Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab. 40 Tas Bintang ketinggalan


__ADS_3

"Bintang ,tas kamu ketinggalan..." teriak Berlian dan teriakannya percuma karena Bintang sudah menjauh dengan mobil yang di dikendarainya. 


"Lian, kamu kenapa pagi-pagi sudah teriak-teriak?. Habis bertengkar sama Bintang?" sambar Rangga yang baru bersiap mau berangkat kerja. 


"Siapa yang bertengkar?. Aku sama suami aku baik-baik saja" jelas Berlian dengan mimik serius. 


"Oh ya, Rangga. Aku bisa minta tolong kamu bawain tasnya Bintang yang ketinggalan, nggak?" Berlian bersikap sewajarnya antara kakak ipar pada adiknya karena Rangga adalah adik sepupunya Bintang saat meminta bantuan Rangga agar dia tidak salah menanggapi permintaan tolong nya. 


"Jika itu bersangkutan dengan Bintang, jangan harap aku mau menuruti kemauan kamu. Aku lebih suka membuang tas itu dari pada harus menyerahkannya pada Bintang" sengit Rangga sinis. 


"Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa. Aku bisa mengantarnya sendiri ke kantornya" sahut Berlian tak mau mengemis minta pertolongan Rangga. 


"Bagus kalau begitu!. Kita bisa berangkat bareng dan kita singgah dulu ke danau cinta" sambar Rangga seenaknya. 


"Sudah lama kan kita tidak kesana?. Aku begitu merindukan saat-saat kebersamaan kita yang dulu. Apa kamu tidak merindukan itu, Lian?" sorot mata Rangga berubah teduh, nada suaranya juga terdengar mendayu dan merayu. 


Berlian sempat terpaku, Rangga yang ada di depan matanya kini adalah Rangga yang dulu pernah menghiasi hari-harinya dengan indah. 


"Bintang" gumam Berlian tersadar ketika bayangan suaminya seolah berdiri tegap di belakang Rangga dengan sorot mata tajamnya. Seketika pesona Rangga menghilang dari ingatan Berlian. 


"Kamu bisa bawa gadis lain ke telaga itu. Aku tidak akan lagi mengenang telaga itu sebagai telaga cinta kita. Cinta aku pada kamu sudah hilang tak bersisa. Telaga itu juga sudah mengering dan takkan mampu lagi menyirami hati aku yang sudah kering dari segala bentuk perasaan juga perhatian buat kamu. Aku hanya milik Bintang seumur hidup aku" tandas Berlian tak bosan mempertegas sikapnya meski dia mulai jengah menghadapi sikap keras kepalanya Rangga. 


"Bohong!!"sentak Rangga. 


"Aku tahu kamu, Berlian!. Di depan aku kamu bisa bersikap tenang dan cuap-cuap sok romantis. Tapi, di belakang aku, kamu merintih sakit dan tak tahan hidup berumah tangga dengan Bintang. Aku yakin, jauh dari lubuh hati kamu, kamu ingin kembali ke pelukanku. Aku bersedia menerima kamu kembali walaupun Bintang sudah menodai kamu" 


"Menodai..." ulang Berlian dengan sorot mata menahan amarah dan tangannya gatal mau menampar wajah Rangga untuk kedua kalinya karena dari semua ucapan yang keluar dari mulut Rangga, ucapan terakhir itu lah yang paling menyakitkan. 


"Plakkk" Berlian pun tak tahan untuk tidak menampar Rangga karena baginya Rangga sudah menghina harkat dan martabat pernikahan yang dia bina dengan Bintang juga menginjak-injak harga diri suaminya. 

__ADS_1


"Kamu" geram Rangga sambil memegang pipinya yang memerah di tampar Berlian.


 


"Asal kamu tahu, apa yang mau di lakukan Bintang terhadapku, dia mau mencium, memeluk atau membelaiku, itu haknya Bintang karena dia adalah suamiku. Bintang adalah satu-satunya lelaki yang paling berhak menguasai aku sepenuhnya dan aku bahagia bisa memenuhi kewajiban aku sebagai wanita yang di pilih Bintang untuk mendampingi hidupnya. Aku sangat berharap kelak bisa memberinya keturunan dari rahimku sendiri" tegas Berlian tak main-main dengan perkataan dan harapannya. 


"Tidak, kamu tidak boleh mengandung anaknya Bintang sampai semua impian aku terwujud karena saat itu aku akan kembali merebut kamu dari Bintang" 


"Impian apa maksud kamu?" curiga Berlian.


