
Denting jam yang berbunyi dari dinding ruang kerjanya menyadarkan Bintang dari rasa kantuk yang datang menyerangnya. Di liriknya jam dinding yang menempel di bagian sampingnya.
"Jam setengah 12" ucapnya kaget.
"Lian..."
Bintang segera berdiri ketika ingatannya langsung tertuju pada wanita yang di cintainya. Suara Berlian yang tadi lantang terdengar justru sekarang tak terdengar lagi. Bintang membuka pintu ruangan yang biasa dia gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan kantor yang dia bawa pulang.
Pintu terbuka perlahan. Tidak ada siapa pun yang dia lihat. Namun saat menengok ke kiri dan sedikit menunduk, Bintang terkejut melihat Berlian tertidur di lantai menungguinya.
"Ya ampun, kamu kenapa tidur di sini?" gumamnya . Dia jadi tak tega melihat Berlian meringkuk menahan dinginnya suhu lantai juga dinding tempat Berlian menyandarkan tubuhnya.
Bintang lantas membungkuk dan menggendong tubuh istrinya dalam pelukannya. Sejenak Bintang sempat tertegun melihat sudut mata Berlian yang masih sembab habis menangis. Ada sesal di hatinya kenapa dia tega membiarkan Berlian menangis dan kedinginan menungguinya. Tak mau berpikir panjang lagi, dia bergegas melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Di atas pembaringan yang banyak menyimpan cerita indah, Bintang merebahkan tubuhnya berlian dengan sangat hati-hati. Tidak lupa, Bintang juga menyelimuti seluruh tubuh istrinya.
Bintang tercenung mengamati wajah istrinya dalam-dalam. Rasa sayang menyeruak dalam hatinya. Tidak ada benci sedikitpun yang bersemayam walaupun pada kenyataannya dia harus menelan pil pahit karna merasa di bohongi oleh wanita yang yang di cintainya itu.
Ragu-ragu, Bintang menunduk ingin mencium kening Berlian. Saat hembusan nafasnya sudah membentur bagian kulit keningnya, Bintang menjauhkan wajahnya. Rasa sakit dan kecewa akan kebohongannya Berlian menghantam keras ulu hatinya.
"Kenapa kamu harus berbohong tentang hubungan kamu dengan Rangga?. Berbulan-bulan kita tinggal satu atap dengan Rangga, kamu tidak pernah sekalipun mau terbuka mengenai kisah masa lalu kamu dengan dia. Aku merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia karna tak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depan mataku. Waktu itu, aku pasti orang yang paling jahat di mata kamu karna bagaimanapun aku adalah penyebab utama kamu dan Rangga berpisah. Wajar jika dia begitu benci aku. Jika aku menjadi dia pun, aku pasti akan melakukan hal yang sama" Bintang bergumam lirih seraya menerawang jauh menatap foto pernikahannya dengan Berlian yang terletak di atas nakas di samping tempat tidur.
__ADS_1
"Apa kamu begitu bencinya kepadaku, hingga mencium kening pun kamu tak sudi"
Bintang tersentak dan menoleh langsung kearah pemilik suara yamg terdengar menyayat hatinya.
Bintang sama sekali tidak sadar kalau Berlian sebenarnya sudah bangun dan mengamati tingkahnya. Berlian sebenarnya hanya pura-pura memejamkan mata demi bisa membuka jalan komunikasi yang baik dengan suaminya di tempat yang tepat.
Berlian duduk tegak. Matanya sendu menatap kekecewaan yang masih mendalam lewat cara pandang Bintang melihatnya.
"Bin, aku..."
"Sudah malam, aku capek"
Belum sempat Berlian menyampaikan maksudnya, Bintang sudah langsung memotong dan merebahkan tubuhnya. Bintang bahkan sengaja tidur dengan posisi membelakangi istrinya.
"Bintang, aku mencintai kamu. Sangat..." bisiknya menyentuh.
Darah Bintang langsung berdesir hangat. Matanya sengaja di pejamkan melawan sentuhan halus di wajahnya.
"Jauh sebelum aku mengenal kamu, aku memang pernah berpacaran dengan Rangga selama 2 tahun" Berlian mulai bercerita biarpun bintang tak meminta. Atau mungkin saja Bintang tidak bersedia mendengarnya. Tapi, hanya ini jalan satu-satunya untuk meluruskan ke salah pahaman yang sudah terjadi. Semoga Bintang bisa menggunakan hatinya untuk mendengar penjelasannya. Berlian terus menceritakan kisah sebenarnya sampai bagaimana dia mau menerima lamarannya Bintang. Bintang sama sekali tidak memberi tanggapan, bertanya atau pun menyela ceritanya Berlian. Matanya tetap terpejam seolah dia tengah bermimpi indah. Namun, Berlian tetap meneruskan ceritanya.
