
"Goresan Pelangi" ucap Bintang begitu selesai membaca sebait puisi dalam selembar kertas putih yang tercecer tadi dan puisi itu salah satu bagian kumpulan buku yang pernah dia baca.
"Jadi benar , kalau Penulis Goresan Pelangi itu kamu?" Bintang bertanya dengan tatapan serius.
"Kamu tahu apa tentang buku Goresan Pelangi?" Berlian balik bertanya dan dia sangat terkejut bagaimana Bintang tahu tentang buku karangannya karna setahunya Bintang tak pernah memegang atau pun memiliki buku itu.
"Kamu ingat waktu pertama kali kita bertemu di perkebunan. Aku tanpa sengaja menemukan buku itu" kenang Bintang.
"Jadi buku aku ada sama kamu!!" sambar Berlian keceplosan karna sudah lama dia mencari buku terbitan pertamanya.
"Jadi benar kalau kamu adalah penulis buku itu?"
"Bu...bukan" bantah Berlian berbohong.
"Jangan pernah bohong sama aku" bentak Bintang tanpa sadar menyulutkan emosi Berlian.
"IYA ... memangnya kenapa?" Berlian akhirnya mengaku.
"Jadi dugaan aku selama ini benar?" ucap Bintang dengan raut muka sulit di tebak.
"Sekarang kamu sudah tahu. Kamu pasti akan meminta aku berhenti menulis. Kamu pasti tidak akan mendukung hobi ku seperti kakek dan nenek. Kamu juga pasti akan bilang minat aku pada bidang menulis hanya membuang waktu saja" ujar Berlian jadi curhat dengan berlinangan air mata dan Bintang sedikit banyak bisa mengerti kenapa Berlian menyembunyikan jati diri yang sebenernya.
"Menulis karya adalah dunia ku. Aku ga bisa berhenti meski aku sudah mencobanya berkali-kali"
"Kalau kamu tidak bisa berhenti, jangan coba untuk berhenti. Teruskan apa yang menjadi dunia mu dan apa yang menjadi cita-citamu" sela Bintang memberi dukungan atas bakat istrinya.
Air Mata Berlian langsung berhenti menetes dan Berlian tak sepenuhnya percaya dengan apa yang di katakan bintang sampai tangan kekar itu menangkup wajahnya dengan sorot mata meyakinkan.
"Jangan pernah berhenti menulis. Aku ngga akan pernah membiarkan kamu mengabaikan potensi yang kamu miliki. Kamu punya kesempatan untuk menjadi penulis ternama" kata Bintang pasti.
__ADS_1
Dukungan hebat dari Bintang, membuat berlian tak kuasa menahan air mata bahagianya. Berlian juga tak tahan untuk tidak memeluk suaminya, mencurahkan bahagianya.
"Teruslah menulis Lian" pesan Bintang sebelum mengecup kening istrinya dan merekatkan tubuh wanita pujaan tenggelam dalam pelukannya.
"Terima kasih" kata Berlian tulus dan mencium mesra dada suaminya.
...****************...
Jari-jari lentik itu terasa lebih lincah dan ringan mengetik huruf demi huruf merangkainya menjadi sebuah kalimat yang indah. Otak wanita berparas cantik itu pun seolah tak kehilangan ide cerita untuk novel karangannya yang di ketik langsung pada laptop pemberian mertuanya. Semangat kreatifitas menulisnya itu begitu meningkat berkat dukungan langsung dari sang suami. Sampai wanita berambut hitam itu tak sadar suaminya yang memperhatikannya dari tadi jadi jengah dan tak tenang mengingat hari sudah larut malam tapi berlian masih saja sibuk mengetik.
"kamu lanjut ngetiknya besok-besok saja. Ini sudah jam berapa?. Kamu harus tidur dan istirahat" tegur Bintang mengingatkan Berlian.
"Bentar lagi ya. Nanggung dikit lagi" Berlian tersenyum melirik suaminya lalu kembali menyibukkan diri dengan laptopnya.
"Nggak ada cerita lagi" tegas Bintang tak mau tawar menawar dan langsung mengambil alih laptop dari tangan nya lalu mematikannya.
"Yaahhh,,kok di matian?!" protes Berlian manyun.
"Ini sudah malam. Kamu harus istirahat" ujar Bintang setelah menaruh laptop tersebut.
