Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 62. Semangat Bintang


__ADS_3

"Lian..." panggil Bintang kesana kemari mencari istrinya gara-gara dia bangun dan mendapati Berlian tidak ada di sampingnya. 


"Berlian pasti sudah berangkat kerja" Bintang bergumam kecewa dan terduduk lemah di pinggir tempat tidur setelah pencariannya tidak menemukan hasil dari kamar mandi hingga balkon. Kondisinya yang lebih fit di banding semalam terasa lunglai sebab semangat hidupnya sama sekali tidak terlihat. 


"kamu ngga bisa gitu...libur satu hari aja supaya kamu bisa merawatku. Aku ingin kamu memperhatikan keadaanku seperti semalam karena perhatianmu itu yang membuatku merasa bisa lebih dekat denganmu lagi." Bintang tiba-tiba saja menjadi manja jika mengingat bagaimana Berlian merawat dan menjaganya semalam. Itu sangat mendamaikan bagi dirinya. 


"Hhhmmm... lebih baik aku mandi, trus nyusul Lian ketempat kerjanya." Bintang kembali semangat. Dia cepat berdiri lalu meraih handuk dan masuk kedalam kamar mandi. 


...****************...


Raut wajah Rangga begitu kusut. Kesempatannya untuk memanfaatkan kondisi Bintang yang kurang sehat untuk lebih mendekati diri dengan Berlian tidak kesampaian. Padahal dia sudah berangan mengikuti Berlian, memotong jalannya, lalu membawanya pergi sejauh mungkin. Tapi karna Mama Farida mendadak ikut ke kantor menggantikan Bintang, Rangga dengan terpaksa mengurungkan niatnya karna Mama Farida memilih berangkat bersama dengan dia dari pada berangkat di antar supir. 


"Ma, kenapa sih mama berangkatnya mesti harus bareng Rangga?. Kenapa mama tidak berangkat di antar sama mang Asep saja?" Rangga menumpahkan unek-uneknya pada mama Farida yang duduk manis di sampingnya. 


"Kok kamu bilang gitu?. Kamu ngga suka mama berangkat ke kantor sama kamu?" mama farida balik bertanya. 


"Bukan gitu ma. Rangga cuma takut mama ngga nyaman karna aku kan suka ngebut kalau jalanan lagi sepi" bantahnya memberi alasan. 


"Ngebut itu nggak baik, nak. Mama ngga mau kamu sampai kenapa-kenapa karna kecerobohanmu sendiri" nasihat mama Farida dengan rasa sayangnya. 


"Iya aku tahu kok" jawab Rangga sambil terus mengamati jalan di depannya yang penuh dengan kendaraan yang lalu lalang karena waktunya orang-orang memulai aktivitas nya. 


"oh ya, ma. Mama sebenarnya merasa nggak kalau hubungan Bintang dengan Berlian ngga pernah harmonis?. Apa mungkin rumah tangga mereka bisa bertahan kalau mereka ribut terus?" Rangga sengaja mengalihkan topik pembicaraan dan coba mempengaruhi wanita yang sudah susah payah membesarkannya sejak orang tua angkatnya meninggal dalam sebuah kecelakaan yang juga merenggut nyawa dari ayah kandungnya Bintang. 


"Namanya juga berumah tangga. Setiap rumah tangga tidak selamanya di hiasi senyuman, terkadang ada juga perselisihan yang tak bisa di hindari. Hanya karna Bintang dan Lian sempat salah paham, bukan berarti hubungan mereka tidak harmonis dan tidak bisa di pertahankan. Mereka kan baru menikah, mereka masih sama-sama belajar memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mama percaya mereka bisa dengan dewasa menyikapi permasalahan dalam rumah tangga mereka" jelas mama Farida dengan pembawaan yang tenang dan bijaksana. 


"Sampai kapan ?. Apa mama ngga kasihan melihat Bintang tertekan dengan pernikahannya karna dia sama sekali tidak mencintai Berlian dan Lian sama sekali ngga cocok menjadi pendampingnya Bintang" nada suara Rangga sedikit meninggi terbawa rasa kesalnya karna Mama Farida begitu tenang menanggapi kisruh rumah tangga anak kandungnya. Usahanya untuk memberi pengaruh buruk terhadap wanita paruh baya itu sama sekali tidak berguna. 


"Kamu kenapa bisa punya pikiran seperti itu?. Kamu seperti ngga suka Bintang menikahi Lian??" mama Farida menoleh kesamping mengamati wajah keponakannya dengan seksama. Ada sedikit kecurigaan menghantui prasangka mama Farida akan sikap Rangga. 

