
Kurang dari 15 menit, Berlian menyusul Bintang dengan wajah di tekuk.
"Kamu kenapa sih nggak bisa jaga sikap?. Gara-gara kamu Tika jadi marah dan menegur ku" Berlian langsung melayangkan protes begitu menaiki mobil Bintang. Kalau bukan karana teguran dari Kartika tadi, Berlian tak mau menyusul Bintang.
"Dia bilang apa sama kamu?. Apa dia menyakiti mu?" cerca Bintang ,membuat Berlian capek sendiri memecahkan teka-teki misteri yang menyelubungi masa lalu Bintang dengan orang-orang sekitarnya.
"Jangan-jangan dia mengasari kamu?! Biar aku sendiri yang bicara dengan dia" Bintang mengambil kesimpulan sendiri karna Berlian hanya diam saja, tak menjawab kecemasannya.
"aku dan Kartika itu sahabat baik. Biar ini menjadi urusan aku dengan dia. Aku tidak mau merusak persahabatan kami dengan kesalahpahaman darimu"
"Oke, aku ngga akan ikut campur, tapi dengan satu syarat kamu harus mau memakan makan siang yang aku bawa buat mu" Bintang mengajukan syarat yang harus di penuhi oleh Berlian jika mau keinginannya di turuti.
"Kamu lupa ya, aku pernah bilang apa sama kamu?"
"Ini gado-gado kesukaanmu. Gado-gado paling enak karna gado-gado ini dimasak khusus oleh nenek kamu" Bintang menyela perkataan Berlian dengan memperlihatkan sebungkus gado-gado dengan aroma khas bumbu kacang. Dari aromanya, Berlian bisa menebak siapa yang memasak gado-gado tersebut dan Bintang sama sekali tidak berbohong.
"Kamu tahu dari mana kalau aku suka gado-gado?" tanya Berlian heran.
"Lian , aku lagi belajar mengenalmu lebih dekat lagi di mulai dari orang-orang terdekatmu. Aku ingin tahu apa yang kamu suka dan apa yang tidak. Baik itu dari makanan atau apa pun karna aku tidak mau mengulang kesalahanku" Bintang bercerita dengan senyum berlesung pipit yang menambah ketampanannya. Bintang benar-benar serius ingin berubah. Berlian bisa melihat kesungguhan dari mata Bintang juga pengorbanan dia menyelamatkan dirinya waktu di seret oleh preman tadi. Tapi masih ada yang mengganjal pemikiran berlian antara gengsi dan jual mahalnya.
"Kamu makan ya gado-gado nya!"
Bintang menyendok gado-gado tersebut dan mau menyuapi Berlian. Awalnya Berlian tak mau buka mulut, tapi senyuman dan tatapan Bintang membuat mulutnya terbuka sendiri menerima suapan Bintang hingga beberapa kali suapan.
"Aku sudah kenyang" Berlian menolak suapan berikutnya. Bintang tak kecewa. Berlian mau makan dan di suapi saja itu sudah membuatnya senang.
"Minum jusnya..."
Bintang memegang sendiri botol jusnya dan mendekatnya ke bibir Berlian. Berlian terhipnotis dengan sikap perhatian Bintang yang manis dan tanpa dia sadari jus jeruk yang di pegang Bintang tinggal separuhnya.
"Sudah..." Berlian menjauhkan tangan Bintang dari hadapannya.
"Ada bumbu kacang di dekat bibir mu..."
__ADS_1
Berlian cepat-cepat membersihkan bibirnya bersamaan dengan Bintang. Keduanya beradu pandang dan diam seribu bahasa. Bintang tak kuasa menahan hatinya untuk memeluk Berlian dengan sepenuh hatinya. Berlian juga sempat larut dalam pelukannya.
"Bin , kamu pulang,ya?. Kamu belum sehat dan luka di tangan mu masih basah. Kamu istirahat di rumah" Berlian melepaskan pelukannya begitu ingat akan keadaan Bintang.
"Kalau aku pulang, siapa yang akan merawat aku di rumah?. Mama ke kantor, bibi sibuk dengan pekerjaannya dan istriku sendiri lebih mementingkan pekerjaannya di bandingkan menjaga suaminya" Bintang pura-pura merajuk.
"Ih apa-apaan? manja banget" sela Berlian.
"Perutku sampai sekarang masih mulas, tanganku juga susah di gerakkan. Kan susah mau ngapa-ngapain kalau ngga ada yang ba..."
