Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 78. AKU SAYANG KAMU....!


__ADS_3

"Lian ,kamu lihat kebawah sana" 


Bintang mulai menguasai diri dan menunjuk datar kearah depan. Di sana tampak lukisan alam yang indah. Sebuah pemukiman warga yang di kelilingi perkebunan teh yang menghampar luas dan hijau. Apa yang selama ini hanya dapat di jangkau sebagian oleh pandangan langsung dari dekat. Tapi dari tempat keduanya berdiri, apa yang selama ini tak terlihat, tampak nyata di depan mata. Sungai yang indah, jalan yang tadinya luas, kini tampak kecil, begitu juga dengan villa dan rumah warga. 


"Apa ini tempat yang kamu maksud?" Berlian bertanya dan beralih menatap suaminya. 


Bintang mengangguk tanpa suara dan duduk bersandar pada pohon di belakangnya. 


"Tempat ini sangat indah. Aku suka." Berlian memberikan pendapatnya meski Bintang belum mempertanyakan itu. 


"Saat kamu menunjukkan cahaya matahari terbit, itu menurut ku yang paling indah" Berlian tersenyum.


"Cahaya matahari terbit itu memang sangat indah. Saat sinar pertamanya tepat mengenai mata,saat itu aku merasa aku sudah memiliki waktu hari itu secara utuh" cerita Bintang memandang kearah matahari yang mulai bersinar kuat. 


"Saat sinar matahari muncul, pikiran kita akan tenang dan banyak hal yang ingin kita lakukan untuk menghabiskan waktu bersama sinarnya" Bintang melirik kearah berlian yang menatapnya serius tanpa berkedip. 


"Atau berteriak sekeras-kerasnya seperti apa yang biasa aku lakukan" lanjutnya sekilas kemudian berdiri dari duduknya. 


"Berteriak??" Berlian cuma bingung dan tetap di tempatnya. 


"BERLIAN....." teriak Bintang memanggil nama istrinya dan suaranya menggema ke seluruh penjuru. 


"AKU SAYANG SAMA KAMU" teriaknya lagi. 


Berlian terkejut dan spontan berdiri mendengar teriakan suaminya dan ada raut kecewa di wajah manis itu. 


"Kenapa harus sayang, Bin ?. Kenapa bukan kalimat semalam yang kamu ucapkan?" gumam Berlian.


"Sayang dari Bintang sudah lebih dari cukup,lian. Jangan terlalu banyak berharap apa lagi menuntut. Bintang bisa mengaku sayang sama kamu, itu sudah sangat luar biasa" ujar Berlian berperang batin mengingatkan dirinya sendiri. 


"BINTANG....AKU JUGA SAYANG SAMA KAMU..." 


Berlian ikut berteriak. Bintang terdiam dan menatap Berlian dengan perang batin yang sama dengannya. Namun semua hilang berganti senyuman manakala Berlian melirik dan tersenyum kearahnya. 


Bintang dengan suka cita menarik tubuh Berlian masuk ke dalam pelukannya. 


"Tempat ini sangat indah. Tempat ini sangat cocok aku jadikan tempat menulis dan mencari inspirasi. Kapan-kapan aku mau kesini lagi" ujar Berlian apa adanya setelah puas berpelukan. Bintang tersenyum syarat makna dan mengecup pelan punggung tangan belahan jiwanya. 


"Tapi kamu ga boleh pergi sendirian. Tempat ini sangat sepi dan bahaya kalau sendirian" kata Bintang mengingatkan.


"Setiap aku kesini, aku maunya di temani sama kamu. Hanya sama kamu" ujar Berlian dengan senyum manjanya yang di sambut anggukan dan pelukan oleh Bintang. Pelukan keduanya pun terganggu oleh suara keroncong yang berasal dari perutnya Berlian.

__ADS_1


"Perut kamu sudah minta di isi. Kita pergi dari sini dan cari makanan" 


Berlian tak bisa menolak meski dia masih mau berlama-lama di tempat itu.


...****************...


Seperti 3 hari sebelumnya, pemuda berpostur tinggi dengan berewok tipis menutupi sebagai wajahnya, tapi tetap tidak mengurangi ketampanannya selalu datang membeli seikat bunga mawar berwarna putih di sebuah toko bunga yang tak jauh dari sebuah TPU tempat wanita pujaannya di makamkan. Selesai membeli bunga, pemuda itu pun berjalan kaki menuju TPU yang berjarak sekitar 200 meter.


Langkai pemuda itu terhenti melihat seorang perempuan keluar dari mobil merah yang mogok di tengah jalan. 


