
Mama mertuanya, sosok yang duduk tenang di sampingnya adalah orang yang selalu menguatkan berlian menghadapi cobaan dalam hidupnya. Sejak kehamilannya di ketahui sendiri oleh mama mertuanya, beliau lah yang selalu memperhatikan asupan gizi untuk janin yang dia kandung. Mama Farida juga yang tak pernah lupa membuatkan susu khusus ibu hamil untuk nya. Berlian pun merasa tidak sendirian menjaga kandungannya. Ada mama mertua yang penuh suka cita menyambut kehadiran cucu pertamanya.
"Bagaimana, nak?. Apa kamu sudah memberitahukan soal kehamilan kamu pada suami kamu?" tanya mama Farida.
Berlian menggeleng tanpa suara. Mama Farida menghela nafas berat. Dia di buat prihatin dengan hubungan anak dan menantunya yang tidak sehangat dulu. Jika di biarkan terus bisa berdampak buruk pada kehamilan Berlian yang masih sangat muda dan lemah.
"Sampai kapan kamu akan menutupi ini semua dari Bintang,nak?. Bintang berhak tahu kalau kamu tengah mengandung darah dagingnya"
"Lian sudah berusaha memberitahukannya pada bintang, mama. Tapi, Bintang sama sekali tidak peka" ujar Berlian.
Mama Farida memegang lembut pundak menantunya.
"Bukan hanya Bintang yang tidak peka, tapi kamu juga terlalu takut jika Bintang menolak janin yang kamu kandung. Buang ketakutan kamu demi bayi yang tengah kamu kandung. Jangan biarkan Bintang berprasangka tidak terjadi apa-apa dengan kamu. Bintang sudah banyak berubah sejak mengenal kamu. Dia yang dulu begitu keras dan kasar, bisa berubah begitu lembut karna kamu. Mama yakin, jika Bintang tahu kamu hamil, naluri seorang ayah akan menautkan hatinya pada ikatan batin yang kuat antara ayah dengan anaknya. Kamu percaya itu. Bintang tak mungkin menyia-nyiakan darah dagingnya sendiri. Apa lagi darah dagingnya tertanam dalam rahim wanita yang sangat dia cintai"
Berlian terenyuh, hatinya sedikit lega mendengar nasihat mama mertuanya.
...****************...
Selesai nyekar ke makam Bulan , Bintang langsung berangkat menuju kantor. Setidaknya hatinya cukup lega setelah puas menumpahkan sesal dan air matanya.
Tapi Arya yang baru mau keluar melihat gelagat aneh dari diri adik iparnya yang baru datang memutuskan mencari tahu apa yang terjadi. Siapa tahu dia bisa membantu.
Bintang awalnya tak mau di ganggu. Namun, tak ada salahnya dia curhat sedikit dengan arya. Toh, Arya itu kakaknya Berlian . Arya pasti lebih mengerti Berlian dari pada dirinya. Arya yang mendengar curhatan adik iparnya cuma bisa tersenyum kecil.
"Jujur saja Bin, aku sendiri juga bingung kenapa Berlian jadi sensitif seperti itu?"
Bintang menerawang menatap langit-langit ruang kerjanya tanpa gairah.
"kenapa kamu tidak coba mengajaknya pergi berbulan madu ke suatu tempat. Ya... Kalian bisa menghabiskan waktu berdua dan bisa bicara dari hati ke hati tanpa gangguan" ujar arya memberikan solusi yang membuat Bintang semangat lagi.
"Bagaimana caranya aku bisa mengajak lian pergi berduaan, sementara kasus hukum ku belum jelas kapan beresnya" Bintang kehilangan semangatnya mengingat status hukumnya. Padahal ide arya sangat cemerlang.
"Kamu tenang saja , Kartika sudah janji akan membujuk papanya mencabut tuntutannya hari ini juga"
__ADS_1
...****************...
Berlian mencoba memainkan jari-jarinya kembali merangkai kata demi kata melanjutkan cerita novelnya yang masih menggantung. Tapi apa kan daya, otak dan pikirannya tersita habis memikirkan sikap suaminya juga anak yang tengah di kandungnya.
"Ya Allah bantu hamba keluar dari masalah ini. Semoga Bintang bisa menerima kehadiran darah dagingnya" pintanya penuh harap.
Berlian pun kembali memaksakan jari-jari dan otaknya untuk bekerja. Namun sia-sia, dia tampak lelah dan tertidur tanpa sempat menutup laptopnya.
...****************...
Bintang sengaja pulang lebih cepat dan menceritakan dengan semangat tentang rencana bulan madunya pada mama kandungnya saat Berlian masih tertidur pulas. Tapi tanggapan mama Farida tak sesuai dengan apa yang di harapkan Bintang. mama kandungnya itu tampak kecewa dengan keputusan yang dia buat.
"Batalkan niat kamu mau mengajak Berlian berbulan madu. Apa yang kamu rencanakan ini bukan solusi yang baik untuk memperbaiki hubungan kamu dengan lian. Kamu sudah terang-terangan mengatakan tak mau mempunyai anak. Apa yang kamu rencanakan ini hanya akan membuat Lian berpikiran kalau kamu sebenarnya tidak mencintai dia secara tulus, yang ada di benak nya, kamu hanya akan memanfaatkan dia untuk kesenangan kamu saja. Lagi pula tujuan kamu untuk berbulan madu itu apa kalau kamu sendiri tidak berniat mau membuat garis keturunan kamu sendiri"
"Apa yang mama katakan itu ga benar, bintang tulus mencintai Berlian" bantahnya tegas.
