
Bintang hilir mudik di depan pagar rumah kakek mertuanya. Sudah hampir maghrib Berlian belum juga pulang. Dia benar-benar khawatir menunggu istrinya pulang.
"Lian..." Bintang berucap lega ketika melihat sebuah sepeda motor berhenti menurunkan wanita yang di tunggunya sejak tadi. Bintang berjalan mendekat.
"Yank, kenapa kamu pulang naik ojek?. Kartika mana?. Apa dia ga mau mengantar kamu pulang?" cecar Bintang melayangkan banyak pertanyaan pada istrinya yang baru selesai membayar ongkos ojeknya.
"Mobilnya Tika tadi mogok dan harus di bawa ke bengkel. Dari pada pulang kemalaman, aku memutuskan pulangnya naik ojek saja"
"Oh..gitu. Kita masuk, yuk."
Bintang menggandeng tangan istrinya.
"kenapa yank?"
Baru beberapa langkah berjalan, Bintang terpaksa berhenti dan menoleh melihat Berlian yang lebih dulu berhenti.
Berlian menghambur memeluk suaminya dan diam seribu bahasa menyimpan air matanya. Segala upaya sudah dia lakukan agar masalah yang menimpa suaminya. Termasuk mendatangi pak yadi dan berharap pak yadi mau membantunya. Tapi, penjelasannya panjang lebar mengenai kasus yang menjerat Bintang di tanggapi dingin oleh pak Yadi.
"kamu kenapa?. Kamu ada masalah dengan Kartika ?. Cerita ke aku ada masalah apa?" Bintang menangkup wajah istrinya dengan sorot mata yang sangat lembut. Berlian berusaha tegar menyembunyikan kegundahannya.
"Aku cuma takut kamu marah sama aku karna pulangnya terlambat"
"Ya ampun sayang,,,ga mungkin lah... cuma karna masalah kayak gini aku harus marah sama kamu. Lagian kamu perginya bukan sama laki-laki lain dan dapat izin dari aku. Kalau saja mobilnya dia ngga mogok, kamu pulangnya pasti tepat waktu, kan? " ujar Bintang berusaha percaya meski dia sendiri yakin ada yang di sembunyikan Berlian darinya.
"Kita masuk, yuk?. Nenek dan kakek menunggu kamu dari tadi"
Bintang merangkul istrinya berjalan masuk ke dalam rumah sederhana milik keluarganya Berlian.
...****************...
Telpon yang di pegang mama Farida terlepas dan terjatuh ke lantai. Tubuhnya terduduk lemas di pinggiran tempat tidurnya.
"Tidak mungkin Rangga pemilik rekening gelap itu"
...****************...
Bukti akurat yang di sodorkan arya berupa data kepemilikan rekening fiktif yang di dapat dari sumber yang terpercaya cukup meyakinkan. Mama farida tak lagi ragu dan harus bertindak tegas menegur keponakannya.
"Arya, terima kasih banyak karna kamu sudah banyak membantu saya. Maaf, karna saya begitu banyak merepotkan kamu" ujar wanita paruh baya itu pada tamunya.
"Ngga masalah,bu. Sudah sewajarnya saya membalas semua kebaikan ibu Karena ibu sudah banyak membantu keluarga saya" balas arya tetap rendah hati dan tak mau besar kepala.
"Apa masih ada yang perlu saya bantu?." lanjutnya bertanya.
"Untuk sementara, cukup ini dulu"
"Kalau begitu saya permisi pulang. Kalau ibu masih butuh bantuan, ibu ngga perlu sungkan untuk menghubungi" ujar arya sambil berdiri dari duduknya.
"Oh... silahkan. Nanti kalau ada apa-apa, saya akan hubungi kamu lagi"
Mama Farida ikut berdiri dan melepas tamunya pergi hingga depan pintu.
