
"Bintang..." teriak Berlian. Cincin yang di dapatnya segera di pasangkan kembali sebelum Bintang mengambilnya kembali.
"Serahkan cincin itu" ujar bintang tak surut arogannya.
"Nih..." Berlian menyiprat kan air telaga yang dingin ke arah Bintang.
"Hentikan" Bintang berusaha melindungi wajahnya dengan telapak tangannya.
"Minum nih air telaga " Berlian makin semangat menyibak air dengan tangannya.
"Kamu pikir hanya kamu yang bisa"
Bintang tidak mau tinggal diam. Bintang ikut menyiram Berlian dengan air telaga. Keduanya pun sibuk main siram-siraman di iringi gelak tawa yang keluar begitu saja.
Berlian berusaha berenang ketengah menghindari siraman dari Bintang yang datang bertubi-tubi.
Bintang diam di tempat tak berani mengejar Berlian. Ada ketakutan yang tiba-tiba menghantuinya.
"Heh... cowok angkuh, kenapa diam?. Takut sama air ya?" ledek Berlian.
"Siapa bilang aku takut?" sahut Bintang.
"Atau jangan-jangan kamu tidak bisa berenang ya?.Body boleh macho tapi ngga bisa berenang , payah "
Bintang tak terima, dia memberanikan diri berjalan ketengah. Saat air mulai menutupi bagaian dadanya, ketakutan itu muncul lagi. Bayangan hitam melumpuhkan semua sendi pergerakan Bintang. Tubuh pemuda bermata coklat itu tak lagi seimbang dan badannya mulai timbul tenggelam di dasar telaga.
"Tolong..." teriaknya.
"Hei, kamu tidak perlu mengerjai aku. Itu pasti hanya akal-akalan kamu untuk menjebakku" seru Berlian dari tengah telaga.
"Tolong..." teriak Bintang yang terakhir kali karena tubuhnya sudah tak berdaya dan akhirnya tenggelam.
"Bintang..." Berlian panik dan langsung menyelam menolong Bintang.
Berlian menyelam ke dasar telaga dan menemukan Bintang dalam keadaan pingsan. Berlian segera naik kepermukaan dengan menarik tubuh Bintang hingga ke tepian telaga.
"Bintang... Hei... buka mata kamu" Berlian menepuk-nepuk pipi bintang berkali-kali namun tidak ada respon. Bintang tetap diam tak berkutik.
__ADS_1
Berlian kemudian menekan dada Bintang yang pingsan, tapi belum ada respon.
"Bin, kamu jangan becanda, buka mata kamu" ujar Berlian sambil kembali menepuk-nepuk pipi lelaki itu.
"Ya Allah,apa yang harus aku lakukan" ucapnya.
Demi alasan kemanusiaan, Berlian tidak punya pilihan lain selain memberi bantuan berupa nafas buatan.
"Rangga, maafkan aku" gumamnya merasa bersalah saat mau memberi nafas buatan untuk Bintang.
Dengan terpaksa dan berat hati Berlian harus merasakan bagaimana bibirnya bertemu dengan bibir Bintang. Satu hingga tiga kali pemberian nafas buatan, Bintang belum juga ada respon. Dan untuk ke empat kalinya Berlian harus berjuang dengan sekuat tenaga menolong Bintang.
Saat itu mata Bintang mulai terbuka perlahan karena merasa ada yang hangat menempel di bibirnya. Bintang diam sejenak melawan desiran hangat di hatinya.
Mata Berlian melotot kala melihat Bintang sudah membuka mata. Dia pun spontan menyudahi bantuannya dengan wajah merah padam menahan malu dan amarah.
"Dasar cowok genit. Kamu pasti sengaja kan pura-pura pingsan agar aku mau memberi nafas buatan" sambar berlian sambil memukul kesal dada Bintang.
"uhuk...uhuk... Sudah, hentikan" Bintang yang kewalahan menghadapi serangan Berlian, terbatuk-batuk sambil mencoba memegang tangan gadis itu hingga Berlian terdiam.
"Huaaa..." Berlian menggosok bibirnya berkali-kali dengan gaya jijiknya setelah diam mengamati wajah Bintang.
"Berarti kamu tadi... hoekkkk..." Bintang muntah-muntah tak jelas di depan Berlian.
"Bibir kamu pasti banyak virusnya membuatku mau muntah" lanjutnya.
"Heh.. cowok songong" Berlian mendorong kasar bahu cowok angkuh tersebut.
"Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku karena aku sudah berbaik hati menolong kamu. Kalau aku tahu kejadiannya bakal begini, lebih baik kamu aku biarkan mati tenggelam di dasar telaga" cerca Berlian sakit hati.
"Tenggelam" gumam Bintang mengingat sesuatu kejadian yang menakutkan waktu kecilnya dulu.
