Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 90. Saling menguatkan.


__ADS_3

Setiap sujud, Berlian selalu meminta pada yang maha kuasa memberi jalan keluar terbaik atas masalah yang menimpa suaminya. Dia juga meminta pada pemilik semesta tentang keputusan apa yang harus dia ambil.  Dan saat selesai shalat tahajud semalam, Berlian teringat pada Kartika.


Siangnya saat orang rumah keluar melakukan aktivitas, Berlian memutuskan menemui sahabatnya tersebut. Berlian yakin, Kartika bisa membantunya menyelesaikan kemelut antara pak erwin dan suaminya. 


"Mama..." cengang Berlian.


 


Di depan pintu rumah kakeknya, berdiri wanita yang tak asing baginya. Mama mertuanya terlihat begitu sangat terpukul dan tak hentinya menangis. 


"Ma, mama kenapa menangis?" tanyanya panik.


"Bintang... Lian" mama Farida memeluk menantunya dan tangisnya makin menjadi.


"Kenapa dengan Bintang, Ma?. Bintang baik-baik saja, kan?" Berlian cemas hal buruk terjadi pada suaminya. 


Tak menjawab, mama Farida terus menangis. Berlian pun mengajak mama mertuanya masuk dan duduk. Berlian bergegas ke dapur mengambil segelas air putih. 


"mama minum dulu ya, biar lebih tenang" 


Berlian membantu mama mertuanya minum. Keadaannya pun sedikit lebih tenang. 


"Sekarang cerita sama Lian. Mama kenapa?" tanya Berlian lembut dan sabar. 


Di iringi tangisannya yang kembali pecah,mama Farida menceritakan perihal rencana gila anak kandungnya. Jelas saja Berlian kaget mendengarnya. 


"Nggak!. Bintang ga boleh melakukan hal itu. Bukannya bebas, dia bisa di tahan seumur hidup jika dia nekat mengakui melakukan rencana pembunuhan" kata Berlian yang menolak keras rencana tidak masuk akal suaminya. 


"Untuk itu mama mohon sama kamu, temui Bintang. Hanya kamu yang bisa membangkitkan semangatnya lagi " 


Tak perlu di minta, Berlian memang sudah berniat mau menemui Bintang begitu mendengar cerita mama mertuanya tadi. 


...****************...


Satu harapan Bintang, memeluk Berlian yang datang menjenguknya. Tapi dia tak punya kekuataan untuk itu. Cukup dengan Berlian datang menemuinya itu sudah membuat jantungnya berdetak normal lagi. 


Berlian pun merasakan hal yang sama. Namun dalam dirinya ada kepiluan melihat sendiri keadaan Bintang yang berantakan. Rambut yang biasanya rapi di biarkan acak-acakan. Kumis tipis tumbuh di atas bibir merahnya Bintang. Jenggot juga tumbuh berserakan di bawah dagu suaminya. Namun kharisma ketampanan sang suami tak pudar sama sekali. 


"mama tadi datang ke rumah dan bercerita tentang rencana kamu dan beliau minta aku datang menemui kamu..." Berlian memulai pembicaraan, memecah kebisuan antara keduanya. 


"Oh, Kamu ke sini karna mama yang meminta?. Aku pikir kamu memang berniat mau menjenguk aku" dengus Bintang sinis dan di balut rasa kecewanya. 


"Jadi seperti seorang Bintang Pratama sesungguhnya?. Bintang Pratama yang kuat, sombong dan arogan ternyata sangat lemah dan tidak mempunyai kekuatan apa pun untuk bangkit bahkan membela dirinya?." cecar Berlian.


"Masih ada satu hal lainnya yang belum kamu sebut tentang Bintang Pratama. Bintang Pratama adalah seorang pembunuh" 


"PLAKKK" tangan kanan Berlian memotong keras pernyataan suaminya. 


"maafkan aku, bintang" 


Berlian langsung sadar dan menyesali perbuatannya. Dia pun berniat memegang pipi bintang bekas tamparannya. 


