
Mama Farida bergerak cepat menemui keluarga berlian untuk menyampaikan lamarannya di temani Rangga.
Di lain pihak, Bintang yang masih bergejolak menentang perjodohan yang sudah dia setujui dengan terpaksa, tetap terlihat fokus memimpin meeting yang diadakan di kantornya.
"Bagaimana pak Yadi, surat izin penggusuran dari kejaksaan sudah keluar,kan?" tanya Bintang pada salah seorang staf senior di kantornya.
"Maaf pak,bu Farida sudah mengultimatum supaya kita membatalkan rencana penggusuran tersebut. Sampai hari ini saya belum berani melakukan tindakan apa pun untuk menentang keputusan beliau, termasuk mengurus surat izin penggusuran tersebut" jawab pak Yadi diplomatis.
"Kalau begitu silahkan anda angkat kaki dari kantor ini. Kemasi semua barang anda dan anda jangan pernah menginjakkan kaki di kantor ini lagi apa lagi menampakkan hidung anda di hadapan saya" Bintang yang tanpa kompromi membuat keputusan sepihak begitu saja dengan gayanya yang angkuh.
"Maksud pak bintang, saya di pecat?" tanya pak Yadi ketakutan.
"Iya" jawab Bintang singkat, membuat staf lain yang ikut meeting terperanjat dengan keputusan besar yang di buat atasan mereka mengingat pak yadi adalah salah satu staf senior yang sangat berdedikasi memajukan perkebunan juga pabrik teh yang di kelola oleh keluarga pratama.
"Pak , apa keputusan anda tidak berlebihan?. Pak yadi sudah bertahun-tahun mengabdi pada perusahaan, loyalitasnya juga tidak perlu di ragukan lagi. Sebaiknya pak bintang pertimbangkan lagi keputusan bapak." ujar salah satu staf lainnya mengemukakan keberatannya.
Bintang melirik tajam kearah Fadli yang berani menentang keputusannya. Fadli yang seumuran dengan bintang di buat menelan ludahnya sendiri .
"Kalau anda keberatan dengan keputusan yang saya ambil, anda boleh ikut angkat kaki dari kantor ini. Saya tidak butuh dedikasi seumur hidup, saya hanya butuh orang yang patuh dengan keputusan saya, bukan seorang pembangkang"
Semua yang ikut meeting dalam rangka membahas masalah penggusuran pemukiman tidak berani menentang atau mengemukakan pendapat. Mereka memilih diam dari pada bernasib sama dengan pak yadi. Begitu juga dengan fadli yang tadi sempat bersuara , kini memilih diam seperti yang lainnya. Beda dengan pak yadi yang tersinggung dan geram dengan sindiran yang jelas sekali dialamatkan padanya.
"Baik pak bintang. Kalau bukan karena mengingat pesan almarhum pak Hadi (ayah kandung Bintang), saya sudah sejak lama mengundurkan diri dari perusahaan ini. Mungkin memang sudah waktunya saya berhenti bekerja karena sesungguhnya saya tidak pernah sudi bekerja tanpa menggunakan hati seperti pak Bintang. Pak Hadi orang yang begitu bijak sana dalam memimpin perusahaan sangat jauh berbeda dengan putranya yang arogan" cecar pak yadi tanpa takut. Cercaan pak yadi juga membuat muka Bintang merah padam di permalukan di depan staf yang lain.
__ADS_1
"Permisi"
Pak yadi beranjak keluar dari ruang meeting. Fadli cs hanya bisa melongo dan kecewa orang sejujur pak yadi di sia-siakan begitu saja ilmu dan pengalaman juga dedikasinya oleh atasan mereka. Sedangkan bintang terlihat santai tanpa rasa bersalah atau merasa sudah melakukan sebuah kesalahan besar sudah memecat sembarangan orang.
"Tidak ada yang boleh beranjak dari tempat duduknya masing-masing jika tidak mau bernasib sama dengan pak yadi" tegur bintang tegas ketika staf lain ingin menyusul laki-laki paruh baya yang baru saja menerima nasib malang untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan. Fadli cs pun terpaksa duduk dan meeting di lanjutkan dalam suasana yang tidak mengenakkan.
...****************...
