
Selesai membereskan rantang bawaannya yang sudah kosong, Berlian tak langsung pulang. Dia memilih menunggui suaminya yang kembali sibuk bekerja , sedang Berlian memilih melanjutkan ketikan novelnya.
"Tuh kan, salah lagi ngetiknya" omelnya sendiri.
"Kenapa?" Bintang beranjak dari tempat duduknya dan bersebelahan dengan istrinya yang duduk di sofa panjang dekat meja kerjanya.
"Ini, ketikannya salah terus dari tadi" keluhnya.
"Mungkin jari-jari kamu sudah capek dan butuh istirahat. biar aku yang ngetik dan kamu ucapkan saja dialog yang harus di ketik" ujarnya.
"Biar aku saja, kamu selesaikan saja pekerjaan kamu" tolaknya lembut.
"Nggak apa-apa. Pekerjaan aku sudah selesai, Yank" jelasnya.
"Serius ni?"
Bintang mengangguk pasti.
Berlian pun akhirnya bersedia menerima bantuan suaminya. Bintang tampak antusias mengetik kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibir istrinya. Kadang dia juga turut memberi ide atau memberi masukkan. Berlian dengan senang hati menerima ide beserta kritik membangun yang di layangkan Bintang. Dan Berlian terlihat begitu bahagia bisa mendapat dukungan juga dorongan semangat yang nyata dari laki-laki yang membuat hidupnya jauh lebih berwarna.
Beranjak sore, pasangan suami istri itupun pulang dengan bergandengan tangan mesra. Karyawati yang melihatnya tampak iri.
"Baru melihat itu saja kalian sudah pada melongo. Aku saja yang melihat kemesraan pak Bintang dan istrinya yang cetar membahana, biasa saja" seloroh Karina pada rekan kerjanya yang termangu melihat pintu lift yang sudah tertutup, membawa atasan mereka turun ke lantai dasar.
"Memangnya ada kejadian apa, sih?. Cerita donk sama kita?" Karina langsung di todong oleh Siska dkk yang kepo.
"Mau tahu aja, apa mau tahu banget?" celetuknya.
"Mau tahu banget lah...." jawab Siska dkk serentak.
"Cari tahu saja sendiri" Karina ngeloyor masuk lift lebih dulu.
"Karinaaaa.."
...****************...
__ADS_1
"Sayang, terima kasih hari ini kamu sudah banyak membantu aku. Mulai dari mengetik naskah novel aku, terus kamu juga sudah memberi ide dan saran yang bagus untuk mengembangkan cerita dalam novel aku supaya lebih baik lagi" ucap Berlian begitu tulus saat hari sudah mulai malam dan waktunya untuk beristirahat melepaskan penat.
Bintang tersenyum dan mengecup kening istrinya yang memeluk erat tubuhnya.
"Yank, sampai kapan kamu akan menyembunyikan bakat kamu dari kakek dan nenek?. Sudah saatnya mereka tahu kalau cucu mereka merupakan penulis hebat. Apalagi sekarang kamu sedang membuat novel tentang perjalanan cinta mereka. Kalau mereka sudah tahu, kamu bisa dengan leluasa mengulik kisah cinta kakek dan nenek. Bagaimanapun juga sebagai seorang penulis, kamu harus mendapatkan izin dari orang yang ingin kamu rangkum kisah hidupnya dalam sebuah tulisan. Orang yang ingin kamu jadikan tokoh cerita nyata novel kamu masih hidup, kamu tidak boleh menyepelekan itu karna itu sama saja kamu tidak menghargai mereka, meskipun tokoh dalam karya novel kamu masih ada sangkut pautnya dengan kamu. Kamu bukan hanya tidak menghargai mereka tapi kamu juga tidak menghargai karya kamu sendiri" nasihat Bintang panjang lebar demi kebaikan istrinya. Berlian diam dan merenunginya.
"Tapi, aku takut kalau nanti kakek dan nenek ga suka aku jadi penulis" cemasnya.
"Kan ada aku yang akan selalu mendukung cita-cita kamu menjadi seorang penulis ternama." ujar bintang serius.
"Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan kakek dan nenek" putus Berlian setelah mendapat dukungan penuh dari suaminya.
"Aku akan menemani kamu bicara dengan kakek dan nenek. Dan aku sendiri yang akan bicara dan meminta pengertian dari mereka" tekad Bintang bulat mendukung penuh bakat istrinya.
