
Rasa iri yang dulu pernah di rasakan oleh Berlian ketika pertama kali memeriksakan diri ke dokter kandungan tanpa di temani oleh suami ,kini hilang dan berganti rasa bangga. Sebab sekarang di sampingnya ada Bintang yang setia mendampingi dan menggandeng tangannya.
Menuju ruang Dokter, Berlian bertemu dengan teman semasa SMA nya yang ternyata sedang memeriksakan kondisi buah hatinya yang berumur dua tahun. Berlian tak lupa mengenalkan Bintang kepada Selin, teman lamanya.
Berhubung Selin datangnya sendirian dan dia buru-buru mau ke toilet, Selin terpaksa meminta bantuan Berlian menjaga putrinya sebentar. Berlian dengan senang hati membantu menjaga Alika, nama putri kandungnya Selin.
Di tinggal ibunya dan tak biasa dengan orang asing, Alika merengek. Berlian sedikit kewalahan mendiamkan malaikat kecil menggemaskan itu. Naluri keibuannya seolah terasah kian keluar.
"Alika cantik ya, sayang" Berlian meminta pendapat suaminya yang dari diam saja.
Alika kembali merengek dan mengulurkan tangan mau menyentuh wajah Bintang. Tahu saja sama cowok ganteng hehe.
Berlian segera mengambil boneka beruang berwarna pooh dalam kereta bayi milik Alika.
Wajah Bintang sontak memucat melihat boneka yang di pegang Berlian. Boneka tersebut sama persis dengan boneka kesayangan Bulan dan saat meninggal pun dalam keadaan memeluk boneka itu.
"Li...lian, tolong jauhkan anak itu dariku. Ja... Jangan sampai dia memegang apalagi sampai menyentuh aku. Bawa anak itu pergi jauh dariku dan jangan sampai aku melihatnya lagi. A...... Aku ga tahan mendengar rengekannya" pinta Bintang dengan bicara terbata-bata.
__ADS_1
"Bin, kamu kenapa?" tangan Alika terulur mau menggapai wajah Bintang saat Berlian bertanya.
"Aku bilang jauhkan anak itu dariku" bentak Bintang.
Alika kaget dan langsung menangis. Bintang buru-buru pergi. Berlian bingung harus berbuat apa, untung Selin datang tepat waktu. Berlian pun pamit dan menyusul Bintang.
...****************...
Bintang terduduk lemas di bangku taman rumah sakit. Tatapannya nanar di tambah penyesalan karna dia baru saja membentak anak kecil tanpa dosa.
"Bintang..." panggilan dan sentuhan lembut di pundaknya menyadarkannya.
"Kamu teringat Bulan lagi?" Berlian yang kini duduk di sebelah suaminya memainkan ikatan batinnya sebagai istri.
Bintang mengangguk lemah. Berlian menarik nafas berat.
"Sayang, sebaiknya kamu tunggu aku di mobil. Biar aku sendiri yang menemui dokter"
__ADS_1
"Yank, kamu pasti sangat marah karna ulah aku tadi makanya kamu menyuruh aku pergi. Kamu ngga mau aku temani"
"Enggak sayang, aku ngga marah sama kamu" potong Berlian sambil memegang muka suaminya dan memandangnya sayang.
"Aku mengerti, ga mudah untuk kamu bisa menghapus secara total tentang kejadian buruk itu. Dan, aku tahu kamu sangat berusaha keras melawan rasa trauma mu. Saat ini kamu sudah mulai bangkit. " Ucap Berlian sambil menggenggam erat memberi kekuatan kepada Bintang.
"Kamu sudah menerima dengan terbuka kehamilanku dan kamu memperlakukan aku secara istimewa yang ga pernah aku duga sebelumya."
"Perubahan yang kamu tunjukan sudah membuat aku yakin kalau kamu bisa lebih dari ini. Tapi semua tak bisa di paksakan secara bersamaan karna yang ada kamu akan sangat sulit keluar dari rasa trauma kamu" tutur Berlian penuh pengertian.
"Sebaiknya kamu tunggu aku di mobil dan tenangkan pikiran kamu"
"Lian...Maafkan aku. Ta... tapi aku mau ikut ke dalam saja"
"kamu yakin?" tanya Berlian.
"iya..." Jawab Bintang pasti. Bintang tak mau melewatkan masa-masa seperti ini. Dengan begitu dia berusaha melawan rasa trauma nya itu.
__ADS_1
Berlian membalas nya dengan tersenyum bahagia. akhirnya mereka pun masuk kembali, berjalan berpegangan tangan menuju ruangan dokter.
Mereka akan sama-sama melihat sejauh mana perkembangan buah cinta mereka lewat layar USG juga keterangan lengkap dan terperinci dari dokter yang bersangkutan.