Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 77. Pagi yang cerah


__ADS_3

Pintu ruang kerja yang terletak di lantai bawah, tepatnya di samping tangga yang menghubungkan ruang bawah dengan kamar pribadi Bintang dan sedikit terbuka. Harusnya itu tak terjadi sebab Bintang yang biasa menghabiskan waktu menyelesaikan pekerjaannya pada hari luang justru sedang tidak berada di rumah. Lantas siapa yang berada di dalam ruangan tersebut?. 


"kok mencurigakan ya?!" gumam mama Farida. 


"harus pastikan siapa yang ada di ruangan itu. Jangan sampai kecolongan" 


Mama Farida jalan hati-hati dan pelan demi memastikan kecurigaannya sebab dia tak mau lengah mengingat banyak dokumen penting perusahaan yang tersimpan di sana. 


"Bintang menyimpan dokumen perusahaan di mana, sih?" ujar pemuda itu kasak-kusuk membuka lembar demi lembar file yang terdapat di atas meja kerjanya Bintang.


 


"Di sini nggak ada... Mesti cari di mana lagi nih?" 


Pemuda berambut cepak itu hampir putus asa sampai senyum liciknya mengembang seperti mendapatkan petunjuk akan kebuntuannya. 


"Pasti dia menyimpan file tersebut dalam brangkas itu" 


Dia pun bergerak mendekati brangkas besi dan coba menebak-nebak kata sandi guna membuka pintu brangkas yang dia duga sebagai tempat penyimpanan dokumen yang dia cari. 


"Rangga, apa yang kamu lakukan di sini?" bentak suara wanita yang cukup keras.


"Mama..." ucap Rangga terlonjak menjauhi brangkas dengan wajah pucat dan di basahi keringat dingin. 


"Mama, belum tidur?" Rangga berusaha rileks dan sesantai mungkin bertanya menyembunyikan ketakutan juga kegugupannya. Jangan sampai mama Farida tahu apa yang dia perbuat dan dia rencanakan. 


"Kamu ngapain malam-malam berada di sini?. Bukannya tadi kamu sudah mau tidur" tanya mama Farida dengan sorot mata mencurigai sikap keponakannya yang aneh dari biasanya. 


"I..i..itu..Ma " Rangga kebingungan mencari jawaban yang membuat mama Farida kian curiga. 


"Itu ma, aku nyari file ini untuk keperluan besok" Rangga mengambil sebuah file ber map kuning. 


"mama kan menugaskan aku menggantikan Bintang yang tidak bisa menemani Flora melihat lahan pemukiman baru perkebunan kita. Jadi aku butuh beberapa dokumen yang di butuhkan dan harus aku bawa besok" jelas Rangga pintar cari alasan. 


"Kamu bilang donk dari tadi siang sama mama. Hampir saja mama jantungan melihat pintu ruang kerjanya Bintang sedikit terbuka. Mama pikir ada maling yang masuk" ujar mama Farida bernafas lega dan tak lagi curiga dengan keponakannya. 

__ADS_1


"Maaf, aku ga enak merepotkan mama" ujarnya pintar cari jawaban.


"Ya sudah!. Kita keluar sekarang. Kamu sudah dapatkan apa yang kamu cari" 


"Dapat, kalau saja kamu ngga masuk dan mengacaukan rencanaku" sambar Rangga beraninya dalam hati. 


"Rangga kamu kenapa masih berdiri di sana?. Ayo kita keluar" ajak mama Farida kepada Rangga. 


"Iya ma" sahut rangga lemas bercampur kesal. 


"Jangan sampai Bintang tahu kamu masuk keruang kerjanya tanpa izin. Bintang bisa ngamuk jika dia tahu" ingat mama Farida yang tak mau anak dan keponakannya berselisih paham. 


"Oh ya...bagaimana kamu bisa masuk ke ruang kerjanya Bintang?. Bukannya kuncinya di bawa sama Bintang?" mama Farida tersadar begitu mau menutup pintu ruang tersebut.


 


"Aku punya kunci cadangan yang di kasih almarhum om dulu" jawabnya. 


"Owh..." mama Farida mengangguk. 


...****************...


"Bin, apa kita perginya ga terlalu pagi?. Apa ga sebaiknya aku masak dulu untuk sarapan, baru kita berangkat?" tanya Berlian panjang lebar ketika Bintang membantunya memasang jacket. 


