Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Kumpul bersama keluarga


__ADS_3

Satu tahun kemudian,


Tidak banyak yang terjadi di keluarga besar Edsel, semua berjalan normal seperti biasa. Kehadiran Dua anggota baru dikeluarga itu justru menambah keramaian setiap harinya.


Mulai dari Dua istri yang saling berebut melayani sang suami, siapa lagi kalau bukan Ibu Hafiz dan Ina. Namun mereka berdua tetap akur dan rukun. Ina yang notabene sebagai istri muda, ia tetap menghormati kakak madunya, begitu juga dengan Ibu Hafiz yang selalu membimbing Ina untuk melakukan tugasnya sebagai seorang istri dirumah itu.


Zahra dan Dipta, Dua bocah kecil yang selalu memberikan kecerian di dalam keluarga besar Edsel. Bahkan kekacauan yang mereka timbulkan pun bisa mengundang gelak tawa orang disekitarnya, karena kegaduhan yang mereka perbuat masih dalam batas wajar kenakalan anak kecil.


Tidak jarang pula kedua bocah kecil ini bertengkar memperebutkan hal yang sepele, dan selalu di akhiri Zahra lah yang keluar sebagai pemenang, meski usianya terpaut Dua tahun lebih tua dari Dipta. Bukan karena Dipta tidak ingin menang, namun tangisan Zahra yang membuat telinga semua orang menjadi pengang alasan Dipta mengalah.


Hafiz dan Khadija, sepasang suami istri yang terlihat semakin hari semakin romantis. Meskipun tidak jarang pula mereka berselisih paham, justru itu wajar. Karena itu merupakan salah satu fase untuk saling memahami seberapa jauh mereka mengenal sifat dan katakter dari pasangan masing-masing. Dua insan dipertemukan bukan karena ada kecocokan, tetapi adanya kekurangan dan kelebihan yang menuntut mereka untuk saling mengerti dan saling mengisi.


Terlebih usia pernikahan kedua Hafiz dan Khadija yang di dasari rasa cinta diantara keduanya terbilang masih seumur jagung, kurang dari Dua tahun.


Dari semua apa yang terjadi di dalam keluarga besar Edsel, hanya sikap Hafiz yang masih dingin terhadap Ina, istri kedua sang Ayah. Bukan karena Hafiz tidak suka atau benci namun, rasa canggung diantara keduanya yang membuat mereka tidak bisa akrab satu sama lain seperti dulu waktu Hafiz dan Ina masih berstatus sebagai majikan dan bawahan.


Hafiz yang usianya lebih tua dari Ina menjadi salah Satu faktor yang membuat Hafiz tidak bisa menjalin komunikasi dengan baik. Pria itu bingung harus memanggil Ina dengan sebutan apa? Maka dari itu tak jarang ia menyampaikan sesuatu terhadap Ina lewat Khadija sebagai perantara jika ada yang perlu Hafiz sampaikan terhadap Ibu sambungnya itu.


Berbeda perlakuanya terhadap Dipta, Hafiz justru akrab dengan bocah laki-laki kecil itu, hingga terkadang memancing kecemburuan Zahra. Jika ada waktu senggang atau di akhir pekan Hafiz selalu meluangkan waktunya untuk bermain bersama Zahra dan Dipta.


Bermain sepak bola, itulah permainan yang selalu di pilih Dua lelaki berbeda generasi itu. Dan membuat Zahra tereliminasi dari permainan. Cukup di taman belakang rumah yang cukup luas untuk Hafiz dan Dipta bermain sepak bola.


"Oma Ina, Kak Dipta nakal! Kak Dipta merebut Papa Zahra," adu gadis kecil itu terhadap mantan pengasuhnya, yang kini sudah beralih status sebagai nenek muda.


Diusianya yang sudah Enam tahun lebih dan sudah duduk di kelas TK B, Zahra sekarang sudah tidak cadel lagi dalam berbicara.


"Ya sudah, Zahra mainya sama Oma Ina aja ya? Kita main masak-masakan," Ina menuntun Zahra menuju Gazebo yang juga berada ditaman itu.


Ayah dan Ibu Hafiz selalu tertawa melihat tingkah polah menggemaskan dari Zahra dan Dipta yang tidak kompak ketika bermain. Ya, semua orang kini sedang berkumpul menikmati akhir pekan mereka di taman belakang rumah.


Lantas dimana Khadija?


"Tarrraaaaa ..." seru Khadija dari dalam rumah sambil membawa nampan yang berisi satu piring irisan cake dan beberapa cup pudding hasil buatanya.


Khadija membawa hasil karyanya menuju tempat dimana kedua mertuanya tengah duduk bersantai dibangku tepi kolam.


Khadija beberapa bulan terakhir sangat hoby membuat kue. Hampir setiap hari jika ia memiliki waktu luang, Perempuan itu selalu berkreasi membuat cemilan untuk keluarga besarnya. Dan itu berawal dari keisenganya melihat tutorial cara membuat cake di laman Youtube.


"Papa, Dipta, Oma Ina, Zahra, ayo semua kesini dulu," panggil Khadija kepada anggota keluarga yang tidak jauh dari tempatnya berada.


Hanya dalam hitungan detik segerombolan orang yang di panggilnya pun datang mendekat.


"Yeay, Bunda bikin pudding," sorak Zahra melihat makanan kesukaanya.


"Bikin apaan sih Bund, heboh amat," celetuk Hafiz yang baru datang dengan bermandikan keringat sambil menuntun Dipta adik tirinya.


"Apalagi kalau bukan mau pamerin hasil karyanya," sahut sang Ayah sembari memasukan potongan kue kedalam mulut.

