
"Bintang!"
Nama itu terucap indah dari bibir berlian begitu sebuket mawar putih nampak di depan matanya yang di berikan dari balik punggungnya. Kesibukannya membuat susu hangat juga bubur untuk mertuanya di hentikan begitu saja.
"Kamu!!!" dengus Berlian. Matanya yang tadinya berbinar penuh sinar berubah geram begitu berbalik dan melihat langsung siapa yang memberikan bunga mawar putih tersebut.
"Ini buat kamu sebagai tanda permintaan maaf dariku karna kemarin aku hampir saja mencelakai kamu" senyum si pemberi bunga berlagak menyesali perbuatannya.
"aku ngga butuh bunga ataupun permintaan maaf darimu karna aku tahu, kamu pasti sengaja mau mencelakai ku" tolak berlian mentah-mentah.
"Lian, kemarin aku benar-benar ngga sengaja mendorong kamu sampai jatuh dan hanyut di sungai" jelas laki-laki itu.
"Kalau kamu memang ga sengaja, kenapa kamu bukannya menolongku?. Kenapa kamu justru pergi dan membiarkan aku hanyut?. Kamu pasti sangat berharap aku mati agar rasa sakit hati mu terbalaskan" cerca Berlian bertubi-tubi yang sempat membuat Rangga tersudut mencari pembelaan lainnya.
"waktu itu aku sangat panik dan bingung harus berbuat apa. Aku khilaf, lian. Aku mohon maafkan aku dan terima bunga ini" Rangga memelas dan tetap ingin memberikan bunga mawar putih itu ke tangan Berlian.
"Oke, bunga ini aku terima"
Senyum Rangga pun langsung merekah melihat bunga pemberiannya di terima baik oleh Berlian.
"Tapi untuk di buang...."
Keadaan berbalik, senyuman di bibir Rangga menghilang berganti gertakan rahang begitu bunga pemberiannya di buang dengan enteng ke tong sampah oleh Berlian.
"Bunga kamu sudah berada pada tempatnya. Jadi aku minta kamu pergi dari sini dan jangan pernah coba-coba mendekati ku"
"Kamu beruntung aku ngga ceritain kejadian sebenarnya pada Bintang karna aku masih mau memberi kesempatan pada mu untuk berubah lebih baik lagi. Laki-laki yang bisa menerima kenyataan. Laki-laki yang bisa bangkit dari keterpurukan dan belajar dari segala kesalahannya. Kamu sudah mengambil keputusan melepaskan aku, harusnya kamu bisa mempertanggung jawabkan keputusan itu untuk diri sendiri" Berlian berusaha sabar dan menahan emosinya saat memberi penjelasan juga pengertian agar Rangga bisa membuka mata dan hatinya.
"Seharusnya yang aku dorong ke sungai itu adalah Bintang. Bintang yang seharusnya hanyut dan aku yakin dia akan mati sia-sia di makan buaya" geram Rangga.
Berlian terperanjat dan tak terima Rangga melibatkan bintang terlalu jauh dalam pusaran konflik masa lalunya.
"Jangan pernah coba-coba mencelakai Bintang"
"Kenapa ngga?" tantang Rangga dengan sorot mata dendam yang membuat Berlian benar-benar ketakutan kalau Rangga mempunyai niat buruk mencelakai suaminya.
"Karna aku sangat mencintai bintang dan aku ngga akan pernah memaafkan mu jika kamu berani melukai laki-laki yang aku cintai" jawab Berlian tanpa ragu mengikuti kata hatinya.
"ga mungkin kamu mencintai bintang" sergah Rangga membentak dan tak mau mempercayai apa yang keluar dari mulut Berlian.
"Cinta kamu hanya untukku dan kamu hanya milik ku" Rangga mencengkram kuat pundak berlian dengan di bakar ambisinya.
"Rangga, lepas..."
Berlian meronta dan mendorong tubuh Rangga sekuat tenaga.
"Awwww..." Berlian tiba-tiba berteriak begitu cengkraman Rangga terlepas dan tubuhnya sendiri terdorong kebelakang dan tanpa sengaja tangan kanannya menyenggol gelas yang sudah diisi air panas dan tumpah menyirami jari-jarinya.
"Lian ?" Rangga coba mendekat dan melihat langsung keadaan tangan berlian.
__ADS_1
Berlian coba mengelak, tapi Rangga dengan cepat meraih dan menggenggam tangannya. Reflek, Berlian berusaha menarik tangannya .Namun sepasang mata sudah lebih dulu melihat Rangga memegang tangannya sebelu berlian sempat melepaskan tangannya.
"Apa yang kalian lakukan berduaan di dapur seperti ini?" tegur pemilik suara lantang dengan sorot mata tajam mencurigai gerak-gerik kedua nya. Hatinya pun bergejolak tak terima ada laki-laki lain yang dengan lancang memegang tangan perempuan yang merupakan belahan jiwanya.