__ADS_1


Rangga mendadak gugup dan seperti kehilangan kata-kata mau memberi jawaban apa atas pertanyaan yang di ajukan mama Farida. Strateginya mempengaruhi mama Farida justru jadi bumerang yang siap menyerangnya kapan saja.


"Mama jangan salah paham. Aky hanya ingin terbaik buat Bintang dan aku mau Bintang bahagia karna selama ini sudah banyak menderita karna aku. Aku sangat menyesal dan sangat ingin menebus semua kesalahan dengan berharap Bintang dapat jodoh terbaiknya" ujar Rangga dengan cepat dan pintar mencari jawaban yang masuk akal dan sepertinya mama Farida percaya saja dengan tidak melanjutkan kecurigaannya. 


"Kamu tidak salah, yang salah itu Almarhum om kamu. Dia yang tidak bisa menerima kenyataan menerima kematian Bulan dan menumpahkan semua kesalahan pada Bintang" kenang Mama Farida getir mengingat kejadian buruk di masa lalu. 


"Kalau Bulan masih hidup, dia pasti seumuran dengan Berlian" kenangnya lagi. 


"Semua sudah berlalu. Tidak perlu di kenang lagi" Rangga berusaha menghibur mama Farida. Beliau mengangguk tanpa bersuara. Senyumnya getir dengan mata berkaca-kaca. 


...****************...


"Den Bintang mau kemana?" sapa Bi Sumi pada majikan mudanya yang turun dari kamarnya. 


"Mau pergi" jawab Bintang singkat dengan wajah ditekuk, membuat nyali Bi Sumi ciut duluan mau menyampaikan sesuatu. 


"Maaf den, bibi hanya mau menyampaikan pesannya non Berlian" kata bi sumi hati-hati.


"Itu...non Lian bilang, den Bintang jangan kemana-mana, di rumah saja istirahat" cerita bi sumi lebih tenang karna tampang majikan mudanya tak lagi menyeramkan. 


"Non Lian juga sudah siapin bubur untuk sarapan . Obat untuk aden juga tak lupa. Non Lian bilang, buburnya harus di makan dan obatnya juga harus di minum" 


"Mana bubur sama obatnya?" sela Bintang. 


"Ini ya?" 


Bintang dengan cepat menyambar nampan berisi semangkuk bubur dan beberapa butir obat lengkap dengan segelas air putih. 


"Makasih ya bi" kata Bintang begitu saja. 

__ADS_1


"I..iya" bi sumi mengangguk bingung dan heran. Setelah 20 tahun mengabdi pada keluarga Pratama dan ikut merawat juga menjaga Bintang dari kecil, baru kali ini Bintang mengucapkan terimakasih secara langsung pada dirinya. 


"Aku senang , kamu tetap memperhatikanku di sela-sela kesibukanmu" Bintang tersenyum lebar mengingat perhatian Berlian yang tidak pernah putus meski hubungan mereka tak begitu baik. 


Bintang pun duduk sendiri di kursi meja makan dan dengan semangat memakan bubur buatan Berlian.


 


"Enak..." ucapnya puas dengan rasa bubur buatan Berlian. Bintang menghabiskan bubur itu tanpa sisa. Setelah itu baru meminum obatnya .


...****************...


"Tik, aku izin mau keluar dulu ya?. Aku mau bertemu dengan salah satu narasumber penting untuk pengembangan cerita dalam novel ku" 


Biarpun Berlian tidak bekerja untuk Kartika, Berlian tetap meminta izin sahabatnya yang tengah sibuk dengan laptopnya. 


"Perlu aku temani?" Kartika menawarkan diri.


"Enggak usah" tolak Berlian cepat.


 


"Kamu kan harus jaga toko. Aku bisa pergi sendiri kok. Tempatnya juga ngga jauh" lanjut Berlian memberi alasan agar Kartika tak tersinggung dengan penolakannya. 


"Ya udah. Kamu hati-hati ya" pesan Kartika beriringan dengan senyum lebarnya yang di balas dengan senyuman oleh Berlian.


 


"Aku pergi dulu ya. Assalamualaikum..." pamit Berlian mengucap salam setelah merapikan meja kerjanya. 

__ADS_1


"waalaikumsalam" Kartika menjawab salam sambil mengamati punggung sahabatnya yang menjauh dan perlahan menghilang dari pandangannya. 


"Lian kenapa harus kamu wanita yang di sunting Bintang jadi istrinya?. Kenapa bukan org lain saja?. Jujur saja , aku sebenarnya tidak sanggup bertemu denganmu setiap waktu karna itu hanya mengingatkanku akan cinta terpendam aku untuk Bintang" Kartika berkeluh kesah menahan sakitnya cinta tak berbalas. 


__ADS_2