__ADS_1


"Hhmmm... Resep baru ya Ja?" tanya sang Ibu mertua setelah merasakan rasa kue buatan menantunya.


"Iya Ma," Khadija mengangguk, "Ayo Aaa ... Ndak usah pegang, tangan kamu kotor," lanjut Khadija menyuapi suaminya. Hafiz pun membuka mulut sesuai instruksi dari istrinya.


"Makin hari makin enak aja kue buatan kamu Ja," puji Ina, sang Ibu mertua muda.


"Kenapa gak buka toko kue aja?" sang Ayah menimpali. Jiwa bisnisnya meronta ketika melihat peluang usaha.


"Gak! Aku gak setuju," sahut Hafiz menolak, "Yang ada nanti dia sibuk sendiri, lupa ngurusin aku dan Zahra," sambung Hafiz memberikan alasan. Pria itu masih merasa trauma jika nantinya ia kurang mendapat perhatian.


"Dija sih terserah Mas Hafiz aja Pa," Khadija pasrah akan keputusan suaminya.


"Ya sudah, Papa cuma memberikan penawaran," sang Ayah mertua mengendikan bahunya acuh, "Tapi nanti kalau suamimu berubah pikiran, kasih tau Papa. Biar nanti Papa yang modali semuanya," kekeuh sang Ayah mertua atas usulanya.


"Sip Pa," Khadija mengangkat Dua jempolnya.


"Sekali nggak ya nggak!" Hafiz memberengut kesal dengan bujukan sang Ayah terhadap istrinya. Pria itupun tanpa permisi segera berlalu masuk kedalam rumah dengan wajah yang di tekuk.


"Dasar suami manja," ledek sang ibu kepada puteranya.


Ina hanya menggelengkan kepala melihat Hafiz merajuk seperti anak kecil yang tidak di belikan kinderjoy oleh ibunya.


Zahra dan Dipta sudah jangan ditanya, kedua bocah kecil itu sedang menikmati beberapa cup pudding yang mereka pegang sambil berceloteh ria tanpa mempedulikan obrolan para orang dewasa.


"Semuanya, Dija permisi dulu," pamit Khadija kepada ketiga mertuanya.


Khadija pun segera mengejar sang suami yang sudah berjalan terlebih dahulu, setelah ia juga menitipkan Zahra kepada kedua ibu mertuanya.


"Mas tunggu!" seru Khadija namun, tidak dihiraukan oleh pria itu.


"iih, gitu aja ngambek," goda Khadija sambil nunjuk-nunjuk pinggang suaminya.


"Siapa juga yang ngambek," kata Hafiz cuek, tanpa mengalihkan pandanganya, menatap lurus kedepan menaiki anak tangga.


"Kalau ndak ngambek, kenapa itu bibirnya di monyong-monyongin?" cibir Khadija. Perempuan itu terus berusaha menggoda Pria disampingnya dengan memiringkan wajah, mengedipkan mata genit jurus andalanya.


"Minta di cium!" balas Hafiz tanpa ekspresi.


"Ya udah sini tak cium,"


Seketika Hafiz menghentikan langkahnya tepat di anak tangga teratas. Pria itu menengok kesebelah kanan lalu mencondongkan wajahnya.


Dasar suami mesum, giliran cium aja cepet banget nangkepnya! gerutu Khadija dalam hati.


Meskipun begitu, Khadija tetap konsisten dengan ucapanya. Perempuan itu pun memejamkan mata, siap menerima kecupan dari suaminya.


"Sorry gak mempan!"

__ADS_1


Blam ...


Hafiz terbahak ketika masuk kedalam kamar, entah mengapa rasanya Pria itu begitu puas membalas keusilan istrinya.


Sebenarnya Hafiz tidak pernah marah bagaimanapun Khadija seringkali menjahilinya, hanya saja Hafiz ingin istrinya itu tidak mengikuti saran dari sang Ayah.


Khadija pun terkesiap, pipinya memerah menahan malu. Baru kali ini sang suami menolak rayuanya.


Ddrrrtttt ... Ddrrrttt ... Ddrrrrttt ...


Ponsel Hafiz bergetar di atas nakas tempat tidur. Khadija yang sedang menyiapkan baju untuk sang suami beralih sejenak mengambil ponsel suaminya itu lalu melihat siapa nama pemanggil yang tertera pada layar benda pipih tersebut.


"Mas, ada telepon," Khadija sedikit berteriak memanggil sang suami dari balik pintu luar kamar mandi.


"Siapa?" sahut Hafiz dari dalam sana.


"Ndak ada namanya,"


"Sebentar," Hafiz pun membuka pintu kamar mandi dan keluar dengan berlilitkan handuk yang menempel di pinggang namun, dengan kondisi badan dan rambut masih berbusa.


Lalu Hafiz menerima ponsel dari tangan sang istri dan menggeser panel hijau di layar ponselnya.


[Assalamualaikum, ya Halo ...]


[ .... ]


[Apa?! Innalillahi wainna ilaihi rojiun,] ucap Hafiz terkejut, begitu juga dengan Khadija yang ikut terkejut dan penasaran untuk siapa kalimat duka itu diperuntukan.


.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung ...


Ayo tebak, siapa yang di maksud? Biasanya Feeling readers selalu tepat ...🤔


Jangan lupa Like, Komen, dan Vote nya ya?

__ADS_1


Oh ya Author lupa terus mau ngucapin, terima kasih buat readers yang author pun juga tidak tahu siapa? Sudah menyumbang koin untuk karya receh ini. 🙏😊😘*


__ADS_2