
"Aku dengar katanya kamu sedang sibuk cari pekerjaan. Kebetulan di perusahaan sedang membutuhkan tenaga profesional di bidang keuangan sesuai dengan gelar kamu. Kalau bersedia, kamu bisa bekerja di perusahaan ku" Bintang tanpa sungkan menawarkan pekerjaan untuk kakak iparnya setelah keadaan tenang dan semua keluarga selesai makan siang.
"Kamu jangan salah paham dengan bantuan yang aku tawarkan. Aku melakukan ini hanya untuk melindungi Berlian. Aku ngga mau kamu hidup luntang lantung di jalanan dan itu sangat membahayakan bagi Berlian karna hidupnya akan selalu terancam di kejar preman-preman seperti waktu itu" sambung bintang cepat menjelaskan alasan niat baiknya.
Arya tak langsung mengiyakan. Dia diam beberapa saat sebelum menjatuhkan keputusannya.
"Berhubung aku berhutan sangat besar karna kamu sudah membayar lunas hutangku dan sebagai ucapan terima kasih, aku ngga bisa menolak permintaan kamu dan aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan menjaga kepercayaan mu dengan sebaik-baiknya"
"Itu yang terpenting" kata bintang dengan senyum bersahabat.
Berlian yang mendengar pembicaraan kakak dan suaminya dari dapur tak bisa menyembunyikan rasa syukur karna bintang dan kakaknya bisa akur. Cintanya untuk bintang pun tumbuh kian subur tak dapat di pungkiri.
...****************...
Malam harinya di kamar pribadi mereka, Berlian dengan segenap hatinya mengutarakan rasa terima kasihnya pada suaminya.
"Lian, apa yang aku lakukan ngga selalu harus di balas dengan ucapan terima kasih. Sebagai suamimu, sudah selayaknya aku merangkul keluarga kamu menjadi bagian dari keluarga aku juga" Bintang tersenyum tulus mengatakannya.
"Kalau bukan dengan berterima kasih, aku harus bagaimana?" tanya Berlian.
"Dengan ini"
Bintang dengan cepat menyentuh bibir istrinya dengan lembut dan penuh perasaan. Berlian mengerti dan balas mencium bibir suaminya lembut penuh cinta. Dia juga merespon dengan baik ketika Bintang merebahkan dan memeluk tubuhnya dengan manja. Keduanya pun membiarkan detik-detik berlalu dengan indah dan membawa mereka menyatu penuh cinta dalam setiap belaian juga sentuhan mereka. Sampai keduanya tersenyum bahagia dan tidur berpelukan.
...****************...
Persiapan pesta pernikahan Bintang dan berlian sudah hampir rampung, semua telah di serahkan ke ahlinya. Pesta megah itu akan di gelar di sebuah hotel bintang lima di kota tersebut.
Undangan pun sudah menyebar dan sampai ke tangan pak Erwin. Pak Erwin tak terima dan langsung menemui Bintang di kantornya.
"Batalkan pesta pernikahan kamu dan ceraikan Berlian secepatnya" sambar pak Erwin menerobos masuk keruangan Presdir.
Bintang yang tengah serius membaca buku karangan istrinya di buat kaget dan langsung menutup buku yang di bacanya.
"Apa maksud om datang ke sini dan dengan lancang meminta saya menceraikan Berlian?"
__ADS_1
Pak Erwin menyeringai dan tersenyum kecut.
"aku ngga perlu menjelaskan panjang lebar kejadian yang menimpa ayah tiri kamu"
Wajah Bintang pucat.
"aku akan me meja hijaukan kamu jika kamu ga mau menuruti permintaanku. Ceraikan Berlian dan segera nikahi Kartika" ancam pak Erwin dengan pilihan yang tidak menguntungkan.
"Sampai mati aku ngga akan pernah menceraikan Berlian. Silahkan lakukan apa yang om mau." tantang bintang tak takut dengan ancaman yang di layangkan oleh adik almarhum papa tirinya.
"aku ga akan pernah menukar kebahagian ku dengan apa pun. Apa lagi dengan menikahi Kartika" tekan Bintang tegas.
"Baik kalau itu mau kamu. Kamu akan membusuk dalam penjara" gertak pak Erwin keluar dengan geram.
Bintang terduduk lemah. Bayang-bayang keceriaan berlian mempersiapkan pesta pernikahan mereka dan betapa cantik juga bahagianya Berlian waktu mereka fitting baju pengantin, menguatkan keputusan yang sudah diambilnya.
...****************...
"Om Erwin" panggil seseorang menghentikan langkah lelaki paruh baya tersebut.
Rangga mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat pak erwin tersenyum licik.