"Kamu jangan sok memperdulikan aku" bentak Bintang sambil menepis kasar tangan Berlian dari wajahnya. 


"Sebentar lagi aku akan mati di tiang gantungan. Kamu akan bebas dari laki-laki arogan dan sombong seperti aku. Kamu ngga perlu lagi membuang air mata kamu menangisi segala sikap buruk aku yang selalu menyakiti kamu" ujar Bintang terbawa emosi dan rasa kecewanya yang berlebihan. 


"Begitu mudahnya kamu mau mati?" Berlian menganga. Dia tak menduga pikiran Bintang sebegitu sempitnya. 


"Lalu bagaimana dengan aku?. Bagaimana dengan pernikahan kita?" 


"Kamu bilang kamu mencintai aku dan kamu pernah berjanji ngga akan pernah menyakiti aku dalam kata maupun perbuatan. Tapi yang kamu lakukan saat ini lebih menyakitkan dari apa yang pernah kamu perbuat. Mungkin sebelum kamu di gantung, kamu lebih dulu menghadiri acara pemakaman aku. Di sana kamu akan lihat betapa kamu sudah menyakiti dan bahkan berhasil mencuri sisa nafas terakhirku" 


Bintang terasa di tampar untuk kedua kalinya. 


"Lian, ka... kamu ga berniat macam-macam kan?" Bintang cemas Berlian akan melakukan hal negatif yang bisa di perbuat Berlian di belakangnya. 

__ADS_1


"Bukannya itu yang kamu mau?" 


Berlian berdiri dan mau pergi. Bintang langsung di hinggapi rasa takut.


"Lian,jangan..." 


Bintang ikut berdiri dan berusaha memeluk istrinya. 


"Jangan pernah kamu coba menyentuh aku jika kamu hanya mau mengucapkan selamat tinggal" Berlian menangis dan menolak di peluk. 


Bintang terus mencoba memaksa memeluk Berlian walau dia berkali-kali menolaknya. 


"Maafkan aku, lian" kata Bintang setelah berhasil menarik tubuh wanita pujaannya dalam pelukannya. 


"Aku ngga sanggup kehilangan kamu, Bin. Aku ngga sanggup" rintih berlian menangis perih dalam pelukan suaminya. 


"Aku juga ngga sanggup kehilangan kamu. Kamu tahu itu" balas Bintang yang kian mempererat pelukannya. 


"Aku ngga bisa menukar kebebasan aku dengan melepaskan kamu dari hidupku. Lebih baik aku membusuk di dalam tahanan seumur hidup ku" 


Tangisan Berlian mulai reda dan dia menengadah. Kesungguhan tampak jelas dari bola mata Bintang.


"Aku bukan perempuan yang tak punya sisi lemah. Saat kamu kuat, aku jauh lebih kuat dari pada kamu. Aku ngga peduli hukuman apa yang akan kamu terima asal kamu mau berjuang membuktikan kalau kamu ngga salah. Aku akan selalu ada di sisi kamu melewati ini semua bukan sebagai orang lain, tapi sebagai istri kamu. Biar pun nantinya hakim memutuskan kamu bersalah dan kamu harus di hukum seumur hidup kamu. Aku ngga akan pernah pergi dari kamu. Selamanya aku akan selalu ada untuk kamu. Tapi, ketika kamu lemah dan kamu menyerah begitu saja, aku akan jauh lebih lemah dari pada kamu. Aku akan menyerah dengan sendirinya dan aku akan hilang dari kehidupan kamu selamanya" 


Wajah Bintang berseri. Ucapan Berlian membangkitkan semangat nya.


"Aku janji. Aku akan berjuang untuk bebas. Aku ga akan melakukan hal konyol yang bisa merumitkan penyelesaian masalah hukuman ku" tandasnya tegas dan semangat. 


"Janji?" tanya Berlian. 