Bukan mobilnya yang menarik perhatian, bukan pula tas mahal yang mungkin berisi berbagai benda berharga yang biasa jadi mangsanya kalau mau mencopet dan bukan wajah gadis cantik itu yang membuatnya jadi terdiam. Tapi ada 2 pemuda yang berjalan mendekati gadis itu. Sebagai mantan copet, laki-laki itu bisa menebak apa yang akan di lakukan dua pemuda itu. 


"Copet...tolong..." teriak gadis itu begitu sadar tasnya di sambar dan di bawa lari. 


Naas bagi copet amatiran itu. Pemuda yang sudah tahu dan siaga dari awal dengan mudah meringkus 2 pemuda yang masih ingusan itu. 


"Kalian kecil-kecil sudah jadi copet. Kalian mau masuk penjara!!" gertak pemuda itu mencengkram krah 2 pemuda itu dari belakang. 


"Ampun bang, jangan laporkan kami ke polisi. Kami ngga mau masuk penjara. Kami mencuri cuma buat cari makan, bang" pinta salah seorang dari mereka. Pemuda itu pun tak tega dan merasa memiliki jalan hidup yang sama. 


"Kalian akan aku lepas asal kalian janji ga bakal mencopet lagi" ujar pemuda itu mengajukan syarat. 


"Kalian boleh pergi" 


Kedua pemuda itu pun berlari lega karna nasibnya masih bagus. Dan yang meringkus dua pemuda tadi berjongkok meraih tas milik gadis itu. sedangkan bunganya jatuh, rusak karena terinjak. 


"Ini tas kamu" 


"Kak Arya?" seru Kartika mengenal baik pemuda yang datang mendekat dan menyerahkan tasnya kembali. 


"Kamu kartika, temannya Berlian?" tebak Arya ragu.


"Iya,aku teman adikmu" jawab Kartika senyum bersahabat. 


"Makasih ya kamu sudah menolongku" ucap kartika tulus. 


"aku cuma kebetulan lewat dan melihat kamu butuh bantuan" ujar arya tak mau menyombongkan diri. 


"Sebagai ucapan terimakasih , bagaimana kalau aku traktir kamu makan siang" ajak kartika.


 

__ADS_1


"aku sudah kenyang" Arya menolak ajakan sahabat adiknya. 


"Kalau begitu biar bunga kamu aku ganti sama yang baru. Bunga kamu rusak gara-gara menolong aku tadi, kan?" Kartika yang tidak enak berhutang budi menawarkan bantuan lainnya. 


"Tidak perlu" tolak arya lagi sambil berlalu meninggalkan kartika dengan santai. 


"Dasar sombong!. Beda banget sama adiknya" dengus Kartika kesal di tolak niat baiknya dan membandingkan Arya dengan Berlian. Dan tatapannya tertumpu pada sebuah objek berupa surat yang terletak di tepian jalan tempat dia berdiri. Kartika pun mengambil surat itu. 


"Aku sudah mencarikan taksi buatmu. Kamu bisa aman pulangnya dan kamu tinggal telpon bengkel langganan mu atau orang kepercayaan untuk mengurus mobilmu yang mogok" arya tiba-tiba kembali dengan berita yang melegakan.


 


"Kak, apa ini...?" 


"Sudah buruan sana!. Nanti taksinya di tumpangi orang lain" desak Arya memotong ucapan Kartika yang mau menanyakan perihal surat yang dia temukan. 


"Iya... aku pergi dulu. Terimakasih atas bantuannya " kata Kartika dengan pemikiran buruk tentang arya yanh sirna begitu saja. Kartika pun memasukkan surat itu kedalam tasnya dan pergi bersama taksi yang di tumpanginya. 


...****************...


Perjalanan di lanjutkan setelah Bintang dan Berlian sarapan di sebuah cafe bernuansa alam dengan menu tradisional nusantara yang menggugah selera. 


Setengah perjalanan, nada dering hp Bintang berbunyi dan Bintang meminta Berlian mengangkatnya. 


"Dari siapa?" Bintang bertanya setelah berlian selesai bicara. 


"Dari mama. mama minta kamu segera ke lahan perkebunan baru sekarang karna ada masalah yang harus kamu tangani" kata Berlian. 


"Bilang mama kalau aku lagi sibuk dan ngga bisa kesana" suruh Bintang. 


"maafin aku. Aku bukannya ngga mau menuruti kata-kata mu. mama sepertinya sangat panik dan butuh bantuan kamu" jelas Berlian. 


"Lian, kita sudah separuh jalan, masak kita mundur lagi" 


"Bin, kita temui mama sambil istirahat, habis itu kita lanjut lagi perjalanannya" saran Berlian.


 


"Terserah kamu saja" Bintang mengalah. 


"Gitu donk" Berlian tersenyum lebar dan menghadiahkan sebuah ciuman di pipi kiri suaminya. Bintang kaget bercampur senang dan makin semangat mengendarai mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2