidak ia saksikan. Selalu saja terjadi perdebatan receh ketika Aslan dan Dio bertemu.
"Kan udah sering Aisyah naikin Buaya," sindir Hafiz menahan senyum.
Dio yang ngeh akan kalimat gurauan sang Dokter kandungan ikut tertawa, "Berarti Aisyah hamil anak Buaya dong?" imbuh Dio masih dengan tawanya.
Aslan yang baru sadar dengan kata "Buaya" yang melambangkan dirinya, seketika membulatkan bola matanya, menatap setan ke arah kedua sahabatnya yang masih menertawakanya. "Sialan emang lo berdua!" gerutu Aslan, menendang Satu persatu kaki Hafiz dan Dio.
Meskipun ada saja ledekan yang terlontar di antara mereka bertiga, tak pernah sekalipun mereka merasa tersinggung satu sama lain.
Bagi Hafiz, Dio dan Aslan moment seperti inilah yang selalu mereka rindukan di saat mereka berpisah.
Setidaknya dengan sedikit berbuat usil pada Aslan, sudah cukup membuat mood Dio kembali membaik.
***
"Bang, gw mau ngomong sebentar sama lo," ujar Fino menyela obrolan Aslan dengan kedua sahabatnya.
"Ya udah ngomong aja!" sahut Aslan dingin, menatap sinis ke arah sepupunya tersebut. Ekspresi Aslan seketika berubah saat Fino Hadir di antara mereka bertiga.
"Oke, kalau begitu gw duluan," sela Hafiz mengerti jika Fino butuh waktu privasi. "Ayo Yo kita cabut," lanjut Hafiz mengajak Dio.
"Gak usah pergi, kalian di sini saja," cegah Aslan pada kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Selesaikan dulu masalah lo sama sepupu lo ini." timpal Dio.
Akhirnya Hafiz dan Dio pun pergi. Mereka berdua tahu akan masalah yang menyebabkan Aslan dan Fino berseteru hingga bertahun-tahun lamanya.
Tanpa di persilahkan, Fino mengambil posisi duduk bersebrangan dengan Pria yang sedang membuang muka.
"Maafin semua kesalahan gw Bang," ucap Fino mengutarakan akan maksud kedatanganya.
Aslan tersenyum miring tanpa menatap Pria yang duduk di hadapanya. "Gampang banget lo minta maaf, setelah sempat lo hancurin hidup gw!" ketus Aslan.
Aslan sempat terpuruk akibat ulah Fino. Bagi Aslan, jika waktu itu sang mantan pergi dengan orang lain mungkin Pria itu akan menerimanya. Tak disangka yang terjadi diluar dugaan, justru saudaranya sendirilah yang telah membuatnya patah hati.
"Gw mau hubungan kita kembali seperti dulu. Gw nyesel udah lakuin hal bodoh itu, Bang."
Hubungan Aslan dan Fino memanglah sangat dekat, mereka berdua sudah seperti kakak beradik.
Aslan merupakan sosok kakak yang baik sekaligus teman yang solid di mata Fino. Meski tidak jarang Aslan selalu bertingkah konyol dan kerap menjahili adik sepupunya itu.
Aslan berdecih, "Telat Fin! Sebelum lo lakuin itu, harusnya lo tahu siapa orang yang bakal lo sakitin hatinya," Aslan menatap sinis pada Fino yang menundukan wajahnya.
"Iya Bang, gw nyesel. Gw bakal tebus semua kesalahan gw, apapun itu caranya asal lo maafin gw," ucap Fino penuh penyesalan.
"Jadi sekarang lo sudah sadar, setelah dia ninggalin lo?!"
"Kok lo tahu Bang?" Fino menegakan wajahnya.
"Bukan urusan lo!" tukas Aslan. Pria itu sering memergoki sang mantan kerap jalan berdua dengan orang yang berbeda. Lebih tepatnya sering bergonta-ganti pasangan.
Aslan merasa beruntung belum sempat ia di campakan, gadis itu sudah terlebih dahulu di bawa lari dari kehidupanya oleh Adik sepupunya.
