
Setelah membicarakan dengan anggota keluarga yang lain, tentang rencana jalan_jalan Hafiz dan Khadija, akhirnya semua keluarga sepakat untuk ikut, mereka memutuskan untuk pergi ke taman safari sekaligus untuk memberi wawasan edukasi satwa bagi sikecil Zahra.
" Ja, mau ngapain?" Tanya Aslan, saat Khadija akan membuka pintu bagian belakang mobil Aslan.
Khadija menengok kebelakang." Ya mau masuk lah?"
" Maaf ya neng? Tempat anda bukan disini, tapi disana?" Tunjuk Aslan pada mobil Sport Hafiz.
" Ndak lah Mas, aku disini aja!" Tolak Khadija. Khadija sudah merasakan aura_aura negatif jika ia ikut dengan mobil Hafiz, mengingat persyaratan permohonan maafnya pada Hafiz belum selesai.
" BUNDAAAA..." Teriak Zahra yang sudah ada di dalam mobil Ayahnya.
Aslan dan Khadija menoleh bersamaan ke arah suara Zahra " Tuh kan si Princes udah manggil? Lagian mobil aku udah penuh, ada Bapak sama Ibuk nanti disini."
Khadija mendengus, kemudian berlalu dari hadapan Aslan.
Khadija pun masuk kedalam mobil Hafis dan seperti biasa ia duduk didepan disebelah Hafiz. Zahra duduk di kursi bagian belakang sembari tiduran, bermain ponsel sang Ayah.
" Sudah Ja?" Hafiz menoleh kearah Khadija. Dan sudah menjadi kebiasaan buruk Khadija selalu lupa memasang sabuk pengaman.
Tanpa memberi instruksi pada Khadija, Hafiz bergerak mencondongkan badanya ke arah Khadija.
" Mas, Jangan macem_macem ya?" Ucap Khadija memundurkan kepalanya.
Sekilas Hafiz menatap Khadija,
Cetak...
" Auwww..." Pekik Khadija, karena sentilan jari Hafiz ke keningnya.
Hafiz kembali meraih sabuk pengaman yang ada disebelah kiri Khadija lalu menariknya menyilang di depan Khadija sebelum mengkuncinya.
" Makanya jadi orang, jangan negatif aja pikiranya!" Ucap Hafiz yang sudah kembali pada posisi di belakang kemudinya.
" Kan waspada boleh, Mas."
Tanpa perlu berlama_lama lagi, segera Hafiz memutar kemudinya mengikuti arah mobil Aslan yang melaju terlebih dahulu.
" Hihihihi..." Zahra terdengar cekikikan sendiri.
Karena merasa penasaran, Khadija pun menoleh kebelakang, begitu juga dengan Hafiz ikut penasaran, namun ia hanya bisa melihat Putri kecilnya itu dari kaca spion yang berada diatasnya.
" Kenapa sayang? Ada yang lucu ya?" Tanya Khadija.
" Foto Bunda lucu_lucu." Jawab Zahra tanpa melihat ke sang Bunda.
Tatapan Khadija beralih ke Hafiz, meminta jawaban atas foto yang ada di ponsel milik mantan suaminya itu.
Setahu Khadija, ia tidak pernah memberikan fotonya, bahkan sengaja berfoto menggunakan ponsel Hafiz.
Hafiz mengangkat kedua bahunya acuh, karena ia juga tidak mengerti foto mana yang di maksud oleh Zahra.
" Wah...Bunda cantik cekali?" Zahra heboh kembali.
" Coba sini sayang, Bunda mau lihat?" Titah Khadija.
Zahra menurunkan kaki mungilnya, kemudian bergerak maju ke arah sang Bunda sambil mengulurkan benda persegi yang ada di tanganya.
Zahra yang berdiri di antara kursi Hafiz dan Khadija.
Khadija melihat foto yang terakhir di lihat oleh Zahra.
Khadija melihat fotonya yang bersama Hafiz dan Nio saling bergandengan, dan foto itu diambil secara diam_diam oleh Dio pada waktu mereka bukber bersama beberapa tahun silam dan kemudian Dio mengirim foto itu ke Hafiz, yang sebelumnya sudah di edit oleh Dio, difoto itu bertuliskan " Keluarga Cemara"
Kemudian Khadija terus menggeser folder galeri yang ada di ponsel Hafiz.
Khadija terkejut mandapati banyak sekali foto_fotonya yang diambil secara diam_diam oleh Hafiz. Dari yang pose cantik sampai pose terjelek pun ada, dan itu semua foto candid Khadija.
Hafiz pernah iseng mengambil foto Khadija saat Khadija tertidur dengan mulut sedikit menganga.
