
"Kamu ngga perlu menghambur-hambur uang untuk membelikan ku makan siang. Aku bisa beli sendiri kalau aku mau tanpa meminta sama kamu" tolak Berlian terang-terangan.
"Aku tahu sampai hari ini kamu belum bisa memaafkan ku. Aku mohon, beri aku kesempatan menebus semua kesalahan ku. Beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku bisa berubah menjadi yang kamu inginkan" nada suara Bintang lembut menyentuh dengan sorot mata teduh dan tangannya berusaha menggenggam tangan Berlian.
"Lebih baik kamu pulang dan bawa kembali makanan yang kamu bawa. Aku ngga butuh belas kasihan darimu" ucap Berlian tak terbuai dengan perhatian Bintang.
"Lian, tolong jangan menilai buruk setiap perhatianku. Aku sengaja membawakanmu makan siang karna aku cuma mau memastikan kalau kamu ngga melewatkan nya. Aku ngga mau kamu sampai kenapa-kenapa"
"Aku sudah makan siang kok. Kamu ngga perlu repot-repot memperhatikan ku"
"Kapan?"sambar Bintang.
"Barusan... sama ini"
Berlian memperlihatkan sepiring gorengan lengkap dengan cabe rawit. Berlian mengambil sebuah bakwan dan mengunyahnya bersamaan dengan cabe rawit . Bintang sontak kaget melihat bagaimana santainya Berlian mengunyah cabe rawit mentah yang menurutnya ga sehat dan pasti rasanya pedas.
Bintang cepat merebut sepiring gorengan berisi bakwan, tahu isi risol, sebelum Berlian mau mengambil salah satu isi piring tersebut.
"kamu apa-apaan sih, balikin gorengan ku" Berlian tak terima dan berusaha berdiri mau merebut kembali makan siangnya.
"Makanan ini nggak baik buat kesehatan mu. Bayangin aja, kamu makan satu gorengan bersamaan dengan 3 cabe rawit. Kamu bisa sakit nanti"
"Aku sudah terbiasa makan gorengan ini dari dulu pakai cabe rawit, ngga ada masalah dengan kesehatan ku. Bahkan sebelum kamu datang aku sudah menghabiskan 6 cabe rawit. Kamu ngga perlu sok tahu dengan keadaan ku. Lagi pula apa peduli mu kalau aku sakit?" sambar Berlian.
"Jelas aku peduli kesehatan dan kebahagiaan mu itu tanggung jawab ku" jawaban itu meluncur begitu saja dari mulut Bintang.
Berlian terdiam dan tak percaya kalau orang yang baru saja mengeluarkan kalimat itu adalah Bintang. Benarkah dia begitu pentingnya untuk Bintang?
"Dari pada kamu yang makan gorengan ini , biar aku yang habisin gorengan semua ini"
Bintang tidak main-main dengan ucapannya. Dalam sekejap dia melahap gorengan yang tersisa, tak lupa dengan cabe rawitnya.
"kamu.....!!!"
Berlian tersadar dan terkejut melihat bagaimana Bintang nekat menghabiskan gorengan tersebut.
__ADS_1
"Kamu jangan gila. Kamu bisa sakit kalau makan gorengan sama cabe rawit sebanyak itu. Kamu sama sekali belum terbiasa makan makanan beginian"
Berlian yang panik berusaha mencegah Bintang memakan gorengan itu.
"Siapa bilang aku ngga terbiasa makan gorengan."
Bintang tak bisa di cegah dan tertantang dengan ucapan Berlian dan terus melahap bakwan bersama cabe rawit hijau hingga tak tersisa sedikitpun.
"Bin, kamu baik-baik saja kan?" cemas Berlian melihat Bintang yang terdiam dengan muka merah bagai kepiting rebus.
"Bintang..." Berlian menepuk pelan bahu Bintang.
"A..a..aku baik saja" Bintang tergagap menahan panas di lidahnya.
"Huaaa... pedaaaaasss..." Bintang melonjak sambil mengibas-ngibas mulutnya. Pertahanannya agar terlihat kuat justru di kalahkan oleh 4 biji cabe rawit yang di makannya bersamaan dengan gorengan.
"kamu minum dulu, biar pedasnya hilang"
Berlian dengan cepat menyodorkan segelas air putih yang langsung di teguk habis oleh Bintang. Tak cukup satu gelas, Bintang menghabiskan setidaknya 3 gelas air putih menghilangkan rasa pedas yang mendera lidahnya.
