Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
KCK - S2 Dunia Dion


__ADS_3

Sepulang mengaji--di lanjutkan makan malam bersama sang Papa dan Bunda serta adik kesayangan. Setelah selesai Zahra pun kembali lagi ke kamar. Menyambangi ponsel yang ia letakkan di atas meja belajar.


Siapa tahu, ada pesan dari sang pacar. Dengan senyum yang terpancar, Zahra menyambar gawainya yang mahal.


Seketika senyumnya memudar--gadis itu mendengus saat mendapati satu pesan masuk dari nomor tak di kenal. Ternyata sms dari KSP yang menawarkan pinjaman dana secara online.


Memang zaman sekarang manusia suka aneh-aneh. Meminjamkan uang hanya dengan syarat KTP dan nomor rekening. Apabila pengajuan di acc, maka uang bisa langsung di transfer.


Hadeeuuhhh ...


Zahra geleng-geleng sambil melepas hijab model bergo yang ia kenakan.


Jelas tau sama tau saja banyak yang menipu dan tertipu. Lah ini ... apa mereka tidak takut di tipu? Ah, biarlah menjadi urusan mereka. Tidak berminat meminjam juga.


Zahra menghapus pesan tidak penting tadi, lalu meletakkan ponselnya kembali di atas meja.


Kalau saja ia tahu nomor pemuda itu, sudah pasti Zahra akan menghubunginya lebih dulu. Baru beberapa jam saja tidak melihat wajahnya--rasanya sudah rindu. Apalagi jika teringat senyumnya ... meski palsu, tapi sudah terasa seperti candu.


Akhirnya, Zahra putuskan untuk mengganti baju.


Baru saja berbalik hendak menuju lemari pakaian, tiba-tiba notif si aplikasi hijau berbunyi.


Ting!


0817866xxxx


[Assalamualaikum]


Zahra menautkan kedua alis, "Ini siapa lagi coba?" gumamnya dengan raut di tekuk. Gadis itu kesal pada pengirim pesan yang tidak menyertakan nama, terlebih PP yang tidak jelas--menampakan pose seorang laki-laki memakai kaos polos berwarna putih yang di ambil dari belakang, jadi hanya tampak punggungnya saja.


Tapi, body-nya oke juga, batin Zahra.


Di sisi lain gadis itu masih sedikit trauma, takut pesan itu dari sang mantan yang kembali meneror, setelah nomor yang sebelumnya sudah ia blokir.


[Dion]


Seakan tahu ketakutan Zahra, seseorang diseberang sana--menyebutkan identitasnya.


Seketika mata dan bibir Zahra membulat sempurna untuk beberapa detik. Dan kembali normal berubah menjadi senyuman.


Niat untuk mengganti pakaian, batal sudah. Zahra berlonjak kegirangan, lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk.


Hanya mendapat pesan begitu saja, membuat Zahra begitu bahagia. Sampai-sampai, secara tidak sadar layar ponsel yang ada di genggamanya ia beri kecupan bertubi-tubi.


Eh,


Zahra nyengir sendiri, menyadari ia belum menjawab salam yang di kirim lewat pesan dari pacarnya tadi.


[Waalaikum salam] balasnya kemudian. Terkirim, checklist dua, biru--terbaca.

__ADS_1


Sambil senyum-senyum--memikirkan, kira-kira kalimat apa ya yang tepat untuk berbasa-basi? Mengetik lagi, hapus lagi ... begitu terus sampai beberapa kali gadis itu mengulangi.


Kenapa aku jadi gugup begini sih? Perasaan dulu sama Alvaro nggak gini-gini amat. Aaaarrrgghh ... Kenapa aku mendadak lebay begini Ya Alloh? Zahra meracau dalam hati.


[Lo ngetik cerpen ya? Dari tadi status lo, mengetik mulu.]


Belum sampai Zahra mengirim pesan balasan yang baru saja ia hapus lagi, Dion sudah mengirim pesanya kembali.


[Kakak udah sholat?]


[Udah makan?]


Akhirnya, kalimat basa-basi lawas tercetuskan--terlanjur keki. Zahra merasa otaknya mendadak blank.


[Hhmmm] balas Dion.


"Gitu doang?" Zahra mendelik.


Selalu menyebalkan!


Padahal Zahra juga ingin di tanya hal yang sama atau sekarang lagi apa? Begitu kira-kira bayangan gadis itu.


[Kak, lagi ngapain?]


Kembali berbasa-basi, menyambung obrolan--tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, meski cuma percakapan gaje.


Sepuluh menit kemudian,


Zahra garuk-garuk kepala. Kerja apa malam-malam begini? tanya Zahra dalam hati.


[Jangan ganggu dulu, gue lagi sibuk]


Baru saja ingin ngobrol lewat chart lebih lama, tapi satu pesan masuk lagi, memutuskan harapan Zahra. Sebelum gadis itu menanyakan perihal pekerjaan sang pacar.


[Ya udah selamat bekerja. Hati-hati ya kak] balas Zahra di akhir percakapanya. Checklist satu, abu--aplikasi non aktif.


***


Suara dentuman musik menghiasi ruangan yang remang-remang, kerlip merah, hijau, biru, lampu disco mewarnai setiap sudut ruangan. Malam ini merupakan malam rabu, meskipun begitu, suasana di club berbintang ini tidak pernah sepi.


