Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 34. Bertemu Kak Arya


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


Mama Farida sangat menyukai bunga , itu terbukti dari banyaknya jenis bunga yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Sejak kecil Bintang sudah terbiasa membatu Mama nya menyirami bunga itu. Seperti saat ini , Bintang tengah asik menyiram tanaman disela-sela libur kerjanya.


"Bin, kamu sebaiknya sarapan dulu. Sini biar aku yang gantiin siram tanamannya" tawar Berlian kepada bintang.


"Nanti dulu, nanggung" jawabnya. Hubungan Bintang dan Berlian semakin hari semakin baik saja.


Saat Berlian mendekat muncul ide dalam benak Bintang untuk menjahilinya. Selang air yang di pegang nya tiba-tiba diarahkan ke tubuh Berlian lalu menyemprotkan nya.


"ah...bintang... apa-apaan sih kamu" protes Berlian kaget.


"kamu belum mandi kan? sini, biar aku mandikan" bukannya berhenti, Bintang malah terus mengarahkan semburan air dari selang ke tubuh Berlian.


"hentikan...aku udah mandi..."


"udah apaan... masih bau dan jelek begini..."


Berlian langsung lari saat Bintang tak mau berhenti melakukan aksinya itu. Terjadilah aksi kejar-kejaran, sampai pada akhirnya Berlian diam karena menemui jalan buntu.


"hahaha .... mau lari kemana lagi kamu" Bintang yang bersemangat tidak melihat langkahnya , kakinya tersandung akar pohon . Berlian yang ada di depannya hampir ikut terjatuh, tapi Bintang berhasil menyeimbangkan badan nya lalu dengan sigap menangkap pinggang Berlian. Canda tawa yang tadi terdengar tiba-tiba menjadi sunyi. Bintang menatap lekat wajah cantik dihadapan nya. Jantung keduanya pun berdegup kencang. Senyum pun terulas dari keduanya.


"ehemmm" 


Mama farida mendehem keras setelah cukup lama menyaksikan keceriaan anak dan menantunya yang berakhir pelukan hangat. 


"mama" Berlian kaget dan spontan melepas pelukan suaminya. 


"Kok pelukannya di lepas?" goda mama Farida.


Berlian dan bintang jadi kelimpungan sendiri mau menjawab apa. Keduanya salah tingkah di goda oleh mama Farida.


 


"Bin, mama boleh pinjam Berlian sebentar?" mama Farida melirik kearah putranya yang tak mau lepas memandangi wajah merona istrinya. 


"Bin, mama boleh kan pinjam istri kamu sebentar?" ulang Mama Farida lagi karena Bintang belum memberi jawabannya. 


"Tidak boleh" spontan bintang. 


"eh...oh...,boleh kok, ma" ralat Bintang cepat memotong godaan mamanya yang mau menggodanya lagi. 


"Kamu jangan khawatir,mama cuma mau mengajak istri kamu belanja kebutuhan dapur. Mama malas pergi sendirian" jelas mama Farida lengkap dengan alasannya. 


"Kan,ada bibi. Kenapa mama tidak minta tolong di temani sama bibi saja?" ujar Bintang seperti keberatan. 

__ADS_1


"Sebentar saja kok, Bin" 


"Terserah Lian saja. Kalau dia mau ikut, silahkan" Bintang melirik sejenak kearah istrinya. 


"Bagaimana Lian, kamu mau menemani mama belanja, kan?" mama farida meminta pendapat.


"Lian sama sekali tidak keberatan menemani mama belanja. Tapi, Lian juga harus minta izin sama Bintang dulu" 


"Kok, minta izin sama aku?. Kalau kamu mau pergi, ya pergi saja"sela Bintang. 


"Ya, jelaslah aku minta izin sama kamu. Kamu itu kan suami aku, kemana pun aku pergi, aku harus mendapat izin dari suami aku dan aku baru tenang bisa pergi" terang Berlian. 


Bintang tercenung mendengarnya. Selama ini , ketika dia berhubungan dengan seorang perempuan, mereka akan datang ketika mereka butuh dan akan pergi ketika mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau darinya. Beda dengan Berlian, dia merasa keberadaan nya sangat dihargai.


"Kamu boleh pergi temenin mama" izinnya,membuat Berlian senang. 


"Terima kasih, Bin" Berlian tersenyum lebar mendamaikan hati yang melihatnya. 


"lian,kamu siap-siap,ya?. Mama tunggu di mobil" kata mama Farida.


"Tapi, Lian mau menyiapkan sarapan buat bintang dulu. Bintang kan belum sarapan" ujar Berlian.


