
*Dua hari kemudian......
"Ini mobil kenapa lagi, sih?" oceh Bintang kesal ketika mobil yang di kendarai nya mogok di tengah jalan yang membelah perkebunan teh menjadi dua bagian sisi kiri dan kanan. Untuk memastikan apa yang terjadi, Bintang bergegas turun.
"Sial,bannya juga bocor " umpat Bintang melihat ban depan mobilnya kempes sebelum mengecek bagian mesin. Bintang kembali ke dalam mobil mencari handphone nya hendak menghubungi seseorang. Tapi benda yang di cari nampaknya tertinggal di rumah.
"Ah... Bagaimana ini, pagi ini ada pertemuan penting dengan para investor. Terlambat sedikit saja, bisa gawat urusannya." Bintang bicara sendiri sambil hilir mudik mencari akal, wajahnya juga terlihat panik sebab dia benar-benar sudah tidak ada waktu lagi. Bintang tidak ada waktu untuk mencari bagian mesin mana yang bermasalah. Belum lagi masalah ban kempes . Biarpun di bagasi mobil ada ban cadangan ,butuh waktu juga untuk menggantinya. Sama saja dia buang-buang waktu.
Bintang mengedarkan pandangannya barangkali ada yang bisa di tumpangi. Sayang yang dilihat hanya seekor kerbau yang sedang di Giring seorang pria paruh baya.
"Kenapa yang lewat bukan ojek atau kendaraan lain saja, lumayan bisa di tumpangi, ini malah kerbau, masih mending juga sepeda" omelnya tak jelas.
"Sepeda?" mata Bintang berbinar. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Tidak jauh dari pandangan mata seorang gadis mengayuh sepedanya dengan ceria.
"Pagi neng" sapa bapak yang menggiring kerbau pada gadis yang lewat menggunakan bersepeda.
"Pagi juga mang " sahut Berlian tersenyum ramah.
Berlian terus mengayuh sepedanya. Namun Berlian terpaksa harus menekan rem sebab ada cowok arogan menghadang laju sepedanya.
"Kamu lagi. Kamu mau mati ya?. Lompat ke sungai sana, bukannya berdiri di tengah jalan begini." tegur berlian dongkol pagi yang cerah di kotori polusi oleh tampang tak penting.
"aku tidak ada waktu berdebat sama kamu. Mobil ku mogok dan aku harus bertemu klien secepatnya. Sini sepeda kamu aku pakai" tanpa basa-basi atau pun tata krama pinjam meminjam, Bintang mengambil paksa sepeda milik Berlian. Jelas saja Berlian meradang dan wajar kalau dia mempertahankan apa yang memang jadi miliknya.
"Enak saja mau pakai sepeda ku. Memangnya kamu siapa?"
__ADS_1
"Jangan banyak omong. aku ada pertemuan penting pagi ini. Lebih penting daripada meladeni kamu yang bawel" Bintang bersikeras mau memakai sepedanya Berlian.
"Itu urusan kamu. Tuh, ada kerbau mang nana yang bisa kamu jadikan tumpangan, jangan sepeda ku" kata Berlian sambil menunjuk ke arah belakang punggungnya, di mana mang nana terus berjalan menggiring kerbaunya.
what ? cowok setampan dan sekeren Bintang di suruh naik kerbau?. Berlian, yang benar saja donk, mana mau si Bintang menunggang kerbau. Itu sama saja merendahkan harkat dan martabat ketampanan juga arogansi nya. Kalau saja Berlian itu laki-laki, entahlah. Melihat raut geram di wajah Bintang sudah bisa di tebak, Berlian bisa saja babak belur di hajar nya. Untung saja berlian perempuan.
"Emang dasar cewek kampung kali ya, senangnya sama kerbau. Kamu saja yang menunggang kerbau sana. Sepeda ini,biar aku yang pakai" Bintang tetap kekeuh pada pendiriannya dan terus menarik paksa sepeda itu dari tangan Berlian.
"Ehh, kalau kamu mau pakai sepeda ini, kamu bisa pinjam baik-baik kan pada ku"
"Pinjam?" Bintang mulai naik pitam. Dalam kamus hidupnya, tidak ada istilah meminjam. Dia terlalu kaya dan sombong mengakui membutuhkan sesuatu dari orang lain, seperti apa yang kini menjeratnya.
