Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 74. Pulang


__ADS_3

"Bin, apa ga sebaiknya kita pergi melayat ke rumah tante dewi?." tanya Berlian pada suaminya saat mereka dalam perjalan menuju pulang dari rumah sakit. 


"Untuk apa?" Bintang balik bertanya sambil melirik kearah Berlian yang duduk tenang di sampingnya. 


"Ya Allah, Bintang!" ucap Berlian kesal dengan sikap ketidakpedulian suaminya. 


"Bin, tante Dewi sedang berduka karna kehilangan putrinya. Sudah seharusnya kita datang melayat untuk sekedar menyampaikan rasa belasungkawa kita. Bella juga bukan orang lain buat kita. Almarhumah pernah dekat dengan kamu juga kakakku semasa hidupnya. Ngga ada salahnya kita datang melayat dan menjalin tali silaturahmi dengan keluarga Almarhumah meski sudah tiada." jelas Berlian sabar dan tak mau buru-buru memaksa Bintang mengikuti sarannya. 


"Kamu baru keluar dari rumah sakit. Kamu harus banyak istirahat. Kalau kamu memang maunya kita datang melayat , nanti saja setelah kamu sembuh ya" ujar Bintang menjatuhkan keputusannya atas saran Berlian.


"Aku sudah baikan kok, beneran. Kita kesana juga ga lama. Enggak sampai memakan waktu seharian juga" bujuk Berlian tak patah semangat. 


"Kita akan pergi. Tapi, nanti setelah kondisi kamu benar-benar sehat" tegas Bintang tak bergeming dengan bujukan istrinya. 


Berlian di buat putus asa bagaimana lagi membujuk suaminya yang memiliki sifat keras dan sulit di bantah apa maunya.


 


"Bintang..." Berlian memanggil lembut nama Bintang dan memegang lembut tangannya. 


Bintang melirik lagi dengan satu tangan mengendalikan setir mobil.


"Kalau kita sudah punya niat baik, tidak baik kalau di tunda-tunda" kata Berlian beriringan dengan senyuman yang menjelaskan keadaannya yang sudah berangsur membaik. 


"Ok, kita akan pergi" Bintang mengubah keputusannya karna tak mampu mengecewakan niat tulus Berlian. 


"Tapi, kita kesana nya cuma sebentar. Bagaimanapun juga aku harus tetap mengutamakan kesehatanmu" sambung Bintang mengajukan syarat dan tak lupa menunjukkan perhatiannya. 


"Aku ga keberatan" ucap Berlian girang dan lega dengan sorot mata berbinar dan senyum yang kian lebar. 


Bintang balas tersenyum dan mengangkat tangan Berlian mendekati wajahnya, lalu menciumnya sepenuh hati. Kemudian tangan Berlian di genggam dan di letakkan di dadanya. Berlian menunduk dan tersenyum malu menyembunyikan debaran di hatinya menerima kemesraan dari Bintang.


...****************...


 


Sesuai dengan kesepakatan mereka berdua, Bintang dan Berlian tak bisa berlama-lama berada di rumah duka setelah mereka menyampaikan belasungkawa dan duka citanya atas meninggalnya Bella langsung kepada perwakilan keluarga. Sementara ibu Dewi tak bisa di temui mengingat kesadarannya belum pulih. 

__ADS_1


Bintang pun mengajak Berlian pulang. Tapi Berlian tampak gelisah seperti mencari seseorang di antara puluhan pelayat yang datang silih berganti mengunjungi rumah duka. 


"Lian, ini sudah sore. Kita harus segera pulang. Ingat kesehatan kamu" Bintang berbisik mengingatkan Berlian.


Berlian mengangguk lemah dan menurut saat Bintang merangkul pundaknya berjalan meninggalkan kediaman rumah duka yang masih ramai di kunjungi pelayat. 


"aku mau cari kak Arya. Dari tadi aku perhatikan, ga ada kak arya di rumahnya tante dewi. Aku khawatir kakak kenapa-kenapa" ujar Berlian menyampaikan kecemasannya pada Bintang yang mau menyalakan mesin mobil. Mendengar permintaan Berlian, Bintang tak jadi menyalakannya.


"Lian, kakak kamu bukan anak kecil lagi. Arya sudah dewasa dan dia itu lelaki yang sangat kuat. Saat ini, dia mungkin sangat terpukul karna kehilangan Bella. Tapi, dia ga akan melakukan tindakan konyol yang merugikan dirinya sendiri. Kakak kamu hanya butuh waktu menyendiri untuk menata hatinya kembali. Kamu jangan berpikir yang nggak-nggak" ujar Bintang menenangkan kecemasan Berlian tak hanya lewat kata-kata tapi juga pelukan yang membuat Berlian kembali bisa bernafas dengan tenang. 


