Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 98. Rangga di usir


__ADS_3

Sampai menjelang subuh mama Farida masih terjaga setelah lelah menunggu Rangga pulang, kemudian bergegas shalat subuh. Setelah selesai shalat, mama Farida mendengar deru mobil memasuki pekarangan rumah. 


"Itu dia, akhirnya anak itu pulang" 


Mama Farida segera membuka mukenanya dan berjalan keluar kamar. 


Terlihat bi sumi tengah membukakan pintu dan Rangga masuk dengan tampang kusut dan rambut berantakan. 


"kamu dari mana, subuh begini baru pulang?" tegur mama Farida keras pada Rangga yang baru saja pulang. 


"Semalam rangga lembur, ma" jawabnya. 


"Bi, tolong tinggalkan kami berdua" kata mama Farida.


"Baik, nyonya" bi sumi pun mundur. 


"kamu ikut mama. Ada hal penting yang mau mama bicarakan sama kamu" 


Rangga patuh saja, dia mengikuti langkah mama angkatnya menuju ruang kerja yang biasa di pakai oleh Bintang.


Awal yang buruk, antara Rangga dan mama Farida tak ada yang bersuara. Hanya tatapan mama Farida yang seolah mau menghakimi Rangga. Hal itu terasa menakutkan bagi Rangga dan perasaannya kalut.


"Bagaimana, apa transaksi kamu kemarin berhasil?" 


Rangga terkejut dan serasa terkena pukulan telak oleh mama angkatnya. 


"Ma..ma.. maksud..mama... apa?" Rangga bicara tergugup.


"Kamu baca ini" mama Farida menyerahkan beberapa lembar kertas berisi data kepemilikan rekening fiktif. 


Paras Rangga pucat pasi, keringat dingin membasahi semua permukaan kulit wajahnya begitu membaca data yang tertera mengarah dan membuktikan kesalahannya dengan nyata. Dia pun tak bisa mengelak lagi. 


"Kamu sudah sanga membuat mama kecewa, Rangga. Mama sudah mempercayakan perusahaan kepada kamu selama bintang di tahan. Namun, dalam sekejap kamu bisa saja membuat perusahaan rugi besar. "


"Kamu melakukan transaksi gelap menggunakan dana perusahaan tanpa sepengetahuan mama. Tindakan kamu sudah sangat keterlaluan. Apa yang kamu lakukan tidak hanya berdampak buruk bagi kelangsungan perusahaan juga perkebunan. Tapi ratusan nasib karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan ikut merasakan dampak buruk atas kecerobohan kamu" 


"Lusa, sebelum Bintang kembali lagi ke rumah ini bersama istrinya, sebaiknya kamu angkat kaki secepatnya. Bintang bisa menghabisi kamu jika tahu semuanya. Mama sudah menyiapkan sebuah lahan perkebunan di kalimantan untuk kamu. Mama juga akan menyiapkan modal awal untuk kamu memulai usaha di sana. Kamu bisa pergi dengan tenang tanpa beban. Mama harap kamu tidak akan pernah menampakkan muka kamu di hadapan kami" ujar mama Farida menjelaskan kekecewaannya yang tak bisa di tahan lebih lama. 


"mama ngga bisa memperlakukan Rangga secara tak adil begini. Data-data yang tertulis ini cuma rekayasa" Rangga berusaha membela diri. 


"Mama bukan orang yang bisa bodohi. Pihak bank juga tidak segampang itu mengeluarkan data pemilik rekening ganda kamu. Pihak bank juga tidak segampang itu mau mencairkan transaksi keuangan yang kamu lakukan tanpa meminta persetujuan mama terlebih dulu" 


Tak ada pembelaan yang bisa di lakukan Rangga lagi. Posisinya sudah di ujung tanduk. 


"Kamu harus tahu,mama menyuruh kamu pergi karna mama sangat menyayangi kamu. Mama mau kamu memulai hidup yang lebih baik lagi, nak" 


...****************...


Wangi masakan yang belum pernah di rasakan sebelumnya memancing mata Bintang yang tertutup untuk segera di buka. 


"Sayang..." panggil Bintang sambil meraba tempat di sampingnya. 


"Lian pasti sudah bangun" tebaknya pasti karna tempat di sampingnya kosong. 

__ADS_1


Bintang bergegas duduk dan membereskan bajunya yang berserakan sisa semalam. 


"Malam yang sangat indah. Terima kasih, Lian ku sayang" senyum Bintang bahagia. 


Bintang bergegas turun dari tempat tidur, kemudian meraih handuk dan berjalan keluar kamar. 


Langkahnya terhenti, matanya tertuju dan terkesima menyaksikan seorang wanita yang tengah memakai celemek di badannya dan rambut yang di Cepol menampakkan lehernya yang jenjang.


"Cantik sekali" batinnya memuji. 


Perlahan, Bintang mendekat dan memeluk wanita yang tengah sibuk memasak sesuatu di dapur. Tak lupa, pundak wanita itu jadi sasaran persinggahan bibirnya. Wanita itu sempat terkejut, kemudian tersenyum lebar. 


"Kamu sudah bangun sayang?" 


Berlian mematikan kompor, lalu memutar tubuhnya. Kecupan hangat pun menyapa keningnya. 