"bin, kamu jangan salah paham" berlian menarik tangannya dan berjalan menghampiri suaminya.
"Kamu bilang kamu mau membuat susu juga bubur mama, tapi kamu malah berduaan dengan dia" protes bintang tak bisa menyembunyikan kecemburuannya.
"Kamu jangan salah paham dulu. Tangan aku ga sengaja tersiram air panas. Rangga hanya mau meno..."
"Lalu tangan kamu sekarang gimana?. Sini aku lihat..."
Penjelasan Berlian terpotong begitu bintang yang panik lalu meniupnya dengan lembut.
"Kamu lain kali hati-hati. Lihat sendiri tangan kamu jadi merah begini." omel Bintang sambil tetap meniup tangan istrinya, kemudian bergegas mencari kotak P3K yang letaknya tak jauh dari dapur dan mengambil cream untuk mendinginkan luka bakar dan mengolesinya ke tangan berlian yang merah.
Berlian tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya atas perhatian yang di tunjukkan secara nyata oleh Bintang. Tiupan juga perhatian dari Bintang lebih mujarab menghilangkan rasa perih di tangannya.
"terima kasih..." ucap Berlian yang di barengi dengan mengecup lembut pipi Bintang yang masih menunduk mengolesi cream di tangannya.
Sesaat Bintang membiarkan diri tenggelam menikmati sentuhan hangat bibir berlian yang menempel ketat mencium pipinya.
Rangga hanya bisa membisu dan mengatup rahangnya geram menyaksikan kemesraan berlian dan bintang di depan matanya.
"Aku minta maaf soal yang tadi. Semua ngga seperti yang kamu lihat" kata Berlian.
Bintang tersenyum dan mengangguk. Tangan juga tak mau diam memegang lembut wajah istrinya yang tampak begitu menyesal atas kejadian tak di duga tadi.
"Aku mau mengambil susu sama bubur buat mama yang sudah aku siapkan"
"Tangan kamu baru di obati. Kamu bisa minta bibi untuk membereskan pekerjaan dan biar bibi saja yang membawa susu dan bubur itu ke kamar mama." larang Bintang cepat.
"Tangan aku sudah nggak sakit lagi. Kan sudah di obati sama kamu" senyum berlian mekar meyakinkan suaminya. Jika sudah demikian, bintang terpaksa mengalah.
"Dasar keras kepala. Sudah kamu bawa susu dan buburnya sana"
Berlian dengan senang hati membawa susu juga bubur yang di masak khusus untuk mertuanya yang lagi sakit.
"Kamu mau kemana?"
Ketika berlian sudah hilang dari pandangan, Bintang dengan cepat mendorong dan mengunci pergerakan Rangga yang mau melangkah hingga Rangga tersandar pada dinding dapur.
"Kamu pikir kamu bisa lolos begitu saja setelah apa yang kamu lakukan terhadap berlian waktu di rumah sakit dan sekarang kamu mau coba-coba mendekati Berlian. Kalau aku gak ingat pada mama yang begitu menyayangi mu, aku sudah habisi kamu dari dulu" kecam bintang.
"Silahkan..." tantang Rangga tak ada takutnya.
"Kamu mau menghabisi aku seperti apa?. Apa kamu mau menghabisi aku seperti kamu menghabisi adik mu, Bulan?. Atau kamu menghabisi aku seperti kamu menghabisi ayah tiri mu?"
Cengkraman tangan Bintang terlepas tanpa tenaga. Apa yang di katakan Rangga melumpuhkan kekuatannya tanpa sisa. Bayang-bayang kelam masa lalunya langsung melintas dan menghantuinya.
"aku bukan pembunuh. Bukan..." bantah bintang dengan wajah pucat.
__ADS_1
"Kamu seorang pembunuh. Kamu sudah membunuh bulan dan kamu juga sudah membunuh om reza. Berlian akan sangat membencimu dan dia ga akan pernah sudi mempunyai suami pembunuh seperti mu. Berlian akan pergi meninggalkan mu untuk selamanya" koar Rangga sampai puas mengaduk-aduk ketakutan dalam diri bintang.
"Berlian ngga akan pernah ninggalin aku. gak akan pernah!!!!" bantah bintang menutupi ketakutannya akan kebenaran kata-kata Rangga.
"Sebaiknya kamu tinggalkan Berlian sebelum tangan kotor mu memakan mangsa ketiga kalinya" ujar Rangga mengintimidasi bintang di barengi tawa kemenangan meninggalkan bintang sendirian yang kian kacau di bayang-bayangi trauma masa lalunya.
"lian jangan pernah ninggalin aku..." kata bintang dengan linglung tak tahu harus bagaimana dan berbuat apa.
...****************...
