Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 94. Bahagia Bersama


__ADS_3

Mama Farida mengadakan syukuran kecil-kecilan atas di kabulkannya penangguhan penahanan putranya secara kekeluargaan di sebuah Restauran. Meskipun tanpa kehadiran Bintang. Selain itu, mama Farida juga ingin membicarakan hal apa yang harus mereka lakukan pasca penangguhan penahanan terhadap putra semata wayangnya itu. Dia tak mau gegabah apalagi sampai salah bertindak. Sebab itu hanya akan mempersulit proses hukum putranya yang masih berlangsung. Semua itu di bicarakan dengan terbuka pada satria, selaku kuasa hukum.


 


"Sejauh ini posisi pak erwin masih di atas angin dengan bukti yang mereka miliki. Tapi, ibu tidak perlu khawatir. Saat ini saya sedang meminta pihak kepolisian turun langsung meminta berkas riwayat kesehatan terakhir almarhum sebelum keluar dari rumah sakit sebab saya merasa pihak rumah sakit mempersulit tugas saya melakukan penyelidikan penyebab sebenarnya kematian pak reza" beber satria. 


"Kami juga sedang berusaha melacak keberadaannya pak yadi. Karna menurut kartika, pak yadi tahu banyak soal kematian almarhum" tambah arya.


"Maksud kalian pak Yadi Suganda?" tanya mama Farida agar lebih yakin dengan tebakannya siapa orang yang di maksud oleh dua lelaki muda dihadapannya.


"Benar" jawab keduanya bersamaan. 


"Menurut cerita Kartika, dua hari sebelum meninggal pak reza sempat meminta ke pak Erwin agar mempertemukannya dengan pak yadi. Yang saya bingungkan, siapa pak yadi sebenarnya dan apa hubungannya dengan pak Reza?" terang satria penuh tanda tanya. 


"Pak yadi itu orang kepercayaan almarhum suami saya yang pertama. Beliau selama ini banyak membantu keluarga saya keluar dari masalah. Termasuk saat kematian suami kedua saya. Pak yadi lah orang berperanan penting di balik perdamaian yang terjadi antara pihak keluarga saya dengan mas reza atas kematian yang merenggut nyawa mas reza" cerita mama Farida lirih. 


"Apa jangan-jangan pak yadi sempat bertemu dengan pak erwin. Dan ada hal yang sempat mereka ceritakan" cetus kakek Dharma menyimpulkan cerita satria dengan cerita ibu farida.


"Bisa jadi" jawab satria pasti. 


"Kalau begitu, masalah pak yadi biar saya yang urus. Saya kenal baik dengan pak yadi cukup lama. Kamu selesaikan saja masalah hukumnya Bintang" ujar mama Farida pada satria.


 


"Baik bu" jawab satria.


"Kalau begitu, saya mohon pamit karna hari ini saya ada pertemuan dengan klien saya yang lain" lanjutnya berpamitan pada semuanya. 


"Saya juga mau pamit, karna saya harus kembali ke kantor" ujar arya ikut berpamitan. 


"Sat, aku nebeng sama kamu sampai kantor" katanya pada temannya yang duluan berdiri. 


"Ok" 


"Nenek sama kakek pulangnya naik taxi saja. Nanti aku akan hubungi taksinya" 


"Nggak usah Ar. Kakek sama nenek kamu biar saya yang antar. Sebentar lagi sopir saya datang menjemput" 


"Terima kasih, bu. Maaf sudah merepotkan" kata arya sungkan. 


"Nggak apa-apa. Kita ini kan keluarga" senyum mama Farida tulus. 


"Oh ya. Kamu tolong minta sama Rizal untuk mengumpulkan semua arsip perusahaan dan serahkan pada saya besok ya" 


"Baik, bu" 


...****************...


"Om, Kenapa jadi begini?. Kenapa penangguhan penahan Bintang bisa di kabulkan?. Apa om ngga berusaha menghalangi kepolisian mengeluarkan izin penangguhan tersebut." Rangga kalut menumpahkan kekesalannya pada pak erwin di kantor milik papa kandungnya Kartika itu. 


