
[dr. Sarap : Rel, dimana lo?]
[dr. Tekdung : Di rumah, kenapa?]
[dr. Sarap : Istri gw mau cek.]
[dr. Tekdung : Hamil lagi istri lo? Kan ada dr. Vera. Gw lagi mager, hujan ini.]
[dr. Sarap : Sepertinya, tapi Clara maunya sama lo.]
[dr. Tekdung : Hhmmm...Tunggu bentar, gw masih ngelarin yang belum kelar.]
[dr. Sarap : Jangan lama-lama, disingkat-singkat aja.]
Isi pesan chart Hafiz dan Dio dengan panggilan sayang masing-masing.
Hafiz mendesah sebal, meletakan ponsel diatas kasurnya. Kebetulan hari ini hujan, dan Hafiz tidak ingin kemana-mana.
Quality time yang Hafiz rencanakan sebelumnya terpaksa harus ia batalkan, karena Satu sahabatnya memintanya untuk datang ke Rumah Sakit.
"Kenapa Mas?" Khadija yang meletakan kepalanya di atas paha sang Suami, mendongakan wajahnya menatap ke arah Pria yang ikut menatapnya.
"si dr. Sarap minta aku ke Rumah Sakit katanya istrinya mau Cek." ucap Hafiz, tanganya membelai pipi perempuan yang ada di pangkuanya.
"Mbak Clara hamil lagi yo Mas?" tanya Khadija antusias, bangkit dari rebahanya.
"Mungkin." Hafiz mengangkat kedua bahunya malas.
"Ya udah sana siap-siap." titah Khadija pada suaminya.
Dengan malas Hafiz justru membaringkan tubuhnya, dan menarik Khadija dalam pelukanya.
"Hujan gini bawaanya males mau ngapa-ngapain, bawaanya pengen deket kamu terus." ujar Hafiz, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher jenjang istrinya
"Mas, kasihan lo Mas Dio sama mbak Clara udah nungguin?" ucap Khadija, mendorong pelan tubuh besar sang suami agar melepaskan rengkuhanya.
"Biarin! Mending kita ngulang yang semalam." goda Hafiz mengerlingkan satu mata.
"iiihh...Mas lepasin!" Khadija menggeliatkan tubuhnya agar terlepas dari pelukan Pria yang tengah berusaha melakukan seranganya.
"Sekali lagi sayang?" Pinta Hafiz penuh harap, menghentikan sejenak aktifitasnya.
"Ya udah cepetan," Khadija memberi peringatan. Lagi-lagi ia kalah dan hanya bisa pasrah ketika sang suami tiba di ujung hasratnya.
"Gak janji," Hafiz menyeringai nakal setelah mendapat persetujuan dari sang istri.
Khadija memejamkan mata, sekuat tenaga untuk tidak melenguh meski di dalam hati ia begitu menikmati setiap belaian sang suami.
Hujan yang turun begitu deras, mengiringi derasnya peluh yang membasahi tubuh dua insan yang kembali larut dalam pergulatan di pagi hari menjelang siang saat ini.
***
"Mbak Dija!" seruan seseorang dari arah berlawanan.
"Kamu dengan siapa kesini Dek?" tanya Khadija saat Aisyah sudah berada tepat di depanya.
"Fino?" gumam Hafiz menangkap satu sosok Pria yang tidak asing baginya.
"Itu sama sepupunya Mas Aslan mbak." jawab Aisyah menoleh sekilas kebelakang, membuat Khadija penasaran dan mengalihkan pandanganya pada orang yg berdiri sedikit jauh dari adiknya.
"Aslan tau, kamu pergi sama dia?" tanya Hafiz dengan tatapan penuh arti.
Aisyah menggeleng, "Memang ada apa sih Mas dengan Fino?" Aisyah begitu penasaran, mengapa semua orang sepertinya antipati terhadap Pria yang saat ini tengah menemaninya.
"Lebih baik kamu jaga diri baik-baik, tentunya Aslan juga sudah memperingatkan kamu, bukan?" jawab Hafiz tanpa memberikan penjelasan.
Khadija pun menoleh ke arah sang suami, memberikan tatapan tak mengerti, lalu kembali beralih pada Wanita muda di depanya.
Aisyah hanya bisa mengangguk tanpa mendapat penjelasan. Setidaknya ia cukup menuruti apa yang dikatakan semua orang padanya untuk tetap berhati-hati dan waspada.
"Oh ya kamu ngapain kesini?" tanya Hafiz kemudian.
"Habis check up kandungan tadi sama dr. Vera. Tadinya aku mau periksa ke Mas Hafiz aja, tapi tau sendirilah Mas Aslan seperti apa." jelas Aisyah.