"Iya..iya..aku pulang sama kamu" potong Berlian mengalah karna bagaimana pun juga Bintang begini demi menyelamatkan dia.
"Gitu dong..." Bintang tersenyum senang sambil menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
"Katanya tangannya ngga bisa di gerakkan , tapi nyetir mobil kok bisa?" protes Berlian kesal di kerjain Bintang.
"Kalau bukan aku yang nyetir, lalu siapa lagi?. Memangnya kamu bisa bawa mobil?"
...****************...
Mobil yang di kendarai oleh Bintang berbelok lawan arah dari jalan yang seharusnya di tempuh menuju kediaman dia.
"Ini kan jalan menuju perkebunan?. Kita mau kemana? kok bukan arah pulang?" tanya Berlian.
"Iya. Kita memang pulang kok" jawab Bintang melirik Berlian dengan senyuman.
"Pulang kemana?. Jalannya beda gini" ujar Berlian memasang wajah manyun di buat penasaran oleh Bintang.
Bintang makin melebarkan senyumannya melihat imutnya wajah Berlian kalau manyun begitu.
"Kamu pasti tahulah jalan ini menuju kemana?" Bintang menunjuk sebuah tikungan yang memasuki area perkebunan teh nan hijau.
"Ini kan jalan menuju rumah kakek!" seru Berlian berbinar.
__ADS_1
"Tuh kamu tahu" cetus Bintang.
Berlian lantas diam menikmati panorama hijau yang membentang luas. Senyum melengkung dari kedua sudut bibir merah Berlian saat melewati jalan di mana dia dan Bintang tanpa sengaja bertemu. Setiap pertemuan mereka tidak ada yang berkesan indah karna selalu di hiasi perselisihan. Senyum wanita berambut panjang itu makin lebar manakala mereka melewati telaga di penuhi pohon pinus di sekitarnya. Bayang-bayang dia dan Bintang berebutan cincin lalu sama-sama tercebur ke telaga. Di mana saat itu Bintang mau tenggelam dan dia menolongnya, bahkan sempat memberinya nafas buatan. Mengingat itu semua membuat debaran hati Berlian tak menentu. Parasnya merona , bibirnya terasa hangat ketika detik demi detik waktu itu dia memberanikan diri menyentuh bibirnya Bintang. Itulah untuk pertama kalinya dia menyentuh bibir laki-laki seumur hidupnya.
"Sepertinya telaga itu memiliki kenangan khusus dalam hidup mu" kata Bintang membuyarkan lamunan Berlian.
Dia langsung menoleh mengamati wajah suaminya dengan seksama. Wajah Bintang yang tadinya ceria berubah murung seakan menyimpan beban hati yang sulit untuk di raba.
"Bin, kamu kenapa?" nada suara Berlian begitu lembut.
"Perut kamu mulas lagi?"
Bintang hanya menggeleng kepala.
"Atau tangan kamu sakit?. Kita menepi istirahat dulu kalau begitu"
"Aku baik-baik saja. Kita jalan terus, rumah kakek juga sudah dekat " Bintang coba memaksakan senyumnya, menyembunyikan kegundahannya memaknai sikap Berlian yang berubah senang begitu mobil yang di dikendarainya melintas melewati telaga.
"Lian, apa telaga itu punya makna khusus dalam hidup mu?. Dari tadi aku perhatikan mata kamu ngga pernah lepas memandangi telaga itu" Bintang tidak bisa menyembunyikan kegundahannya lalu mempertanyakan apa yang membuat dia merasa Berlian memiliki keterikatan dengan telaga itu.
Berlian diam saja, pertanyaan yang di ajukan oleh Bintang menimbulkan tanda tanya dalam dirinya sendiri. Kenapa yang terlintas dalam benaknya saat Bintang mengajukan pertanyaan itu adalah bayang-bayang saat dia dan Bintang sempat adu mulut hingga adegan nafas buatan itu?. Kenapa bukan bayangan Rangga yang melintas, padahal telaga itu banyak menyimpan memori indah dengan laki-laki yang sudah menyia-nyiakan cintanya.
Bintang menarik nafas kecewa karna tak kunjung mendapat jawaban pasti dari Berlian.
"Sebenarnya..."
"Kita sudah sampai"
Berlian terpaksa tutup mulut. Niatnya untuk berterus terang tentang telaga yang di pertanyakan Bintang tak kesampaian karna Bintang sudah lebih dulu turun lalu membukakan pintu mobil untuknya.
__ADS_1