"Aku akan bantu cari kakakmu setelah keadaan kamu jauh membaik" janji bintang.


"beneran?" Berlian menengadah meminta kepastian pada Bintang tentang janjinya. 


Bintang menjawab dengan anggukkan dan kecupan di kening istrinya yang di balas dengan senyuman olehnya. 


Bintang kembali memacu mobilnya di antara mobil lainnya yang memadati jalan raya, yang mulai padat karna waktu sudah menunjukkan waktu jam pulang kerja. 


Dalam perjalanan, Bintang mengajak Berlian makan dulu di sebuah restoran cepat saji mengingat dari siang Berlian belum makan apa pun. Jika di biarkan, khawatir kondisi Berlian drop lagi. Setelah makan, barulah mereka pulang. 


"Aku cinta kamu Berlian" bisik Bintang tersenyum penuh makna. 


...****************...


"Rangga, wajah kamu kenapa luka begini?" cemas mama farida melihat Rangga pulang dengan wajah lebam sana-sini.


"Rangga berantem sama teman" jawab Rangga ketus karna masih menyimpan dendam pada Bintang yang membuat wajahnya babak belur begini. 


"Kamu, sudah besar masih saja suka berantem. Kayak anak kecil saja" omel mama Farida. 


"Sudah, kamu masuk ke kamar, nanti mama susul. mama mau mengambil obat untuk mengobati lukamu" ujar mama Farida tetap perhatian dengan keponakannya. 


"Bintang sama lian belum pulang, ma?" tanya Rangga penasaran. 


"Sudah, tapi untuk sementara waktu ini, mereka sepertinya mau menginap di suatu tempat" jawab mama Farida , menyisakan rahasia yang membuat Rangga penasaran ingin tahu kemana bintang membawa berlian.


 

__ADS_1


"Memangnya ga bilang mau menginap di mana?" tanya Rangga hati-hati. 


"Kamu ngga perlu tahu. Biar itu jadi rahasianya Bintang. Siapa tahu mereka mau berbulan madu" kata mama Farida dengan tersenyum bahagia. 


Rangga hanya tersenyum kecut dengan umpatan-umpatan penuh dendam dalam hatinya. 


...****************...


Di pembaringan yang empuk, Berlian tertidur lelap dalam dekapan suaminya. Wanita berhidung mancung itu sama sekali tak sadar saat Bintang membopong tubuhnya keluar dari mobil hingga dia terbaring sempurna di atas tempat tidur. Berlian pun tak sadar manakala Bintang mengecup kening dan bibirnya sebelum Bintang ikut tertidur dengan mendekap tubuhnya. 


...****************...


Embun menetes membasahi dedaunan pertanda mentari sebentar lagi akan bersinar menyibak awan gelap. 


Saat itulah sepasang mata dengan bulu mata lentiknya perlahan terbuka. Senyumnya pun mengembang begitu mendapati dirinya terbangun dalam dekapan laki-laki yang membuat hatinya selalu berdebar tak karuan jika berdekatan seperti ini. 


Berlian sengaja sedikit memiringkan tubuhnya agar puas memandangi wajah tampan yang tertidur lelap di sampingnya. 


"Hal yang paling membahagiakan saat aku terbangun adalah aku bangun dalam pelukanmu seperti ini, Bin" ujar Berlian pelan karna tak mau mengganggu ketenangan suaminya yang lagi tertidur. 


Berlian kembali tersenyum dan mengecup kening suaminya sebelum dia berputar dan beranjak turun dari tempat tidur. 


"Kamar ini?" ujar Berlian baru sadar dia berada dalam kamar yang mempunyai sejarah indah dalam rangkaian perjalanannya membina rumah tangga bersama Bintang.


 


Ruangan bercat abu-abu itu adalah tempat di mana pertama kali dia dan bintang menunaikan hak dan kewajiban mereka sebagai sepasang suami istri. 


"Kamu masih ingat kan dengan kamar ini?" seru Bintang yang ternyata sudah bangun dan duduk di belakang punggung istrinya. 


Berlian memutar wajahnya melihat rupa suaminya. Berlian langsung menunduk malu tak sanggup bertatapan langsung dengan mata Bintang yang penuh magnet menarik-narik hatinya.


 


Bintang gemas sendiri melihat cantiknya paras istrinya ketika malu-malu begitu. 


"Kamar ini adalah salah satu tempat terindah dalam kehidupanku. Bagaimana dengan kamu?" Bintang meminta pendapat Berlian. 

__ADS_1


__ADS_2