"Jangan bilang kalau kamu mau menghancurkan Bintang secara perlahan" 


"Siapa yang mau menghancurkan Bintang?" mama Farida tiba-tiba saja sudah berdiri di antara keduanya dengan tatapan mencurigai menantu dan keponakannya. 


Berlian dan Rangga sama-sama diam mematung dan tak tahu harus menjelaskan apa pada mama Farida.


"Itu ma, tasnya Bintang ketinggalan. Untungnya ketinggalan di rumah, coba kalau ketinggalan di tempat lain, bisa bahaya kan. Isi dalam tas kerja Bintang itu pasti berisi dokumen penting, kalau jatuh ke tangan yang salah, orang itu pasti dengan mudah menghancurkan Bintang "jelas Rangga memotong Berlian yang berniat lebih dulu bicara. Kalau dia tak cepat memotong, Berlian bisa saja berkata jujur dan posisinya bisa bahaya karena tidak akan ada yang membelanya sejak kematian suami kedua mama Farida yang lebih menyayanginya ketimbang Bintang. Jadi, dia harus hati-hati dan pintar mengambil hati mama Farida.


"Lian, tasnya biar mama yang bawa, kebetulan mama mau ke kantor sebelum pergi arisan" kata mama Farida di sambut senang oleh Berlian.


"Oh, mama memang paling tepat membawa tasnya Bintang karna bisa bahaya jika jatuh ke tangan yang salah" sentil Berlian sambil melirik sinis kearah Rangga. 


"Kurang ajar kamu, Lian" geram Rangga dalam hati. 


"Rangga , mama perginya bareng kamu saja. Mang Asep masih di bengkel menjemput mobil yang kemarin di perbaiki" pintanya pada Rangga lengkap dengan alasannya. 


"Baik, ma" sahut Rangga terpaksa mengiyakan. 


"Lian, Mama pergi dulu"

__ADS_1


"Iya ma" jawab Berlian yang kemudian menciumi tangan mama mertuanya dan dia sengaja memalingkan muka saat Rangga coba curi-curi pandang kearahnya. 


...****************...


"Nadia... kamu kemana saja, jam segini baru nongol?" tegur Karina, sekretaris Bintang pada sahabatnya yang baru saja datang. 


"Biasalah, jalanan macet" jawab Nadia asal memberi alasan. 


"Jangan kebanyakan alasan. Kamu mau di pecat sama pak Bintang seperti Esti kemarin" sela Karina dongkol. 


"Enggak mungkinlah Rin, pak Bintang berani memecat aku, secara aku cantik dan jadi rebutan cowok sini, termasuk pak Bintang" ujar Nadia kepedean dan tidak menggubris isyarat dari Kartika yang dari tadi menunjuk ke belakangnya. 


"Rin, kamu kenapa sih dari tadi nunjuk-nunjuk ke belalang?. Kayak ada han..." Nadia memutar kepalanya kebelakang. 


"Eh,pak Bintang!. Pagi, pak" sapa Nadia seketika dengan wajah tegang dan dengan senyum di buat semanis mungkin padahal jantungnya sudah mau copot siap-siap mau di pecat. 


"Makan tuh pede" sindir Karina pelan. 


"Pagi..." jawab Bintang semangat dan jauh dari kesan angkuhnya selama ini. 


"Karina, kamu siapkan materi untuk meeting kita siang ini" perintah Bintang pada sekretarisnya sambil melewati Nadia begitu saja tanpa memberi teguran pada karyawannya yang terlambat. Terang saja, sikap Bintang membuat karyawan lain bertanya-tanya apa yang terjadi pada atasan mereka yang terkenal arogan dan selalu membuat keputusan sepihak.


 


"Tuh,kan. Kamu lihat sendiri, pak Bintang sama sekali tidak memecat aku. Menegur pun tidak. Jangan-jangan pak Bintang menyimpan rasa sama aku" kata Nadia kegirangan dan kepedean begitu atasannya masuk ke ruangannya. 


"Jangan ngarep, pak Bintang sudah punya istri" ujar Karina. 


"Punya istri? Kapan nikahnya?" cecar Nadia.

__ADS_1


"Cari tahu saja sendiri" sahut Karina sambil ngeloyor meninggalkan sahabatnya dan melanjutkan kerjanya. 


__ADS_2