Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 87. Masa lalu Bintang


__ADS_3

Seluruh keluarga telah kembali ke rumah masing-masing, tak terkecuali Bintang dan Berlian.


Sesampainya di rumah, semuanya dikejutkan dengan kedatangan beberapa orang polisi.


"Benar,anda yang bernama Bintang Pratama?" tanya salah seorang pria berseragam polisi menghampiri Bintang yang baru turun dari mobilnya.


"Iya, saya Bintang Pratama" jawabnya tegap. Sementara berlian dan mama farida yang baru saja turun dari mobil berbeda di buat cemas dan bertanya-tanya, ada gerangan apa polisi mencari Bintang.


 


"Kalau begitu anda ikut kami ke kantor polisi dan kami dengan resmi membawa surat penahanan saudara" 


Berlian dan mama Farida di buat tercengang dengan perkataan polisi tersebut. Bintang dengan tenang menerima dan membaca surat penahanan dirinya. 


"Baik, saya akan ikut bapak ke kantor polisi" putusnya dengan kepala dingin. 


"tidak..." sergah berlian.


"Bapak tidak bisa membawa pergi suami saya begitu saja. Suami saya orang baik-baik, dia tidak mungkin melakukan kesalahan" bela Berlian memeluk dan menahan suaminya agar polisi tidak membawa laki-laki yang di cintainya. 


"Maaf suami anda harus kami bawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ibu bisa menghubungi kuasa hukum suami anda untuk melakukan pembelaan" ujar polisi tersebut.


"Silakan ikut kami"


Mama Farida jatuh pingsan saat itu juga. Arya yang kebetulan ada disana segera menolong dan membawa Mama Farida masuk ke dalam rumah.  Bintang hanya bisa menatap nya sedih.


"Jangan bawa suami saya. Suami saya ngga salah" tangis Berlian tak tertahan. Dia juga dengan sekuat tenaga menggenggam tangan Bintang dan tak mau melepasnya. 


"Lian, lepasin tangan aku. Semua akan baik-baik saja" bujuk bintang meyakinkan. 


Arya buru-buru keluar lagi , berusaha menenangkan adiknya.


"Kak, jangan biarkan polisi itu membawa Bintang" tangis Berlian terisak. 


"Ar, aku titip Berlian" pesan Bintang sebelum dia berjalan menuju mobil polisi.


"Kamu tenang saja . Aku pasti akan menjaga adikku dengan baik" janji arya.


"Bintang...kamu ngga boleh ninggalin aku" 


Berlian meronta dan berlari memeluk suaminya. Pihak polisi pun bersiaga memisahkan keduanya. 


"Lian, aku pasti segera kembali" Bintang mengecup kening menghapus air mata wanita yang di cintainya sebelum dia benar-benar di bawa oleh pihak kepolisan. Berlian menangis sejadi-jadinya


Rangga yang menyaksikan dari kejauhan merasa puas rencananya berhasil.


"Bintang,jangan pergi...." 


Berlian berlari sekuat tenaga mengejar mobil polisi yang membawa suaminya.


"Lian, berhenti ngejar aku" teriak Bintang dari dalam mobil. Hatinya menjerit getir melihat Berlian yang tiba-tiba tersungkur jatuh, sedangkan dia tak bisa berbuat apa-apa. Matanya pun terasa panas dan berair menahan kesedihannya yang hanya bisa jadi penonton dari balik kaca mobil yang membawanya makin jauh, hingga Berlian tak terlihat lagi. 


"Bintang... jangan tinggalin aku" Berlian menangis menyayat hati dalam pelukan kakaknya.


...****************...


Flashback 


15 tahun yang lalu, sebuah kecelakaan menimpa rombongan keluarga yang tengah pergi berlibur. Kecelakaan yang terjadi di jalan tol tersebut merenggut 3 nyawa sekaligus dan 3 lagi di nyatakan selamat. 

