
Flashback in memoriam Alina.
🍁🍁🍁
"Assalamualaikum, maaf Mas, sudah lama ya?"
"Waalaikum salam," jawab Haikal, tanpa mengalihkan pandangan dari layar pipih di tangan. Menyadari seseorang yang di tunggu sudah datang, Haikal pun menenggelamkan kembali ponselnya ke dalam saku kemeja hitam yang ia kenakan.
"Eng---" ucap Haikal terpotong, ketika baru menegakkan wajah, "Subhanalloh," lanjutnya menatap kagum seseorang yang sedang berdiri dihadapanya.
Haikal berdiri dari kursi taman yang ia duduki, "Ini benar Alina?" tanyanya masih tidak percaya, meski sudah jelas wajah itu tidak asing bahkan sudah hafal di indera penglihatanya.
Jika sebelumnya wanita yang ada di hadapanya itu selalu memakai pakaian yang selalu menampakkan ke sexy- an tubuhnya, meski itu masih dalam batas sopan, sebenarnya. Namun, tidak dengan sekarang.
Alina mengangguk, wajahnya tersipu malu. Ia tahu jika pria di hadapanya itu terpesona melihat penampilanya.
Alina datang memakai setelan tunik longgar yang fasionable dengan padu padan balutan model hijab kekinian. Benar-benar menampakan aura kecantikan seorang muslimah semakin terpancar.
Ya, Alina sudah memutuskan untuk berhijab, meski awalnya hanya coba-coba dan itu ia lakukan hanya untuk memenangkan hati seseorang yang ia cintai.
Namun, lama-lama Alina merasa nyaman dan banyak hal positif yang ia rasakan. Tentunya itu semua tidak lepas dari peran serta Khadija yang selalu menyakinkan dan men-Suport untuk tetap istiqomah dalam berhijrah.
"Udah ah, jangan di lihatin terus. Gak tanggung loh nanti kalo kena diabetes?" sindir Alina menyadarkan Haikal yang masih tercengang.
"Astagfirullohaladzim," Haikal tersadar lalu membuang muka dengan lengkungan senyum yang mengedar.
Haikal pun meminta maaf atas ketidaksengajaanya memandang lawan jenisnya tersebut tanpa berkedip.
Mendadak suasana menjadi canggung.
"Elif mana Mas?" tanya Alina setelah Haikal mempersilahkan duduk di kursi besi yang tadi pria itu tempati.
Sedangkan Haikal memilih berdiri, lalu berpamitan mengambil putrinya yang sedang bermain di area permainan anak yang ada di tengah-tengah taman.
"Mas tunggu, aku ikut," panggil Alina, ketika Haikal baru akan melangkahkan kakinya. Akan lebih seru jika ia ikut dan menemani Elif bermain, dari pada harus menunggu.
Haikal menengok, lalu tersenyum mengiyakan.
Setelah sepakat untuk saling mengenal lebih dalam, sejak saat Alina menyatakan perasaanya, mereka berdua selalu mengagendakan untuk bertemu di akhir pekan.
Itupun dilakukan Haikal untuk mendekatkan sang buah hati terhadap Alina. Walau bagaimana pun keputusanya untuk menerima cinta Alina, tergantung pada Elif, putrinya.
Menurut Haikal, ia akan memutuskan untuk menikah lagi, jika Elif merasa nyaman dengan kehadiran seseorang yang kelak menjadi ibu sambungnya.
Tiga bulan melakukan pendekatan terhadap Elif, nyatanya berbuah manis. Di samping Alina selalu menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang tulus, Elif juga adalah gadis kecil yang penurut, pintar dan juga menggemaskan, meskipun hanya di bawah asuhan orang tua tunggal yang berperan ganda. Namun, gadis kecil itu tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang dari sang ayah.
Itulah yang menjadikan Elif tidak minder dan mudah beradaptasi dengan orang baru, terlebih seseorang itu memiliki niat yang tulus. Seorang anak kecil lebih peka perasaanya, dia bisa merasakan antara yang sungguh-sungguh dengan yang hanya manis di bibir saja.
Kala hati sudah merasa yakin, dan tentunya mendapat dukungan dan restu dari orang-orang terdekat, meski rasa cinta itu belum tumbuh sempurna, Haikal memutuskan meminang Alina secepatnya.
Haikal sudah tahu dari pengakuan Alina, jika perempuan itu adalah mantan istri dari suami mantan calon istrinya dulu.
Lucu. Terdengar lucu memang dengan perputaran takdir cinta yang mereka jalani.
Haikal pun tidak mempermasalahkan akan latar belakang Alina yang sudah tidak memiliki orang tua dan tengah menumpang hidup di rumah keluarga mantan suaminya. Justru dari situlah, yang membulatkan tekad Haikal untuk segera menghalalkan janda sebatang kara tersebut.