Banyak orang yang mencari pundi-pundi uang di tempat ini. Dari cara bersih hingga cara kotor sekalipun.


Begitupun dengan Dion. Dengan menggunakan setelan kemeja slimfit dan celana jeans warna hitam, pemuda itu sudah berada di balik meja bar sejak club ini di buka--mulai pukul Tujuh malam hingga pukul Empat subuh.


Sudah Satu tahun terakhir pemuda itu menggeluti profesinya sebagai Bartender--bekerja paruh waktu. Mengingat status Dion sebagai mahasiswa, jadi ia hanya memiliki jam kosong di malam hari.


Hidup di Ibukota sangatlah keras--segala sesuatunya diukur dengan uang. Dengan segala keterbatasan, demi mencukupi kebutuhanya sehari-hari sekaligus membiayai kuliahnya sendiri, memaksa Dion harus banting tulang tak kenal waktu. Tidak peduli dengan waktu yang harusnya ia pergunakan untuk istirahat dan belajar seperti kedua sahabatnya, justru ia korbankan di tempat ini semalaman--demi uang.


Sebelumnya sudah sering Dion bergonta-ganti pekerjaan yang hanya bisa ia lakoni di malam hari, tapi gaji yang ia dapat tidak bisa menutupi kebutuhanya. Hanya profesi inilah yang mampu mencukupi segalanya.

__ADS_1


Dion mengawali pekerjaanya ini sebagai seorang waiters, secara tidak sengaja--semua berawal dari keisengan Dion memainkan botol-botol minuman, menirukan aksi salah seorang bartender senior. Dan itu ia lakukan saat club masih belum buka. Dari situlah ada salah seorang rekan--bartender senior, tertarik dengan aksi permainan Dion yang masih amatiran, tapi cukup baik untuk seorang yang tidak memiliki keahlian.


Kesempatan itu di sambut baik oleh Dion, meski dengan perasaan ragu. Dan itu wajar karena Dion masih belum memiliki pengalaman.


Memiliki tampang yang menarik, menjadi nilai tambah untuk menjadi seorang bartender. Meski hanya sebagai peracik minuman, penampilan fisik juga di butuhkan untuk menarik pelanggan. Butuh waktu Tiga bulan untuk Dion mempelajari keahlian barunya itu di bawah bimbingan sang senior.


Berkat ketekunanya berlatih, akhirnya Dion benar-benar menjadi bartender Profesional sampai saat ini.


"Tumben, sibuk pantengin hp mulu dari tadi?" celetuk salah seorang rekan melihat Dion beberapa kali berbalas pesan, terlihat dari jari jempol pemuda itu yang terus bergerak.


"Cuma bales pesan doang," sahut Dion, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, setelah mengirim pesan terakhir untuk seorang gadis di seberang sana.


"Hai, tampan?" sapa salah seorang wanita cantik berpakaian sexy, baru saja datang, lalu duduk di depan meja bar tepat di hadapan Dion.


Pemuda yang di sapa hanya menengok sekilas, tanpa ekspresi, datar. Kemudian kembali meneruskan kegiatanya meracik minuman untuk beberapa tamu yang sudah berjajar.


"iihh, senyum dong?" rayu wanita itu. Meski ia tahu, Dion tidak mudah begitu saja mengumbar senyum.


"Oh ya, gue denger katanya tadi siang lo batle ama laki gue?" tanya wanita itu sambil menyecap minuman yang baru saja Dion suguhkan. Tanpa bertanya, Dion sudah hafal dengan jenis minuman yang sering di pesan wanita itu. Karena memang sudah satu bulan terakhir wanita berambut coklat kemerahan itu menjadi member tetap di club yang mayoritas membernya dari kalangan kelas atas. Dan wanita itu rutin datang setiap malam.


"Untung gak gue habisin suami lo!" Dion berkata sinis.


"Uuhh ... takuuutt," ringis wanita itu sengaja di buat-buat, "Kenapa nggak lo habisin aja sekalian, biar gue jadi janda terus bisa sama lo," lanjutnya mengerling genit.


Dion bergeming, tidak berselera menanggapi ocehan yang menurutnya tidak bermanfaat sama sekali.


Andai membunuh orang itu tidak berdosa, Dion ingin sekali menghabisi dua-duanya. Kenapa hidupnya di kelilingin orang-orang yang menyebalkan. Siang hari Dion di buat emosi dengan kelakuan suami wanita itu, dan malam harinya Dion di buat jengah dengan kelakuan genit istri dari pemuda yang tengah berseteru denganya.


Dion tidak mengerti, apa yang sedang terjadi dalam rumah tangga pasangan pengantin baru itu. Seperti tidak ada keharmonisan dalam rumah tangga mereka. Terlihat dari sikap masing-masing yang seperti orang gila.


Sang suami terobsesi mengejar-ngejar sang mantan, sedangkan istrinya setiap malam hoby mabuk-mabukan.


Nauudzubillah Mindzalik ... ucap Dion dalam hati.


Ya, wanita itu adalah Amanda Wijaya istri dari Alvaro Geovani.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan votenya ya?🙏😊😘


__ADS_2