" Kapan ini Mas?" Tanya Khadija sambil memperlihatkan hasil jepretan iseng yang diambil Hafiz.
Hafiz menoleh ke arah ponsel yang dihadapkan padanya.
" Hahaha...Gak tau, aku juga lupa." Wajar Hafiz lupa, karena foto itu diambilnya sudah lama, saat Khadija masih berstatus sebagai istrinya dan Khadija belum mengenakan Hijab.
" Aku hapus semua ya?"
__ADS_1
" Kenapa?" Kening Hafiz mengernyit.
" Ini aurat kelihatan semua!"
" Ya udah, hapus aja, tapi habis ini ganti sama foto kamu yang sekarang ya?"
" iihh, ndak mau! Kita kan bukan Muhrim."
" Muhlim apa sih Bunda?" Sela Zahra bertanya , karena ia penasaran dengan kata yang sering di ucapkan sang Bunda ketika bersama sang Ayah.
Khadija terhenyak dengan pertanyaan kritis putri kecilnya. Khadija melirik ke ara Hafiz, namun Hafiz kembali mengendikan bahunya sembari tersenyum tipis.
" Jika nanti Zahra sudah besar, Zahra akan mengerti sendiri." Khadija berusaha memberi pengertian pada Zahra, sambil terus jari lentiknya menghapus foto_foto yang ada di ponsel Hafiz. Karena Khadija tidak ingin auratnya dilihat oleh orang yang bukan suaminya lagi.
" Bukanya Muhlim itu, tetangganya Nenek Ummi ya Bunda?"
" Itu Pak Muslim Nak?" Jawab Khadija sambil mengusap pucuk rambut Zahra.
" Anak siapa sih ini, lucu banget?" Ucap Hafiz menoel pipi tembem buah hatinya.
" Anak Papa dan Bunda dong?" Zahra melingkarkan kedua lenganya di leher Hafiz dan Khadija membuat kepala Orang tuanya tertarik ke dalam rangkulanya.
Dug...
Tak sengaja kepala Hafiz dan Khadija berbenturan, dan membuat Zahra melepas rangkulanya.
" Maapin Plinces Papa, Bunda?"
" Gak papa sayang?"Ucap Hafiz sembari tersenyum ke Putri kecilnya."Padahal tadi kurang dikit lagi, posisinya pas!" Lanjut Hafiz bergumam lirih.
" Ngomong apa tadi kamu Mas?" Khadija mendengar samar gumaman Hafiz, namun tak begitu terdengar jelas olehnya.
" Gak ngomong apa_apa?"
" Iya, tadi Plinces dengel Papa bilang" Pas", apanya yang pas Pa?"
Ini anak sama emak tajem banget pendengaranya!
" Tuh Zahra aja denger?"
" Aaaa...Pas banget kita udah mau nyampek, maksudnya!" Kilah Hafiz, mengalihkan topiknya yang kebetulan sudah sampai di tempat tujuan. Dan Hafiz kemudian membelokan mobilnya menuju are Parkir.
" Rel, bayarin semuanya!" Titah Aslan saat Hafiz berintraksi dengan penjual tiket.
" Lo mah, anak Sultan masih aja kere!" Cibir Hafiz.
Selesai membeli tiket semuanya pun masuk, dan salah satu petugas penjaga taman safari memberi arahan tata tertib untuk tetap mematuhi aturan selama berkunjung, untuk menghindari hal_hal yang tak diinginkan baik dari pengunjung maupun satwa_satwa yang ada di dalam.
Selama perjalanan menyusuri tempat_tempat yang dihuni berbagai jenis satwa, Aslan selalu mengabadikan moment kebersamaan mereka semua dengan menggunakan kamera yang dikalungkan di lehernya.
" Mas kesana yuk?" Ajak Aisyah pada Aslan, suaminya, menunjuk ke kandang jenis primata asli Indonesia.
" Zahra ikut Om yuk?" Ajak Aslan pada Zahra yang berada di gendongan Hafiz.
" Kemana Om?"
" Lihat kembaran Papa kamu." Ucap Aslan sambil mengambil alih Zahra dari gendongan Hafiz. Hafiz mendelikan matanya, shock wajah tampanya di samakan dengan Bekantan.(sejenis orang utan, namun memiliki hidung yang besar)
" Enak aja, aku disamain sama Bekantan!" Sahut Hafiz.
"Gak usah banyak protes, gunain kesempatan ini, buat pepet Khadija." Bisik Aslan saat akan berlalu, dengan mengajak Zahra, istri dan kedua mertuanya.