"Kamu lupa, kamu masih punya hutang 10 juta kepadaku ?. Harga sepeda ini tidak sebanding dengan utang kamu ke aku. Sepeda ini milik ku selama kamu belum bisa melunasi hutang kamu" Bintang kembali memperlihatkan arogansinya dengan mengintimidasi Berlian dengan kejadian dua hari yang lalu. Berlian sempat terdiam di sudutkan begitu. Bintang pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu menaiki sepeda Berlian karena dia benar-benar sudah di buru waktu.
"Ehh, jangan asal makai saja, aku juga ada keperluan yang jauh lebih penting dari keperluan kamu" ujar berlian tak terima.
"Ehh, cewek kampung, kamu ngapain ikut-ikutan naik, turun sana" Bintang mendorong pelan bahu Berlian. Tapi, berlian tetap bertahan.
"Kamu mau pakai sepeda ini, atau kamu mau terus berdebat dengan ku?" tanya Berlian, Bintang hanya diam dan ngedumel tak jelas.
"Udah, kayuh sepedanya. Mau klien kamu kabur gara-gara kamu nya terlambat datang cuma gara-gara mau menang sendiri dari gadis kampung seperti ku?"
"Grrr ... gadis ini pintar banget ngomongnya?" maki Bintang dalam hati. Tapi ada benarnya juga dengan apa yang di katakan gadis itu. Dengan terpaksa Bintang mengayuh sepeda tersebut dan Berlian enak-enakan duduk di muka.
...****************...
__ADS_1
Sepeda yang di kayuh Bintang terus berjalan melawati sebuah tikungan, lalu menuruni sebuah turunan. Berlian memekik senang, rambut panjangnya tergerai kebelakang di tiup angin dan menutupi wajah Bintang sebagian. Jalan sepeda yang tadinya lumayan kencang, mendadak melambat. Bintang seperti kehilangan tenaga saat mencium wanginya rambut Berlian. Senyum di bibirnya melengkung tipis mengamati senyum ceria yang terpancar dari kecantikan wajah gadis itu.
"Cantik?. Apanya yang cantik, jelek begitu" Bintang mengoceh sendiri membantah kekagumannya.
"Apanya yang jelek?" Berlian mempertanyakan apa yang di dengarnya sekilas. Tajam juga pendengarannya. Bintang sempat heran di buatnya.
"Jalannya yang jelek" jawab Bintang sesuka hatinya, padahal jalan yang mereka lalui baru selesai diaspal beberapa waktu lalu.
"Jelek gimana, aspalnya mulus begini" sela Berlian yang di diamkan saja oleh Bintang yang mulai kembali mempercepat jalan sepedanya.
...****************...
"Bintang kemana sih?. Sudah jam segini belum datang juga. Kesepakatan dengan pihak investor bisa batal kalau dia tidak datang" mama Farida hilir mudik di depan gerbang pabrik pembuatan teh milik almarhum suaminya. Sudah hampir jam 10, Bintang belum juga datang. Di dalam para investor sudah menunggu kedatangan putranya selaku Presdir saat ini.
"Bu itu bukannya Pak Bintang" seru pak Bisma, manajer di perusahaan milik keluarga Pratama yang ikut menemui para investor yang siap menanamkan modal untuk membuka pabrik juga lahan perkebunan baru.
"Mana?" Mama Farida menuruti arah pandangan pak Bisma.
"Pak Bintang kok naik sepeda?. Lalu gadis yang bersamanya, siapa?" tanya Pak Bisma kepo.
"Gadis itu?" senyum mama Farida melengkung bahagia melihat pandangan di depan matanya.
Sampai di tempat tujuan, Bintang langsung turun dan bergegas menemui mamanya.
"Gila tuh cowok, bukannya ngucapin terima kasih, main tinggal saja" omel Berlian dan terdengar jelas oleh Bintang. Bintang pun surut melangkah.
__ADS_1
"Kamu mau aku mengucapkan terima kasih atau kamu mau meminta imbalan atas jasa sepeda kamu?" sengit Bintang.
"Jasa sepeda ku tidak senilai dengan ucapan terima kasih yang mungkin tidak akan pernah keluar dari mulut angkuh seperti kamu. Seandainya bukan karena sepeda ini, mungkin kamu akan kehilangan rasa percaya juga kesempatan besar dari klien kamu yang sepertinya sangat penting." balas Berlian lebih sengit. Cowok arogan seperti Bintang memang tidak bisa di kasih hati. Bintang yang biasanya selalu ingin menang sendiri, di buat bungkam oleh kata-kata Berlian.