
Di bebani semua pikirannya itu, Bintang menghempaskan tubuhnya dengan kesal pada sofa panjang dalam ruang kerjanya. Kalau hari ini dia tidak ada pertemuan penting dengan kliennya, Bintang tidak ada niatan datang ke kantor dan lebih memilih menenangkan diri ke suatu tempat.
"Aaaarrggghh...." Bintang mengacak-ngacak rambutnya sendiri saking pusingnya memikirkan masalah Berlian dengan Rangga.
"Lebih baik aku pergi saja, masalah pertemuan dengan klien bisa aku serahkan pada fadli" putus Bintang memantapkan hati pergi menenangkan pikirannya.
Bintang lantas berdiri, namun dia buat kaget begitu menyadari ada yang berbeda dari ruang kerja yang di tempati.
"Siapa yang sudah lancang mengacak-ngacak ruang kerja aku?" geram Bintang.
Meski ruangannya jauh lebih rapi dan teratur, Bintang tak bisa terima begitu saja ruang kerjanya di rapikan tanpa seizinnya. Dan Bintang juga tak suka ada orang yang berani memindahkan beberapa properti yang ada di ruangan itu dan mengubah letak beberapa lukisan yang sejak dulu tidak pernah bergeser dan pindah tempat. Ruang kerjanya bukan hanya rapi tapi juga estetik, tapi bagi Bintang ini adalah sebuah pembangkangan. Dari dulu dia sudah memperingatkan OB yang bekerja di kantornya agar membersihkan dan merapikan ruang kerjanya seperlunya. Tidak ada yang boleh menyentuh dokumen di meja kerjanya. Tapi ini sudah keterlaluan di mata Bintang. File yang berserakan, arsip yang berantakan,kini tersusun rapi dan teratur pada tempatnya.
"Rin, kamu keruangan ku sekarang" perintah Bintang langsung pada sekretarisnya melalui sambungan telpon. Tak berapa lama Karina pun muncul.
"Bapak Panggil saya ?" tanya Karina.
"Kamu tahu, siapa yang sudah dengan lancang membersihkan ruang kerja tanpa seizin ku?" Bintang langsung pada topik permasalahan.
"Maaf pak, yang kemarin membersihkan ruang kerja bapak adalah istri bapak sendiri" kata Karina.
"Lian?" kaget Bintang.
"Iya pak. Saya sudah coba mencegahnya, tapi istri bapak memaksa mau membersihkan ruang kerja bapak." jelas Karina.
"Jadi semua ini kerjaan kamu" gumam Bintang langsung terdiam mendengar penjelasan sekretarisnya. Wajahnya yang tadi kusut dan diliputi kemarahan berubah ceria. Senyum tipis pun menghiasi bibirnya, semangatnya juga kembali menyala mengetahui perhatian Berlian yang masih tercurah walau kemarin dia sudah membuat istrinya kecewa dengan penjelasannya soal hubungannya dengan Bella.
"Kamu bisa kembali ketempat" sahut bintang tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Sekalian kamu hubungi ibu Flora dan bilang pertemuan hari ini di batalkan" tambah Bintang memberi tugas pada sekretarisnya.
"Tapi pak, pertemuan ini sangat penting membahas masalah pembukaan lahan baru perkebunan perusahaan." kata Karina mengingatkan atasannya.
"Kamu bisa suruh Rangga menghadiri pertemuan itu"
"Pak Rangga nya belum datang, pak"
"Apa?. Jam segini Rangga belum datang?" ujar Bintang terkejut dan ingatannya kembali melayang pada kejadian tadi pagi.
"Apa Rangga masih ada di rumah dan terus berusaha mendekati Berlian?" tebaknya gelisah.
"Kamu suruh Fadli menggantikan ku karena aku ada keperluan penting lainnya"
Bintang menyambar tasnya dan bergegas mau meninggalkan ruangannya.
"Maaf pak, bukannya lebih baik bapak sendiri yang menghadiri pertemuan ini karna ketidak hadiran bapak bisa berdampak buruk bagi perusahaan"
"Baik pak, saya akan minta fadli menggantikan bapak" Karina patuh dan mengalah dari pada dia di pecat karna di anggap membangkang pada atasannya. Karina pun keluar dari ruangan itu di susul Bintang.
...****************...
Berlian menarik nafas lega sambil menutup bukunya saat jari-jarinya sudah selesai menggoreskan isi hatinya dan tatapan matanya hampa memandangi bunga-bunga di taman belakang rumah yang mulai bermekaran dan tanpa dia sadari sepasang mata mengamatinya tanpa jenuh yang berdiri tak jauh dari tempat dia duduk.
"Bintang..." Berlian mendesah penuh rindu sambil menutup mata dan memeluk buku miliknya. Perlahan mata Berlian terbuka karena merasa ada yang berdiri tegap di hadapannya.
