
Rujak habis tanpa sisa, Bintang bergegas berangkat ke kantor karna dia sudah kesiangan. Dia pun segera berpamitan pada istri dan mama nya.
...****************...
Siangnya, Berlian sengaja datang membawa bekal makan siang untuk suami dan kakaknya. Meskipun dia sudah berumah tangga, Berlian tak serta merta lupa pada kakaknya.
"Lho, itu kan mobil kak arya ?!" ujarnya mengenal mobil yang keluar dari area perkantoran berlantai 10 milik suaminya itu.
"Kak arya mau kemana, ya?.Apa dia ada pertemuan di luar?" tebaknya dari dalam mobil yang membawanya ke tempat tujuan.
Saat mobil yang ditumpangi Berlian tiba , dia pun segera turun dan bergegas menuju ruang kerja suaminya yang terletak di bagian paling atas.
...****************...
"Saya rasa pembicaraan kita sudah cukup. Kamu boleh keluar dari kantor saya dan jangan pernah kembali lagi" bentak Bintang pada seorang perempuan yang dari tadi keras pada pendiriannya.
"Bin, kamu tidak bisa membatalkan kontrak kerja sama kita secara sepihak begini. Kamu tidak bisa semena-mena menggunakan pengaruh kamu" protes perempuan itu tak terima dengan langkah yang diambil Bintang.
"Keputusan ini sudah melalui pertimbangan yang matang oleh semua semua staf di perusahaan ini. Dan kami sudah tidak bisa melanjutkan kerja sama dengan perusahaan yang tidak satu visi dengan kami"
"Itu cuma kedok kamu saja untuk menutupi sikap sok berkuasa kamu" sela perempuan berambut sebahu itu.
"Cukup" Bintang berdiri dan memukul keras meja kerjanya. Matanya menatap tajam lawan bicaranya seolah mau menerkam lawan bicaranya hidup-hidup.
"Saya minta kamu keluar dari ruangan ini, sebelum saya panggil satpam menyeret kamu keluar dari sini" usirnya.
Perempuan itu tetap duduk tenang di tempatnya.
Bintang mendengus kesal dan membukakan pintu.
"Flora... kamu mau keluar dengan cara hormat atau saya akan membuatmu malu di seret satpam keluar dari sini"
Perempuan bernama flora itu terpaksa bangkit dan berdiri berhadapan dengan laki-laki yang mengusirnya. Matanya langsung berbinar mendapatkan ide begitu melihat siapa yang keluar dari pintu lift yang letaknya tak berjauhan dari ruang kerja Bintang.
"Aduh..." Flora pura-pura terjatuh dan memeluk Bintang dengan sengaja tanpa di duga oleh Bintang sebelumnya.
"ehem...." suara deheman seseorang,membuat Bintang menoleh ke arah suara karena merasa tak asing dengan suara itu.
__ADS_1
"Sayang" Tanpa menunggu lama, Bintang mendorong kasar tubuh Flora dan berjalan mendekati istrinya.
"Sayang, kamu jangan salah paham. Aku bisa menjelaskan semuanya pada kamu" Bintang menangkup wajah Berlian dengan sorot mata meminta kepercayaannya. Berlian hanya diam tak bergeming.
Flora tersenyum sinis penuh kemenangan. Kelemahan Bintang kini berada di genggamannya. Pede banget kamu Flora.
Bintang menarik tubuh Berlian masuk ke dalam pelukannya.
"Semua tidak seperti yang kamu lihat, percaya sama aku" ujarnya.
Pandangan Berlian berbenturan dengan pandangan Flora yang seolah sengaja menebarkan ancaman serius terhadapnya. Berlian spontan memeluk erat tubuh suaminya.
...****************...
"Maaf, aku terlambat" ujar arya merasa bersalah pada gadis yang ditemuinya di sebuah cafe tak jauh dari tempat dia bekerja.
"Nggak apa-apa, aku juga baru datang" balas gadis cantik itu tersenyum manis.
"Oh nggak . aku cukup capuccino saja"
Gadis itu mengangguk dan memanggilkan pelayan.
"Tika , sebenarnya kamu ada keperluan apa meminta ku ketemuan di sini?" Arya bertanya pada gadis di depannya setelah pelayan cafe menjauh dari meja mereka.