"Asal kamu tetap percaya kalau aku ga salah dan kamu akan selalu setia mendampingi aku melawati ini semua. Aku akan lebih kuat menghadapi cobaan ini karna kamu pasti akan lebih kuat lagi mendampingi aku" 


Bintang tersenyum lebar meyakinkan Berlian. Berlian balas tersenyum dan langsung memeluk tubuh Bintang. Kini, dadanya terasa plong. Laki-laki yang di cintainya telah kembali jadi diri sendiri. 


"Lian, katanya kamu pergi dari rumah. Apa itu benar?" Bintang berubah murung mengingat satu hal yang hampir terlupakan olehnya. 


Berlian melepas pelukannya dan tersenyum mesra menatap suaminya. 


"Kamu lupa ya kalo di rumah itu ada Rangga?. Kamu mau Rangga terus-terusan menggoda dan menganggu aku?" 


"Aku mengerti. Kamu sengaja tinggal di rumah kakek supaya Rangga ga bisa berbuat macam-macam terhadap kamu" tebak Bintang jitu dan tak berburuk sangka lagi. Bintang juga bisa tenang ada arya yang akan menjaga berlian selama dia di tahan. 


"Aku minta maaf, sebagai suami aku ga bisa menjaga kamu" sesalnya. 


"Doa kamu yang akan menjaga aku, Bin" katanya lembut.  Bintang tak tahu mesti bicara apa lagi.


Senyumnya mengembang penuh akal ketika melihat keadaan sekitarnya sepi dan sipir penjara tengah membawa satu tahanan kembali ke sel. Bintang pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu. 


"Aku mencintai kamu" sambar Bintang sambil menangkup wajah istrinya dan menyapa dengan lembut bibir merah ranum Berlian. Berlian sempat kaget kalau Bintang bisa nekat begini. Tapi dia menikmati saat Bintang terus mempermainkan bibirnya dengan indah dan Berlian tak bisa membiarkan Bintang terus bermanja-manja saat merasa ada yang mengawasi. Spontan, dia menginjak kaki suaminya. 


"Awwww..." ciuman berakhir, Bintang menjinjit kesakitan. 


"kenapa injak kaki aku sih?. Sakit tahu" protesnya tanpa menghiraukan isyarat dari Berlian yang menunjuk ke arah belakangnya. 


"eHem..." suara keras deheman dari belakang punggungnya Bintang.


Bintang berbalik, ternyata Orang di belakangnya adalah sipir penjara.  Bintang hanya tersenyum masam dan tak peduli ada orang yang memergoki dia sedang bermesraan. Beda dengan Berlian yang terlihat salting dan malu.


"Jam berkunjung sudah habis. Waktunya kembali ke sel" kata sipir penjara. 


Berlian langsung menghambur memeluk suaminya dan tak rela harus berpisah lagi. 


"Besok aku akan datang menemui kamu lagi" janjinya menenangkan hati Bintang.


 

__ADS_1


Bintang mengangguk percaya dan mengecup kening sang istri sebelum mereka berpisah.


...****************...


"Kamu mau kemana?" 


Pertanyaan itu di layangkan oleh pak Erwin kepada putri sulungnya yang bersiap mau pergi. Yang di tanya hanya diam tak menjawab dan berjalan melintasi ruang keluarga di mana pak Erwin tengah duduk santai di temani istri tercinta. 


"Tika, jawab pertanyaan papa, kamu mau kemana?" tanya pak erwin lagi dengan nada suara meninggi. Kartika terpaksa berhenti. Dia berbalik dan menatap kecewa kedua orang tuanya silih berganti. 


"Tika mau pergi" jawabnya singkat. 


"Pergi kemana?" gantian ibu Mela yang bertanya. 


"tika mau menemui Lian" 


"Untuk apa kamu mau menemui perempuan itu?" pak erwin berdiri dan membentak putri kandungnya. 


"Pa, Lian itu sahabat tika. Tika ga bisa diam saja membiarkan masalah ini berlarut-larut. Tika harus minta maaf dan menjelaskan semua ini. Tika ga mau lian punya pikiran kalau tika berniat mau merebut suaminya. Berlian harus tahu kalau tika sama sekali ngga setuju dengan syarat yang papa ajukan untuk membebaskan Bintang" jelas Kartika untuk kesekian kalinya.


