Kilau Berlian

Kilau Berlian
104. Positif


__ADS_3

Saat pintu kamar mulai terbuka, Berlian cepat menghapus air matanya dan meletakkan kembali kalender meja ke tempatnya.


"Yank, aku bawakan sarapan buat kamu. Kamu makan, ya?" Bintang duduk berhadapan dengan Berlian dan tersenyum penuh perhatian. 


"Terima kasih ya" kata Berlian pelan dan kurang semangat. 


Bintang mengangguk dan memperhatikan baik-baik raut wajah istrinya. Senyumnya pun hilang berganti cemas. 


"kamu pasti habis nangis ya?" tebaknya pasti seraya menangkup wajah Berlian.


"Kamu kenapa lagi?" lanjutnya bertanya. 


Berlian berusaha memaksakan senyumnya dan memasang mimik wajah ceria seolah tak ada masalah apa pun yang dia rasakan.


"Mungkin karna aku terlalu bahagia karna kamu mau percaya soal hubungan masa lalu aku dengan Rangga. Aku bahagia karna kamu mau memaafkan kesalahan aku" katanya berbohong. 


"Masalah itu ngga perlu di bahas lagi" balas Bintang. 


"Lebih baik sekarang kamu makan. Mama tadi yang menyiapkan bubur sama susu hangat buat kamu. Biar aku suapi" Bintang menurunkan tangannya dari wajah istrinya dan beralih mengambil semangkuk bubur yang di bawanya tadi. 


"Lho,kok mama yang masak?. Kamu pasti memaksa mama untuk membuatkan aku bubur." protes Berlian.


"Bukan. Ini inisiatif mama sendiri yang mau masak bubur buat kamu karna tadi aku sempat cerita keadaan kamu yang lagi kurang sehat" jelas Bintang.


"Lalu mama bilang apa tentang keadaanku?" Berlian sengaja melayangkan sebuah pertanyaan yang memancing kepekaan suaminya atas keadaannya. 


"Nggak ada. Paling kamu kecapekan aja katanya" jawab Bintang santai. 


Berlian tak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Bintang sama sekali tidak mau membahas tentang dugaan kalau dia tengah hamil. 


"Kamu makan, ya?" Bintang menyuapi sesendok bubur kemulut istrinya. 


"Aku belum lapar" Berlian mendorong tangan suaminya menjauh. Kemudian dia berdiri meraih kemeja kerja suaminya yang sudah dia di siapkan. 


"hari ini kamu harus wajib lapor. Maaf ya, aku ngga bisa menemani kamu" 


Bintang berdiri dan menatap curiga perubahan sikap istrinya. 


"Yank, kamu sarapan dulu. urusan wajib lapor kita bicarakan lagi nanti"ujar Bintang. 


"Aku sarapan nanti saja" tolaknya. 

__ADS_1


"hari ini kamu bukan hanya harus wajib lapor. Hari ini kamu juga harus kembali ke kantor. Kamu sudah terlalu lama libur. Kasihan mama sendirian mengurusi semua pekerjaan kamu. Mama bisa jatuh sakit jika terus memaksakan diri untuk bekerja." 


"Dokter ga bisa datang ke sini, jadi sebaiknya kita ke rumah sakit . Kalau masalah kerjaan aku di kantor, bisa kembali masuk besok" Bintang bertahan dengan egonya. 


Berlian menatap suaminya jengah. Helaan nafasnya juga berat. Dia bingung harus bagaimana meluluhkan hati suaminya. 


"Sayang, aku cuma masuk angin biasa. Istirahat sebentar saja juga akan sembuh kok" 


Bintang ragu harus menuruti kemauan istrinya atau dia bertahan dengan maunya. 


"Ya sudah, aku akan kembali ke kantor" Bintang akhirnya mau mengalah. 


"Sayang maaf ya, hari ini aku ngga bisa menemani kamu wajib lapor" sesal Berlian.


"Nggak apa-apa, kamu istirahat saja di rumah" ujar Bintang penuh pengertian. 


...****************...


Setelah acara ritual cium tangan dan kening selesai. Bintang pergi di temani mamanya. Berlian cepat-cepat kembali ke kamar dan berlari menuju kamar mandi. 


"Hueeekkkk..." Berlian kembali merasakan rasa mual yang terus menyerangnya. 


"Aku harus periksa keadaan aku ke dokter. Aku harus tahu apa benar aku hamil atau tidak" putusnya. 


...****************...


Menapaki kakinya di kantor polisi, Bintang langsung menuju ruang penyelidik di temani tim kuasa hukumnya minus satria yang tidak bisa hadir. 


Begitu mau masuk ruang penyelidik, Bintang berpapasan dengan Rangga yang baru saja selesai di mintai keterangan lainnya mengenai keterlibatannya dalam penggelapan dana perusahaan keluarga Pratama. 


Rangga menatap penuh dendam kehadiran Bintang. Senyumnya sinis dengan raut muka tanpa dosa. 