"Kita kan bisa sarapan di luar" jawab Bintang.


"Sudah siap. Yuk" Senyum manis pun tersungging dari bibir lelaki beralis tebal itu.


...****************...


15 menit pertama perjalanan. Matahari belum menampakkan diri. Kabut dan embun masih mengepung hari yang masih berselimut gelap. Kendaraan roda empat itu berhenti di sebuah tempat yang berhadapan dengan jalan terjal di sampingnya dan di penuhi semak belukar. 


"Bin, kita kenapa berhenti di sini?" Berlian bingung sendiri melihat suaminya turun lalu membukakan pintu untuk berlian.


"Sebentar lagi kamu akan tahu jawabannya" ujar Bintang tersenyum penuh rahasia.

__ADS_1


"Kamu ikut aku" 


Bintang menarik tangan Berlian berjalan melewati jalan setapak yang kiri kanannya di penuhi semak belukar yang basah di siram embun pagi. 


"Kamu sebenarnya mau ngajak aku kemana, sih?" tanya Berlian penasaran. 


"Kamu jangan kebanyakan tanya. Sebentar lagi kita juga sampai" ucap bintang sambil terus memegang tangan istrinya dan membantu sang istri menapaki bagian yang cukup terjal.


"Kita sampai tepat waktu" ujar Bintang begitu berdiri di tempat yang datar di sebuah ketinggian. 


"Apanya yang tepat waktu. Aku capek dan kelelahan di suruh mendaki kayak gini, itu baru tepat" omel Berlian pada suaminya. 


"Kamu lihat kesana" Bintang menunjuk kearah timur.


Berlian yang kesal tetap mau menoleh dan penasaran dengan apa yang di tunjuk Bintang. Kekesalannya seketika berubah menjadi sebuah kekaguman melihat sebuah proses alam yang indah. 


Dari ufuk timur, kabut putih perlahan hilang, embun tak lagi terasa awan hitam berangsur mulai memudar dan menyingkap memberi jalan pada sebuah cahaya indah berwarna orange yang mulai bersinar menyapa sebagian permukaan bumi. Pelan namun pasti mentari mulai menampakkan dirinya bersama kilau cahaya pertamanya yang indah di iringi dengan kicauan burung pagi yang berdendang ria dan rumput yang bergoyang memberi salam pada ratu cahaya. 


"Bin, cahaya mataharinya indah sekali" ujar Berlian terkesima melihat bagaimana cahaya matahari muncul untuk pertama kalinya di pagi itu. 


"Masih banyak keindahan lain yang harus kamu lihat" 


Bintang kembali menarik tangan Berlian dan berdiri di bawah sebuah pohon yang rindang. 


Dari bawah pohon rindang itu dapat terlihat dengan jelas sinar mentari yang kini tepat menyapa paras cantik yang murah senyum itu. wajah berlian pun berkilauan di terpa sinar mentari yang berwarna orange itu. Sepasang mata yang tak jemu melihatnya di buat terkesima dan tak dapat menyembunyikan kekagumannya. 


"Berlian, kamu sangat cantik. Cantik sekali" puji Bintang dalam keadaan sadar. 


Berlian yang tadinya terkesima dengan cahaya mentari pagi di buat gugup dan malu di puji demikian oleh bintang. Dia pun tak berani menantang sorot mata suaminya yamg coba menerobos jantung hatinya. 


"Lian" Bintang memegang dagu istrinya dan menegakkannya dengan lembut. Hatinya pun berdesir melihat kilauan sinar mentari menyatu dengan sinaran mata Berlian. Perlahan Bintang mendekatkan wajahnya mendekati wanita cantik di depannya.


Detik itu pun bibir keduanya bertemu dan bercerita dengan indah di saksikan sinar cahaya pagi ini. Kedua insan itu tenggelam dengan damai menikmati sentuhan lembut masing-masing dengan bahagia sampai sinar matahari sempurna menerangi bumi. 


Keduanya pun menjauh dengan nafas yang memburu dan paras yang memerah. Dan keduanya sibuk mengatur pernafasan juga detak jantung mereka yang tak lagi normal setelah mereka berciuman cukup lama. 

__ADS_1


__ADS_2