"Papa ga akan mengizinkan kamu keluar rumah. Sekarang juga, kamu masuk ke kamar kamu" suruh pak Erwin membentak. 


"Maaf pa,Tika mau pergi" Kartika tetap memaksa mau pergi juga. 


"Jangan membantah" bentak pak erwin lagi mempertahan egonya. 


Dari teras rumah, seorang perempuan ragu-ragu mau mengetuk pintu mendengar pertengkaran dari dalam rumah yang di kunjunginya. 


"Pa, biarkan saja tika mau menemui berlian. Jangan paksa dia menerima perjodohan itu. Bintang sudah punya istri, pa. Mama gak mau anak kita di cap sebagai perebut suami orang juga perusak rumah tangga orang lain" ujar mama mela memberi pengertian pada suaminya. 


"Mama lebih baik diam dan jangan ikut campur" kata pak erwin. 


"Pa, mama dan lian itu sama-sama seorang istri. ga seorang pun di dunia ini yang mau menyerahkan suaminya pada orang lain. Apa lagi harus sampai bercerai" jelas ibu mela berfikir lebih bijak dari pada suaminya. 


Beban dan rasa bersalah yang di pikul Kartika terasa lebih ringan karna sang mama ada di pihaknya. 


"Tika, kamu pergi saja, jangan hiraukan papa kamu. Sampaikan permintaan maaf mama buat Berlian" suruh ibu mela. 


"Makasih ma" senyum Kartika lega. 


"akan sampaikan itu pada lian" lanjutnya. 


"Dari pada kamu merendahkan harga diri keluarga kita di hadapan teman kamu yang tak tahu diri itu, lebih baik kamu katakan pada dia untuk melepaskan laki-laki yang kamu cintai dari kecil. Kamu lebih dulu mengenal bintang dan jatuh cinta padanya dan kamu lebih berhak untuk mendampingi bintang sebagai istrinya" sela pak Erwin mengungkit isi hati putrinya yang lama terpendam. 


Dari depan pintu, perempuan yang mendengar pertengkaran ayah dan anak itu terhuyung dan berpegangan pada pilar rumah asri yang kokoh. 


"ga mungkin Kartika mencintai Bintang" bantahnya dengan mata berkaca-kaca. 


"ga mungkin Bintang itu pangeran masa kecilnya Kartika. ga mungkin" bantahnya terus. 


Suasana rumah yang tadinya ribut, sejenak sepi dan bisu. 


"Ketahui lah tika,papa menjodohkan kamu dengan bintang karna papa tahu kamu mencintai dia. Papa ga sanggup melihat kamu menderita memendam rasa cinta kamu begitu lama" kata pak erwin melunak berusaha mengambil hati Kartika. 


"Papa ga perlu membawa perasaan tika untuk memuluskan rencana perjodohan ini. Semalam Tika mendengar langsung pembicaraan papa dengan pengacara kalau papa butuh dana miliaran untuk melunasi hutang perusahaan. Kalau ngga perusahaan papa akan bangkrut dan keluarga kita akan jatuh miskin" 


Pak erwin terkejut. Laki-laki paruh baya itu hilang akal dan gugup mau menjelaskan apa. 


"Pa,apa yang di katakan Tika itu benar?" mama mela ikut terkejut, lalu mempertanyakan kebenaran cerita putrinya. 


Tak ada sangkalan atau pun pembenaran keluar dari mulut pak Erwin. Beliau hanya bisa terduduk lemah. 


"Tika sama sekali ga menduga kalau papa tega menggadaikan harga diri juga kebahagian Tika demi kepentingan bisnis papa" cerca Kartika kecewa dan tangisnya pun pecah. 


"Tika mau pergi, Assalamualaikum" pamitnya setelah dia tenang dan tak lagi menangis. 

__ADS_1


__ADS_2