
Banyak mata perempuan memandang iri kearah seorang perempuan dengan dress biru dan dandanan sederhana datang kekantor tempat mereka bekerja.
"Eh sus, saingan mu dateng tuh" bisik Siska pada temannya saat mereka melihat Berlian berjalan menuju ruang kerja Bintang.
"Ogah deh... saingan nya berat gitu. Pantesan si bos akhir-akhir ini beda. Noh pawang nya..." kata Susi sambil menggerakkan bola matanya.
Sedangkan Berlian yang tak sadar sedang dibicarakan tetap berjalan menuju ruang kerja Bintang dengan membawa jinjingan berisi makanan kesukaan suaminya.
Langkah Berlian tertahan saat melewati sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka dan Berlian mendengar sepasang suara yang tengah bercanda . Salah satu pemilik suara laki-laki yang sangat di kenal oleh Berlian.
"Rangga ..." gumam Berlian dengan hati mendidih melihat secara langsung kelakuan Rangga yang tengah bermesraan dengan salah seorang karyawati di sana.
Berlian jadi jijik mengingat sosok Rangga yang dulu menurutnya setia,tapi kini berubah 180 derajat dan ini adalah wanita ketiga yang di lihatnya dekat dengan Rangga setelah 2 wanita lainnya.
Berlian tak mau berlama-lama berdiri di depan ruang kerja Rangga karna dia ingin segera menemui suaminya.
...****************...
"Ada keperluan apa kamu menemuiku?" sinis Bintang menyambut kedatangan tamu tak di undangnya.
"Aku kesini hanya mau menyelesaikan masalah antara kita yang sempat menggantung"
"ku rasa aku tidak punya masalah apa pun dengan mu" sela Bintang memotong ucapan Arya.
"Lalu bagaimana dengan Bella?. Apa kamu tidak ingin tahu tentang kabar dia?. Apa kamu sudah melupakan persoalan pengkhianatan dia?" cecar arya mengungkit masa lalu yang sudah lama di kubur Bintang.
"Jangan pernah menyebut nama perempuan itu di hadapanku" geram Bintang sebab mendengar Arya menyebut nama Bella, membuat luka hatinya kembali tersibak setelah dia berhasil mengubur dalam kenangannya bersama Bella.
__ADS_1
"Kenapa?" sengit Arya.
"Apa kamu masih mencintai dia?" tanyanya menyudutkan Bintang.
"Ingat, kamu sudah menikahi adikku dan aku tidak akan tinggal diam kalau kamu berani menyakitinya. Aku akan mengambil Berlian dari kamu selamanya dan membawanya pergi sejauh mungkin dari kamu"
Bintang terhenyak dan langsung mencengkram kerah Arya dan menariknya berdiri.
"Tidak ada siapa pun yang bisa mengambil Berlian dariku, termasuk kamu kakaknya sendiri" geramnya berapi-api.
"Kamu sudah mengambil Bella dari kehidupanku dan aku sudah melupakan itu. Sekarang kamu mau mengambil Berlian begitu saja dariku, aku bisa pastikan kamu tidak akan hidup tenang jika kamu berani memisahkan ku darinya. Aku tidak peduli kamu kakaknya atau bukan"
"Bella sudah pergi dan memutuskan menyudahi hubungan kami setelah kamu mengetahui perselingkuhan dia dengan ku. Sewaktu-waktu dia bisa kembali dan ingin kembali bersama kamu?. Apa yang akan kamu lakukan jika itu terjadi?" Arya mencoba menguji Bintang.
"Aku ga peduli dia mau kembali atau dia mau lenyap sekalipun aku tidak akan pernah peduli" sentak Bintang.
"Atau kamu justru mau mengubur aku hidup-hidup jika aku berhasil mendapatkan bella kembali?" senyum Arya sinis.
"Jadi ini inti permasalahan kalian selama ini?" Berlian yang tadinya hanya mendengar pertengkaran kakak dan suaminya tiba-tiba menerobos masuk.
"Lian" kedua pemuda itu serentak menoleh kearah pintu.
Bintang spontan melepas cengkeramannya terhadap arya dan berjalan menghampiri istrinya.
"Siapa Bella?. Dia pasti wanita yang sepadan yang pantas mendampingi kamu di banding aku?" tanya Berlian terbata dengan sorot mata menahan sebuah kesakitan yang menyergap hatinya mengetahui Bintang yang dingin memiliki cinta untuk wanita lain sebelum dia dan mungkin cinta itu masih mendalam hingga Bintang kerap menyakitinya dengan ucapan, sikap angkuh juga arogannya.