"Besok pagi-pagi sekali kita sudah harus siap-siap untuk perjalanan . Kondisi kamu harus prima selama dalam perjalanan. Aku ga mau melihat kamu kecapekan apa lagi sampai kamu jatuh sakit seperti kemarin" ujar Bintang menunjukkan perhatiannya yang berhasil mengembalikan keceriaan di wajah Berlian.
"Kamu mau ikut ,kan?"
Berlian mengangguk cepat mengiyakan pertanyaan suaminya.
"Kalau begitu kita tidur" ajaknya.
Bintang lantas merebahkan dan mendekap tubuh Berlian tidur dalam pelukannya.
"Besok aku akan tunjukkan tempat yang indah. Tempat itu sangat bagus untuk jadi tempat mencari inspirasi kamu jika nanti kamu mulai bosan atau kehilangan ide untuk menulis"
__ADS_1
"Di mana itu?" Berlian yang damai dalam pelukan Bintang di buat penasaran dengan tempat yang di maksud olehnya.
"Besok kamu juga akan tahu" Bintang tersenyum misterius.
Wajah Berlian kembali manyun sebagai wujud protesnya karna Bintang tak mau memberitahu tempat yang membuat dirinya jadi penasaran.
"Besok kamu akan tahu tempat itu. Kamu bisa sabar menunggu sampai besok,kan?" Bintang berusaha meyakinkan istrinya bukan hanya dengan kata-kata tapi juga dengan usapan di wajah dan kecupan sayangnya di kening Berlian. Senyum Berlian pun mengembang manis menyambut kehangatan yang di tunjukkan oleh Bintang.
"Kita tidur sekarang" ajak laki-laki bermata coklat itu beriringan dengan senyum lesung pipitnya yang menawan.
Bintang kemudian menarik selimut menutupi tubuh Berlian.
"Bin, aku belum ngantuk" rengek Berlian yang terasa begitu sulit memejamkan matanya.
"Pasti bisa" yakin Bintang seraya membelai wajah istrinya lembut dengan sorot mata tak lepas memandangi mata bulatnya yang lucu dan menggemaskan. Berlian tak bisa mengelak, matanya mulai terhipnotis dan terasa berat. Dan kelopak matanya pun sempurna jatuh menutup bola mata dan pandangannya ketika Bintang kembali mengecup keningnya.
"Selamat malam, Lian" bisik Bintang lirih dan terpaku melihat putri tidurnya mulai terbawa dalam alam mimpinya.
"Aku cinta kamu " bisik Bintang lagi sebelum ikut memejamkan matanya.
Kelopak mata Berlian sontak terbuka saat telinganya menangkap sebuah kalimat ajaib yang keluar dari mulut Bintang. Namun sayangnya kalimat itu samar terdengar olehnya.
Berlian pun bangun mengamati wajah bintang baik-baik. Debaran aneh menghantam perasaannya dengan lembut. Kalimat ajaib yang samar dia dengar ibarat mimpi indah yang sulit di percaya bisa jadi nyata mengingat dia dan bintang pernah punya kisah buruk tentang cinta dengan masa lalu mereka.
"Bin, sebenarnya kamu tadi bicara apa?. Apa pendengaran aku yang salah atau memang kamu yang asal bicara?." tebak Berlian dalam hati.
"Apa benar kamu cinta aku?" gumam Berlian sendu dan sebuah harapan indah terbesit dalam hatinya mengalahkan trauma cinta masa lalunya. Seandainya benar Bintang mengucapkan kalimat itu.
"Ngga mungkin" bantah Berlian mengingkari bisikan hatinya. Tapi sekuat-kuatnya dia mengelak, tetap harapan itu bersemi tanpa dia tahu sebabnya.
"Aku mau kamu mengucapkan kalimat itu satu kali lagi" harapan Berlian sia-sia karna Bintang sudah lena dengan mimpinya.
__ADS_1
"Lebih baik aku tidur lagi. Paling tadi aku cuma salah dengar" ujar Berlian bernada kecewa.
"Aku sayang sama kamu" bisik Berlian sebelum menyapa pipi suaminya dengan rasa sayangnya. Berlian kemudian berbaring dan merebahkan tubuhnya memeluk erat tubuh atletis suaminya. Kedamaian pun menyeruak saat dia bisa merasakan tangan Bintang membalas pelukannya.