Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 21. Fakta mengejutkan


__ADS_3

"APA???"


Mata Berlian membesar, air matanya berhenti mengalir begitu mendengar penjelasan Rangga. Rangga yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi Rangga yang dia kenal dulu.


"Begitu mudahnya kamu menukar cinta kita dengan harta. Lalu apa artinya cincin ini" Berlian memperlihatkan kelima jari kirinya.


"Itu hanya cincin biasa. Siapa pun bisa memberikan cincin itu pada siapa saja. Kamu bisa membuangnya jika kamu mau" jawab Rangga enteng tanpa pertimbangan sesal yang akan dia tuai kemudian hari.


"Jadi cincin ini juga tidak artinya buat kamu"


Berlian mencoba tegar dan melepas cincinnya, lalu membuangnya sekuat tenaga kearah telaga.


"Cincin itu sekarang sudah hilang di dasar telaga. Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah mendapatkan cincin itu kembali. Begitu dengan cinta aku. Cinta aku sudah hilang bersama cincin itu" ucap Berlian bersumpah pada dirinya dan dia pun pergi meninggalkan Rangga sendirian.


Rangga terdiam dan terpukul. Ada sesal yang sempat hinggap, tapi ketakutan jatuh miskin lebih menakutkan dari pads kehilangan Berlian.


"Aaaaarrrggghhh....." Rangga berteriak keras meluapkan kegalauan dalam jiwanya saat Berlian pergi dan berlari membawa tangis dan kepedihannya.


...****************...


"Maafin Berlian, kek. Kakek jadi sakit begini karena memikirkan ulah Berlian kemarin. Lian sudah membuat kakek malu. Maafin Lian, kek"


Kata-kata itu terus terlontar dari bibir Berlian sejak beberapa hari ini. Tepatnya saat kakek Dharma terpaksa di larikan ke rumah sakit karena memikirkan pertunangan dia dan Bintang yang gagal berantakan.

__ADS_1


Berlian yang masih terpukul atas kandasnya jalinan kasih dengan Rangga berusaha tetap tegar di depan kakek neneknya.


Berlian tidak mau memperlihatkan kesedihannya karena itu bisa saja memperburuk kondisi kesehatan kakeknya yang sudah berangsur membaik dan besok juga sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.


"Lian, kakek sudah memaafkan kamu. Kakek memang marah dan kecewa sama sikap kamu kemarin. Kamu bukan hanya mempermalukan kakek di hadapan banyak orang. Tapi, kamu juga sudah mempermalukan ibu Farida yang datang baik-baik melamar kamu. Sebenarnya apa yang membuat kamu tiba-tiba saja kabur dan menolak pertunangan itu begitu saja padahal sebelumnya kamu begitu semangat menerima perjodohan tersebut?"


Pernyataan kakek yang melegakan Berlian berakhir dengan pertanyaan yang membuat dia tidak tahu harus menjawab apa. Semua memang salahnya.


Dari awal dia begitu senang karena menganggap Rangga sendirilah yang melamarnya, bukan Bintang. Seharusnya dia meminta penjelasan pasti pada Rangga sebelumnya. Kalau dia lebih teliti dari awal, semua ini takkan terjadi. Hubungannya dengan Rangga mungkin masih bisa di selamatkan. Tapi, apa mau di kata?. Semua sudah terjadi dan bukan waktunya menyesali semua.


"Lian, kamu jangan diam saja!. Jelaskan sama kakek dan nenek, apa yang membuat kamu tiba-tiba menolak pertunangan tersebut, biar kakek dan nenek tahu persoalan sebenarnya" ujar nenek Aminah yang juga ingin tahu apa alasan cucunya yang sebenarnya menolak pertunangan setelah di pertimbangkan dengan matang.


"Kek, nek, maafin Lian... Lian kira waktu itu yang melamar Rangga, bukan Bintang" Berlian akhirnya menjawab dengan jujur sambil menunduk karena tidak berani menatap mata kakeknya.


"Lalu, apa hubungannya Rangga dengan batalnya pertunangan itu?" tanya kakek Dharma tidak paham dengan semua ini.