"Bintang" ucap Berlian kaget melihat siapa yang di lihatnya.
Bintang berusaha tersenyum menyapa istrinya walau senyumnya terkesan kaku dan Berlian ingin membalas senyuman itu. Tapi mengingat Bintang belum juga menjelaskan perkaranya dengan Bella, Berlian tidak jadi membalas senyuman Bintang.
__ADS_1
"Tumben jam segini pulang?" sungut Berlian memasang muka juteknya, membuat Bintang gemas sendiri.
"Kenapa?. Kamu takut aku memergoki kamu berduaan dengan Rangga?" sentil Bintang membuat kuping Berlian panas. Tapi Berlian tidak mau mengambil hati sentilan itu karna dia memang ingin menjelaskan cerita sebenarnya pada Bintang.
"Jangan salah duga dengan apa yang kamu lihat. Rangga hanya memegang tangan aku dan aku berusaha menariknya dan aku sama sekali tidak mengharapkannya"
"Kamu meminta aku supaya tidak salah paham dengan apa yang aku lihat. Tapi apa kamu mendengarkan penjelasan aku agar kamu tidak salah duga dengan apa yang kamu dengar tentang hubungan aku dengan Bella?" sindir Bintang mengena tepat di hati Berlian.
"Aku melihat dengan jelas bagaimana Rangga menggenggam tangan kamu, padahal sudah jelas status kamu adalah istriku. Apa kamu pernah melihat aku berduaan dengan Bella?. Apa kamu pernah lihat aku menggenggam tangan dia seperti Rangga menggenggam tanganmu?. Kenal Bella saja kamu tidak. Bagaimana kamu bisa menyimpulkan pemikiran kamu tentang hubungan kami di masa lalu?"
Harus di akui oleh Berlian, Bintang kali ini begitu pintar memainkan kata-kata yang membuat pemikirannya sedikit terbuka dan dewasa membandingkan dirinya sendiri dengannya. Bintang dengan Bella, dia dengan Rangga. Sebuah masa lalu yang jadi sandungan untuk masa depan mereka. Tapi,tetap saja Berlian tak tenang sebelum Bintang mempertegas gambaran perasaannya ke Bella kini.
"Bin, kamu kenal Rangga dari dulu. Kalian tumbuh besar bersama. Sedikit banyak kamu tahu Rangga bagaimana dan kamu bisa berhati-hati memperingatkan dirimu sendiri akan sepak terjangnya seperti apa"
Bintang termangu dengan mata menyipit meraba-raba maksud perkataan istrinya yang seolah mengarah pada kecurigaannya tentang hubungan Berlian dan Rangga.
"Sedangkan aku, aku buta tentang Bella. Aku tidak tahu Bella itu bagaimana. Yang aku tahu, kamu pernah jatuh cinta dengannya dan dia itu pasti wanita yang sangat luar biasa di mata kamu, bukan hanya dari segi kecantikannya. Kakak kandungku sendiri juga kepincut dengan Bella. Apa salah jika aku punya pikiran lebih mengenai perasaan kamu yang dulu dan kini?. Dulu ada Bella yang sepadan dengan kamu. Kini, ada aku yang menurutmu tidak ada pantasnya menjadi pendampingmu. Apa ada yang salah dengan pemikiran aku?"
Kini giliran Bintang yang terpojok karna Berlian bukan hanya mengungkit-ungkit soal Bella, tapi juga soal perkataannya yang pernah mengatai Berlian sebelum menikahinya dan Bintang tak mau Berlian merendahkan dirinya sendiri terlalu jauh.
"Sebelum menikahimu , kamu memang tidak ada pantasnya buatku. Tapi setelah kamu resmi menjadi istriku, tidak ada lagi wanita yang pantas mendampingiku selain kamu. Seorang Bella pun yang menurut kamu luar biasa, dia sama sekali tidak layak mendampingi ku. Jangankan untuk menggantikan posisi kamu sebagai istri aku, menggeser sedikit saja kedudukanmu , dia sama sekali tidak layak."
Berlian tak tahu harus berkata apa lagi mengajukan keraguan dan alibinya. Bintang begitu tegas menjelaskan bagaimana dia tak lagi memusingkan wanita bernama Bella dan kata-kata bintang sangat manis , membuat raganya begitu ringan melayang di udara. Namun Berlian tak mau termakan ucapan saja karna bisa saja Bintang hanya menggombal.
"Bintang menggombal?. Tidak mungkin, Bintang itu sangat angkuh dan sulit mengeluarkan pujian apa lagi kata-kata manis seperti tadi" bantah Berlian yang mulai mengenal kepribadian suaminya.
"Aku memang mencintai Bella" ucap Bintang tiba-tiba .
__ADS_1
"Apa?" Berlian sontak berdiri dan menatap getir mata suaminya. Hatinya seakan di iris tak berbentuk oleh pengakuan Bintang barusan.