Saat Khadija akan ikut membuntuti keluarganya, dengan cepat Hafiz mengeluarka jurus PDKTnya.
" Auww...Auww..." Rintih Hafiz tiba_tiba sambil memegangi perutnya.
Dengan raut wajah panik Khadija menoleh ke arah Hafiz yang ada dibelakangnya." Mas, kamu kenapa?"Tanyanya.
" Gak tau nih Ja, tiba_tiba perut aku sakit lagi!"
" Kamu bawa obatnya gak?"
" Ada di mobil."
" Ya udah yuk, kita balik aja ke mobil, kamu istirahat aja dulu di sana!" Karena terlalu panik, Khadija tidak sadar jika tanganya merangkul lengan Hafiz. Dan itu merupakan kesempatan langka bagi Hafiz.
Yes berhasil ! Hafiz memalingkan wajahnya, dan tersenyum lebar.
__ADS_1
Sesampainya di dalam mobil, khadija mengarahkan Hafiz untuk duduk di kursi bagian belakang, saat Khadija akan mengambilkan obat untuknya, Hafiz menahan lengan Khadija untuk duduk disampingnya.
Tanpa permisi Hafiz merebahkan kepalanya diatas pangkuan Khadija.
" Biyarkan aku seperti ini Ja." Ucap Hafiz sebelum Khadija memberontak, Hafiz memejamkan matanya, bukan menahan rasa sakit di perutnya karena itu hanya pura_pura, melainkan ia hanya ingin memanfaatkan waktu berdua dengan Khadija.
Dan Ajaibnya Khadija tidak menolaknya, karena Khadija tidak tega melihat Hafiz yang kesakitan. Khadija pun duduk dengan tenang dan tentunya pintu mobil dibiarkan tetap terbuka.
Tak ada yang bersuara, Khadija tenang dalam diam, tanpa di sadarinya lagi, tanganya membelai rambut Hafiz, mantan suaminya dengan penuh perasaan sama halnya yang sering Khadija lakukan pada Putri kecilnya, Zahra.
Jantung Hafiz semakin berdegup kencang, serasa habis mengikuti lari marathon, mendapat perlakuan lembut yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan dari siapapun, sekalipun itu dari Alina sang mantan Istri yang begitu dicintainya pada waktu itu.
Untuk beberapa saat, Hafiz begitu menikmatinya.
Lalu Hafiz membangunkan tubuhnya, kembali duduk disamping Khadija.
"Kok udah bangun Mas? Tidur lagi aja ndak papa, sambil nunggu yang lain kembali."
" Udah agak enakan kok Ja, perut aku." Dusta Hafiz.
Hafiz mengalihkan pandanganya, menatap lekat ke arah Khadija.
" Ja, aku mau ngomong~..."
Kalimat Hafiz terpotong, tiba tiba bunyi ponsel Khadija berdering.
Khadija melihat nama kontak yang tertera, bibirnya pun tersenyum.
" Mas aku angkat telepon dulu!" Pamit Khadija, dan Hafiz mengangguk terpaksa.
Khadija pun keluar dari mobil hafiz, dan berdiri tidak jauh dari mobil sambil mengangkat teleponya.
" Assalamualaikum..."
" (....)"
" Insyaalloh besok sudah kembali ke kota."
" (....)"
" Yang benar? Ya sudah aku tunggu."
" Waalaikum Salam..."
Setelah memutus sambungan teleponya, Khadija kembali ke dalam mobil.
" Siapa Ja?" Tanya Hafiz penasaran, karena melihat Khadija yang nampak ceria setelah menerima telepon dari seseorang.
" Teman Mas?"
" Teman siapa? Leni?"
" Bukan, kapan_kapan aku kenalin, Oh ya tadi kamu mau ngomong apa?"
" Ya sudah, lain kali aja!" Jawab Hafiz yang sudah tidak mood lagi. " Ayo kita susulin yang lain, habis itu kita cari makan." Lanjut Hafiz.
" Beneran kamu udah gak papa Mas?" Tanya Khadija memastikan.
" Iya, aku udah gak papa." Jawab Hafiz, lalu keluar dari mobilnya.
Hafiz dan Khadija pun kembali masuk, kemudian mencari keberadaan keluarganya yang lain.
Meskipun kali ini Hafiz gagal lagi untuk mengutarakan isi hatinya, setidaknya ia sudah cukup merasa senang, mendapat perhatian kembali dari Khadija.
Masih ada hari esok dan esok bahkan esok_esok seterusnya untuk Hafiz terus berusaha mendapatkan kembali Khadija ke pelukanya.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Komenya...🙏🙏🙏*