"Salah ya, kalau aku mencoba masuk ke dunia mu. Merasakan semua yang kamu rasakan. Mengetahui sesuatu yang tidak pernah aku ketahui. Aku ingin lebih banyak mengenal apa pun menggunakan hati seperti mu. Dari kamu aku banyak belajar kekurangan dan kebodohan aku yang selalu menganggap remeh kebaikan dan ketulusan mu"
Gelas di tangan Berlian hampir saja jatuh kalau dia tak sigap menjaga hatinya dari pengaruh kalimat Bintang yang penuh makna dan tutur katanya pun lembut, jauh dari tutur kata Bintang yang selama ini kasar dan arogan.
"Bin aku harus kembali bekerja, kamu juga harus kembali kekantor. Jangan mentang-mentang kamu seorang atasan, kamu bisa dengan begitu mudahnya melalaikan tugas mu. Sebaiknya kamu pergi dari sini"
Berlian kembali duduk di kursinya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Baiklah, aku pergi sekarang"
Bintang memang kecewa karna di usir oleh Berlian. Tapi,dia juga tak mau mengundang penilaian buruk Berlian terhadap dirinya.
"Bintang, tunggu"
Berlian bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Bintang. Kemudian dia meraih tangannya dan menciumnya. Bintang dengan cepat membalas mengecup kening Berlian, lalu memeluk erat tubuh mungil di hadapannya. Mencium ubun-ubun nya berkali-kali.
__ADS_1
"Bin, kamu pergi sekarang"
Berlian tak tahan lama-lama dalam pelukan suaminya yang terasa hangat dan mendebarkan.
Dengan memeluknya, itu sudah cukup membuat Bintang merasa tenang dan bisa pergi dengan semangat baru yang menggebu.
...****************...
Malam harinya Berlian tidak bisa tidur dengan tenang. Melihat Bintang bolak balik ke kamar mandi akibat diare yang menderanya. Semua karna ulah dia sendiri yang ngotot makan gorengan pakai cabe rawit.
"Perut kamu masih mulas?" Berlian yang dari tadi berdiri menunggui suaminya mencoba membantunya berjalan. Segala kecewa dan sakit hatinya coba di buang demi mengutamakan kesehatan Bintang.
Berlian memapah dan merebahkan tubuh Bintang di atas tempat tidur.
"Kamu minum obatnya, biar diare kamu berhenti"
Dengan penuh perhatian, Berlian membantu Bintang meminum obatnya.
"Makasih..." kata Bintang lemah.
Berlian tak menyahut, dia hanya diam dan dengan lembut menghapus keringat dingin yang membasahi dahi dan wajah Bintang yang memucat.
Senyum tipis menghiasi bibir Bintang. Sesal dan bahagia menyatu dalam relungnya. Sikap perhatian Berlian yang nyata dan tulus tak layak untuk di ragukan lagi.
"Lian, aku...."
"Kamu tidur. Keadaan mu sangat lemah dan butuh istirahat"
Berlian memotong perkataan Bintang yang ingin meminta maaf untuk kesekian kalinya.
Rasanya ingin sekali Bintang memeluk wanita dihadapan nya itu dan mencurahkan semua isi hatinya. Apa kan daya, sorot mata Berlian yang lembut lebih ampuh meninabobokan matanya yang mulai terasa ngantuk akibat tubuhnya yang lemah di banding reaksi obat yang baru saja dia minum.
"Bin, jujur aku sebenarnya tidak mau marah pada mu. Tapi, kamu sudah sangat keterlaluan. Aku hanya ingin kamu menjadi orang yang lebih baik dan lembut karna aku tahu kamu yang sebenarnya pasti seperti itu. Kamu orang yang baik. Kamu tidak seburuk yang ku katakan kemarin. Aku hanya ingin melihat kesungguhan mu. Apa aku benar-benar berarti buat kamu?. Apa pernikahan kita benar-benar bermakna buat mu?. Aku ingin kita sama-sama berjuang mempertahankan rumah tangga kita selamanya" bisik Berlian tak pernah jemu dan bosan memperhatikan, membelai wajah tampan Bintang.
"Aku sayang sama kamu" Berlian mengakhiri perhatiannya dengan mengecup kening suaminya sebelum dia sendiri beranjak tidur.
__ADS_1