"Apa yang di katakan Rangga sama sekali ngga benar. Aku menerima lamaran kamu bukan atas permintaan dia. Ketika kamu dengan berani melamar aku di depan kakek juga nenek ,di saat itu aku bisa melihat siapa kamu sebenarnya. Kamu bukan Bintang yang arogan dan sombong yang sebelumnya aku kenal. Kamu adalah seorang laki-laki yang sangat bertanggung jawab yang punya niat baik dan hati yang tulus. Itu alasan sebenarnya kenapa aku ngga menolak untuk kamu nikahi saat itu juga. Saat kamu mengucapkan janji suci pernikahan kita, aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk membuang segala kenangan aku bersama Rangga. Aku sudah bertekad untuk menghabiskan sisa umurku untuk mengabdi dan mencintai kamu selaku suamiku"
__ADS_1
"Awalnya memang tak mudah untuk aku bisa menerima kamu sebagai suami ku. Bahkan untuk bisa mencintai kamu pun sulit. Aku juga sempat berfikir untuk menyerah dan mengakhiri rumah tangga kita. Tapi pada kenyataannya aku ngga bisa. Aku ngga bisa dengan mudah melepaskan kamu atau menyudahi pernikahan kita. Karna aku sadar,lika-liku yang aku lalui bersama kamu dalam membina rumah tangga kita menumbuhkan rasa sayang yang dalam untukmu. Aku jatuh cinta pada kamu melewati proses yang ngga mudah. Banyak hal tentang kamu yang tak dapat aku pahami. Ada misteri tentang kamu yang tidak bisa aku pecahkan dengan logika aku. Aku pikir, aku tak mungkin bisa jatuh cinta dengan laki-laki seperti itu. Kenyataannya justru berbanding terbalik, aku jatuh cinta dgn cara yang tidak mudah dan aku pun tak mungkin mudah untuk melepasnya. Aku jatuh cinta tanpa tahu kapan pastinya rasa itu bersemi di hatiku. Yang aku tahu pasti, aku tak mungkin bisa melepaskan mu dan aku ga akan bisa hidup tanpa kamu" air mata Berlian kembali menetes. Tetesan air matanya jatuh menimpa wajah suaminya yang masih terus memejamkan mata tanpa mau membukanya sedikitpun.
"Aku mencintai kamu. Selamanya aku akan selalu mencintai kamu. Meskipun nantinya kamu akan membuang ku seperti apa yang di lakukan Rangga. Tapi,rasa cinta aku padamu ngga akan berubah. Sampai aku menutup mata, cinta itu hanya untukmu. Tidak akan ada laki-laki lain yang bisa mengalihkan pandangan juga rasa cinta aku buatmu"
Berlian menyudahi curahan hatinya dengan menghapus air matanya dan mencium dalam pipi suaminya.
"Aku mencintai kamu, sayang. Semoga saat mentari bersinar dan mata kamu terbuka, aku bisa kembali melihat senyum mu dan kamu kembali mengucapkan kalimat cinta kamu untukku" desah Berlian getir dengan sorot mata lirih mengamati lekat wajah suaminya dan berharap ada sedikit respon positif yang di perlihatkan oleh Bintang. Namun Bintang tampak damai seolah tidak mendengar apa-apa.
Berlian kembali pada posisi awalnya. Dia tidur telentang. Dengan sedikit memaksakan diri, Berlian coba memejamkan matanya yang terasa enggan untuk di pejamkan.
Tak berselang lama, keadaan dalam ruang kamar yang cukup luas itu berubah sunyi. Hanya suara tarikan nafas orang yang mulai tertidur yang terdengar.
Perlahan tanpa suara Bintang membalikkan tubuhnya. Bintang mengamati wajah istrinya sungguh-sungguh. Tanpa di sadari matanya berkaca-kaca. Curahan hatinya Berlian yang tadi terpatri jelas di hatinya.
Tanpa berniat mau mengganggu tidurnya Berlian, Bintang mengangkat pelan kepalanya berlian dan menjadikan lengannya sebagai bantal. Tangan yang satu lagi bergerak lembut memeluk tubuh pujaannya.
"Aku ngga butuh penjelasan apapun keluar dari mulut kamu tentang perasaan kamu. Aku tak sebodoh itu, yang tak bisa mengartikan perhatian juga pengorbanan kamu selama ini. Aku hanya butuh waktu untuk membuang jauh-jauh rasa kecewa ini. Aku tak tahu apa jadinya jika aku belum juga mengetahui rahasia masa lalu kamu dengan Rangga. Selama ini dia selalu mendapatkan apa yang aku miliki. Itu yang aku takuti jika rahasia itu belum terbongkar juga." gumam Bintang dalam hati tanpa melepaskan pandang matanya dari paras cantik istrinya.
Dengan rasa sayangnya, Bintang mengecup dalam ubun-ubun istrinya.
"Aku mencintai kamu, berlian . Aku nggak akan pernah membiarkan seorang pun merebut kamu dari aku. Termasuk Rangga . Rangga boleh mengambil harta benda apapun. Tapi, dia ngga akan aku biar kan dia mengambil kamu dariku. Aku ngga akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Ga akan pernah" batin Bintang bertekad kuat.
__ADS_1
Tanpa dia sadari, Berlian berusaha menahan air matanya yang ingin keluar dan Berlian ingin membuka matanya agar bisa bertatapan langsung dengan pemilik mata coklat yang tengah memeluknya. Tapi Berlian takut membuka matanya. Dia takut Bintang akan berbalik dan melepas pelukannya. Biarlah dia menikmati waktu dengan diam-diam dan berharap pagi datang tidak secepat biasanya.