"Bagaimana nak Alin, apa kamu menerima pinangan dari nak Haikal?" tanya Ayah Hafiz selaku wakil dari pihak Alina, karena perempuan itu tidak memiliki sanak saudara lagi, kecuali keluarga Edsel yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.
"Bismillahirrohmanirrohim, iya, Alina terima." jawab Alina mantap.
"ALHAMDULILLAH," seru semua pihak keluarga yang hadir di kediaman keluarga Edsel.
Tanggal dan hari pernikahan pun langsung di tetapkan. Hanya berselang Dua minggu dari proses lamaran.
__ADS_1
"Sah?"
"SAH!" jawab para saksi.
"ALHAMDULILLAH ...!" sambut para tamu yang hadir.
Suasana ijab qobul di hari pernikahan Haikal dan Alina yang di langsungkan secara sederhana berjalan lancar. Rasa bahagia terpancar bukan hanya dari kedua mempelai, tetapi semua keluarga yang hadir turut merasakan.
Para tamu yang hadir bergantian memberi selamat.
"Kal, aku titip Alina. Didik dia menjadi istri yang baik," pesan Hafiz saat mendapat giliran bersalaman kepada mempelai pria.
"Insyaalloh, aku akan menjaga dia dengan baik," balas Haikal sekilas menepuk bahu pria yang ada dihadapanya.
"Dan kamu Lin, jangan pernah ulangi kesalahan yang sama," ujar Hafiz saat beralih ke mempelai wanita yang tak lain mantan istrinya.
"Siap komandan!" Alina mengangkat tangan memberi hormat.
Hafiz tersenyum sambil mengacak puncak kepala Alina yang tertutup hijab.
Khadija pun menangis haru memeluk Alina. Perempuan itu sangat bahagia, akhirnya Alina jatuh ke tangan orang yang tepat, menurutnya. Karena Khadija yakin Haikal bisa membimbing Alina dengan baik.
____
"Yah Mas, gagal lagi," desah Alina kecewa saat mendapati benda pipih panjang berwarna putih hanya menampakan satu garis berwarna merah.
Haikal tersenyum, lalu menarik istrinya itu kedalam pelukan, "Gak papa Ummi, mungkin masih belum waktunya. Berdoa saja semoga Alloh segera mempercayakan amanah itu untuk kita," tutur Haikal menenangkan.
Satu tahun berjalan pernikahan Haikal dan Alina masih belum juga di beri momongan. Keinginan Alina begitu besar untuk mengandung darah dagingnya sendiri. Namun harapanya itu tidak sejalan dengan kehendak Tuhan.
Berbagai ikhtiar sudah ia jalani, mulai dari terapi progam kehamilan, suntik kesuburan, hingga mengkonsumsi obat-obat herbal yang dipercaya cepat untuk mendapatkan keturunan.
Semenjak menikah, Alina sudah mengurangi aktifitasnya di luar rumah, bahkan ia memutuskan berhenti bekerja sebagai sekertaris mantan ayah mertuanya.
Alina bertekad ingin fokus mengurus anak dan suaminya. Kegagalan rumah tangga yang pertama ia gunakan sebagai pengalaman yang tidak boleh terulang kembali.
____
"Loh, kenapa itu testpacknya cuma di pandangin aja Ummi?" tanya Haikal melihat sang istri duduk termangu di depan meja rias sambil memandang kosong ke arah alat tes kehamilan yang hanya di putar-putar di sela jari-jari perempuan itu.
Haikal mendekat, lalu membungkukan badan dengan kedua tangan melingkar di depan dada istrinya, "Ada apa Ummi, katakan sama Abi?" tanyanya lagi dengan lembut.
Alina menggeleng lemah, "Ummi cuma takut aja Bi, jika harus kecewa lagi," ucapnya putus asa, lalu melihat sang suami dari pantulan kaca.
Pasalnya, sudah hampir Empat minggu Alina telat datang bulan. Namun seperti yang sudah-sudah semuanya berakhir dengan kekecewaan dan itu membuat Alina bosan.
"Jangan pernah merasa kecewa, karena sesungguhnya segala kehendak-Nya itu adalah yang terbaik untuk kita, sekalipun itu hal yang buruk menurut kita," ujar Haikal, sambil merubah posisi berlutut di depan sang istri yang masih setia duduk diatas kursi.
"Ayo Abi temani, siapa tahu nanti Dua garis itu muncul, setelah Abi pelototi," gurau Haikal agar istrinya tidak cemberut lagi.
"iiihhh, Abi apa'an sih?" Akhirnya senyum itu muncul kembali, "Ya udah, Abi tunggu sini aja, biar Ummi cek sendiri."