Mama yang masih terlihat cantik itu sudah menyampaikan keinginannya langsung di hadapan kakek dharma juga nenek Aminah .Kini, tinggal menunggu jawaban dari sepasang suami istri yang masih tidak percaya keluarga pratama yang terpandang datang melamar cucu mereka. Saat itu Berlian sedang tidak berada di rumah, jadi Rangga bisa tenang menemani mama farida.
"Bagaimana pak dharma, bu aminah?. Apa bapak dan ibu berkenan menerima lamaran kami untuk menikahkan berlian dengan bintang, putra saya?" tanya Mama Farida untuk ketiga kalinya.
"Terus terang kami sangat tersanjung dengan keinginan ibu farida yang bersedia menjadikan berlian sebagai menantu . Tapi, cucu saya masih sangat muda untuk berkeluarga" jawab kakek Dharma dengan pertimbangan matang.
"Ada apa?" bisik kakek Dharma lagi.
"Nenek mau bicara sama kakek berdua" katanya.
"Bu Farida, mohon maaf sebelumnya. Saya mau bicara berdua dengan suami saya sebentar" ujar nenek Aminah pada mama Farida yang dari tadi cukup sabar menunggu jawaban pasti dari mereka.
"Silahkan,bu" sahut mama Farida tak keberatan.
Nenek Aminah dan suaminya pun berjalan ke dapur dan meninggalkan mama farida dan Rangga di ruang tengah.
__ADS_1
"Kek, apa tidak sebaiknya kita terima saja lamaran dari bu farida?" ujar nenek Aminah begitu sampai di dapur.
"Tidak, kakek tidak setuju"
"Kek, pikirkan lagi baik-baik. Kita sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Kita tidak bisa selamanya menjaga Berlian. Siapa yang akan menjaga berlian jika kita sudah tidak ada?. Kita tidak bisa berharap pada arya yang tidak tahu dimana rimba nya. Nenek tidak bisa pergi dengan tenang jika berlian belum menemukan jodoh yang bisa menjaga juga melindungi dia dengan baik. Kek, kita sudah berpuluh-puluh tahun mengabdi pada keluarga pratama dan kita sudah sama-sama tahu bagaimana baiknya keluarga itu pada kita juga penduduk disini. Bu Farida juga sepertinya sangat menyayangi Lian. Nenek yakin, Lian akan di perlakukan dengan baik " urai nenek Aminah menjelaskan alasan dan pendapatnya.
Kakek dharma diam beberapa lama memikirkan kata-kata istrinya sebelum mereka kembali menemui mama Farida untuk menyampaikan keputusan yang sudah mereka runding kan dengan matang.
"Bagaimana ?. Apa lamaran kami di terima?" tanya Mama Farida tak sabar ingin tahu jawaban apa yang akan di dapatkan.
Sepasang suami istri saling melempar pandangan.
"Semua tergantung dengan cucu kami. Jika dia setuju kami sama sekali tidak keberatan" kata kakek Dharma tetap bijaksana.
mama Farida sedikit lega mendengar jawaban yang keluar dari kakek jg neneknya Berlian karena dia yakin berlian tidak akan menolak di jodohkan dengan Bintang.
Situasi berbeda justru di rasakan Rangga. Rangga bisa memastikan berlian akan menolak perjodohan tersebut dan itu bisa mengancam mimpinya untuk bisa terus hidup dalam gelimang harta.
...****************...
Jengkel, marah, itu yang di rasakan oleh berlian saat ini. Sudah seharian dia menunggu kedatangan sang pujaan yang sudah 11 hari berpisah. Seharusnya Rangga dari hari kemarin pulangnya tapi sampai hari ini Rangga belum juga menampakkan batang hidungnya, sekadar memberi kabar lewat telepon pun tidak ada. Rangga seolah-olah seperti ditelan bumi, tanpa ada kabar berita.
Sebenarnya dia ingin menemui Rangga di rumahnya. Namun, berlian masih mengingat baik pesan Rangga agar tidak mencarinya ke rumah dengan alasan apa pun demi hubungan mereka. Dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah dengan mengayuh sepeda baru, yang baru beberapa hari dia beli dari royalti penjualan novel nya.
__ADS_1