"Kek, sebenarnya Rangga dan Lian selama ini diam-diam berpacaran tanpa sepengetahuan kakek dan nenek" Berlian tetap menunduk menahan ketakutan di hatinya atas tanggapan kakeknya akan seperti apa.


"APA?" kakek Dharma terkejut dengan penjelasan yang keluar dari mulut cucunya. Kakek Dharma merasa di bohongi oleh cucu yang selalu dia banggakan.


"Maaf kek. Berlian dan Rangga saling mencintai dan terpaksa menyembunyikan hubungan kami karena kami takut kakek akan menentang hubungan kami"


"Jelas kakek menentang hubungan kamu dengan Dia" sela kakek Dharma membentak.

__ADS_1


"Kek, sabar. Ingat pesan dokter, kakek harus bisa menjaga emosi" ujar nenek Aminah mencoba menenangkan emosi suaminya.


"Nenek tidak usah ikut campur. Biar kakek bicara berdua dengan Lian" kakek Dharma tak menggubris peringatan istrinya. Nenek Aminah pun terpaksa diam seperti cucunya.


"Rangga itu tidak lebih dari seorang pengecut. Dia tidak pantas berhubungan dengan kamu. Laki-laki macam apa yang dengan gampang melamar kan gadis yang dia cintai untuk di nikahi oleh laki-laki lain. Akhiri hubungan kamu dengan b*jingan itu atau kamu mau melihat mayat kakek terbujur kaku di hadapan kamu. Lebih baik kakek mati dari pada kakek harus melihat kamu berhubungan dengan laki-laki pengecut yang tidak tahu malu datang menghadap kakek dan berlagak sok tidak kenal kamu" tandas kakek Dharma di liputi marah dan kecewanya mengingat sosok yang berhasil mencuri hati cucunya tanpa sepengetahuannya.


"Kek,tahan emosinya..." tegur nenek Aminah.


"Laki-laki macam apa yang berani menjalin hubungan dengan kamu tapi tidak berani menghadap kakek untuk sekedar memperkenalkan diri pun tidak" kakek Dharma tidak bisa diam dan terus meluapkan kemarahannya. Berlian yang paling takut di marahi oleh kakeknya tak bisa menahan air matanya.


"Lian memang salah, kek. Lian juga sudah mengakhiri hubungan dengan dia" jelas Berlian dengan suara parau karena tangisannya.


"Kamu sudah berani membohongi kakek, kakek tidak tahu apa kakek masih bisa percaya dengan apa yang kamu katakan" kata kakek Dharma dengan suara sedikit melunak dengan nada dan sorot mata yang sama kecewanya.


"Lian, kenapa kamu tidak jujur saja sejak awal soal hubungan kamu dengan dia. Bagaimana kalau ibu Farida tahu alasan sebenarnya kenapa kamu sampai nekat menolak perjodohan Bintang. Ibu Farida sudah sangat baik mau membayar biaya pengobatan kakek kamu selama di rumah sakit tanpa mengungkit masalah pertunangan putranya yang gagal" ungkap nenek Aminah apa adanya.


"Apa nek?. Beliau yang sudah membayar biaya pengobatan kakek?" tanya Berlian tidak percaya.


"Bukan hanya itu,Lian. Sudah saatnya kamu tahu, selama ini ibu Farida yang sudah membiayai pendidikan kamu dari dulu sampai kamu bisa menyelesaikan kuliah kamu dengan baik. Kakek dan nenek tidak mungkin sanggup membiayai pendidikan kamu juga kakak kamu. Semua berkat kebaikan ibu Farida. Meski kamu sudah membuat malu ibu Farida di depan keluarga besarnya, dia tak pernah dendam sama kita dan tidak pernah menuntut agar kamu mau menerima perjodohan itu." urai nenek Aminah memperjelas semua kebaikan ibu Farida selama ini.


"Tidak mungkin"


Berlian menggeleng kuat sambil menutup mulutnya dengan tangan. Berlian tidak bisa percaya begitu saja dengan cerita neneknya. Andai saja itu benar, apa dia sudah tidak tahu malu dan tidak tahu diri membalas kebaikan ibu Farida dengan penolakannya terhadap perjodohan tak terduga dengan Bintang?.

__ADS_1


__ADS_2