"Lho, mama mau kemana?" Berlian di buat heran melihat mertuanya berpakaian rapi layaknya orang mau ke pesta. Berlian pun meletakkan susu dan bubur yang dia bawa, lalu mendekati mertuanya.
"mama mau menghadiri undangan pesta pernikahannya putri kolega bisnis kita" jawab ibu paruh baya itu sambil merapikan tampilannya.
"mama kan masih sakit. mama harusnya istirahat, bukannya pergi ke pesta"
"mama sudah mendingan, kok. Mama perginya juga nggak lama" mama Farida tersenyum tenang melirik kearah menantunya.
"Enggak... Pokoknya mama ngga boleh pergi.mama ngga boleh kemana-mana sampai benar-benar sembuh" tegas berlian melarang mertuanya pergi.
"Kalau mama ngga pergi, lalu siapa yang menggantikan mama menghadiri pesta pernikahannya . Enggak enak kalau salah satu perwakilan keluarga kita ngga ada yang datang" mama Farida menjelaskan alasannya kenapa tetap nekat mau pergi.
"Kamu mau menggantikan mama?" tanyanya kemudian.
"aku , ma ?" berlian ragu mau mengiyakan atau menolak.
"Kamu pergi sama bintang" cetus mama Farida.
"Bagaimana ya ma?" ragu nya.
"Kalau kamu ga mau, ya ga apa-apa. mama bisa minta tolong ditemani Rangga" mama Farida tak mau memaksakan kehendaknya, membuat berlian jadi tak enak hati.
"Lian bicarakan hal ini dengan bintang dulu. Kalau bintang setuju mau pergi, Berlian gak keberatan" kata berlian melalui pertimbangan tak tega membiarkan mama mertuanya yang masih kurang sehat memaksakan diri datang menghadiri pesta pernikahan kolega bisnisnya.
"Kalau kamu yang membujuk, Bintang pasti mau dan kamu pakai gaun merah yang waktu itu maka berikan buat mu" ucap mama Farida sumringah dan semangat.
"Lian akan coba bicara sama bintang dulu" balas berlian agak ragu apa bintang mau di ajak menghadiri pesta tersebut.
...****************...
Air mata lelaki itu tak bisa di tahan lagi. Penggalan demi penggalan kalimat yang tersusun dan tertulis rapi dari secarik surat yang dia baca begitu menyentuh hatinya.
"Arya, hubungan aku dan bintang tak pernah di dasari atas cinta. Hubungan kami hanya sebatas kekaguman manusiawi tanpa di dasari getaran saling membutuhkan waktu, perhatian juga kasih sayang. Hanya dengan kamu aku bisa merasakan apa artinya cinta. Tapi, aku memulai hubungan kita dengan cara yang salah. Aku membawa kamu masuk dalam kehidupan aku di saat hubungan aku dan bintang masih utuh. Tidak seharusnya aku menempatkan lelaki sebaik kamu dalam kondisi buruk seperti ini.
Aku ingin memulai hubungan baik kita dengan cara yang baik dengan cara aku harus mengakhiri hubungan ku bersama bintang dengan cara yang baik pula. Aku mau meminta maaf karna telah berpaling saat kami masih menjalin hubungan dan aku juga mau berterima kasih kepadanya . Karna berkat dia, kita terhindar dari dosa besar. Tapi aku tidak sempat menunjukan niat baik aku karna dokter memvonis aku mengidap penyakit kanker hati stadium akhir. Mungkin itu karma buat aku karna aku sudah menyakiti 2 lelaki yang begitu baik secara bersamaan. Dan aku sadar, aku tak layak untuk mendapatkan cinta kamu yang tulus. Aku pun sadar, aku tidak akan bisa pergi dengan tenang jika belum mendapatkan maaf dari bintang. Ketika maaf itu aku dapat , mungkin aku tak akan bisa menyatakan betapa aku mencintai kamu karna aku yakin, ada wanita lain yang lebih baik dan berhak menyatakan cinta itu dengan cara yang lebih baik dan terhormat dari aku.
Arya, kamu sudah banyak menghabiskan dan mengorbankan waktu kamu buat aku. Saatnya kamu kembali pada kakek, nenek, juga adik kamu. Jaga mereka, bahagiakan mereka seperti apa yang selama ini kamu ceritakan padaku. Aku akan sangat tenang berada di sana jika kamu mau mewujudkan impian terakhir aku"
"Bella yang mencintaimu"
"bella..." tangis arya kian jadi di atas ketinggian gedung memecah kesunyian malam yang di penuhi taburan bintang dan bulan di langit .Namun, angin malam semilir dingin membalut perih kesakitannya.
__ADS_1
"kenapa kamu ngga jujur dari awal kalau sebenarnya kamu juga mencintai aku. Kenapa??" teriaknya mempertanyakan ketidak tahuannya.