Hafiz terkekeh, "Emang dasar suami kamu posesif." ledek Hafiz pada seseorang yang tidak ada di antara mereka.
Khadija menyikut perut suaminya, "Ngatain orang posesif, emang situ ndak?" sindir Khadija tanpa menoleh pada pria di sampingnya.
Setelah berbincang sejenak, Hafiz dan Khadija melanjutkan langkahnya menuju tempat tujuan setelah Aisyah berpamitan untuk pulang.
***
__ADS_1
"Jadi gimana Rel?" tanya Dio, ketika Hafiz selesai memberikan pemeriksaan pada istrinya.
"Kandungan Clara cukup lemah Yo, tolong hindari dulu aktifitas yang berat-berat." jawab Hafiz, kemudian berlalu menuju meja kerja yang ada di ruang Praktiknya.
"Ini gw kasih resep penguat kandungan untuk Clara dan ingat jangan melakukan hubungan dulu, karena sangat riskan di masa-masa seperti ini." jelas Hafiz menyerahkan secarik kertas bertuliskan nama jenis obat pada Dio yang sudah duduk bersebrangan denganya.
"Dengerin tuh Pi, apa kata Carel." imbuh Clara pada suaminya.
"Tapi sampai kapan?" tanya Dio kecewa.
"Ya sampai calon anak lo benar-benar kuat menerima kunjungan dari Bapaknya." kelakar Hafiz menanggapi pertanyaan sahabatnya.
Setelah itu, Dio dan Carla memutuskan untuk segera pulang karena mereka berdua akan menebus obat di Apotek, selanjutnya menjemput Nio di sekolah.
Hafiz kembali ke ruangan pribadinya, menemui sang istri tercinta yang telah setia menunggu.
"Sudah Mas?" tanya Khadija saat melihat suaminya muncul dari balik pintu. dan menutup kembali majalah yang ada di tanganya.
"Sudah sayang." jawab Hafiz ikut duduk disamping istrinya. "Kita makan siang dulu yuk?" lanjut Hafiz mengajak istrinya, sambil memegang perutnya sendiri.
"Kehabisan tenaga ya?" goda Khadija mencondongkan wajahnya di depan Pria yang tengah menahan lapar.
"Iya, gara-gara kamu aku kehabisan tenaga."
Khadija mengernyit, "Kok gara-gara aku?"
"Karena kamu selalu buat aku gak bisa..."
"Ya udah yuk kita makan, aku juga lapar." Khadija segera beranjak dari duduknya sebelum sang suami melanjutkan kalimat yang menurut Khadija akan memancing kembali keganasan Pria itu.
***
Hafiz mengajak istrinya makan siang di sebuah Restauran yang terletak tidak jauh dari Apartemenya.
"Kamu mau pesan apa Bund?" tanya Hafiz sembari membolak balik buku menu yang di berikan oleh Pramusaji.
"Aku terserah kamu saja Mas?" Khadija menyerahkan pada suaminya. Setelah ia sempat melihat menu makanan yang begitu asing baginya.
Dan Hafiz memesan Dua jenis menu makanan dan dua gelas ice Lemon tea.
Beberapa saat menunggu, akhirnya menu makanan yang di pesan pun tiba. Sang Pramusaji menata di atas meja, tampak Khadija menelan ludah melihat makanan yang tertata rapi di depanya.
"Mas kamu yakin tadi memesan makanan ini?" tanya Khadija menunjuk salah satu makanan.
Ada rasa jijik ketika melihat sang suami memasukan makanan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan lahap.
Hafiz mengajak Khadija, istrinya ke Restauran Jepang favoritnya. Sushi dan Sashimi merupakan makanan kesukaanya.
Hafiz menghentikan suapanya saat melihat tak ada pergerakan sang istri untuk menyentuh makananya. Khadija hanya sesekali menyedot minumanya.
"Kenapa Bund, kok gak di makan?"
"Emang aku kucing suruh makan daging mentah?" cicit Khadija. Perutnya terasa mual, ini kali pertama ia melihat orang memakan daging mentah layaknya hewan Karnivora.
Hafiz terkekeh, lalu mencoba menyuapi istrinya, "Ayo coba dulu, ini itu enak lho Bund?" Dengan cepat Khadija menggelengkan kepala.
"Udah kamu aja yang habisin." Khadija menahan suapan dari Pria itu sambil menutup mulutnya.
Karena tidak ingin mengganggu makan siang suaminya, Khadija berusaha menahan perutnya yang sudah bergejolak. Ingin rasanya ia mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya.
"Mas, aku ke toilet sebentar." pamit Khadija karena sudah tidak bisa lagi menahan sesuatu yg sudah mengganjal di kerongkong.
"Mau aku antar?" tawar Hafiz. Khadija hanya mengibaskan tanganya sebagai jawaban, karena sedikit dia membuka mulut, maka akan membuat orang di sekitarnya kehilangan nafsu makan.