"Kita bicarakan ini di luar aja" katanya.
...****************...
Sampai pada waktunya, pesta pun di gelar dengan mewah. Ratusan undangan pun mulai berdatangan. Bintang yang sesungguhnya tertekan, berusaha menyembunyikan kegundahannya demi menenangkan kegelisahan Berlian yang mulai curiga padanya.
Dan semua kegundahannya terbayarkan begitu memandangi cantiknya sang tambatan hati dalam balutan gaun pengantin putih yang anggun.
"Kamu cantik sekali, sayang" pujinya terkesima. Akhir-akhir ini bintang sering memangilnya dengan sebutan sayang, yang membuat berlian tersipu mendengar nya.
"Kamu juga ganteng" balas Berlian memuji penampilan suaminya yang memakai tuxedo berwarna senada dengan gaunnya.
"Pestanya sudah mau di mulai, kamu sudah siap?" senyum Bintang menawan memperlihatkan lesung pipitnya.
__ADS_1
Berlian mengangguk pasti. Dia juga di buat tak berkutik, kala Bintang mengecup keningnya, entah kenapa dia merasa ada ketakutan melanda dirinya. Biasanya dia begitu damai dan tenang dengan perlakuan mesra suaminya. Sama halnya ketika bibir bintang berpindah menyapa bibirnya dengan lembut, Berlian tak mau mengakhirinya.
...****************...
"Lian... Selamat ya" ucap kartika yang datang dengan tulus dan cipika cipiki dengan sahabatnya.
"Makasih ya kamu sudah mau datang" balas Berlian tersenyum bahagia.
"selamat ya Bintang" Kartika tersenyum tegar memberi selamat pada bintang.
"Iya" jawabnya singkat dan ketus. Jujur saja, Bintang tak mengharapkan kehadiran dari keluarga pak Erwin.
Berlian pun meminta fotografer mengambil gambar mereka sebelum Kartika turun dan memberi kesempatan pada tamu lainnya memberi selamat pada kedua mempelai di iringi lantunan piano yang syahdu dan romantis.
Bintang berusaha selalu menebarkan senyum bahagia. Dan dia terus-menerus menempel disisi Berlian. Tangannya terus merangkul pinggang Berlian, hanya lepas saat bersalaman dengan tamu. Ada kelegaan di hati Bintang karena semua orang kini tahu kalau wanita disampingnya itu istrinya.
Selain teman bisnis yang hadir , nampak juga satria yang tengah mengobrol dengan Arya. Acara resepsi pun berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan.
Acara resepsi selesai pukul 11 malam. Keluarga inti beristirahat di masing-masing kamar yang sudah dibooking dan ada sebagian juga yang memutuskan pulang ke rumah nya.
...****************...
Bintang dan berlian sudah berada didalam kamar presidential suite, kamar pengantin mereka. Tempat tidur berukuran cukup besar dengan balutan sprei putih dan rangkaian bunga mawar merah yang tersebar di atas tempat tidur menambah kesan romantis.
Setelah pintu kamar di tutup, Bintang langsung memeluk Berlian dari belakang.
"kamu mandi duluan. Aku masih harus melepaskan aksesoris di rambut dan bersihin make up dulu" suruh berlian sambil mengelus tangan bintang.
"mandi bareng yuk..." ajak Bintang sambil tersenyum nakal.
"hmm... ngga deh. Udah malam, mandi nya ga boleh lama-lama ya ga baik. Udah sana...." Berlian mendorong Bintang yang tampak malas.
Berlian beranjak menuju meja rias. Di bukanya semua aksesoris di kepala . Lalu membersihkan make up dari wajahnya. Saat akan membuka baju, Berlian kesusahan membuka resleting belakang. Bintang yang sudah selesai mandi diam-diam memperhatikan, lalu mendekat hendak membantu membukanya. Bintang merengkuh pinggang Berlian dari belakang, rambut yang digelung ke atas menampakkan leher jenjangnya. Lalu Bintang mengecup leher jenjang istrinya yang putih mulus.
"bin...a... aku mau mandi dulu" Berlian tergagap dengan perlakuan bintang. Bintang tiba-tiba mengangkat tubuh Berlian dan membawanya ke kamar mandi tanpa bicara.
__ADS_1
Akhirnya mereka melewati malam itu layaknya pasangan yang tengah menghabiskan malam pertama nya sebagai suami istri. Perlakuan Bintang membuat Berlian tersanjung. Sejenak Bintang melupakan kegundahan yang beberapa waktu lalu di rasakannya, dan berharap agar malam ini tidak cepat berlalu. Rona bahagia pun terpancar dari keduanya.