Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Curhat


__ADS_3

Setiap akhir pekan di hari sabtu dan minggu, Alina selalu menyempatkan datang ke toko, karena memang jam kantor waktunya libur dan ia pun sedang tidak mempunyai acara.


Setelah masuk kedalam toko, Alina hanya melihat Leni dan Sari yang tengah sibuk berada di pantry.


"Khadija mana?" tanya Alina pada kedua gadis yang sedang sibuk dengan adonan kuenya.


Leni menoleh, "Ada diatas Mbak," jawabnya. Sari tidak mendengar, karena gadis itu tengah menghidupkan mesin mixer yang terdengar sedikit bising.


Tanpa bertanya lagi, Alina segera naik keatas untuk menyusul orang yang sedang dicarinya.


"Ja, boleh aku masuk?" izin Alina setelah mengetuk pintu ruang istirahat Khadija di lantai Dua ruko. Khadija yang sedang melipat mukenah selesai menjalankan Shalat Dhuha mengangguk dan tersenyum.


Setelah masuk, Alina mengambil posisi duduk di tepi ranjang, "Kok semalem gak jadi turun?" protesnya.


Hampir Setengah jam ia menunggu Khadija di tepi kolam. Perempuan itu sangat senang ketika Khadija hendak menghampirinya, ada sesuatu yang akan di ceritakan. Namun, yang ditunggu tidak kunjung datang.


Khadija pun menyusul Alina duduk ditepi kasur, "Maaf Mbak, semalam itu Mas ..."


" ... Carel ngelarang kamu kan?" potong Alina sesuai dugaanya, "Dasar suami posesif," Perempuan itu mencibir mantan suaminya.


Khadija mengangguk, mengiyakan. "Maafin yo Mbak?" Khadija merasa tidak enak hati kepada Alina.


Alina merasa itu bukan salah Khadija, hanya suami dari perempuan di hadapanya itulah yang sikapnya sedikit keterlaluan.


"Aku mau curhat sama kamu, tapi jangan bilang siapa-siapa ya?" kata Alina mengutarakan maksud kedatanganya. Ia tidak tahu harus bercerita dengan siapa.


Menurutnya, Khadija adalah orang yang tepat untuk mencurahkan isi hatinya. Alina juga melihat sepertinya Khadija juga orang yang bisa menyimpan rahasia.


Khadija menarik keningnya, tumben sekali mantan istri dari suaminya itu mau bercerita.


Melihat dari raut wajah Alina, sepertinya ada hal serius yang akan di bicarakan perempuan itu.


"Silahkan, insyaalloh Dija janji," ucapnya.


Untuk beberapa detik Alina tampak bimbang sembari memainkan jari-jarinya. Harus memulai dari mana mengawali untuk bercerita, "Gimana ya Ja, aku bingung,"


"Bingung kenapa?"


"Aku bingung dengan perasaanku Ja," Alina ragu dengan apa yang sedang ia rasakan. Pertemuan singkatnya dengan seseorang, bahkan belum begitu mengenal, tetapi di dalam sudut hatinya muncul rasa yang berbeda. Entah itu rasa cinta ataukah hanya kekagumanya semata.


"Kalau bingung, sini pegangan Mbak," canda Khadija memecah kegugupan Alina.


"iiihh ... Dija, aku serius?" cicit Alina.


Khadija tertawa kecil, "Ya sudah ndak usah bingung, makanya cerita?"


Alina menarik nafasnya cukup dalam sebelum membuka suara, "Aku suka sama seseorang Ja," kata perempuan itu lirih.


"Oh ya?" sambut Khadija senang. Sekarang ia tahu alasan perempuan di hadapanya ini suka senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Alina menunduk malu-malu.


"Bagaimana orangnya Mbak?" tanya Khadija ingin mengetahui keseluruhan dari pria yang di maksud Alina. Sebenarnya ada Satu nama yang nyangkut di benaknya, tapi ia enggan menebak-nebak siapa orangnya.


"Orangnya itu kalem, ganteng, dan sepertinya dia orangnya alim gitu Ja," ungkap Alina tentang sosok laki-laki pujaan hatinya. Tanpa menyebutkan siapa nama dari pria tersebut. Karena Alina sendiri tidak tahu, apakah pria itu memiliki perasaan yang sama dengan dirinya atau justru sebaliknya.


Terlalu cepat. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Alina yang bersemi dalam waktu singkat.


"Terus kira-kira aku kenal ndak sama orang itu?" tanya Khadija mencoba mencari tahu untuk menyakinkan dugaanya.


"Mungkin Carel tau, karena dia teman Aslan juga," jelas Alina. Perempuan itu menceritakan pertemuanya yang kedua ketika acara Grand opening toko waktu itu. Dan perkenalan yang tidak di sengaja ketika bertemu untuk yang ketiga kalinya.


"Namanya Haikal," cetus Alina menyebutkan Satu nama.


Khadija terkejut, reflek menutup mulutnya yang sedikit terbuka.