Setelah tamunya menghilang, mama Farida bergegas masuk dan menghubungi Rangga menggunakan ponselnya. Namun sayang, nomor yang di tuju sama sekali tidak aktif.
"Pergi kemana anak itu?. Jam segini belum juga pulang" mama Farida gelisah menunggu.
...****************...
Setengah perjalanan pulang, Arya menghentikan laju mobilnya saat mengenali sosok gadis cantik yang tengah gelisah menunggu di sebuah halte.
"tika, kamu ngapain malam-malam sendirian di sini?" sapa arya sembari menurunkan kaca mobilnya hingga kartika dapat melihat dengan jelas rupa si pengemudi.
"Aku lagi nunggu ojol mau pulang tapi belum ada yang nyangkut. Mobilku tadi mogok dan lagi di bengkel sekarang" jelasnya.
"Ayo masuk, aku yang antar" ujar arya menawarkan bantuan sambil membuka kunci pintu mobil.
"Nggak usah. Rumah kita kan berlawanan arah. Nanti, ngerepotin lagi" tolak Kartika.
__ADS_1
"Siapa yang merasa di repot in. Kamu naik saja. Ayo.." ujar arya.
Kartika berpikir sejenak mempertimbangkan tawaran dari Arya.
"Ok..." akhirnya Kartika setuju.
Arya tersenyum puas, Kartika pun bergegas masuk.
"Terima kasih ya kak, untuk tumpangannya" ujar Kartika setelah dia masuk dan duduk manis di samping arya.
Arya cuma mengangguk, lalu kembali melajukan kendaraannya meninggalkan jalan raya yang masih ramai oleh kendaraan.
...****************...
"kamu kenapa belum tidur?"
Teguran halus dengan pelukan tangan kekar melingkari perutnya dengan mesra membuyarkan lamunan Berlian.
Berlian menoleh ke samping , sepasang mata menunggu jawaban pasti keluar dari bibirnya.
"kamu kenapa bangun?" Berlian balik bertanya sambil mengusap kulit muka suaminya dengan lembut.
"Yank, kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu kenapa belum tidur?" Bintang kembali melontarkan pertanyaannya yang tadi.
"Aku belum mengantuk" Berlian coba tersenyum menjawab pertanyaan suaminya.
Dari dua bola mata yang bulat, Bintang dapat membaca sebuah kegundahan yang di sembunyikan Berlian darinya.
"kamu ngga lagi coba membohongi aku, kan?" selidik Bintang curiga.
Hening, Berlian terdiam. Dia bingung harus bagaimana. Upayanya membantu suaminya keluar dari masalah yang melilitnya menemui jalan buntu setelah pertemuannya dengan pak Yadi tadi sore tidak membuahkan hasil.
"Yank... kita ini suami istri. Sudah seharusnya kita saling terbuka satu sama lain" ujar bintang mengingatkan istrinya.
"aku baik-baik saja. Aku cuma belum mengantuk saja" Berlian berusaha menepis kecurigaan suaminya.
"Kamu ada masalah dengan pihak penerbit?"
Berlian menunduk. Wanita berhidung mancung itu tak sanggup lagi membohongi suaminya.
"cerita sama aku, oke?" Bintang menaikkan dagu istrinya menggunakan jarinya. Wajahnya berubah cemas melihat genangan air mata menutupi bola mata Berlian.
"Yank, amu kenapa nangis?" tanyanya.
Berlian menghambur memeluk tubuh Bintang dengan erat.
"maafin aku..." tangis Berlian pecah dalam pelukan suaminya.
"Maaf, untuk apa?" tanya Bintang heran.
Berlian tak menjawab, tangisnya tersedu. Bintang jadi tak tenang, tangan kekarnya segera menangkup wajah istrinya.
"Aku ngga suka melihat kamu menangis" katanya sambil menyeka linangan air mata yang membasahi kedua pipi istrinya.