 


"Kamu siap-siap saja, aku bisa minta bibi menyiapkan sarapan" kata Bintang. 


"Buruan sana, kamu mau aku siram lagi" Bintang mengarahkan kembali selang yang dipegang kemuka istrinya. 


"Iya.." ucap berlian manyun. 


Berlian mulai berjalan menjauhi suaminya beriringan dengan mama mertuanya. Bintang tak mau melepas pandangannya dan ada gejolak di hatinya yang meminta agar Berlian menoleh sebentar saja ke arahnya. 


Senyum lepas menyungging dari kedua sudut bibir bintang ketika pemilik paras cantik itu menoleh kebelakang dan tersenyum kearahnya. 


"Crrotttt" 


Bintang tanpa sadar menekan kran yang di pegang nya dan air tepat muncrat membasahi wajahnya. Bintang kaget dan kelimpungan mematikan air kran.


 


"Hahaha.."tawa Berlian berderai melihat tingkah konyol suaminya. Bintang yang mau protes ditertawakan justru tertegun damai mendengar tawa istrinya.


...****************...


Rumah sepi, Bintang merebahkan diri di kasur sambil membaca kembali untaian kata-kata yang terdapat dalam novel Goresan Pelangi. Entah kenapa, dia begitu sangat tertarik pada penggalan kata-kata yang tersusun apik dan sanggup menyentuh hati yang membacanya. 

__ADS_1


"Apa buku ini ada hubungannya dengan Berlian?" curiganya karna buku itu dia dapat saat pertama kali bertemu dengan Berlian.


"Enggak mungkin!" bantah Bintang.


"Mana mungkin Berlian bisa menulis karangan sebagus ini. Penulis buku ini pasti wanita yang sangat lembut, elegan dan anggun sesuai dengan kata-kata nya. Berlian itu gadis yang sangat sederhana dan sedikit norak" ujarnya membandingkan sosok penulis Goresan Pelangi dalam imajinasinya dengan Berlian. 


...****************...


Berlian dan mama Farida terus berjalan menulusuri pusat perbelanjaan modern terbesar di sana. Mama Farida membawa dan menunjukkan tempat beliau belanja berbagai kebutuhan dapur dan rumah tangga dengan tujuan mempersiapkan menantunya menggantikan posisinya di rumah sebagai pengendali semua kebutuhan rumah tangga kelak. 


"Lian, kamu harus ingat, jika nanti mama tidak bisa pergi belanja, kamu harus belanja di tempat ini karena kebutuhan di sini adalah yang terbaik dari segi kebersihan juga kualitas" kata mama Farida mengingatkan menantunya


"Iya ma, Berlian ingat kok" jawab Berlian.


Mertua dan menantu itu terus berjalan melewati keramaian dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang terus mengikuti mereka sedari tadi. 


"Copet..." teriak mama farida begitu sadar seseorang tak di kenal menyambar tas yang di bawanya. 


"Tolong...copet" teriak Berlian sekeras mungkin, membuat sebagian orang yang ada di sana spontan mengejar copet yang sudah melarikan diri itu. 


"Mama, tunggu di sini!. Berlian mau ikut mengejar copetnya"


 


Tak perlu menunggu persetujuan mertuanya, Berlian berlari menyusul beberapa orang yang berlari mengejar si pencopet.


"Lian, tidak usah di kejar. Bahaya, nak" cegah mama farida. Tapi,berlian sudah lari lebih dulu. Mama Farida pun menyuruh mang Asep untuk mengejar Berlian.


...****************...


Si pencopet lari tunggang langgang menghindari kejaran orang-orang yang mengejar dan mau memukulnya. Sial bagi si pencopet, dia terkepung dan segera di hakimi massa hingga babak belur. 


"Mas, permisi..." Berlian berusaha menerobos keramaian orang-orang yang baru saja melakukan tindakan main hakim sendiri. 


"Mbak, ini dia pencopet tas milik ibu mbak tadi" seorang laki-laki bertubuh tegap memegang tangan si copet yang memakai topi hitam dan menunduk menyembunyikan wajahnya.


 


Berlian mengamati baik-baik wajah si copet. Rasa penasaran berkecamuk ingin tahu bagaimana rupa copet yang mencuri tas mertuanya. Berlian pun berinisiatif melepaskan topi tersebut. 


"Kak Arya" cengang Berlian bukan main begitu melihat dan mengenali wajah kakak kandungnya. 


"Lian" ucap arya sama tercengangnya dengan adiknya. 


"Mas, tolong lepaskan dia. Dia bukan copet,dia kakak saya" pinta Berlian tak tega melihat keadaan kakaknya. 

__ADS_1


"Tapi,mbak..." 


__ADS_2