Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 80. Berlian hanyut.


__ADS_3

"Ah ini dia,, akhirnya kamu keluar dari persembunyian juga" ujar Flora dengan senyum mengejek melihat siapa yang datang setelah sebelumnya rangga sudah pergi meninggalkannya. 


"Kenapa?. Kamu butuh orang untuk berlutut dan memohon agar keinginan kamu menggusur pemukiman warga terpenuhi?!" ejek bintang tak kalah sinis. 


"Sombong sekali kamu" dengus flora.


"Sudahlah, Flora. Kubur impian kamu untuk menjadikan pemukiman warga sebagai lahan baru perkebunan juga pabrik baru yang akan saya kelola karna saya tidak akan pernah mencabut keputusan yang sudah di buat" tegas Bintang langsung pada inti persoalan yang di permasalahkan oleh Flora.


 


"Jangan bodoh, Bintang!. Lihat segala sesuatu dari sisi bisnis. Tempat ini bukan hanya sempit di banding pemukiman yang seharusnya di gusur. Tempat ini juga tidak berada dalam posisi yang strategis untuk di jadikan usaha baru" Flora merentangkan tangan mengitari sekelilingnya yang sudah bebas dari semak belukar menunjukan pada bintang maksud dari ucapannya. 


"kamu itu hanya investor amatiran yang tidak bisa membaca peluang bisnis ke depan. Saya sarankan, lebih baik kamu mundur terhormat atau saya tidak akan ragu-ragu mendepak kamu dari kerja sama ini" kecam bintang tak main-main.


 


"Saya bisa mengembangkan proyek perkebunan juga pabrik terbaru saya tanpa bantuan dana dari investor amatiran seperti kamu. Bekerja sama dengan mu tak ada untungnya bagi saya" 


"Jangan terlalu percaya diri menilai kemampuan diri sendiri juga orang lain. Saya yakin, cepat atau lambat kamu akan sadar dengan kebenaran pendapat saya dan kamu akan datang dengan sendirinya meminta bantuan saya untuk melanjutkan kerja sama kita" balas flora dengan sorot mata dingin dan raut muka keras. 


"Sampai kapan pun saya tidak akan pernah memohon apa pun dari mu" sengit Bintang tersenyum sinis, lalu berbalik hendak kembali menemui Berlian.


"Bintang, tunggu!" Flora berusaha menyusul dan menarik tangan Bintang. Tanpa sengaja kakinya tersandung sebuah ranting pohon yang tertinggal. 


Tak dapat di hindari, Bintang yang sempat berputar dan berhadapan kembali dengan perempuan berambut sebahu itu harus terjatuh dan menopang tubuh perempuan tersebut. 


...****************...


Berlian yang bosan sendirian menunggu suaminya di pondok peristirahatan, akhirnya memilih menyusul Bintang dengan menyusuri arah kemana Bintang berjalan tadi. 


...****************...


Perasaan wanita itu jadi tak menentu ketika tatapannya beradu dengan pemilik mata tajam yang tiba-tiba memikat hatinya tak menentu. Sebuah dorongan memintanya menunduk dan menunduk mendekati wajah tampan yang di tindihnya tanpa sengaja. 


"Bintang..." tatapan Berlian perih melihat pemandangan menyakitkan di depan matanya. Berlian berbalik dan berlari tak tentu arah membawa kesakitan juga air matanya. 


"Apa yang mau kamu lakukan?" 


Bintang mendorong kasar tubuh Flora menjauh darinya sebelum dia sempat berbuat macam-macam dan Bintang segera berdiri dengan tatapan jijik melihat perempuan di depannya yang jadi gugup dan serba salah mau menjelaskan kekhilafannya. 


"Saya kira kamu wanita yang berpendidikan dan memiliki pola pikir yang cerdas. Tapi apa yang mau kamu lakukan tadi sangat murahan. Kamu sudah dengan sengaja merendahkan harga diri kamu terhadap laki-laki yang sudah beristri" kecam Bintang geram dan muak melihat perempuan bernama flora itu. 


"Memalukan..." kecam Bintang lagi sebelum pergi meninggalkan Flora yang di balut rasa malu juga rasa aneh lainnya yang sulit dia pastikan artinya. 


...****************...


"bin, kenapa hati ini selalu sakit melihat kamu dekat dengan wanita lain?. Kenapa?." tangis Berlian tiada henti mempertanyakan isi hatinya. 


"Aku cinta sama kamu, Bintang .Aku cinta..." pengakuan itu meluncur tanpa dia sadari. 