"Bin, sebenarnya tadi aku pergi bukan mau menemui kartika membicarakan masalah novel aku dengan pihak penerbit" ujar Berlian terus terang setelah hatinya tenang dan cukup yakin untuk menceritakan masalah sebenarnya.
Sorot mata Bintang lembut berubah kecewa. Tangannya pun menjauh dari wajah Berlian.
"Kamu tega bohongi aku, lian?" desahnya kecewa.
Berlian cepat meraih dan menggenggam erat tangan bintang.
"aku minta maaf. Aku sama sekali ga bermaksud mau bohongi kamu. Aku sengaja ngga mau memberitahu kemana aku pergi karna aku takut kamu melarang aku pergi menemui pak yadi"
"Kamu pergi menemui pak yadi..." Bintang terkejut mendengar penuturan istrinya.
Berlian mengangguk sambil menyeka sisa air matanya dan dia mulai menceritakan tujuan sebenarnya menemui pak Yadi.
__ADS_1
...****************...
"Aku ngga tahu sampai kapan papa terus memaksakan kehendaknya. Terus terang, aku capek bertengkar terus sama papa soal perjodohan gila ini. Lian itu sahabatku. Aku ga mungkin mau mengkhianati persahabatan kami. Lagian, aku sudah menganggap Bintang seperti kakak sendiri" curhat Kartika pada arya dalam perjalanan pulang.
"Namanya juga orang tua, tik. Kadang mereka berpikir apa yang mereka lakukan itu adalah yang terbaik bagi anak-anaknya tanpa mau mendengarkan pendapat kita terlebih hulu" Arya melirik sejenak ke sampingnya, terlihat dengan jelas mendung menutupi wajah manis Kartika.
"Kamu yang sabar. Semua pasti ada jalan keluarnya" ujar arya menyemangati sahabat dari adik kandungnya sambil menggenggam tangannya.
Kartika sedikit terkejut dan gugup ketika arya memegang tangannya.
"I..i..iya"
Arya tersenyum lebar dengan sorot mata di rasa aneh oleh Kartika karna jantungnya tiba-tiba berdebar kencang tak menentu. Di matanya, Arya sosok laki-laki dewasa yang bisa membuat dia nyaman dan percaya menumpahkan masalah yang tengah melandanya.
...****************...
"Maafin aku. Aku gagal membujuk pak yadi agar mau membantu kamu keluar dari masalah hukum" ujar Berlian mengakhiri ceritanya dengan sebuah kekecewaan juga penyesalan.
Bintang menarik lembut tubuh istrinya masuk dalam pelukannya.
"Harusnya aku yang minta maaf sama kamu. Gara-gara kamu mau membantu aku, kamu harus berbohong seperti ini dan segala kegiatan kamu banyak terhenti karna sibuk mengurus perkara hukum ku. Aku pasti sudah sangat menyusahkan mu"
"Nggak, sayang, nggak!. Kamu sama sekali ngga nyusahin aku" sergah Berlian sambil menengadah menatap pasti sendunya tatap mata Bintang.
"Apa yang aku lakukan ini hanya sebagian dari tugas aku sebagai seorang istri. Masalah sebesar apa pun yang menimpa kamu, selagi aku bisa, selagi aku mampu, aku akan berusaha mengeluarkan segenap kemampuan aku untuk membantu kamu keluar dari masalah ini. Aku yakin dengan hati kecil aku, Bin. Aku yakin kamu ngga salah, makanya aku nekat mau menemui pak yadi meminta bantuannya. Tapi aku gagal. Besok pak yadi mau pergi jauh untuk waktunya lama. Maafin aku"
Bintang terenyuh. Usaha nyata dari Berlian membuat dia tak dapat berkata-kata apa lagi. Berlian berhasil membuat dia makin cinta dan cinta lagi.