Lima belas menit berlalu, Hafiz merasa khawatir dengan Khadija yang tak kunjung kembali. Setelah membayar tagihanya Hafiz bergegas menyusul istrinya.
"Astagfirulloh Bunda?" pekik Hafiz menemukan istrinya yang terduduk lemas di bangku yang ada di depan toilet.
Dengan mata terpejam, dan kepala bersandar di dinding, wajah Khadija tampak pucat.
Mata Khadija kembali terbuka, setelah mendapat tepukan pelan di pipinya.
Hafiz mengalihkan sandaran kepala sang istri ke dada bidangnya, "Kamu kenapa?" tanyanya.
"Ndak papa kok Mas. Aku mual liat kamu makan daging mentah." jawab Khadija dengan suara lemah.
Hafiz segera membawa istrinya kembali ke mobil. Hafiz membaringkan istrinya di jok belakang. Ia membantu sang istri menggosokan minyak kayu putih di area perut dan memijat lembut kepala perempuan yang ada di pangkuanya tersebut.
***
"Kamu mau makan dimana sayang?" tanya Hafiz menengok sekilas ke arah istrinya. Tatapan Khadija mengedar sepanjang jalan mencari tempat makan yang sesuai dengan seleranya.
__ADS_1
Hafiz melajukan mobilnya kembali setelah kondisi istrinya membaik.
"Di situ aja Mas?" Khadija menunjuk pada gerobak Bakso yang berada di pinggir jalan.
"Gak boleh, itu tempatnya gak bersih Bund." tolak Hafiz dengan alasan kehigienisan.
"Ayolah Mas, aku mau makan Bakso di situ." Rengek Khadija menggoyangkan lengan sebelah kiri suaminya.
Dengan terpaksa Hafiz menuruti, karena ia tidak ingin terlalu lama membiarkan perut istrinya kosong.
Mereka berdua turun menuju meja dan kursi plastik yang ditata di pinggir jalan.
"Kamu yakin, mau makan di tempat seperti ini?" tanya Hafiz sedikit berbisik sambil menengok ke sekitar.
"Memangnya kenapa sih Mas?"
"Ya masa makan di tempat terbuka seperti ini?" Bagi Hafiz ini pengalaman pertama ia berada di warung pinggir jalan dengan kondisi terbuka.
"Kan gak ada peraturan yang melarang kita makan di tempat terbuka?"
"Iya sih, tapi..."
"Sudahlah Mas, mau kita makan dimana atau apapun makananya yang penting buat aku kenyang, itu udah cukup buat aku bahagia." pungkas Khadija.
Khadija hanya memesan satu porsi Bakso, karena Hafiz sudah makan sebelumnya jadi perutnya masih terasa kenyang.
Satu porsi Bakso dengan ukuran jumbo pun dihidangkan. Dengan semangat Khadija mencampur saus, kecap dan sambal ke dalam mangkuknya.
Hafiz yang memperhatikan istrinya makan begitu lahap, hanya bisa tersenyum.
"Enak ya Bund?" tanya Hafiz memiringkan kepala melihat perempuan yang ada di sampingnya begitu khusu' menikmati hidanganya.
Khadija hanya mengacungkan jempol, karena mulutnya penuh dengan irisan bakso.
"Aaaaaa..." Khadija tiba-tiba menyuapkan Baksonya ke arah Pria yang terus memperhatikanya.
Meskipun sudah menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan, namun sendok yang berada di depan wajahnya terus memaksa Hafiz untuk membuka mulutnya.
Hap...
Hafiz pun mengunyah perlahan sembari merasakan rasa gurih yang hinggap di dalam mulutnya.
"Enak?" Khadija balik bertanya, Hafiz pun manggut-manggut menyetujuinya.
Di tengah acara menemani istrinya makan, tiba-tiba ponsel Hafiz berdering,
Hafiz mengerutkan keningnya ketika melihat nomor kontak yang berkedip di layar ponselnya.
[Assalamualaikum, ya ada apa?]
[....]
[Apa!]
[....]
[Oke, saya akan segera kesana sekarang!]
Tanpa mengucapkan salam penutup, Hafiz mematikan panggilan seseorang yang ada diseberang sana.
Wajah Hafiz berubah panik, "Ayo sayang, kita harus kembali ke Rumah sakit." Hafiz beranjak dari duduknya.
"Apa yang terjadi Mas?" tanya Khadija ikut panik.
Setelah membayar Bakso yang di makan istrinya, Hafiz segera berlalu menuju mobil tanpa menjawab pertanyaan perempuan tersebut.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung....
Visual Mbak Dija yang makin Ehem...
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Komenya ya...🙏🙏🙏*