"Sampai bertemu lagi di dalam sel tahanan tuan Bintang Pratama yang terhormat" ejeknya penuh kemenangan. 


Bintang diam tak menanggapi, dia terus berjalan masuk di mana pihak berwajib sudah menunggu kedatangannya. 


"Dengarkan aku baik-baik, kamu ga mungkin bisa bebas. Kamu pasti akan dijebloskan lagi ke penjara untuk waktu yang lama!" koar Rangga sambil di seret pria berseragam menuju selnya. 


Mama Farida yang menunggu di luar dan mendengar sumpahnya Rangga cuma bisa bergumam sedih. 


"Maafin mama, Rangga. Mama ga bermaksud mau menghancurkan hidup kamu. Mama ga mau kamu tersesat lebih jauh lagi. Maafin mama juga karna sampai hari ini belum bisa menemui kamu. Mama harus mencari waktu yang tepat sampai emosi bintang mulai tenang" 

__ADS_1


...****************...


Sepasang mata mengamati dengan cermat langkah seorang wanita cantik masuk menuju sebuah ruangan dokter spesialis kandungan dan dia menunggu dengan sabar di luar tanpa wanita itu menyadari kehadirannya di rumah sakit yang sama. 


Di dalam ruang serba putih dengan beberapa perlengkapan kedokteran, Berlian menunggu dengan harap-harap cemas hasil pemeriksaan dokter setelah dia di periksa dengan teliti. 


"Bagaimana dengan keadaan saya, dok?. Apa benar saya hamil?" tanyanya penuh harap. 


Dokter wanita yang memeriksa keadaan Berlian tersenyum penuh arti. 


"Tepat sekali. Ibu positif hamil dan kehamilan sudah memasuki minggu ke 6" 


"Alhamdulillah, ya Allah" 


Berlian langsung berucap syukur. Air mata bahagianya menggenangi kedua bola matanya yang hitam. 


"Sayang, selamat datang di rahim mama. Mama sudah lama menanti kehadiran kamu. Mama sayang sama kamu" Berlian bergumam bahagia dalam hati sambil mengusap perutnya yang masih rata. 


"Selamat bu atas kehamilannya. Tolong kehamilannya di jaga karna kandungan ibu masih lemah. Jaga pola makan ibu juga hindari stress. Jangan lupa untuk rutin memantau kandungan ibu secara berkala supaya kandungannya tetap terjaga." 


"Baik, dok. Terima kasih." Berlian membalas hangat ucapan selamat dari dokter wanita yang masih muda itu.


...****************...


Kembali pada rutinitas yang sempat dia tinggalkan karna terbelenggu masalah hukum, Bintang di sibukkan mempelajari beberapa laporan yang harus dia tanda tangani. Kehadirannya kembali berdampak positif pada kinerja para karyawannya. Semangat kerja para karyawannya jauh meningkat sebab banyak perubahan dari diri Bintang yang di rasakan langsung oleh sebagian orang yang bekerja pada perusahaannya.


Bagi sebagian dari mereka berpendapat atasannya jauh lebih bersahabat dan terbuka. Atasannya yang biasanya dingin, kini tak segan mau menyapa siapa pun. Apakah dia bekerja sebagai OB atau karyawan biasa lainnya. 


Selesai dengan pekerjaannya, Bintang menemui arya di ruangannya. Kakak dan adik ipar itu pun berbincang santai mengenai pekerjaan juga perkembangan kasus hukum yang masih membelit nya. Bintang begitu puas mendengar penuturan arya. Hanya sebagian kecil yang di ceritakan arya mengenai kejadian sebenarnya di balik kematian pak Reza juga Bulan. Sebab Arya masih menghormati posisi satria sebagai kuasa hukum adik iparnya. Satria adalah orang yang paling tepat menjelaskan semuanya. 


"Ar, makasih ya karna kamu sudah banyak membantuku. Bukan hanya masalah hukum ,tapi kamu juga membantuku mengendalikan perusahaan selama aku absen" ujar Bintang tulus. 


"Kamu ga perlu berterima kasih. Aku melakukan semua ini demi Berlian. Kamu adalah suami dari adikku satu-satunya . Aku ga mau melihat adikku bersedih karna orang yang di cintainya terbelenggu masalah berat." Balas arya.


Rindu di hati Bintang membubung begitu arya menyebut nama perempuan yang dia cintai sangat dalam. Bintang jadi tak sabar menunggu perputaran waktu agar dia bisa dengan secepatnya pulang dan bertemu dengan istrinya. 


"aku mohon kamu jangan pernah menyakiti Lian. Dia itu sangat mencintai kamu. aku ga mau dia terluka lagi. Jika itu sampai terjadi, aku ga akan segan menghancurkan hidup kamu" kecam arya.


"Kamu tenang saja, Lian segalanya dalam hidupku." ujar bintang dengan sorot mata yakin. 


"Aku pegang janji kamu." kata arya. 

__ADS_1


__ADS_2