__ADS_1


Mama Farida korban yang di nyatakan selamat tidak bisa membendung kesedihannya waktu mengetahui suami yang dia cintai kritis dan akhirnya nyawanya tak bisa diselamatkan. Begitu juga dengan sepasang suami istri yang merupakan Adik kandungnya juga tak bisa di selamatkan. 


Ingin sekali rasanya mama Farida mengakhiri hidupnya menyusul orang terkasihnya yang lebih dulu menghadap Tuhan. Tapi ada Bintang, buah hatinya yang selamat dalam kecelakaan. Dan ada Rangga, anak angkat dari adik kandungnya yang ikut selamat. Dua malaikat itu jadi penguat hidup Farida untuk bertahan merawat dan membesarkan mereka sendirian. 


Berselang 3 tahun hidup menjanda , Farida memutuskan menikah kembali dengan laki-laki single bernama Reza. Reza adalah cinta pertama Farida yang telah lama berpisah. Reza mau menerima Farida apa adanya, termasuk menerima Bintang dan Rangga sebagai anaknya. 


Keluarga baru Farida berjalan harmonis seperti keluarga lainnya. Dan keharmonisan keluarga Farida makin nyata manakala dia melahir buah cintanya dengan Reza. Farida melahirkan putri cantik yang di beri nama Bulan. Lahirnya Bulan tak membuat Reza melupakan Bintang dan Rangga. Reza tetap menyayangi dua jagoan itu seperti dia menyayangi putri kandungnya. Begitupun sebaliknya. 


Namun semua berubah 180 derajat. Reza yang penyayang berubah jadi bejat dan begitu membenci Bintang. Karna Bintang, Bulan yang baru berusia 3 tahun meninggal dunia karna Bintang lalai menjaga adiknya. Saat itu mama Farida dan sang suami harus membesuk salah satu kerabat mereka yang sakit, sementara Rangga keluyuran entah kemana. Bintang tak sengaja meninggalkan adiknya dalam mobil yang tertutup dan asyik bermain dengan teman-temannya. Bulan terkurung seharian di dalam mobil dan di nyatakan meninggal karna kekurangan oksigen. 


Sejak kejadian itu, Reza sangatlah membenci Bintang dan menganggap Bintang sebagai pembunuh putri kandungnya. Reza tidak bisa memaafkan Bintang begitu saja karna dia tak memungkinkan memiliki anak lagi karna mengidap sebuah penyakit. 


Meninggalnya Bulan jadi babak baru dalam derita hidup seorang Bintang. Bintang harus merasakan kekerasan tangan seorang ayah tirinya. Reza tak segan menampar atau menyekap Bintang dalam kamar seharian walau dia tak melakukan kesalahan apa-apa. Farida berusaha membela dan melindungi buah hatinya dari kekejaman suami keduanya itu. Tiap kali Farida melakukan pembelaan, tiap kali itu juga Farida harus bernasib sama seperti putra kandungnya. 


Tak sampai di situ, Reza mencabut semua fasilitas kemewahan yang di terima Bintang dan menyerahkannya pada Rangga. Rangga di manja, kemauannya selalu di turuti. Apa yang di inginkan dan di minta oleh Bintang di berikan ke Rangga. Jika Bintang memaksa dan meminta kemauannya di turuti, Reza tak segan untuk bertindak kasar. Farida yang tak tega melihat Bintang jadi bulan-bulanan kekerasan suaminya, kerap meminta dan membujuk agar Bintang mengalah kepada Rangga. 


Sikap Farida seperti itu, membuat Bintang lama kelamaan jadi muak. Bintang yang beranjak dewasa mulai melakukan perlawanan dan puncaknya terjadi pada waktu dia duduk di bangku kelas 1 SMA. Bintang yang badung dan kerap bikin onar di sekolahnya kena tegur dan di beri sanksi karna tergabung dalam sebuah genk motor yang kerap membuat rusuh. 


"Anak kurang ajar.." maki Reza setelah puas menampar Bintang berkali-kali. 