Alina pun berdiri dan berlalu menuju kamar mandi. Perasaan harap-harap cemas menyelimuti mengiringi langkahnya menuju bilik kecil yang terletak di sudut kamar.
"Maaasss ... " teriak Alina dari dalam kamar mandi setelah Sepuluh menit berada di dalam ruangan itu.
Ceklek,
"Ada apa ummi?" tanya Haikal panik setelah membuka pintu. Kemudian tergesa-gesa menghampiri sang istri yang sedang duduk diatas closet dengan wajah tertutup oleh kedua telapak tangan.
Tanpa melihat, Alina menyerahkan benda panjang itu ke arah suaminya.
"Alhamdulillah Ya Alloh!"
__ADS_1
Seruan Haikal membuat Alina terlonjak dari duduknya. Perempuan itu pun berdiri lalu merebut testpack itu dari tangan suaminya.
Alina menutup mulut yang sudah membulat sempurna.
Tidak percaya, Specchles.
Beberapa detik kemudian, perempuan itu menatap ke arah sang suami meminta kepastian, jika apa yang ia lihat tidak salah.
Senyum yang sedari tadi mengembang dari bibir pria itu, cukup membuktikan jika karunia yang selama ini di tunggu-tunggu akhirnya benar-benar di turunkan. Setelah Empat tahun menunggu.
Sudah tidak bisa di gambarkan seperti apa kebahagiaan Haikal dan Alina pada waktu itu.
Selama masa kehamilan, Alina tidak merasakan sesuatu yang berarti dalam artian mengalami fase ngidam yang wajar, tidak aneh-aneh.
Justru perempuan itu masih terlihat gesit kesana-kemari mengerjakan tugas sebagai ibu rumah tangga, meski sang suami sudah melarangnya.
Suatu malam, entah itu sudah menjadi firasat atau bukan, tepatnya H-1 sebelum persalinan, Alina tampak gelisah.
"Ummi, kamu kenapa?" tanya Haikal saat membuka mata, merasakan pergerakan sang istri yang beberapa kali merubah posisi tidur.
"Maafin Ummi, Bi. Gara-gara Ummi, Abi jadi kebangun,"
Haikal melihat sekilas jam yang tergantung di dinding, menunjukkan tepat posisi jarum pendek berada di angka Satu.
Haikal menggeleng, ia tidak pernah merasa terganggu, bahkan pria itu merasa kasihan dengan istrinya. Mungkin usia kehamilan yang semakin tua dan perut yang membesar, membuat istrinya susah tidur.
"Ummi lapar, atau ingin sesuatu?" tawarnya sambil mengelus pipi sang istri
"Enggak Bi,"
"Lalu?"
"Ummi takut Bi,"
"Takut kenapa Sayang?"
"Ummi takut jika suatu hari, Ummi ninggalin Abi," Satu bulir bening lolos dari sudut mata.
Haikal menggeser tubuhnya yang masih terbaring, mengikis jarak hingga tubuhnya berhasil mendekap tubuh sang istri yang semakin berisi.
Kecupan demi kecupan dilayangkan Haikal di setiap jengkal wajah istrinya, "Semua akan baik-baik saja Sayang," Haikal mempererat pelukanya memberikan kenyamanan.
Haikal mengerti akan kecemasan yang di rasakan Alina. Ia berfikir jika ucapan istrinya itu hanya bentuk kegugupan menjelang detik-detik persalinan.
"Jika nanti Ummi pergi, jaga anak-anak kita dengan baik ya Bi. Carilah pengganti yang lebih baik dari Ummi, yang bisa menyayangi Abi dan anak-anak dengan tulus," Alina semakin terisak dalam pelukan suaminya.
deg,
Hatinya terasa tercubit kala mendengar ucapan istrinya. Sekelebat ada perasaan was-was, ingin hati menepisnya, tapi ntah kenapa rasa itu ... 'Ah, sudahlah mungkin aku hanya terbawa suasana.' batin Haikal.
"Abi janji, tidak akan ada perempuan lagi selain Ummi. Cuma Ummi yang Abi mau. Insyaalloh kita akan menua bersama," Haikal kembali mengecup lama kening istrinya, "Ya sudah, kita shalat malam yuk, agar hati Ummi bisa lebih tenang."
Dan benar saja, itulah shalat malam terakhir Alina bersama sang suami tercinta sebelum menghembuskan nafas terakhir dan kembali kepangkuan sang Maha Pencipta.
Flashback off.
🍁🍁🍁
Maaf, tidak bermaksud menabur bawang, author cuma ingin membagi sepenggal kisah Alina sebelum ajal menjemputnya.
Jangan lupa kasih terus Like, komen dan Votenya ya?
Terima kasih untuk para readers yang masih setia mengikuti cerita KCK ini.🙏🙏🙏
__ADS_1