"Om juga ngga tahu. Om sudah suruh pengacara untuk meminta pihak kepolisan membatalkan izin penangguhan itu dan agar secepatnya pihak kepolisian menyeret Bintang kembali masuk bui. Kalau perlu, berkas penyelidikan Bintang secepatnya di P21 kan, agar Bintang secepatnya bisa di sidang" jelas pak erwin. 


(Note. P21 adalah pemberitahuan penyidikan dinyatakan lengkap. Tolong koreksi kalau salah ya 😁)


"Pokoknya aku ngga mau tahu. Bintang harus kembali meringkuk di tahanan sebelum mama tahu kebenarannya dan rencana kita bisa hancur berantakan" 


"Memangnya apa yang sudah di ketahui Farida?"pak Erwin bertanya dengan nada takut. 


"Apa persisnya aku belum tahu. Tapi, sepertinya mama mulai menaruh curiga kepadaku" katanya.


...****************...


Tubuh Bintang menggeliat manja manakala sinar matahari langsung menerpa matanya. 


"Yank, jendela kenapa di buka?" protes Bintang.


Berlian tersenyum manis dan berjalan menuju tempat tidur. Dia lalu duduk tepat di samping suaminya yang masih malas-malasan, enggan bangun dan membuka mata. 


"Ini sudah hampir sore, lho. Kamu bangun, ya?" bujuk Berlian.


 


"Mmm... nanti saja. Aku masih ngantuk" tolak Bintang dan dengan manja memindahkan kepalanya dari bantal ke pahanya Berlian. Berlian dengan sayang menyisir rambut suaminya menggunakan jari-jarinya. 


"Sayang, sebentar lagi kakek sama nenek bakalan pulang. Kamu buruan bangun dan mandi" 


"Mandinya nanti saja. Aku masih kangen sama kamu dan aku masih pengen berduaan sama kamu" ucapnya masih dengan mata tertutup menikmati sentuhan jemari Berlian di kepalanya. 

__ADS_1


"Yank... lagi ya?" Bintang membuka mata dan tersenyum nakal menggoda istrinya. 


"Lagi apanya?" 


"Yang tadi..." Bintang tersenyum nakal sambil memainkan alisnya.  Paras Berlian merona merah. 


"kamu sekarang mulai nakal ya. Mesum ih...." Berlian gemas dan mencubit perut suaminya sebagai bentuk protesnya. 


"Awwww...sakit yank...." bintang pura-pura meringis kesakitan. Berlian pun menghentikan aksinya dan memasang wajah cemberut. 


"Habisnya kamu gitu." 


Tawa Bintang berderai renyah. 


"Bercanda, yank. Jangan cemberut gitu, donk. Jadi gemas pengen gigit" ujarnya setelah puas tertawa. 


"apaan sih "


"Senyum donk, istriku yang cantik" lanjutnya merayu di iringi senyumnya yang menawan sempurna dengan lesung pipitnya. 


Berlian tak bisa menahan bibirnya untuk bergerak membentuk sebuah senyuman manisnya. 


"Kamu terlihat sangat cantik kalau lagi tersenyum seperti ini" puji Bintang tak bosan memandangi wajah istrinya. 


"Udah ah gombalnya. Kamu bangun dan langsung mandi" Berlian mulai tegas pada suaminya. 


"Ngantukkkk" 


Bintang tak mau bangun. Dia malah menutup matanya kembali. 


"Beneran nggak mau mandi?" tanya Berlian memastikan. 


Bintang mengangguk cepat membenarkan dan tetap menutup matanya. Tapi, berlian sama sekali tidak hilang akal bagaimana supaya Bintang mau menurutinya. 


"Yakin, nggak mau mandi bareng?" godanya. 


"Mandi bareng?" 


Bintang bangun dengan semangat dan matanya terbuka lebar dan berbinar-binar. Trik berlian berhasil juga. 


"Mau... mau... Mau banget lah " ujarnya menggebu. 


"Katanya mau mandi bareng. Ayo ah..." 


Bintang turun dari tempat tidur dan menarik tangan istrinya. 


"Sebentar" 


Berlian bergerak meraih handuk yang tergantung di dekat lemari pakaiannya .


"Kelamaan" ujar Bintang tak sabaran dan cepat-cepat membungkuk dan menggendong istrinya dengan mudah. 


"Kamar mandinya dekat kok. Aku bisa jalan sendiri. Nggak perlu di gendong" protes Berlian.


"Tapi, suka kan?" 


