Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab. 35 Berlian kangen Kak Arya


__ADS_3

"Bukkk"  Sebuah pukulan di layangkan Arya tepat di perut orang yang memeganginya begitu orang tersebut lengah. Arya terbebas dan lari sekuat tenaga. 


"Kak Arya, jangan lari kak" 


Berlian berlari mengejar kakaknya di ikuti beberapa orang di belakangnya. 


Arya yang kehabisan tenaga di buat tak berkutik saat Berlian berhasil menarik jaketnya. 


"Lian, lepasin kakak" pinta Arya ketakutan karna di belakang adiknya ada beberapa laki-laki mendekat dan siap menghabisi dia. 


"Engga. Lian ngga akan lepasin kakak. Ka Arya ngga boleh ninggalin Lian lagi. Lian kangen sama kakak" 


Arya tak punya waktu bnyak meladeni kemauan adiknya kalau tak mau nyawanya melayang di habisi massa. 


"Aaaaarrggghhh,,," Arya menepis tangan adiknya dengan kasar dan mendorongnya hingga adiknya tersungkur jatuh ke aspal. 


"Kak Arya, jangan tinggalin Lian, kak" pinta Lian berurai air mata sambil menahan sakit pada sikunya yang berdarah akibat terbentur aspal. Arya sempat berhenti dan tak tega melihat keadaan adiknya. Tapi, keselamatan nyawanya lebih penting. 


"Maafin kakak, Lian" sesalnya sambil terus berlari menyelamatkan diri. 


"Mbak, mbak ngga apa-apa kan?" salah seorang dari pemuda yang ikut mengejar Arya membantu Berlian untuk berdiri dan selebihnya tetap mengejar Arya yang lari entah kemana. 


"Terima kasih, mas. Saya tidak apa-apa" kata Berlian sambil menatap getir kearah kakaknya yang berlari menyelamatkan diri. 


"Ya Allah, Lian!. Kamu tidak apa-apa kan,nak?" mama Farida datang menyusul bareng mang Asep dan kaget melihat luka di tangan menantunya. 


"Lian ngga apa-apa kok ma" jawabnya. 


"Luka begini kamu bilang ngga apa-apa. Mama kan sudah bilang kamu jangan ikutan mengejar copetnya. Kamu nya keras kepala. Jadi tangan kamu luka begini,kan?" omel mama Farida karna cemas dan sayangnya pada Berlian. 


"Sudah, kita pulang, tapi kita obati luka kamu dulu" 


mama Farida menuntun Berlian berjalan setelah berterima kasih pada pemuda yang menolong menantunya dan sudah menyelamatkan tasnya.


...****************...


Bintang tak betah sendirian di rumah. Dia hendak keluar menghilangkan suntuk. Bintang pun mengeluarkan motor sport kesayangannya dari garasi. Saat hendak menyalakan mesin motornya, mama dan istrinya ternyata pulang.


"Lian, kamu kenapa?" 

__ADS_1


Bintang bergegas turun dari motor dan berjalan menghampiri istrinya yang turun dari mobil dengan siku di perban. 


"Lian, tangan kamu kenapa bisa luka begini?" panik Bintang sambil menyentuh siku istrinya.


 


"Aw... sakit tau" Berlian spontan memukul tangan Binatang.


 


"Lian, tangan kamu luka masih saja sempat-sempatnya mukul " protes Bintang.


 


"Maaf, habisnya tangan aku sakit kamu malah menyentuhnya" kata Berlian membela diri.


 


"Bin, istrimu jangan di omelin begitu, kasihan" bela mama Farida.


"Ma, tangan Lian kenapa jadi luka begini?" Bintang bertanya pada mamanya dengan muka serius. 


Bintang menurut saja dan mengikuti ibu dan istrinya masuk. 


"Sekarang mama ceritakan sama Bintang, kenapa tangan Lian bisa luka begini?" tanya Bintang tak sabaran.


"Bin, aku baik-baik saja. Luka aku juga enggak parah. Sudah di obati juga tadi di klinik" jelas berlian. 


"Kamu diam!. Aku bertanya sama mama, bukan kamu" sela Bintang mempertegas kuasanya. Lian pun terpaksa diam. 


"Bin, kamu jangan terlalu keras sama istri kamu. Berlian sampai luka begitu karena dia nekat mengejar orang yang mencopet tas mama tadi pas belanja" cerita mama Farida.


 


"Lian mengejar copet?" kaget bintang sambil melirik tajam kearah istrinya. 


"Memangnya mama tidak mencegah Berlian supaya tidak bertindak gegabah seperti tadi?" 