"kamu lagi masak apa,sih yank?. Wangi banget" tanya Bintang setelah menjauhkan bibirnya dari keningnya Berlian. 


"Aku lagi masak pisang goreng yang ditambahin vanila. Wangi kan? " Berlian tersenyum lebar menjawab pertanyaan suaminya. 


"Pisang goreng?" Bintang melirik sepiring pisang goreng yang sudah masak terhidang dekat kompor dan belum sempat di pindahkan ke atas meja. Dari bentuk yang menarik juga aroma wanginya yang merayu, pasti rasanya sangat enak. Bintang jadi penasaran ingin mencicipi pisang goreng istrinya. 


"Kamu mau apa?" tegur Berlian yang dengan cepat menepuk tangan suaminya yang mau mencomot pisang goreng buatannya. 


"Mau mencicipi pisang goreng buatan kamu. Rasanya pasti enak banget" katanya. 


"Kamu mandi dulu sana. Baru kamu boleh mencicipi pisang gorengnya" 


"Aku sudah mandi, kamu mandi sendiri saja" 


"Malas ah mandi sendiri. Mending aku mencicipi pisang gorengnya" 


"Nggak ada cerita. Kamu mandi dulu" 


Berlian dengan tegas menarik tangan suaminya dan memaksanya masuk kedalam kamar mandi. 


"Yank, mandi bareng,yuk" Bintang masih sempatnya menggoda dan menarik-narik tangan istrinya. 


"kamu mau nggak dapat jatah kalau kamu terus menarik tangan aku?" 


Dengan cepat, Bintang melepaskan tangannya Berlian. 


"Nggak kok, Yank. Aku cuma bercanda doank. Jatahnya tetap ada, kan?" 


"Tenang saja, sayang. Jatah pisang goreng buat kamu pasti ada, kok" 


"Kok, jatah pisah goreng?" 


"Lah kan emang itu maksud aku. Kamu kira jatah apa " tawa Berlian renyah sambil berlalu pergi. 


Bintang hanya bisa melengos dan garuk kepalanya yang tak gatal. 


"Kirain" 

__ADS_1


...****************...


Siangnya, Rangga dengan malas mengemasi bajunya. Dia masih belum bisa menerima pengusiran terhadap dirinya. 


Ketika mendengar suara mama Farida mau keluar, akal bulus Rangga berjalan. 


Dari balik tirai jendela kamarnya, Rangga mengamati dengan baik mobil yang membawa Mama angkatnya pergi. Setelah yakin keadaan cukup aman untuk dia beraksi, Rangga segera menjalankan misi terakhirnya. 


...****************...


Tiga buah pisang goreng buatan istrinya habis di makan dengan lahap oleh Bintang. 


"pisang goreng bikinan kamu enak banget. Kenapa kamu nggak bikin dari dulu saja, sih" puji Bintang dengan mulut terisi. 


"Kamu makannya pelan-pelan. Nanti kamu keselek" 


"Habis pisang goreng bikinan kamu enak banget" 


Berlian senang Bintang suka dengan pisang goreng bikinannya. Senyumnya tak mau lepas mendengar pujian yang di lontarkan Bintang atas masakannya dan bagaimana semangatnya Bintang menghabiskan pisang goreng itu hingga 3 buah. 


"Kalau kamu suka, tiap kamu kepengen pasti akan aku buatkan" 


"Janji ya?" 


"Iya..." Berlian mengangguk pasti.


"sepertinya di luar ada orang?" Berlian yang duduknya menghadap jendela melihat sosok mencurigakan hilir mudik di bawah pohon rambutan yang tumbuh subur di pekarangan rumahnya. 


"Siapa?" Bintang penasaran dan memutar kepalanya. 


"Dia bawahan kamu" ujarnya mengenali orang berpakaian rapi dan memakai jacket hitam. 


"Aku mau menemui dia sebentar" Bintang meminum tehnya lebih dulu baru dia keluar. Sementara Berlian menaruh piring juga gelas ke dapur. 


...****************...


Mama Farida terpaksa balik lagi ke rumah karna firasatnya tiba-tiba saja tidak enak. 


...****************...


"Kamu yakin kalau orang dalam foto ini yang mencelakakan istri saya di sungai waktu itu?" Bintang menunjuk dengan geram wajah pada selembar foto pemberian orang suruhannya yang di minta menyelidiki dalang dari hanyutnya Berlian sekitar satu bulan yang lalu. 


"Saya yakin sekali orang ini pelakunya dan saya tidak mungkin asal menuduh orang" kata orang suruhan itu tanpa ragu sedikit pun. 


"Brengsek!. Ternyata kamu benar-benar cari mati kali ini" geram Bintang di bakar rasa penuh dendam. Foto di tangannya di re mas tak berbentuk. 


...****************...


"Akhirnya aku mendapatkan dokumen rahasia perusahaan Pratama. Dan aku juga berhasil mendapatkan aset kekayaan kelurga yang tak terkira" 


Rangga tersenyum puas. Usahanya membuka paksa brangkas yang terdapat dalam kamar mama Farida tak sia-sia. Dokumen rahasia, uang tunai dalam jumlah besar, juga emas batangan tak ternilai harganya ada di tangannya. 


"Selamat menikmati kesengsaraan kamu Bintang Pratama" tawanya penuh kemenangan. 

__ADS_1


__ADS_2