Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 51. Kapan tutur kata mu seromantis ciuman mu.


__ADS_3

"Tapi itu dulu..." sambungnya melegakan rongga pernafasan Berlian yang tadi menyempit. 


"Kini, hatiku kosong akan namanya cinta. Bella berhasil mematikan rasa percaya aku dengan yang namanya cinta."


Bintang beranjak menjauhi istrinya karena penjelasannya sudah lebih dari cukup. Berlian mau mengartikannya seperti apa, dia tak mau peduli karna yang terpenting Berlian tahu kalau dia tak berniat berpaling atau mencintai siapapun. 


"Bintang ..." panggil Berlian setelah menimbang-nimbang pendapatnya. Apa bedanya dia dengan Bintang. Bintang yang terluka karena Bella dan dia yang terluka karna Rangga. Tak bisa semudah membalikkan telapak tangan menyembuhkan hati yang luka. Bintang butuh waktu untuk menata hatinya kembali begitu juga dengan dia. Bintang juga sudah tegas mengatakan kalau pendamping yang pantas buat dia adalah dirinya. 


Bintang berbalik, Berlian berlari menghambur memeluknya erat. Bintang yang sempat bingung, membalas pelukan istrinya yang terasa hangat dan menyejukkan hati. 


"Semua orang memiliki cerita masa lalu sendiri dan aku tidak mau kamu terpuruk dan menghakimi apa yang sudah terjadi. Apa kamu tidak bisa mencoba membuka hati kamu untuk percaya dan belajar mencintai wanita lain?" pernyataan itu terlontar ketika Bintang mengecup ubun-ubunnya begitu dalam dan menggetarkan. 


"Untuk apa?" kata Bintang tanpa berpikir panjang dan tidak mengerti maksud pertanyaan Berlian. 


"Untuk apa?" dengung Berlian emosi dan dengan kasar mendorong tubuh Bintang.


"sebenarnya kamu anggap apa pernikahan kita kalau kamu sendiri tidak tahu bagaimana memainkan perasaan kamu sendiri. Aku sudah coba belajar mencintai kamu dan itu tidak bisa sepihak dari aku saja. Bagaimana caranya aku berjalan satu kaki membina rumah tangga kita kalau kaki yang satunya sama sekali tidak tergerak membimbing dan menuntun" 


"Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiranmu" 


Berlian berlari dengan kesal begitu menyudahi ucapannya. Dia sudah berusaha berdamai dan melunak. Tapi kenapa tanggapan Bintang begitu dingin, acuh dan tak peka dengan upaya Berlian mendekatkan hubungan mereka. 


"Lian... kamu kenapa lagi sih?. sebentar ngambek, sebentar baikan" ujar Bintang bingung salahnya dimana. 


"Lian..." panggilnya sambil menyusul istrinya. 


"Enggak usah pegang-pegang" Berlian menepis kasar tangan Bintang yang menggapai tangannya. 


Berlian terus berlari masuk kamar dan duduk dengan memasang wajah jengkel di pinggir tempat tidur. 


"Lian, apa ada yang salah dengan ucapan aku tadi?" Bintang duduk di sampingnya dan dia ingin sekali rasanya mengobok-obok wajah Bintang karna belum juga paham betapa jengkelnya dia dengan ucapannya tadi. 


"Lian..." panggil Bintang.


 


"Udah di bilangin jangan pegang-pegang" Berlian kembali menepis tangan Bintang yang mau menyentuh pundaknya. 


Bintang jadi kelimpungan sendiri bagaimana mengembalikan hati istrinya yang sempat melunak. 


"Lian..." 


Bintang tak surut dan terus maju menyentuh pundaknya. Berlian yang masih jengkel tak mau di pegang Bintang. 

__ADS_1


"BERLIAN..." nada suara Bintang meninggi, membuat berlian terhenyak dan menoleh. 


"Dasar, nyebelin...." Berlian tak terima di bentak dan menggebuk kesal dada suaminya. Bintang dengan cepat memeluk dan menindihnya.


 


"Bintang,lepasin..." Berlian berontak. 


"Diam" bentak Bintang karna istrinya tak mau tenang dan terus meronta-ronta. 


Berlian yang tadinya mau melawan seketika diam. Bintang lebih dulu mengunci bibirnya dengan ciuman lembut dan mengena. Berlian yang awalnya berontak, perlahan mulai menikmati dan membalas permainan bibir suaminya yang mampu membuang segala kemarahan dan kekesalannya. Bintang yang menurutnya tak pandai berkata-kata justru memiliki sisi romantis kala memanjakannya lewat sentuhan bibir yang mereka lakukan cukup lama. Dan aksi mereka berhenti dengan nafas memburu . Senyuman dan sebuh kecupan hangat juga singgah menyapa membuat Berlian terperangah bertubi-tubi di manjakan oleh Bintang.


"Kamu mandi dan siap-siap. Aku mau kamu menemaniku jalan-jalan hari ini" ujar Bintang setelah pernafasannya normal dan dia segera keluar membiarkan istrinya mengartikan kemesraan yang dia berikan. 