"Kak, sebenarnya aku mengajak ketemuan karna ingin sekali meminta bantuan kak arya. Itupun kalau kakak tidak keberatan." terangnya agak sungkan.
"Bantuan apa?" Arya menatap serius gadis di depannya, membuat hati si gadis tiba-tiba berdetak tak menentu.
"Masalah ini masih ada kaitannya dengan Bintang" ujar Kartika setelah berhasil menguasai keadaan. Sebenarnya bisa saja dia meminta Berlian, hanya saja Kartika tak mau merepotkan Berlian saat ini.
"Ada apa dengan Bintang?. Papa kamu mau bikin ulah apa lagi?" curiga arya.
"Bukan. jangan salah paham dulu" bantah Kartika cepat.
"Lalu?"
__ADS_1
Pelayan datang membawa pesanan 2 gelas capuccino. Kartika terpaksa diam sejenak sampai pelayan itu pergi lagi.
"Kakak minum dulu kopinya" ucap Kartika kepada Arya.
Arya meneguk kopi itu sedikit, kemudian meletakkan gelas minumannya pada tempatnya.
"Jelaskan padaku, bantuan apa yang kamu minta dari ku?. Kalau kamu mau aku memisahkan bintang dari Berlian, jangan harap aku akan sudi membantu kamu"
Kartika tersenyum geli. Laki-laki tampan di depannya terlalu serius menyimpulkan opininya sendiri.
"Kalau memang aku mau memisahkan Bintang dari berlian, aku pasti sudah melakukannya karna kesempatan aku mendapatkan bintang sangat terbuka. Tapi aku lebih mementingkan persahabatan ku dengan Lian. Karna nilai persahabatan kami jauh sangat berharga di banding harus meributkan hal yang sudah jelas. Bintang sudah bucin akut dengan Lian. Apa lagi yang harus kami permasalah kan?"
Arya diam-diam mengagumi jiwa berlapang dada yang dimiliki oleh Kartika. Sangat jarang orang sebaik Kartika yang pernah dia temui.
"Lantas apa yang bisa aku bantu?"
"aku cuma ingin kak Arya mau membujuk Bintang agar mau bertemu dengan papa ku" terangnya.
"kenapa harus aku?. Kenapa bukan kamu atau papa kamu sendiri yang datang langsung menemui bintang?."
"kak, keadaan papa belum memungkinkan untuk keluar dari rumah sakit. Tapi beliau begitu ingin bertemu dengan Bintang menyampaikan permintaan maafnya secara langsung. Aku sendiri tidak yakin apa Bintang mau mengabulkan permintaan ku jika aku sendiri yang datang menemuinya. Sebab aku merasa kalau bintang masih menyimpan dendam terhadap keluarga ku" papar Kartika panjang lebar.
"Kenapa kamu tidak minta bantuan berlian saja?. Berlian pasti akan dengan senang hati membantu kamu" saran arya.
"kak, aku tahu itu. Tapi kan kakak juga tahu sendiri kalau Lian sedang hamil muda. aku ga mau membebani Lian dengan melibatkan dia dalam masalah ini.. Aku takut Lian akan bersikeras membujuk bintang sementara orang nya enggan bertemu dengan papa . Mereka bisa berselisih paham dan itu bisa membahayakan janin yang tengah dia kandung"
Arya tercenung. Lagi-lagi dia dibuat kagum dengan sikap dewasa juga kesetiakawanan yang di tunjukkan oleh Kartika.
"Kalau kak Arya ga mau membantu aku, aku juga gak akan memaksa" desah nya pasrah. Dia pun meraih tasnya dan mau pergi tanpa berpamitan. Refleks, Arya menggenggam tangan Kartika.
"aku akan membantu kamu" katanya pasti.
Kartika terdiam dan salah tingkah tangannya di pegang erat oleh Arya. Hatinya bergetar hebat.
"Terima kasih" senyum Kartika tulus.
Arya balas tersenyum. Ada kepuasan tersendiri bagi pemuda lajang itu bisa membuat gadis yang diam-diam mulai mencuri hatinya dengan senyum seindah itu.
__ADS_1