__ADS_1


"Aku ga mau kehilangan kamu. Aku ga bisa bayangkan jika kamu sampai mengkhianati ku" rintih berlian menangis perih dan bersandar tanpa tenaga pada sebuah pohon yang rindang dekat tepian sungai berarus deras. 


Tangis berlian berbanding terbalik dengan senyum licik seseorang yang dari tadi mengintai dan mengikuti berlian dari belakang. 


"Sekarang kamu baru sadar kalau Bintang itu hanya seorang pengecut yang beraninya menyakiti kamu" seru pemilik senyum licik itu menampakkan batang hidungnya di hadapan Berlian.


"Rangga..." Berlian cepat menghapus air matanya. 


"Iya sayang. Ini aku" kata laki-laki itu berusaha memeluk wanita di depannya. Untung Berlian cepat mengelak dan Rangga hanya berhasil memeluk batang kayu tempat berlian bersandar tadi.


"Dasar pohon sialan" makinya pada si pohon.


Berlian memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi. Tapi Rangga sigap memotong langkahnya berlian.


"kamu jangan coba menghalangi jalanku. Aku harus pergi" Berlian coba menerobos, Rangga cepat bergerak menahan tubuh sang mantan. 


"Jangan sentuh aku" Berlian meradang dan mendorong kuat rangga yang coba memeluknya. Dia benar-benar sudah jijik dan anti melihat rupa lelaki yang berkali-kali coba lancang memeluk atau pun menciumnya seperti apa yang di lakukan waktu di rumah sakit. 


"Lian, berhenti membohongi perasaan kamu sendiri. Bintang sudah jelas-jelas menyakiti kamu , berkhianat dengan wanita lain. Apa lagi yang kamu harapkan dari lelaki bajingan itu" 


"Bintang bukan lelaki bajingan" sela Berlian membela nama baik suaminya. 


"Lelaki bajingan itu kamu. Lelaki yang tidak punya rasa malu sedikit pun menyalahkan orang lain atas kesalahan yang sudah kamu perbuat . Kamu yang memilih melepas aku demi harta. Kamu yang tak tahu diri mengucapkan kata sayang terhadap perempuan yang sudah memiliki suami sementara kamu sendiri sibuk bermain dengan banyak wanita dan dengan mudahnya kamu mengobral arti sebuah cinta. Bintang jauh... bahkan jauh lebih baik dari mu. Dia memang bukan laki-laki romantis yang pintar membual seperti mu, tapi dia punya sikap dan penghargaan yang tinggi terhadap satu wanita" 


"Jangan pernah bandingkan aku dengan suami kamu si pembunuh itu!" sela Rangga membentak dan tak terima Berlian menyanjung laki-laki lain di hadapannya. 


"Pembunuh?"kening Berlian mengkerut tak mengerti dengan arah pembicaraan Rangga.


"PLAKKK.." sebuah tamparan melayang tepat mendarat di pipi kiri Rangga. 


"Itu peringatan terakhir dari ku supaya kamu ngga lagi menuduh Bintang yang bukan-bukan" ujar Berlian tak percaya dengan apa yang di sampaikan Rangga karna di matanya Bintang bukan orang sekejam itu. 


Rangga memegang pipinya yang perih dengan tatapan berapi-api memendam kemarahannya.


"Aku sudah cukup sabar meladeni kesombongan mu" geram Rangga. 


"Kamu ikut aku" kemudian dia menarik paksa tangan Berlian agar mau mengikutinya. 


"Aku akan bawa kamu sejauh mungkin dan Bintang ga akan bisa menemukan kita. Kita akan kembali merajut cinta dan hidup bahagia selamanya." ucapnya. 


"aku ga mau ikut sama kamu" tolak Berlian meronta minta di lepaskan. Rangga tak peduli akan hal itu. 


"Lepaskan aku" Berlian terus meronta dan menarik serta menyentak tangannya dengan kuat. 


"Aaaaaaaaa..." Berlian berteriak histeris dan tubuhnya tak seimbang, lalu jatuh berguling dan tercebur ke sungai. 


"LIAN..." Rangga terkejut dan tak dapat meraih tangan Berlian. Dia pun berniat mencebur kan diri ke sungai menolong mantan kekasihnya tapi di urungkan nya.


"Bodoh!!. Untuk apa aku menolong dia. Biarkan saja dia hanyut dan mati di makan buaya. Bukannya bagus kalau dia mati?. Bukankah aku akan dengan mudah menghancur kan Bintang?. Anggap saja ini sebagai balasan dari aku karna mereka sudah berani mempermainkan perasaan ku" ucap Rangga menuruti godaan setan yang merasuki jiwanya. 