Berlian tersenyum haru, kecupan sebagai ungkapan terima kasih mendarat cukup lama menyentuh pipi suaminya.
"Aku cinta kamu, Bintang" bisiknya sendu.
Bintang membalasnya dengan senyuman menawannya. Dan senyuman itu terampas indah oleh sentuhan bibir Berlian yang hangat. Bintang terbuai dan mulai menuntut lebih. Keduanya akhirnya melewati momen bahagia yang sempurna. Sampai akhirnya Berlian terlelap bahagia dalam dekapan suaminya setelah melewati detik-detik membahagiakan sepanjang malam.
...****************...
Berlian sudah terlihat cantik dan rapi dan dia juga tak sabar menunggu suaminya turun dari kamar.
"Sayang hari ini aku mau meninjau keadaan pabrik, mungkin aku pulangnya agak malaman" beritahunya saat dia sudah berhadapan dengan istrinya.
Berlian terkejut mendengar suaminya mau bekerja sementara sebelumnya, sang suami berjanji mau menemani checkup untuk pertama kalinya. Namun Berlian berusaha tenang dan tidak mau terbawa emosi.
"Sayang,kamu tidak lupa kan hari ini hari apa?" harapnya.
"Hari ini kan hari Jum'at. Memangnya kenapa?"
"Dan kamu mau kerja?" sela Berlian mulai tak bisa mengendalikan emosinya.
"Iya lah, sayang. Hari ini kan bukan hari libur" jawabnya santai tanpa merasa ada yang salah dengan dirinya.
__ADS_1
"Ish... dasar . masih muda sudah pelupa...! terserah kamu deh" Berlian meraih tasnya yang berwarna hitam di atas meja lalu pergi keluar kamar. Mungkin bawaan wanita hamil, sifatnya jadi lebih sensitif. Bukannya mengingatkan Bintang, Berlian memilih pergi sendiri.
"Yank, kamu mau kemana? sebentar, tungguin aku " Bintang menyusul setelah selesai menggunakan sepatu nya.
Di teras depan pintu, Berlian berpapasan dengan mertuanya yang baru pulang dari pasar.
"Ma, Berlian mau pergi dulu ya" Berlian berpamitan dan mencium punggung tangan mertuanya. Berlian pun pergi.
"Lian, tunggu..." teriak Bintang.
"bukannya kamu sudah berjanji mau menemai istri kamu untuk memeriksakan kandungannya? kok malah biarin Lian pergi sendiri" seru mama Farida mengingatkan.
"Astaghfirullah" Bintang menepuk dahinya sendiri mengingat dia hampir saja melalaikan janjinya.
"Jangan bilang kalau kamu lupa dengan jadwal chek up kandungan istri kamu" mama Farida berkacak pinggang memarahi putra kandungnya.
Bintang tak menghiraukan kemarahan mamanya. Bintang berlari ke arah mobilnya hendak menyusul Berlian yang sudah berada di depan pagar.
"Lian. Ayo naik ke mobil" panggilnya setelah berhasil menyusul dan menghadang jalan.
"Maafkan aku, please" ujarnya.
"Tidak seharusnya aku melupakan janji aku untuk menemani kamu memeriksakan kandungan kamu" lanjutnya.
"Kamu urus saja pekerjaan kamu. Aku bisa pergi sendiri" Berlian terlanjur kecewa. Bintang tak tinggal diam, dia lalu turun dari mobil untuk membujuk berlian agar mau masuk.
"yank, aku sudah melewatkan satu momen paling berharga dalam hidup aku ketika kamu dinyatakan hamil. Aku tidak mau lagi melewatkan momen berharga lainnya. Aku ingin selalu ada menemani kamu memantau tumbuh kembang calon anak kita. Aku akan membatalkan kunjungan kerja aku ke pabrik"
Bintang tak sekedar bicara, dia segera menghubungi Karina melalui handphone nya.
"Aku sudah membatalkan semua kegiatan aku hari ini" ujarnya pada Berlian.
Berlian terlihat masih menyimpan kecewa dan dia tidak begitu senang dengan keputusan suaminya.
"Yank, aku memang salah dan aku menyesal. Aku mohon, kamu mau memaafkan aku"pintanya dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Ini kesempatan terakhir buat kamu. Jika lain kali kamu masih lupa dan lebih mementingkan pekerjaan kamu, aku ga akan mau maafin kamu" ancam Berlian serius.
"Aku janji" sahut Bintang sungguh-sungguh.