Dengan kejadian itu Aslan sangat bersyukur hubunganya dengan sang mantan tidak berlanjut sampai ke jenjang yang lebih serius.
Dari lubuk hati yang paling dalam, Aslan sebenarnya sudah memaafkan sepupunya itu. Namun, Aslan hanya ingin menguji keseriusan Fino menyesali kesalahanya.
"Oke, gw bakal maafin lo dengan Satu syarat," ucap Aslan menatap tajam Pria di depanya.
Seperti mendapat angin segar, Fino mengangkat kedua sudut bibirnya. "Apa Bang?" tanyanya antusias. Pria blasteran itu tidak peduli lagi akan syarat apapun yang di ajukan oleh sepupunya. Yang terpenting baginya hanya kata maaf.
"Selama setahun lo harus jadi jongos gw." Syarat yang di ajukan Aslan cukup membuat sepupunya itu terbelalak.
Fino tidak menyangka persyaratan yang di ajukan Aslan cukup berat. Itu berarti mengharuskanya untuk Resigne dari pekerjaan sebelumnya dari kantor Advokasi di Luar Negeri.
"Tapi ..."
"... Gw tidak menerima penolakan." potong Aslan. Pria berkemeja denim itu beranjak dari duduknya meninggalkan Fino yang masih duduk termenung.
Aslan akan menjadikan Fino sebagai asistenya. Mengingat kontrak baru yang akan segera ia tangani, terlebih sang Istri yang tengah hamil pasti akan membutuhkan waktu dan perhatian lebih darinya.
Aslan tahu jika Fino adalah orang yang bisa di andalkan, dengan segudang pengalaman di dunia Advokasi sama seperti dirinya. Dan Aslan tidak ingin menyia-nyiakan kesampatan untuk memberi pelajaran pada Fino atas kesalahanya di masa lalu.
Aslan sudah merencanakan misinya ini sewaktu masih berada di Luar Negeri.
__ADS_1
***
"Gimana sayang, udah baikan?" tanya Aslan berada di ruang Praktik Hafiz menghampiri Istrinya.
"Udah Mas," jawab Aisyah sambil memeluk suaminya dari samping, "Kok ndak ngabarin sih kalau mau pulang?"
"Sengaja, mau kasih kejutan. Eh, taunya aku yang terkejut liat kamu berduaan sama Fino," cibir Aslan pura-pura merajuk.
"Uluh-uluh gantengnya suami aku, kalau lagi ngambek," goda Aisyah sambil mentoel-toel perut suaminya. "Oh ya, mana Fino?" sambung perempuan itu mengedarkan penglihatanya.
"Kok malah Fino sih yang di tanyain?" Aslan mencebik.
Cup
Aisyah tahu cara mengatasi kecemburuan suaminya. Beruntung Hafiz dan Khadija sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Jadi bebas untuk Aslan dan Aisyah sedikit bermesraan sekedar melepas rindu.
Keromantisan diruang Praktik sang Dokter kandungan pun terjadi antara sepasang suami Istri ini.
"Gimana keadaan Aisy~..."
Seketika Aslan dan Aisyah melepaskan pagutan yang mulai memanas. Wajah keduanya memerah setelah kepergok sedang berciuman.
"Bisa gak sih, masuk itu ketuk pintu dulu," Aslan menatap kesal pada Pria yang masih berdiri mematung, hanya berjarak Lima puluh Lima puluh meter darinya.
"Sorry Bang, gw gak tau kalo lo lagi~..." jawab Fino cengengesan, memberikan kode ciuman dengan ujung sepuluh jari yang dipertemukan.
Aisyah bersembunyi dibalik punggung sang suami, menahan malu.
"Udah sono lo, pulang duluan," usir Aslan pada sepupunya.
"Kan bisa di lanjut lagi nanti dirumah Bang,"
"Terserah gw mau dimana!" seru Aslan mengibaskan tanganya menyuruh adik sepupunya itu untuk keluar.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Sebenarnya mau Up tadi malam, tapi karena tadi malam ada yang sekarat maka Updatenya harus di pending.
Jangan lupa Like dan Komenya ya? Sekalian ngemis untuk Vote poinya juga...🙏😊😍*
__ADS_1