"Kamu sama sekali ngga gagal, sayang. Aku memang membutuhkan bantuan pak yadi dalam hal ini. Tapi, aku tahu diri. Pak yadi ngga mungkin mau membantu ku setelah aku mempermalukan dia di hadapan orang banyak. Tapi, itu ngga akan membuat aku patah semangat memperjuangkan kasus aku sampai tuntas karna kamu berhasil menumbuhkan keyakinan dalam diri aku untuk terus bangkit dan berjuang. Aku mungkin juga butuh keajaiban agar bisa terbebas dari jerat hukum. Tapi, aku lebih butuh kamu berada di sampingku. Aku lebih butuh cinta juga kepercayaan dari kamu. Karna hidup bersama kamu adalah kebebasan hidup yang tak ternilai buat aku meski nantinya seumur hidup aku, aku harus meringkuk di balik jeruji" urai Bintang penuh ketegaran juga kesabaran.
Air mata Berlian kembali merebak. Hatinya tersentuh mendengar rangkaian kalimat yang keluar dari mulut suaminya.
"Hanya satu yang aku takutkan dari masalah ini. Aku takut kamu akan jenuh dan memilih meninggalkan jika nanti aku di putuskan bersalah dan aku harus di penjara dalam kurun waktu yang lama"
Raut muka Bintang berubah murung dan sedih.
Berlian menghapus air matanya, lalu menangkup wajahnya Bintang. Kemudian dengan segenap rasa cinta yang tercurah , berlian mencium pipi suaminya dalam waktu yang cukup lama.
"Seperti apapun hukuman yang akan kamu terima. Selama apun kamu harus di tahan. Semua itu ngga akan merubah rasa cintaku, janji aku, kepercayaan aku, juga pendirian aku terhadap kamu. Aku sangat mencintai kamu. Hukum apapun takkan berlaku menghapus rasa cinta juga kesetiaan aku sebagai istri juga wanita yang mencintaimu"
Bintang tersenyum haru, matanya sempat berkaca-kaca.
"Aku sangat beruntung bisa memiliki seorang istri yang kuat dan tangguh seperti kamu, sayang. Aku ga tahu akan seperti apa hidup yang aku lalui jika waktu itu tetap ngotot menolak perjodohan kita"
"Aku cinta kamu" ujar Bintang menyudahi kata-katanya sambil mendekati wajah istrinya. Kemudian menunduk makin dalam.
Tinggal sekejap mata, bibir merah berlian akan berada dalam penguasaannya. Namun, jari lentiknya Berlian menahan gerak bibirnya begitu Berlian mendengar suara deru mobil dari luar rumah.
"Kayaknya kak arya sudah pulang. Aku mau membuka pintu dulu"
Berlian berusaha bangkit dari tempat tidur. Tapi, Bintang cepat menarik dan merebahkan tubuhnya.
"Sayang, aku harus membuka kan pintu untuk kak arya. Kasihan kak arya di luar" kata Berlian.
"Tuh, udah di bukain sama nenek. Kamu dengar, kan?" senyum Bintang puas dengan lirikan mata nakalnya.
Berlian tahu, dari luar memang terdengar percakapan antara nenek dan kakaknya.
"Iya, tapi aku mau menyiapkan makan malam untuk kak arya" Berlian ngeyel dan cari-cari alasan keluar dari perangkap suaminya.
"makan malam untuk arya sudah tersedia di atas meja. Arya cuma tinggal makan saja. Lagi pula, dia itu sudah dewasa, bukan anak kecil lagi. Apa susahnya makan sendiri"
"Kak arya memang bukan anak kecil. Karna yang kayak anak kecil itu suami ku yang suka cari alasan karna ada maunya" ledek Berlian dengan senyum menggoda seraya mencolek gemas hidung mancung suaminya.
"Mau aku cuma kamu, istriku sayang"
Bintang berucap setengah berbisik sambil tangannya mulai bergerak memberi sentuhan mesranya dan bibirnya dengan lembut menguasai bibir Berlian yang ranum penuh gelora. Berlian terbuai dan larut bersama , terbuai perlakuan suaminya.
__ADS_1