"Kamu di sekolahkan bukan untuk jadi preman seperti ini. Kamu contoh sepupu kamu Rangga. Dia itu anak baik dan rajin. Dia tak pernah bikin malu keluarga seperti kamu" 


"Om Reza ga perlu membanding-bandingkan aku dengan Rangga karna aku bukan dia" sela Bintang tak suka di banding-bandingkan dengan Rangga. 


"Berani kamu melawanku" hardik om reza dan siap menampar bintang sekali lagi. 


"Mas ...cukup" mama Farida keluar dari kamar, beliau sudah tak tahan melihat buah hatinya di kasari. 


"Siapa yang menyuruh kamu keluar dari kamar?. Kamu masuk..." bentaknya pada istrinya. 


"mama sebaiknya kembali ke kamar. Aku ngga butuh pembelaan mama. aku bisa selesaikan masalahku sendiri dengan om reza" kata Bintang dengan raut wajah dingin dan sorot mata berapi menatap ayah tirinya. 


"Berani kamu melawan ibu kamu" geram Reza. 


"Mas... berhenti menyakiti Bintang atau aku akan menyudahi pernikahan kita" ancam Farida di batas ambang kesabarannya meladeni sikap kasar suaminya. 


"Kamu bilang apa?" Reza terperanjat dan berjalan menghampiri istrinya.


 


"Aku sudah mengurus gugatan cerai terhadapmu dan mas reza ngga akan mendapatkan harta keluarga aku satu sen pun. Karna harta itu adalah miliknya Bintang" 


"Berani sekali kamu membuat keputusan sepihak begini" 


Reza geram tak terkendali dan mencekik istrinya seperti kesetanan. 


"Mas lepasin aku..." pinta Farida. 


"Aku akan melepaskan kamu kalau kamu menuruti kemauan aku. Cabut gugatan cerai itu dan alihkan semua harta kekayaan kamu untuk aku dan Rangga" Reza mengajukan syarat semaunya. 


"Aku ngga akan pernah menuruti kemauan mas reza lagi" tolak farida meski nyawanya kini terancam karna Reza tak mau menurunkan tangannya dari lehernya.


"Lepasin Mamaku...." 


Bintang yang geram, menarik tangan ayah tirinya. Farida pun terlepas dari cengkraman Reza.


"Bukkkk.." pukulan keras di layangkan oleh Bintang dan tepat mengenai perut Reza.


Tubuhnya terjungkal jatuh dan berguling menuruni anak tangga di barengi teriakan dan jeritan. 

__ADS_1


"Mas Reza!!" 


Farida histeris dan berlari menuruni anak tangga dan mendapati suaminya tergelatak terluka luka dan berdarah. 


Bintang mematung dengan sorot mata nanar mata menatap ke bawah. Bintang seolah tak bernyawa. Tubuhnya tak mampu di gerakkan. 


"Mama...om Reza kenapa?" Rangga yang baru pulang sekolah di buat terkejut dan berlari menghampiri Farida yang terus memeluk tubuh suaminya yang tak sadarkan diri. 


"BINTANG..." rahang Rangga mengatup dan bergesek menahan bara api melihat sosok yang berdiri di lantai dua dengan raut wajah sulit di mengerti, apakah dia menyesal atau justru bahagia karna dendamnya terlampiaskan. 


flashback off


...****************...


"Semua salah mama, Lian. Seandainya mama tidak menikah lagi, semua ini takkan terjadi" sesal mama Farida mengakhiri cerita kenangan terburuk dalam hidupnya. 


Berlian yang mendengarkan kisah pilu seorang Bintang tak pernah bisa berhenti meneteskan air matanya. Dia sama sekali tak menduga kalau Bintang memiliki kisah hidup yang tragis. 


"Sebenarnya kasus kematian mas reza sudah lama di tutup karna keluarganya bersedia berdamai. Tapi 2 minggu yang lalu, mas erwin datang mengancam akan memperkarakan kasus kematian kakaknya kalau Bintang tak bersedia menuruti syarat perdamaian yang dia ajukan" kata mama Farida di tengah tangis kesedihannya. 