Berlian hanya tersenyum dan membiarkan Bintang menggendongnya sampai ke kamar mandi yang terletak dekat dengan dapur.  Bintang pun menurunkan Berlian dengan sangat hati-hati. 


"kamu menghadap ke sini" Berlian langsung memutar tubuh suaminya menghadap ke cermin yang menggantung di dinding kamar mandi berukuran kecil di banding kamar mandi di kamarnya bintang.


"mau ngapain?" Bintang kebingungan melihat Berlian meraih sebuah botol yang terletak dekat bak kamar mandi.


Berlian hanya tersenyum sambil memencet botol tersebut hingga keluar cairan berupa cream berwarna putih. 


"Itu kan cream untuk cukuran pria, yank?. Kamu mau cukuran juga?" ujar Bintang mengenali benda yang tak asing baginya. 


"Ish..."


"Trus, cream itu mau kamu apa kan?. Kamu mau cuci muka sama cream itu?. Jangan sayang, cream itu ngga cocok untuk muka perempuan" 


"Siapa juga yang mau cuci muka sama cream ini" bantahnya. 


"Cream ini buat kamu" Berlian dengan cepat dan sigap melumuri sebagain wajah suaminya dengan cream tersebut. 


"Kamu sudah mulai kumisan sama brewokan dan harus di cukur" lanjutnya. Bintang akhirnya jadi paham maksudnya Berlian apa. 


"Biarin aja, yank. Nggak usah di cukur. Kan aku nya makin ganteng" ujar Bintang penuh percaya diri. 

__ADS_1


"Kalau tumbuhnya teratur sih, nggak apa-apa. Ini tumbuhnya berantakan dan ga terurus begini. Percuma kan punya istri cantik tapi ngga telaten mengurus suaminya" ganti Berlian yang kepedean. 


"Sekarang, kamu diam" 


Berlian membuka pembungkus alat cukur milik Arya kakaknya yang masih tersegel.


Dengan hati-hati dan lembut Berlian mulai menggerakkan pisau cukur tersebut menyentuh kulit muka suaminya yang sudah di lumuri cream. Bintang tak bisa menolak perhatian nyata yang di tunjukan oleh Berlian. Tapi tangannya tak mau diam dan bergerak menarik lembut pinggang istrinya menyatu dengannya. Berlian terpaksa menghentikan gerakan pisau cukur yang di pegangnya. 


"kalau mau nyukur, harusnya dekat-dekat begini, biar kamu nyukurnya gampang dan bibir aku ngga luka. Kalau bibir aku sampai luka terkena pisau cukur, aku kan ngga bisa ngapa-ngapain kamu" 


Berlian tersenyum simpul. Dia tak tahan di goda terus oleh suaminya. 


"Bibir kamu ngga bakal kenapa-napa kalau kamu mau diam." ujar Berlian coba tegas dan mulai membersihkan wajah suaminya. 


Kurang lebih 15 menit, mukanya Bintang sudah kembali mulus dan kinclong. 


"Ternyata kamu mahir juga" kata Bintang begitu mengamati wajahnya dari balik cermin. Dia pun tersenyum puas dengan hasil kerja istrinya. Sementara itu Berlian sibuk membersihkan tangannya dengan air dan sabun. 


"Wajah kamu terlihat makin fresh dan ganteng" pujinya sambil ikut memandangi wajah suaminya lewat pantulan cermin di depannya. Satu kecupan pun mendarat mulus di pipi sebelah kanannya Berlian. 


"makasih yank" kata bintang setelah bibirnya menjauh dari pipinya Berlian.


"Sekarang kamu mandi. Aku mau beres-beres kamar" ujar berlian di sertai senyumannya. 


"Enak aja mau keluar. Janjinya tadi mau mandi bareng" protes Bintang sambil menarik baju Berlian yang hendak melangkah keluar. 


"Ta...tapi...Kamar kita kan..." 


"Jangan cari-cari alasan" 


Bintang tak mau dengar dan tak mau terima alasan apapun dari berlian. Bintang dengan sengaja meraih gayung dan mengambil air dari dalam bak. Dengan cepat, Bintang menyirami tubuh berlian.


"Bintang..." Berlian berteriak dan teriakannya menggema sampai keluar. 