"Jadi, Berlian benar-benar menolongku, bukan mencuri kesempatan seperti yang aku tuduhkan" kecamuk Bintang dalam hati.
"Terima kasih karena kamu sudah menolongku" kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Bintang.
Berlian cukup kaget cowok angkuh seperti Bintang bisa mengucapkan kata terimakasih seperti itu. Tapi dia sudah terlanjur sakit hati dengan penghinaan yang bertubi-tubi di layangkan oleh Bintang untuknya.
__ADS_1
"Basi...." dengus Berlian tak peduli.
Berlian bergegas pergi dengan menaiki sepedanya. Bintang hanya diam di tempat dengan senyum tipis mengulas dari sudut bibirnya ketika merasakan ada kehangatan yang singgah di bibirnya.
...****************...
Rangga diam-diam sudah pulang siang itu.;Setelah istirahat sejenak, Rangga berniat menyampaikan keinginannya untuk meminta mama Farida melamarkan Berlian untuk menjadi calon istrinya. Tapi, yang dia dapat justru sebuah pernyataan yang mengejutkan dari mama Farida sebelum Rangga menyampaikan niatnya.
"Kenapa harus Berlian yang di jodohkan dengan Bintang. Kenapa?" gerutu Rangga setelah dia memasuki kamar pribadinya . Dunianya jadi tak seimbang dan mau hancur mengingat gadis pujaannya akan dipersunting oleh sepupunya.
"Tidak, mama tidak boleh tahu kalau Berlian itu pacarku. Bisa-bisa Mama membuang aku kembali ke jalanan. Aku tidak mau kehilangan semua kemewahan yang sudah mama berikan padaku. Sebelum aku mendapatkan apa yang ku mau. Aku tidak mau hidup miskin" batin Rangga berkecamuk antara melepaskan Berlian atau mempertahankan dia mengingat dirinya adalah anak angkat dari almarhum kakaknya mama farida. Rangga terlalu mencintai kemewahan yang dia dapatkan.
"Aku harus membantu mama menjodohkan Bintang dengan Berlian. Aku yakin mama semakin mempercayai aku dan tanpa ragu akan memberikan aku posisi strategis di kerajaan bisnis milik keluarganya" ujar Rangga di buta kan oleh harta.
Setelah yakin dengan keputusan yang dia ambil, malam harinya Rangga mengatakan siap untuk membantu mama Farida.
"Jadi kamu bersedia membantu mama menyatukan Berlian dengan Bintang?"
"Iya Ma. Rangga akan pastikan kalau Bintang akan menerima perjodohan ini" tandasnya.
"Perjodohan siapa?" suara lantang menggema di seisi rumah.
"Bintang..." seru Rangga dan mama Farida terkejut.
"Ma, sudah berapa kali aku bilang, aku tidak mau di jodohkan dengan wanita manapun. Lebih baik Bintang hidup membujang seumur hidup dari pada Bintang harus berurusan dengan perempuan-perempuan munafik yang hanya memanfaatkan kekayaan kita." tekan Bintang terbawa emosi dengan rencana mamanya yang tetap nekad mau menjodohkan dia entah dengan gadis yang mana.
"Nak kamu dengerin mama, mama menjodohkan kamu bukan dengan wanita asal-asalan. Mama tidak mungkin menjerumuskan kamu dengan wanita yang tidak baik" mama Farida berusaha meluluhkan hati anaknya.
"pokoknya tidak ada istilah pernikahan "ujar Bintang berapi-rapi.
"Jangan pernah berkata seperti itu, nak. Mama mohon, kamu mau menikah dengan gadis pilihan mama" mama farida menangis dan berlutut di hadapan putranya.
"ma, berdiri ma..." Rangga berusaha menarik bahu mamanya.
"Biarkan mama, Rangga . Mama tidak mau berdiri sebelum Bintang bersedia menerima perjodohan ini."
Bintang diam tak bergeming. Tiada usaha atau kata-kata yang dia lontarkan untuk menenangkan hati ibu kandungnya.
__ADS_1
"Bintang, kamu kenapa diam?. Apa kamu tidak bisa membuang sikap arogansi kamu demi mama?. Apa sikap angkuh kamu juga di tujukan untuk mama yang sudah melahirkan kamu. Mama sudah banyak berkorban untuk kamu dan mama sudah mentoleransi hubungan kamu dengan Bella?. Apa kamu tidak bisa sedikit saja mengalah demi mama kamu sendiri, bukan orang lain" cerca Rangga yang tidak tega melihat mama Farida merendahkan diri demi anaknya karena Rangga juga sangat menyayangi mama Farida.
"Baiklah kalau itu mau mama" Bintang dengan berat hati menyetujui kemauan mamanya setelah mendengar cercaan Rangga yang menghantam nalurinya sebagai anak. Bagaimana pun juga dia sangat menyayangi mamanya dan dia tak sanggup melihat mamanya menangis.