"Apa syarat yang di ajukan oleh om Erwin, ma?" tanya Berlian ingin tahu. 


"Dan kenapa Bintang tidak mau menurutinya?" tanya Berlian lagi sebelum mama Farida sempat menjawab pertanyaannya. 


"Mas erwin meminta supaya Bintang..." mama Farida tak tega mengatakan yang sebenarnya pada menantunya. 


"mama tolong jujur sama lian. Syarat apa yang di ajukan oleh om erwin agar bintang terbebas dari segala tuntutan" pinta Berlian tak sabar karna dia mau bintang bebas secepatnya. 


"Mas erwin meminta agar Bintang... Bintang mau...menceraikan kamu dan menikah dengan Kartika" 


"Cerai?...menikah dengan Kartika??" 


Berlian terkejut kemudian dia berlari keluar dari kamar mertuanya. Mama Farida tak mampu menahan karna tenaganya terkuras menangisi nasib malang yang menimpa buah hatinya. 


"Maafin aku, mas. Aku ga bisa melindungi anak kita. Aku tidak bisa menjaga juga membahagiakan dia sesuai dengan harapan kamu" tangis wanita paruh baya tersebut mengenang mendiang suami pertama nya. 


 


...****************...


Di dalam kamar, Berlian menumpahkan tangis kerinduan juga kesakitannya. Rindunya pada Bintang yang tak bertepi dan sakitnya mengetahui syarat kebebasan Bintang di luar batas kemampuannya untuk memenuhi. Cintanya pada Bintang tumbuh begitu dalam. Tak peduli dengan kisah masa lalu Bintang bagaimana. Cintanya untuk Bintang tak terusik sedikitpun.


"Bin, aku ga bisa hidup tanpa kamu. Aku ngga mungkin sanggup menyudahi pernikahan kita. Aku ga mungkin rela kamu di miliki oleh gadis lain, walaupun itu sahabatku sendiri. Aku sangat mencintai kamu. Sangat" rintih Berlian tak hentinya meratap dan menangis sambil menatap foto suaminya. 


"Apa yang harus aku lakukan, Bin?. Aku juga ga tega membiarkan kamu meringkuk dalam tahanan. Kamu ngga salah. Kamu bukan pembunuh. Kamu ngga seharusnya berada di balik jeruji. Tapi aku ngga bisa mengorbankan pernikahan kita. Aku cinta sama kamu dan aku ngga bisa begitu mudahnya melepaskan kamu dari hidupku" Berlian terus menangis dan kali ini dia memeluk foto sang suami. Terasa kalau Bintang tengah memeluknya. 


Berlian memejamkan mata dan menarik nafas dalam. Kehadiran Bintang terasa kian nyata dan aroma tubuhnya menyebar. 


"Bintang" Berlian membuka mata. Tangisnya berganti senyuman. 


"kamu sudah bebas?" tanyanya pada sosok di depan matanya. 


Sosok itu mengangguk tanpa suara. Hanya senyuman dan anggukan yang dia layangkan menjawab pertanyaan Berlian.  Berlian memeluk tubuh suaminya penuh kerinduan. 


"Aku kangen sama kamu. Aku pikir kamu akan di penjara selamanya. Ternyata kamu bisa bebas secepat ini" katanya. 


Sosok yang di peluk dan di ajaknya bicara tak mengeluarkan sepatah kata pun. Sosok itu hanya tersenyum dan menghapus sisa air matanya, kemudian merebahkan tubuhnya di atas pembaringan yang empuk. 


"Kamu tidur" kata sosok itu dengan senyumnya yang khas sambil jarinya menyisir lembut rambut Berlian yang hitam.

__ADS_1


"kamu juga ikutan tidur ya" ajak Berlian.


Laki-laki itu tak menjawab, dia hanya menunduk mengecup keningnya. Jari-jarinya bergerak membelai wajah mulus Berlian. Berlian pun terlena. Matanya terpejam, dia bisa tidur lelap tanpa beban karna ada Bintang di sisinya. 


__ADS_2