"Bin, kamu jangan salahkan mama. Mama sudah mencegah aku , dan aku yang ngotot mengejar copet itu" Berlian membela mama mertuanya. 

__ADS_1


"Kamu sudah gila" bentak Bintang tiba-tiba di liputi emosi dan kemarahannya mendengar cerita istrinya. 


"Kamu tidak tahu akibat dari sifat gila kamu?. Kapan kamu bisa bersikap wajar dan dewasa?. Apa yang kamu lakukan bisa saja membahayakan nyawa kamu. Apa kamu tidak bisa berpikir sampai sejauh itu?" 


"Kamu kenapa jadi marah-marah begini sama aku?. Aku mengejar copet itu karena..." Berlian menggantung penjelasannya karna dia tak mau Bintang dan mama mertuanya tahu siapa copet itu sebenarnya. 


"Karena apa?" tanya Bintang sedikit membentak. 


"Karna... karna aku mau menyelamatkan tas mama lah" jawabnya asal. 


"Hanya untuk menyelamatkan tas mama kamu sampai nekat segila ini?. Kamu pikir nyawa kamu bisa di tukar dengan tas itu?. Seribu tas yang lebih bagus bisa aku belikan tapi nyawa kamu..." Bintang cepat terdiam dan bingung mau berkata apa meneruskan ucapan yang keluar begitu saja dari mulutnya. 


"Kenapa dengan nyawa aku?" Berlian penasaran dan bingung kenapa suaminya jadi lebay begini memperhatikannya. Tapi, mama Farida bisa menangkap arti kemarahan putranya tak lebih atas dorongan rasa takut akan kehilangan wanita yang mulai dia cintai. Tapi, Bintang masih terlalu angkuh menyadari perasaannya. 


"Karna jika kamu kehilangan nyawa kamu, aku bisa dihabisi kakekmu. Kamu pikir kalau kamu mati, aku mau ikut mati?. Aku masih sangat menyayangi nyawa aku di banding nyawa kamu" ujar Bintang melawan kata hatinya. 


"Kamu keterlaluan..." 


Berlian yang sesungguhnya dalam keadaan tertekan dan sedih mengingat pertemuan tak terduga dengan kakak yang selama ini dia cari dan rindukan dalam kondisi yang tidak menguntungkan di buat kecewa mendengar pernyataan suaminya. Berlian pun berlari menaiki tangga menuju kamarnya. 


"Jaga bicara kamu, nak. Lian pasti merasa tidak di butuhkan oleh suaminya sendiri karna ucapan kamu tadi. Istri kamu masih shock atas kejadian tadi. Sepanjang jalan pulang, istri kamu tak banyak bicara dan seperti memendam masalah juga kesedihannya sendiri. Apa kamu tidak bisa peka mengenali istri kamu lebih dekat lagi" mama Farida memberi teguran juga nasihat pada putranya.


Bintang diam saja, dia memilih keluar dan meninggalkan mamanya. Mama Farida hanya bisa menarik nafas berat kecewa dengan sikap putranya. Namun dia di buat bingung ketika Bintang berbalik dan berjalan menaiki tangga menyusul istrinya. 


"Bintang, Bintang... gengsi saja di gedein" oceh mama Farida dalam hati. 


...****************...


Dalam kamarnya, Berlian berniat menghempaskan tubuhnya di atas kasur mencurahkan kesedihan yang dia pendam sendiri. 


Belum sempat dia menjatuhkan tubuhnya, Berlian merasa ada yang menarik tangannya dan melarikan tubuhnya ke dalam pelukan laki-laki bertubuh atletis itu. 


Seketika air matanya tumpah membasahi kemeja Bintang. Sejenak, Bintang membiarkan istrinya meluapkan kesedihan yang tidak bisa di pahami atau pun di mengerti oleh Bintang, yang dia tahu, dia tak rela Berlian menangis. 


"Kamu istri seorang Bintang Pratama dan istriku itu adalah wanita yang tangguh dan norak, bukan cengeng seperti ini" ujar Bintang tanpa melepaskan pelukannya. 


"Maaf..." Berlian sesenggukan menahan tangisnya. 


"Hapus air mata kamu" 

__ADS_1


Bintang menangkup wajah istrinya dan menghapus sendiri air mata yang membasahi pipi Berlian. Berlian tertegun menatap suaminya tanpa berkedip. Perlakuan lembut suaminya membawa ketenangan dalam jiwa Berlian sekaligus kebingungan menanggapi sikap Bintang yang kadang lembut kadang tak berperasaan. 


__ADS_2