"Aku tunggu kamu di bawah" seru Bintang sebelum pintu kamar dia tutup kembali. 


"Bin, kapan tutur kata mu bisa seromantis ciuman mu" gumam Berlian menyimpan debaran hatinya dengan satu harapan semua bisa lebih sempurna lagi kedepannya. 


...****************...


"Katanya mau jalan-jalan, kamu malah ngajak aku ke mall gini?" protes Berlian begitu Bintang menarik tangannya masuk kedalam sebuah mall. 


"Jalan-jalan tak mesti ke tempat wisata. Sesekali kita menghabiskan waktu di mall nggak ada salahnya kan" jawab Bintang tanpa melepaskan tangan Berlian.


"Aku sibuk, tidak punya banyak waktu mengajak kamu kesana-sini" Bintang melakukan pembelaan biar pun yang di katakan Berlian memang benar adanya. 


"Bin, kamu mau ajak aku kemana, sih?" Berlian kebingungan saat Bintang terus menarik tangannya menaiki escalator. 


"Aku bukan anak kecil kali... di pegangin terus" cerocos Berlian. 


"Dari pada kamu hilang, dan merepotkan ku. Dan mama bisa ngomel-ngomel menantu kesayangan nya hilang, mending aku pegangin karna kamu pecicilan ga mau diam" ucap Bintang banyak alasan padahal emang maunya pegang-pegang tangan mulus istrinya. 


"Alasan..." cibir Berlian.


 


"Jangan kebanyakan ngomong, kamu ikuti saja kemana aku pergi" kata Bintang sambil melangkah menuju sebuah toko khusus menjual pakaian perempuan. 


"Bin, kita ngapain kesini?" tanya Berlian terheran-heran ketika mereka sudah berada dalam toko. 


"Mau hutang" sambar Bintang mulai kesal meladeni cerewetnya Berlian.


 

__ADS_1


"Ya mau belanja lah" lanjutnya.


 


"Sekarang kamu pilih mana baju yang kamu mau" 


Berlian tampak bingung dan ragu mengikuti perintah suaminya. 


"Kenapa kamu diam?. Ayo... sana pilih baju yang kamu mau" desak Bintang geregetan melihat sikap bingung Berlian.


"Ngga ah, aku ga punya duit pasti pakaian disini harganya mahal-mahal" kata Berlian dengan wajah polos dan lugunya. Yang benar aja , istri Bintang Pratama ngga punya duit.


Penuturan Berlian sempat membuat Bintang sungguh tertampar karna mengabaikan hal-hal kecil yang harusnya dia perhatikan. 


"Lian, kamu jangan buat aku malu di depan umum. Aku mengajak kamu kesini karna aku ingin membelikan semua kebutuhanmu , bukannya kamu belanja sendiri" Bintang coba menegakkan kembali harga dirinya. 


"Sekarang, kamu pilih baju yang kamu suka" 


Bintang mendorong bahu Berlian agar mau berjalan dan melihat-lihat baju yang berjejer rapi di hadapan mereka. Berlian yang masih bingung dan tak tahu setan apa yang merasuki suaminya sampai berniat mau membelikannya baju bermerek dan dipastikan harganya mahal.


"Ini..." Berlian menjatuhkan pilihan pada dress sederhana, jauh dari kesan seksi tapi sedikit feminim. Seperti baju-baju yang diberikan mama mertuanya di lemari pakaiannya saat ini.


"Mana lagi?" tanya Bintang yang setia mendampinginya. 


"Itu saja udah cukup" 


"Satu ini???" sambar Bintang kaget, mengundang perhatian pengunjung lainnya. 


"kamu yang benar saja, masak beli baju cuma satu" Bintang melunakkan nada suaranya. 


"Aku kan enggak mau morotin kamu" jawab Berlian dengan tampang polosnya.


Bintang tertegun, kemudian tersenyum. Berlian berbeda dengan gadis lainnya. Jika biasanya gadis lain gila belanja dan suka di bayarin. Berlian justru ngga seperti itu.


"Aku suamimu, sudah kewajiban aku memenuhi semua kebutuhanmu. Tidak ada namanya istilah morotin" ucap Bintang yang langsung dengan cepat menyambar beberapa baju untuk istrinya tanpa bisa di cegah olehnya. Bintang juga tak lupa membelikan semua kebutuhan yang berbau wanita . Termasuk perhiasan lengkap yang di beli diam-diam saat Berlian pamit ke toilet. 


Selesai belanja, Bintang mengajak Berlian makan di sebuah resto yang ada di mall tersebut.


"Bin, kamu lihat deh anak kembar itu lucu banget" Berlian menunjuk ke sampingnya di mana bocah kembar laki-laki yang duduk manis di pangkuan papa mamanya. 


"Lucu apanya, anak kecil itu bikin repot dan menyebalkan" jawab Bintang tanpa mau menoleh ke samping. Bintang tak memperhatikan betapa berbinar-binarnya mata Berlian melihat kelucuan bocah kembar itu. 


"tangisan anak kecil bisa membuat kepalaku mau pecah. Apa nya yang lucu!"

__ADS_1


__ADS_2