"Bella bukan siapa-siapa aku" jawabnya sambil bergerak hendak memeluk Berlian.
__ADS_1
"Dia bukan siapa-siapa aku" ulangnya lagi dan berharap Berlian bisa percaya dengan apa yang dia katakan.
Berlian mencoba menjauhkan pikiran buruk dari otaknya dan mencerna kata-kata suaminya. Namun, nalarnya begitu sulit menerima penjelasan Bintang. Bayang-bayang bagaimana beringasnya Bintang menghajar kakaknya waktu pertama kali bertemu dengan dia menjadi keraguan tersendiri baginya. Tidak mungkin seorang Bintang yang angkuh mau mengotori tangannya tanpa ada dorongan kuat dalam dirinya untuk memukuli kakaknya dan dorongan itu pasti berupa rasa cinta yang mendalam pada bella dan ketidakrelaan Bintang wanita yang di cintai nya di ambil oleh laki-laki lain. Ketidakrelaan Bintang berubah benci dan dendam pada kakak kandungnya. Membayangkan itu hatinya seakan terkoyak perih.
"Sekarang aku tahu kenapa kamu begitu membenci kakakku bahkan ingin menghabisinya. Semua tak lepas dari sosok wanita bernama Bella. Sampai hari ini kamu masih mencintai dia. Bentuk kebencian kamu terhadap kakakku hanya sebentuk cinta yang masih tumbuh untuk Bella makanya kamu begitu arogan dan angkuh, bukan hanya pada kakak aku tapi juga pada istrimu sendiri"
Pelukan Bintang sontak terlepas dengan sorot mata tidak percaya Berlian bisa menghakimi masa lalunya seperti ini. Baru tadi pagi mereka mengungkapkan harapan suci mereka agar bisa bersama selamanya dan siang ini Bintang di buat terhempas dengan sudut pandang Berlian yang menohok hatinya. Keseriusannya menempatkan Berlian sebagai wanita teristimewa seumur hidupnya tidak di barengi dengan kepekaan akan perasaanya.
"Apa yang kamu dengar tidak bisa jadi acuan apa pun untuk menilai aku sekejam ini. Apa aku benar-benar sejahat itu di mata kamu?. Apa ada yang salah dengan masa lalu aku?"
"Aku yang tidak mengerti kamu, Bin. Kamu terkadang begitu lembut dan manis yang bisa membuat aku merasa sangat begitu berharga di mata kamu tapi kadang kamu sinis dan angkuh seolah kamu tidak membutuhkan siapa pun dalam hidup kamu, termasuk aku" Berlian menekan nada suaranya selembut mungkin sebagai bentuk kekecewaan bukan kemarahan.
"Mungkin kamu seperti ini karna kamu sangat mencintai Bella" ucap Berlian mengakhiri pendapatnya.
Bintang makin terhenyak karna anggapan Berlian terhadap perasaannya tidak terjamah oleh akal sehatnya.
"Kamu tidak akan pernah mengerti aku, tidak akan pernah... karna aku tidak punya penjelasan manis yang bisa kamu pahami dengan nalar kamu. Bagaimana perasaan aku pada Bella waktu dulu hanya aku yang tahu. Dan bagaimana perasaan aku ke dia kini, kamu pasti mengartikan semua dengan bijak" kata Bintang dengan suara bergetar menahan gemuruh yang membuncah dalam dirinya.
"aku harus pergi, ada pertemuan penting yang harus aku hadiri"
"Dan itu lebih penting dari sekedar ketegasan kamu terhadap perasaan kamu ke Bella" potong Berlian.
"Cukup ini yg terakhir kamu menyebut nama itu di depanku" bentak Bintang sebab dia mulai jengah masalah yang tak juga selesai.
"Aku pergi"
Bintang keluar dari ruangannya dengan cepat, dia tak sanggup berlama-lama berdebat dengan istrinya karna dia tak mau menyakiti berlian dengan sikapnya yang tidak bisa di mengerti oleh siapa pun.
__ADS_1
"Kak,apa ini tandanya Bintang masih sangat mencintai Bella?" Berlian menatap sendu kakaknya yang dari tadi diam dan tak mau ikut campur urusan rumah tangga adiknya.
"Bella pasti wanita yang sangat luar biasa bisa membuat 2 laki-laki keras tergila-gila memperebutkan dia" dada Berlian sesak mengimajinasikan bagaimana sempurnanya Bella di banding dirinya.