"Lalu kenapa kamu begitu takut kalau berlian sampai hamil?" sambar mama Farida. Bintang tak bisa menjawab.
"Kamu sudah menikahi Berlian hampir setahun. Hubungan kalian makin hari makin harmonis dan saling mengasihi. Melihat bagaimana kamu memanjakan istri kamu, mama bisa tahu bagaimana kamu memperlakukan dia. Kamu tidak mungkin sekedar mencium atau memeluk istri kamu. Pasti ada hubungan lebih dari itu dan hubungan itu bisa saja menghasilkan benih di rahim istri kamu, kecuali kalau di antara kalian ada masalah dengan kesuburan kalian. Apa kamu melakukan itu hanya sekedar untuk melampiaskan hasrat kamu saja?. Kamu pikir istri kamu apa?"
"Jika seandainya Berlian hamil, apa yang akan kamu lakukan?. Apa kamu akan mencampakkan wanita yang katanya sangat kamu cintai karna keegoisan kamu?"
"aku ngga mungkin melakukan itu" jawabnya cepat menuruti bisikan kata hatinya.
"Apanya yang tidak mungkin?" sengit mama Farida.
"Kalau kamu tidak cepat-cepat menyadari kesalahan kamu, Berlian sendiri yang akan menyerah dan memilih melepaskan kamu dari pada bertahan dengan laki-laki yang tidak pernah mau menganggap rahimnya ada untuk mengandung darah daging kamu. Berlian memendam cita-cita mulia sebagai seorang perempuan. Dia ingin menjadi ibu untuk anak-anak mu."
Dada Bintang berkecamuk hebat. Dadanya juga terasa sesak dan sulit untuk bernafas membayangkan jika Berlian benar-benar mau meninggalkannya karna keengganannya punya anak. Beban dosa dalam dirinya makin besar mengingat dia yang tidak peka meraba niat suci istrinya.
...****************...
Sayup-sayup Berlian menangkap suara suaminya juga mama mertuanya. Berlian pun bangun dan keluar dari kamar. Dia jadi penasaran dengan apa yang di bahas oleh kedua orang yang di kasihinya.
__ADS_1
"Aaaaaaa..." baru menutup pintu kamar, Berlian merasa perutnya begitu sakit. Namun di tahannya. Dan dia kembali berjalan menuruni anak tangga.
"Aku sudah gagal menjadi suami yang baik untuk Berlian. Selama ini aku selalu beranggapan kalau sudah memberikan yang terbaik untuk dia. Ternyata aku salah. Aku malu pada diri sendiri. Aku juga malu pada mama, kakek ,nenek ,juga arya. Kalian jauh lebih paham dan mengerti Berlian dari pada aku, suaminya . Aku juga malu pada almarhumah ibu berlian. Ibu Ayu sudah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanku waktu kecil, tapi aku justru..."
"Berlian ...." Bintang dan mamanya sama-sama terkejut melihat Berlian berdiri di dekat tangga.
Wajah Bintang pun pucat . Ketakutannya selama ini seolah tinggal menghitung waktu, di tambah dengan sikapnya yang sudah terlampau sering menyakiti hati istrinya.
"Jadi, kamu dan mama tahu penyebab kematian ibu ku dan kamu diam saja. Kenapa kamu ngga mengatakan yang sebenarnya kalau ibu meninggal karna menolong kamu?" ujar Berlian tercekat menahan air matanya.
"Lian, aku bisa jelaskan semua sama kamu" Bintang berusaha mendekat dan memeluk istrinya.
"Apa lagi yang mau kamu jelaskan?. Selama ini aku selalu menceritakan perihal kematian ibu , kamu selalu berlagak sok tidak tahu. Kamu tahu sendiri. Tapi, kenapa kamu diam saja?" tangis Berlian kian menjadi dan mengiris pilu hati bintang juga mamanya yang ikut menangis.
"Lian, suami kamu ga salah. Mama yang salah, nak. Mama yang selama ini meminta Bintang untuk merahasiakan semua ini dari kamu"
"Tapi kenapa ma?. Kenapa?" tangis Berlian lemah tak bertenaga. Bintang yang tak kuasa melihatnya, memaksa memeluk tubuh istrinya yang terguncang mengeluarkan tangisannya.
"Jangan-jangan kebaikan mama selama ini membiayai semuanya hanya untuk menutupi rasa bersalahnya mama ?" Berlian menyimpulkan sendiri dugaannya. Mama Farida hanya diam dan terisak.
"Dan kamu..." Berlian mendorong tubuh suaminya dengan tatapan nanar. Beban pikiran nya makin menumpuk dan dia tak sanggup lagi memikulnya.
"Kamu..." aaaaaaa... Berlian meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
"Lian, kamu kenapa?" bintang dan mamanya cemas.
"Aaaaakkk... perutku...." Berlian menggigit bibirnya dan wajahnya pucat tak berdarah.
Bintang cepat memeluk istrinya dengan perasaan yang tak menentu.
"Ya Allah sayang, kamu kenapa?" air mata Bintang jatuh tak tertahan melihat keadaan istrinya makin lemah.
"Bin ,kamu cepat bawa istri kamu ke rumah sakit"
__ADS_1
Baru saja mama Farida menyuruh Bintang melarikan istrinya ke rumah sakit, Berlian sudah lebih dulu pingsan dalam pelukan suaminya. Bintang pun semakin panik.
"LIAN..." panggilnya penuh kecemasan.