"Awas, ya" Berlian mengancam dan meraih satu gayung lagi yang ada di sana. Dia pun membalas perbuatan Bintang yang iseng menyiramnya duluan. 


Dalam sekejap, pasangan suami istri sibuk main siram-siraman layaknya anak kecil di selingi canda juga derai tawa penuh kebahagian. 


Tak lama keadaan berubah sunyi, manakala Bintang berhasil memeluk tubuh istrinya dan memagut bibir ranum itu dengan manja. Keduanya menikmati ciuman itu entah dalam waktu berapa lama. 


...****************...


Sorenya kakek Dharma dan istrinya baru pulang. Semua pekerjaan rumah sudah beres di kerjakan oleh Berlian. Mulai dari mengangkat jemuran dan melipatnya langsung sampai menyiapkan makan malam. Semua di kerjakan berlian tidak sendirian, ada Bintang yang mau membantunya. Lebih tepatnya bukan membantu, bintang hanya memanfaatkan waktu dengan bijak . Tak ada salahnya bermanja-manja terhadap istri sendiri, kan?. 


Baru selepas maghrib arya pulang. Mereka pun shalat berjamaah, kemudian makan malam bersama. Lalu sedikit bercerita membicarakan sesuatu yang tidak bersinggungan dengan kasusnya Bintang. Kakek Dharma dan istrinya juga arya tak mau merusak kebahagian yang di rasakan Bintang pasca keluar dari penjara. Mereka lebih memilih menceritakan tingkah berlian waktu kecil yang mengundang tawa semuanya. Berlian hanya bisa cemberut jadi bahan ledekan kakak juga kakeknya. Bintang tampak begitu semangat dan bahagia bisa berkumpul dan merasakan kehangatan sebuah keluarga yang sudah lama tak dia rasakan. 


Puas bercerita, kakek sugi dan istrinya masuk duluan ke kamar mereka. Kemudian Bintang dan Berlian pamit pada arya untuk istirahat di kamar mereka. Tinggal arya sendirian merenung mengenang kekasihnya yang tiada. 


"Bella, seandainya kamu masih ada. Kita pasti akan hidup bahagia seperti Bintang dan Lian" desah Arya berat. 


...****************...


Di atas tempat tidur Berlian begitu manja bersandar di bahu suaminya yang tegap. Sementara Bintang, memeluk tubuh istrinya kian erat. Dan sesekali bibirnya turun menciumi leher jenjang istrinya setelah puas menciumi ubun-ubun nya. 


"Sayang, kamu tahu, waktu kamu di tahan hampir setiap malam aku bermimpi seperti ini" kenang Berlian lirih. 


"Setiap malam aku selalu bermimpi kamu datang memeluk aku, menenangkan kegelisahan aku. Kamu mencium dan membelai wajahku sampai tertidur lelap. Tapi paginya, saat aku membuka mata kamu justru ngga ada di sampingku. Itu membuat aku sangat sedih dan enggan membuka mata esok harinya lagi" tutur Berlian setelah diam beberapa saat. 


"Mulai besok, kamu ngga perlu takut membuka mata. Sebab, saat kamu membuka mata, kamu akan melihat aku tengah memeluk kamu dengan erat. Dan itu ngga hanya berlaku untuk besok paginya. Tapi, untuk pagi-pagi kita seterunya, seumur hidup kita" kata bintang menghalau ketakutan sang pujaan. Berlian pun bisa tersenyum tenang. 


"aku ngantuk" rengek Berlian manja. 


"Ya sudah. Kita tidur" 


Bintang sedikit beringsut membenarkan posisi tidurnya. Berlian tanpa ragu merebahkan tubuhnya memeluk suaminya. 


"aku cinta kamu " bisik Bintang lembut. 


"Aku juga cinta kamu " balas Berlian.


 


Bintang menyambut balasan itu dengan mengecup sayang kening istrinya. 


"Yank, besok kita jalan-jalan yuk keliling perkebunan pakai sepeda kakek. Mau ngga?"


Mata Berlian yang mulai memejamkan mata langsung melek mendengar tawaran bintang.

__ADS_1


"Mau...mau . Harus malah" senyum Berlian lebar. Senyuman itu di balas Bintang dengan ciuman manis sekilas. 


"Sudah, kamu tidur sekarang. Selamat malam sayang"


__ADS_2