Mata Khadija berbinar menatap Alina, "Jadi Mas Haikal orangnya?" tanyanya memastikan. Ia tidak menyangka ternyata orang yang di sukai oleh mantan istri dari suaminya tersebut adalah mantan calon suaminya dulu. Dan ternyata dugaanya salah.


"Kamu kenal?" tanya Alina. Menurutnya itu wajar jika Khadija mengenal pria itu, seperti halnya Khadija mengenal Aslan dan Dio.


Khadija mengangguk dan tersenyum.


"Tapi sepertinya, hati ini berlabuh ditempat yang salah," Alina tertunduk lesu.


"Kenapa?" tanya Khadija memicingkan mata.


Khadija tertawa, ternyata perempuan di depanya ini menyukai seseorang tanpa mengetahui statusnya.


Alina mengerti akan tawa Khadija. Mungkin saja perempuan di hadapanya kini tengah menertawakan kebodohanya karena telah menyukai suami orang.


"Tenang saja, dia duda," bisik Khadija menaik turunkan alisnya.


"Serius kamu Ja?" Bibir Alina melengkung sempurna. Meski ia belum tahu perasaan Haikal kepadanya, tetapi paling tidak ada secercah harapan untuknya mendapatkan hati pria tersebut.


Lagi-lagi Khadija mengangguk, "Dija sutuju, jika orang itu adalah Mas Haikal," Ia yakin jika Haikal bisa membimbing Alina, "Dia pria yang baik, sopan dan taat beragama," lanjut Khadija mengungkap pribadi pria yang pernah dekat denganya.


"Kok kamu tahu banyak tentang Haikal?" Tatapan menyelidik di layangkan ke arah Khadija.


"Aku akan cerita, tapi Mbak Alina jangan marah yo?" ujar Khadija dengan mengajukan syarat.


Setelah mendapat anggukan dari Alina, Khadija pun menceritakan hubunganya dengan Haikal di masa lalu tanpa ada yang di tambahi atau di kurangi.


"Ternyata dunia ini sempit ya Ja?" Alina tidak menyangka dengan perputaran takdir cinta yang saling keterkaitan dengan Khadija.


"Terus sejauh mana hubungan kalian?"


Alina menggeleng, "Untuk memulainya saja belum," Jangankan menjalin hubungan, bahkan Alina sendiri tidak tahu caranya untuk berkomunikasi dengan Haikal. Karena perempuan itu belum sempat bertukar nomor telepon.


Kali ini tawa Khadija terdengar menggema memenuhi seisi ruangan.

__ADS_1


"Sudah aku duga, pasti kamu akan menertawakanku," Alina mengerucutkan bibirnya.


"Perlu bantuan gak?" tawar Khadija setelah berhasil meredam tawanya. Khadija juga memberi tahu nomer telepon Haikal pada Alina, agar janda itu bisa melancarkan pendekatanya kepada sang duda.


____


"Lagi bahas apaan sih itu Mbak Alina? Gak tau apa kerjaan disini banyak," gerutu Leni kesal. Gara-gara Alina datang, membuat Khadija tidak kunjung turun.


"Iya, mana ini banyak pesanan lagi," imbuh Sari menyetujui ucapan rekanya itu.


Mereka berdua merasa sedikit kuwalahan dengan pesanan kue yang cukup banyak. Apalagi sang Master tidak segera datang membantu.


"Tumben itu Janda gak keluar sama Mas Bule," celetuk Sari mengerti akan kebiasaan Alina yang selalu jalan bersama Fino setiap akhir pekan.


"Sukur deh, moga aja mereka putus," sahut Leni.


"Emang mereka pacaran?" timpal Sari sambil memasukkan adonan kue ke dalam oven.


"Mungkin," jawab Leni asal. Melihat dari perilaku Alina dan Fino yang selalu terlihat bersama dan keakraban yang terjalin diantara keduanya.


"Kamu suka sama Mas bule, Len? tanya Sari curiga melihat gelagat Leni seperti orang yang sedang cemburu.


"Siapa sih yang gak suka liat orang tampan kaya dia?" jawab Leni.


"Jangan mimpi kamu. Ngaca! Saingan kamu tuh Mbak Alina," cibir Sari mengingatkan akan status sosial antara keduanya.


"Lha memang kenapa? Masih menang banyak aku kali? Aku juga gak kalah cantik, lagian aku masih gadis, dia udah janda," balas Leni jumawa.


"Iya, bener kata kamu," Sari mengangguk setuju jika rekanya itu memang cantik, "Tapi, Mbak Alina itu Janda High Quality," sambungnya dengan menyematkan predikat yang disandang Alina. Terlebih janda itu adalah mantan istri dari majikanya.


"Aku juga High Quality jomblo," sewot Leni tidak terima.


"Terserah kamu deh Len," Sari nyerah karena selalu saja kalah bila berdebat dengan seorang Leni yang keras kepala.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung ...


Jangan lupa Like, Komen, dan Votenya ya*?

__ADS_1


__ADS_2