__ADS_1


"Tolonggg...." teriak Berlian berusaha melawan derasnya arus sungai. Namun kepalanya tanpa sengaja membentur batu kali dan mengeluarkan darah. Berlian pun tak sadarkan diri dan tubuhnya hanyut mengapung. 


"Hahahaa... Bintang, kamu lihat sendiri apa yang bisa aku perbuat untuk menghancurkan mu?. Kamu akan hancur bersama jasad istri mu " tawa Rangga sepuasnya tanpa hati. 


...****************...


Kepanikan tak dapat di sembunyikan oleh Bintang. Dia mencari istrinya kesana-kemari, tapi tak juga di temukan dan dia hampir putus asa di buatnya. 


"Apa Berlian sudah balik ke vila?" tebaknya ragu. 


"Pak Bintang..." panggil seorang buruh berteriak dan berlari mendekati pemilik lahan perkebunan yang dia kerjakan. 


"Ada apa ?" tanya Bintang begitu laki-laki muda tegap berisi itu berhadapan dengannya. 


"Itu pak, saya baru saja mau ke sungai itu dan saya melihat perempuan yang datang bersama bapak hanyut di sungai itu" beritahu lelaki itu dengan nafas tak teratur karena habis berlari.


"Berlian hanyut?"


Secepat kilat Bintang berlari sekuat tenaga dan merosot tajam menuruni lereng pemisah sungai dengan perkebunan. 


"Berlian!!" cemas Bintang memuncak melihat nyawa hidupnya mengapung dan hanyut terbawa arus. 


Bintang menceburkan diri tanpa banyak pikir kalau dia tak bisa berenang dan dia juga sangat trauma dengan namanya sungai karna yang ada dalam pikirannya adalah menyelamatkan Berlian walau nyawanya sendiri sebagai taruhannya.


 


Bintang berenang secepat mungkin agar bisa menolong Berlian. Usahanya tidak sia-sia, Berlian selamat dalam pelukkannya. Bintang pun berenang ketepian dan di bantu oleh buruh lainnya. 


"Lian, buka mata kamu" pinta Bintang dalam kecemasan sambil menepuk pipi pucat istrinya berkali-kali namun tak ada respon. 


Bintang kemudian menekan dada Berlian sesering mungkin. Tetap saja tak ada respon yang di tunjukkan Berlian. Tubuhnya tetap diam.


"Lian, kamu ngga boleh ninggalin aku" ujar Bintang ketakutan kalau Berlian sampai kenapa-kenapa. 


Ingatan bintang melayang pada kejadian di telaga waktu Berlian membantu dia dengan memberi nafas buatan. 


"Kamu bertahan, sayang" harap Bintang tak hentinya. 


Bintang kemudian menunduk memberi nafas buatan. Hingga 5 x dia coba memberi bantuan pernafasan melalui mulutnya, Berlian belum juga merespon.


"Aku mohon buka mata kamu. Kamu ga boleh ninggalin aku seperti ini. Aku mencintai kamu dan aku ga sanggup jika harus kehilangan kamu" ucap Bintang di tengah keputusasaan juga air matanya yang menetes tak tertahan lagi. 


"uhuk... uhuk... Uhuk..." Berlian tersadar dan batuk-batuk mengeluarkan air sungai yang tertelan olehnya. 


"kamu akhirnya sadar juga, sayang" Bintang tersenyum lega penuh syukur. 


Berlian perlahan membuka matanya dan samar mendengar sebuah kalimat terakhir yang seolah mengembalikan rohnya yang mau terbang meninggalkan raganya. Senyum indah pun menyungging dari bibir Berlian yang pucat pasi dan matanya seolah berbicara meyakinkan suaminya kalau dia baik-baik saja dan untuk pertama kalinya dia melihat Bintang yang arogan meneteskan air mata. 


"Sayang, terima kasih kamu mau bertahan" 

__ADS_1


Bintang menarik tubuh berlian yang lemah masuk ke dalam pelukannya, memberi kehangatan, kedamaian juga perlindungan yang membuat Berlian merasa aman dan tenang. Bintang menumpahkan kelegaannya mengecup kening istrinya sepenuh hati. Meski lemah, Berlian berusaha mencium pipi Bintang saat suaminya kembali memeluknya. Berlian ingin meyakinkan Bintang sekali lagi kalau dia baik-baik saja dan akan selalu ada untuk Bintang, selamanya. 


__ADS_2